
Diah mendengus kesal karena melihat Putri yang sok rajin sekali sedari pagi tadi. Apalagi saat melihat Hanzel, dua bola matanya itu pecicilan, kegenitan seperti ulat keket ketempelan ulat gatal. Iya, dia memang mengidolakan majikan pria yang dianggap sangat sempurna. Tampan, tubuhnya bagus, setiap kali lewat di dekatnya selalu tertinggal aroma wanginya, belum lagi dia adalah orang kaya. Tapi, kalau untuk kegenitan seperti itu, tentu saja Diah tidak berani melakukanya. Biar mulut suka bergerundel karena iri melihat wanita lain memiliki pasangan yang sempurna seperti itu, tapi dia juga tahu kok dimana batas bisa bersikap kurang ajar.
" Kak Hanzel, ini ikan bakar kesukaan keluarga kami, coba deh pasti kak Hanzel suka. " Putri mengambilkan ikan bakar dengan bumbu rempah yang begitu banyak ke piringnya.
Ita terkejut, bukan karena mengambilkan lauk untuk Hanzel, tapi panggilan Putri kepada Hanzel yang sangat tidak pantas. Ita, keluarganya bukan orang yang sulit keuangan seperti Diah, Ita bekerja disana juga hanya karena ingin menghindari Roni, maka tidak biasa baginya memanggil Tuan di saat dia sekeluarga memiliki pembantu di rumah mereka.
Lora tersenyum, sebenarnya bukan masalah kok mau memanggil Hanzel apa, dia juga cukup berterimakasih karena ada yang mengambilkan lauk untuk Hanzel, tapi yang membuat Lora tida nyaman adalah pakaian Putri yang agak terbuka seperti sedang sengaja ingin menunjukkan itu kepada orang lain.
Hanzel terdiam, dia menatap piring makanannya sejenak, lalu memilah daging ikan bakar itu untuk dia suap kan kepada Lora.
" Buka mulutmu, sayang! Kau suka ikan kan? " Hanzel tersenyum dengan lembut, Lora yang tidak bisa menolak hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar melahap sesendok makanan yang di berikan Hanzel padanya.
" Enak ti- "
" Huek! " Lora menutup mulutnya, kemudian Hanzel memberikan telapak tangannya tepat di depan mulut Lora.
" Muntahkan saja kalau mual sayang. " Ujar Hanzel, Lora yang memang tidak tahan dengan rasa dari rempah yang terlalu kuat, mau tak mau hanya bisa memuntahkan makanan itu di tangan Hanzel. Tak merasa jijik, Hanzel kemudian meletakkan di piring nya yang ada ikan bakar itu, menjauhkan lalu menyeka tangannya dengan tisu. Pemandangan itu tentu membuat Putri semakin yakin kalau Hanzel sangat tidak mudah di dekati, dan rasa cintanya terhadap Lora benar-benar tak main-main.
Ita menatap adiknya dengan tatapan kesal, iya, dia bisa melihat dengan jelas niat adiknya itu melalui tatapan matanya. Hanzel memang pria yang memiliki daya tarik begitu kuat, tapi dia begitu kecewa karena adiknya tak tahu dimana batasan. Ita pasti bisa menebak jika Hanzel sudah sangat mengerti, tapi karena Putri adalah adiknya jadi dia menahan diri untuk tidak marah, dan kalau sampai Hanzel marah besar nanti, berarti adiknya sudah sangat melewati batas. Tentu dia sebagai seorang kakak dan juga sudah di anggap saudara oleh Hanzel dan Lora, dia akan segera mendisiplinkan adiknya sampai dia paham benar bahwa tindakannya sangat salah dan memalukan.
Karena Lora tak berhenti mual setelah memakan ikan bakar buatan Putri, Hanzel kemudian membawa Lora untuk masuk ke dalam kamar. Ini hati Minggu, jadi Hanzel akan menjaga Lora sendiri.
" Sayang, mau makan buah tidak? " Tanya Hanzel setelah mual Lora sedikit berkurang, sungguh melas sekali melihat wajah Lora menjadi pucat kalau setelah mual-mual seperti tadi. Padahal yang dia ingat adalah Lora sangat menyukai ikan, jadi dia memberikan ikan dai putri untuknya, tapi malah membuat Lora jadi begini, sungguh dia sangat menyesal.
" Mau, tapi strawberry saja ya? " Hanzel tersenyum, lalu mengangguk dengan cepat. Segera dia bangkit, keluar dari kamar untuk menuju dapur dan menyiapkan sendiri buah yang ingin di makan oleh Lora.
" biarkan saya saja kak. "
Hanzel mengeryit setelah sempat kaget sebentar dengan adanya Putri yang tiba-tiba.
" Tidak perlu, aku suka melayani istriku. " Ujar Hanzel sebisa mungkin tak ingin menganggap Putri disana. Sebenarnya beberapa saat lalu Ita sudah menegur Putri agar tidak membuat ulah, apalagi sampai memiliki niat untuk menggoda Hanzel. Tapi Putri benar-benar sulit menahan diri karena Hanzel terlalu mempesona, ditambah lagi Hanzel adalah salah satu pria tampan kaya seperti tipe idealnya selama ini.
" Lora kan mual gara-gara aku, biar aku saja yang melakukannya sebagai permintaan maaf dariku. "
Hanzel menghembuskan nafas kasarnya.
Putri terdiam di tempatnya, dia masih menatap Hanzel entah apa yang dia pikirkan. Tapi bagi Hanzel selaku orang yang di tatap seperti itu tentu merasa tidak nyaman.
" Berhentilah menatap seorang pria seperti itu. "
Putri yang terkejut segera memperbaiki ekspresinya, sementara Hanzel, pria itu meletakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong buah strawberry, lalu menatap Putri dengan tegas.
" Pria lain mungkin merasa salah tingkah, tapi bagiku tatapan mu membuatku ingin marah. Jika saja kau bukan seorang wanita, aku benar-benar tidak akan menahan tanganku untuk mengepal kuat dan meninju wajahmu sekuat tenaga. Kau bisa tinggal disini kalau kau bisa menjaga harga diri mu sebagai wanita dengan baik, jika kau masih bersikap tidak tahu batas jangan salah kan aku berbuat nekat dan mengabaikan perasaan menghargai karena Ita adalah orang yang penting bagiku dan istriku. " Hanzel mengambil piring yang berisi potongan buah, lalu pergi meninggalkan Putri yang berdiri dengan tatapan terkejut juga gemetar ketakutan.
" Tuh kan, sudah dibilang jangan kepedean masih tidak percaya. Memang enak dimarahi Tuan Hanzel? " Sindir Diah yang sebal dengan sikap Putri yang kecentilan melebihi ekspektasi nya.
Putri mengepalkan tangannya menahan kesal, dia sudah cukup tertekan dan ketakutan dengan ucapan Hanzel serta tatapannya yang begitu tajam, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh pria lain.
" Kan sudah tahu kalau Tuan Hanzel cinta mati dengan istrinya, istilah sekarang itu budak cinta. Sudah deh jangan banyak berkhayal, mending pulang desa saja sana, di desa mu kan banyak pria toh. "
Putri menatap Diah yang sama sekali tak terlihat takut padanya.
" Tutup mulut cerewet mu itu! Kau juga ingin mendekati Kak Hanzel kan? Hanya saja wajahmu yang jelek itu, kau jadi sadar diri, iya kan?! "
Diah berdecih dengan tatapan kesal.
" Meskipun aku cantik juga tidak mau kalau bersikap sepertimu. Memang aku iri karena Nyonya Lora itu sangat di sayang dan di manjakan. Tapi, aku tidak punya niat melakukan apa yang kau lakukan itu loh. "
Bruk!
Diah dan Putri kompak menoleh ke arah Ita yang menjatuhkan koper Putri di hadapannya.
Dengan tatapan dingin Ita menatap Putri dan berkata,
" Pergilah, kau tidak mau mendengarkan ucapan ku, maka aku juga tidak perlu menjagamu yang tidak bisa di jaga. "
Bersambung.