
Lira terdiam dengan tatapan kesal, sekarang ini dia tengah menahan diri agar tidak terpancing emosi, tali sepertinya Reda akan terus membawa Lora ke dalam kemarahan dan itu terbukti dia terus memancing terus menerus Lora.
Ita, rupanya dia sedari tadi tengah merekam pembicaraan Lora dan Resa, bahkan sebagian juga sudah dia kirim kepada Hanzel. Dia boleh saja tidak melakukan apapun saat ini, tapi dengan memberi tahu Hanzel pasti akan menjadi lebih baik. Toh, kalau dia yang maju, adanya dia akan main jambak-jambakkan karena dia adalah orang yang tidak sabaran dan gampang terbawa emosi.
" Lora, kalau anak-anak kampus tahu bagaimana cerita mu, bagaimana ya mereka akan memandang mu? Lora, mahasiswi populer angkatan baru ini rupanya sudah pernah, ah maaf! maksudnya sudah beberapa kali mencoba untuk menggoda Ayahku, lalu ketahuan dan di pukul oleh Ibuku. Lalu, bagaimana kalau mereka tahu bahwa kau adalah anak angkat orang tuaku, yang artinya kau telah merayu ayah angkatnya sendiri. " Resa tersenyum mengejek. Saat ini dia benar-benar puas karena semua orang tengah berbisik, dan bisa Resa pastikan bahwa orang-orang itu pasti sedang menggunjing Lora.
" Kak Resa, menurutmu bagaimana bisa ayahmu yang gendut dan bau itu bisa mengalahkan suamiku? Lalu bagaimana pria yang dirayu oleh ku malah di penjara? Pergilah ke kantor polisi, tanyakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kau mengatakan yang bukan-bukan dan pada akhirnya mempermalukan dirimu sendiri. " Lora tak berekspresi, tapi jujur, dia kini tengah menahan air matanya karena tidak ingin terlihat lemah lagi di hadapan Resa karena pada akhirnya Resa akan berani untuk merendahkan, bahkan memukulnya lagi.
" Itu semua karena mau memfitnahnya! Kau sudah melupakan jasa orang tuaku, kau menggunakan uang Hanzel untuk menjebak Ayahku! "
" Polisi tidak bodoh sepertimu, kak. Mereka jelas tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mereka bukan orang yang hanya akan menuduh tanpa barang bukti dan hanya berdasarkan katanya. Jika kakak begitu tidak percaya kepada polisi, tuntut saja mereka dan buktikan bahwa mereka sudah salah menangkap orang, siapa tahu kakak bisa memenjarakan polisi, lalu membebaskan Ayahnya kakak. "
Resa melotot kesal, sementara Lora masih tak ingin menunjukkan ekspresi apapun.
" Hebat kau ya Lora? Sekarang karena kau sudah kaya jadi kau bisa bicara dengan. begitu berani padaku. "
" Tidak ada hubungannya dengan uang kak, tapi ini karena aku terlaku lelah disakiti, difitnah, bahkan juga direndahkan oleh mu. "
" Aku akan mengadukan mu kepada Ibuku, kau pasti akan menyesal sudah mengatakan itu! "
" Katakan saja, aku hanya penasaran, apakah Ibu mu berani melakukan hal buruk padaku? "
Resa tak bicara, dia lebih memilih untuk pergi karena gak ingin lebih kesal lagi. Hari ini dia hanya sendirian saja, jadi dia tidak ada pembela maka lebih baik mengalah saja, dan akan dia tantang lagi Lora lain waktu.
" Lora, kau tidak apa-apa? " Tanya Ita saat melihat Lora menunduk dan terisak.
Lora menyeka air matanya, dan untunglah orang yang memperhatikan mereka tadi sudah mulai bubar.
" Aku hanya sedih saja kak, sebenarnya aku ini melakukan apa? Aku ini salah apa dengan mereka? Aku sudah melakukan sebisa yang aku mampu, tapi mereka terus menyakitiku dengan cara mereka masing-masing. "
Ita mengusap punggung Lora perlahan.
" Tadi dia bilang kau merayu ayahnya, apa maksudnya Lora? "
Lora mencengkram kuat kain baju yang tengah ia gunakan. Bagaimana dia akan menceritakan ini? Padahal itu adalah hal yang paling menjijikan, juga memalukan. Padahal dia sudah mulai lupa, tapi Resa datang mengingatkan lagi luka lama yang sepertinya akan terus membayangi masa depannya.
" Maaf kak, aku belum bisa cerita. "
Iya mengangguk paham. Sebenarnya Lora selama ini cukup terbuka, tapi melihat Lora yang gemetaran sepertinya itu adalah hal yang amat berat untuknya, jadi Ita juga harus mengerti dan tidak boleh juga memaksanya.
" Tidak apa-apa, Lora. Tapi kau harus ingat pesan ku ini ya Lora. Semua manusia yang hidup memiliki masa lalu yang kadang ingin sekali mereka lupakan tapi tidak bisa, jadi cukup saja melakukan apa yang kau bisa di masa sekarang dan masa depan. Biarkan masa lalu menjadi masa lalu, meski sesekali kau teringat, nyatanya masa depan adalah hal yang penting dan jangan sampai masa lalu yang tidak bisa kau lupakan akan terjadi di masa depan. Belajarlah dari masa lalu, karena masa lalu itu sama seperti pendidikan. "
Lora mengangguk, dan kini dia sudah mulai bisa tersenyum. Rasanya benar-benar bersyukur karena sekarang dia memiliki Ita yang sudah seperti kakak kandungnya, dia juga punya Hanzel meski belum tahu akan bertahan berapa lama pernikahannya. Entah sungguh hanya satu tahun, atau beberapa bulan, atau lebih dari setahun, entahlah! Yang penting lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, mencoba pertahankan apa yang dimiliki sekarang, entah pada akhirnya akan tetap bersama atau tidak, semua pasti terjadi karena Tuhan yang punya kuasa.
Hanzel mengeryit mendengar percakapan sengit yang dia kenal salah satunya adalah suara Mire. Dengan fokus dia terus mendengarkan, tapi saat satu suara perempuan mulai mengancam dengan menanyakan bagaimana jadinya jika mahasiswa/i di kampus tahu, Hanzel mulai merasa marah dan panik. Kalau sampai itu bocor, orang tidak akan perduli apakah Lora adalah korban atau tersangka, karena mereka pasti akan berfokus bahwa Lora pernah di nodai oleh Ayah angkatnya sendiri.
Segera Hanzel bangkit dari kursinya, dia meraih jasnya, meninggalkan ruang kerja dan untungnya semua pekerjaan itu sudah diselesaikan. Tak utuh waktu lama, hanya sekitar tiga puluh menit Hanzel sudah sampai di Mall sesuai dengan alamat yang dikirim Ita padanya.
Hanzel terdiam melihat dari kejauhan Lora yang sedang duduk menunggu Ita belanja dengan tatapan kosong khas melamun. Hanzel kembali menjalankan kakinya, memasuki toko yang di desain seperti butik dengan pintu kaca. Ita sibuk dengan memilih baju, sementara Lora masih asik melamun hingga tidak menyadari kedatangannya.
Hanzel menghela nafas, lalu duduk di samping Lora yang masih saja melamun.
" Kau tidak takut kerasukan melamun begitu? " Ucap Hanzel.
" Tuan? " Lora menatap kaget, tapi tak lama dia tersenyum dan merapatkan posisi duduknya dengan Hanzel.
" Tuan kenapa ada disini? "
" Tadinya ingin pulang, tapi Ita bilang kalian ada disini, jadi sekalian jemput kau saja. "
Lora tersenyum, lalu mengangguk saja.
" Lora, bisa tidak mulai sekarang jangan memanggil Tuan? "
" Eh, kenapa? "
Hanzel menelan salivanya, entah mengapa dia merasa gugup sekali. Jujur saja, ucapan Alexander beberapa waktu lalu benar-benar membuatnya kepikiran dan moodnya jadi buruk. Nanti kalau Lora terus memanggilnya Tuan, Alexander pasti akan semakin berpikiran yang tidak-tidak.
" Hanya sudah bosan saja di panggil Tuan. "
" Terus, aku panggil siapa? "
Maunya dipanggil sayang, tapi aku malu mengatakannya.
" Terserah kau saja. "
Lora nampak semangat mendengar kata-kata itu.
" Bagaimana kalau my love? Hubby? ayank? Sayang? "
" Iya, itu! "
" Yang mana? "
" Yang tadi! "
" Sayang? "
" Hem! "
Bersambung.