Little Wife

Little Wife
BAB 40



Lora tersenyum, lalu dia mendekatkan dirinya kepada Hanzel, menjijitkan kaki demi meraih bibir seksi suaminya, kedua lengannya kini sudah mulai memeluk tengkuk Hanzel untuk memperkokoh kakinya. Lora yang sudah pandai berciuman berkat video panas yang sering dikirimkan Ita, juga berkat Hanzel sendiri sudah sangat lihai membawa ciuman itu untuk semakin panas. Hanzel juga mulai terbawa suasana dengan cepat, dia memeluk pinggang Lora sedikit erat karena tidak ingin ciuman itu cepat berakhir. Nakal, maka dari itu Lora benar-benar memerankan dirinya dengan sebutan itu. Lora menggerakkan satu tangannya menyusup mengelus dada Hanzel, lalu perlahan turun kebawah, menyusupkan lagi tangannya untuk meraih sesuatu yang sudah mulai tegang di bawah sana.


Hanzel melenguh merasakan indah saat sesuatu miliknya disentuh dengan gerakan yang sangat nikmat. Dia yang sudah masuk ke dalam suasana memadu mulai memberikan sentuhan-sentuhan di bagian dada Lora dengan semangat. Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, sungguh benda itu memang sangat pandai membuat suasana semakin memanas tak tertahankan.


Lora, wanita cantik yang sudah semakin menguasai permainan kini dengan lihai membuka baju Hanzel, dan menjalankan kakinya mendorong Hanzel untuk menuju tempat tidur tanpa melepaskan ciuman mereka. Lora kini berada di atas tubuh Hanzel dengan kajian yang masih belum dia lepaskan, dia terus menjalankan kedua tangannya menggapai seluruh kulit di bagian dada Hanzel tanpa terkecuali, barulah dia mulai menjalankan kecupannya ke leher, laku ke dada, semakin ke bawah, dan sampailah di perut. Masih tak akan berhenti, Lora membantu Hanzel untuk menghempaskan celana pendek yang digunakan Hanzel, lalu kembali melanjutkan aksinya.


Lagi, suara lenguhan benar-benar mengisi ruangan dimana mereka berada. Hanzel, pria itu semakin menggelinjang merasakan betapa nikmatnya apa yang dilakukan Lora kepada miliknya. Tak ingin egois, dengan segera dia bangkit dan mengganti posisi untuk melakukan hal yang sama kepada Lora.


Lain dengan Hanzel serta Lora yang sedang menaiki keindahan surga dunia, sepasang mata kini tengah mengintip dengan hati yang terbakar cemburu. Dia adalah Velo, wanita yang ingin menyerahkan jam tangan Hanzel. Saat dia terjatuh tadi, dia tidak sengaja memegang tangan Hanzel hingga jam tangannya terlepas, niatnya ingin mengembalikan hak tangan itu, tapi malah harus melihat adegan yang membuat hatinya bergerumuh terbakar cemburu.


Klek!


Lora tersentak kaget karena mendengar pintu yang tertutup. Siapa? Apa mungkin bisa tertutup sendiri? Apakah tadi tidak benar menutup pintunya?


" Sayang, pintunya kenapa seperti baru saja tertutup? " Tanya Lora yang tak tahan dengan rasa penasarannya. Hanzel yang tak perduli masa bodoh saja karena dia juga sudah lama menyadari jika ada yang mengintip di sana. Mau bagaimana lagi? Pesona Lora membuatnya mabuk kepayang tak perduli apapun lagi selain merasai indahnya tubuh sang istri.


" Sayang! " Panggil Lora lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Hanzel.


" Jangan tanya lagi, fokus saja dengan apa yang sedang kita lakukan. " Ucapan Hanzel barusan membuat Lora cepat kembali fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Besok paginya.


Lora yang sudah bangun lebih pagi dengan cekatan membantu Ibu mertua, Ibu Lina dan juga pembantu rumah untuk menyiapkan sarapan. Lora pagi ini sudah membuat nasi goreng dengan potongan daging ayam, sosis, juga bakso. Ada juga telur ceplok, ketimun, tomat yang sudah dipotong-potong sebagai pelengkap, bahkan Lora juga membuat acar agar nasi gorengnya terasa lebih enak dan lengkap.


Ibu Rose benar-benar merasa bangga dengan Lora yang begitu cekatan, apalagi melihat leher dan bagian dada Lora yang banyak tertinggal bekas perbuatan Hanzel semalam, dia jadi semakin senang karena itu artinya hubungan Hanzel dengan Lora terbilang akur, syukur juga romantis.


" Lora, mau aku pinjamkan concealer tidak? " Lina tersenyum karena tidak tahan juga melihat banyaknya tanda merah yang tertunggak disana. Lora sendiri sebenarnya sudah melihat itu tadi pagi, makanya dia membuatkan rambutnya terurai berharap bisa menyamarkan penglihatan orang lain, nyatanya itu sama sekali tidak ada fungsinya, batin Lora.


" Eh, memang kelihatan sekali ya? " Lora tersenyum kikuk.


" Kelihatan, tapi tidak apa-apa juga kok. Kau dan Hanzel kan terikat dengan hubungan pernikahan, jadi bukan hal memalukan. " Ujar Ibu Rose.


" Iya, benar juga sih. Jadi aku tidak perlu malu kan ya? "


Lina mengangguk setuju sembari tertawa kecil, begitu juga dengan Ibu Rose.


" Eh, iya! Ibu Lina duduk saja, sedari tadi sudah banyak membantu, pasti lelah. Ibu juga duduk ya? biarkan aku dan Bibi dapur saja yang menyelesaikan nya. "


" Tidak apa-apa Lora, dari pada duduk terus, bekerja sedikit juga tidak masalah. " Ujar Lina.


Lora tersenyum karena tidak tahu harus berkata apa.


" Usiaku dua puluh tiga tahun, Lora. "


Lora terperangah kaget meski dia tahu benar kalau dari wajah Lina dia memang masih sangat muda.


Kok mau menikah dengan Ayahnya Hanzel? Sudah begitu, dia sedang hamil juga. Kenapa aku malah kasihan ya?


" Aku tahu apa yang kau pikirkan Lora, tapi apapun alasanku menikah dengan Ayahnya Hanzel, tentu saja demi uang. "


Lora tersenyum, dia tidak ingin mengatakan apapun karena tidak enak kalau harus mengorek lebih banyak lagi. Walau bagaimanapun tidak baik mengorek masa lalu orang, apa lagi sampai menghakimi, karena dia tahu benar bahwa apa yang kadang terlihat buruk juga belum tentu itu pilihannya.


" Wah pagi-pagi begini apa yang kalian gosip kan? " Velo baru saja datang, dia tersenyum seolah mengejek semua orang yang ada disana. Pakaian yang selalu seksi rupanya adalah seragam ternyaman miliknya, jadi dia hampir tidak pernah menggunakan baju yang sopan penglihatan.


" Banyak, Ibu Velo. " Lora tersenyum karena tidak ingin megambil pusing kata-kata Velo yang jelas sekali tidak ada artinya.


Velo melotot kesal sembari mengambil posisi duduk.


" Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak setua itu! "


Lora menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Lina dan Ibu Rose hanya bisa terdiam karena malas meladeni Velo yang selalu menyebalkan saat berbicara.


" Ah, iya Bibi. "


" Aku bukan Bibi mu! "


" Ah, aku jadi bingung. Padahal Ibu Lina saja usianya baru dua puluh tiga tahun, tapi dia tidak keberatan di panggil Ibu olehku. Ibu Lina kan memang Ibu tirinya Hanzel, sama seperti Ibu Velo, jadi memang seharusnya aku memanggil Ibu kan? "


Velo menatap kesal, tapi dia juga tidak berani bicara karena Hanzel sudah datang, Tuan Haris juga sedang berjalan ke arahnya.


" Babe, maaf aku meninggalkan mu ya? Semalam kau terlalu tidak bisa diam aku jadi takut dan kabur sebelum kau beraksi. " Ujar Velo memeluk lengan Tuan Haris saat pria itu duduk di sampingnya. Ibu Rose yang terlihat marah hanya bisa menatap tidak suka, Lina, dia hanya akan diam seperti biasanya saja.


" Sayang, Ayahmu kan sedang sakit, juga berjalan dengan tongkat kan? apa mungkin bisa seperti itu? " Bisik Lora, tapi sayangnya suasana hening membuat suara Lora terdengar oleh yang lainnya.


Hanzel mengecup kening Lora.


" Berhentilah untuk penasaran dengan hal yang mustahil. "


Bersambung.