
Sekembalinya dari makan malam, Hanzel dan Lora memutuskan untuk langsung pulang dan istirahat karena malam juga semakin larut. Seperti yang sudah di janjikan Lora, sesampainya di rumah, tepatnya di kamar mereka, Lora segera menuju ke meja riasnya, mengeluarkan sesuatu yang sudah terbungkus rapih dengan kotak. Dia kembali berjalan ke arah Hanzel dan menyerahkan hadiah itu untuknya.
" Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang. " Lora tersenyum seraya menyodorkan hadiahnya untuk Hanzel.
" Terimakasih, tapi aku juga masih ingin hadiah yang lain. "
Lora mengernyit bingung, sungguh dia tidak paham dengan maksud Hanzel, tapi apapun hadiah yang di inginkan Hanzel, sebisa mungkin dia akan memberikannya.
Hanzel membuka hadiah dari Lora.
" Baju rajutan? "
Lora mengangguk sembari tersenyum dengan begitu semangat.
" Aku merajutnya dari beberapa bulan lalu saat merasa bosan. Memang sih tidak bagus, tapi aku hanya ingin memberikan hadiah dari hasil tanganku sendiri. "
Hanzel tersenyum, sebenarnya baju rajutan yang dibuat Lora itu sangat bagus. Memang polos, tapi itu sangat sama dengan seleranya.
" Kau tidak suka ya? " Tanya Lora karena Hanzel sama sekali tak mengatakan apapun dan memandangi baju rajutan yang ia buat tanpa ekspresi.
Hanzel, pria tampan itu meraih pinggul Lora, merapatkan dengannya dan mengecup keningnya. Hanzel meletakkan baju buatan Lora di atas tempat tidur, lalu menangkup wajahnya, menatap dengan lembut.
" Terimakasih, kau satu-satunya orang yang memberikan hadiah sangat tidak biasa untukku. "
" Apa kau suka? "
Hanzel tersenyum, lalu mengangguk. Suka, dia sangat suka hingga tidak tahu bagaimana harus berekspresi. Jujur, dia sangat tersentuh dengan hadiah yang diberikan Lora padanya, karena meskipun Lora sempat terlambat beberapa jam, nyatanya Lora sudah menyiapkan hadiah untuknya dari jauh-jauh hari.
" Lora, mari kita hidup bersama selamanya, oke? "
Lora terdiam karena dia terkejut luar biasa dengan kalimat indah yang keluar dari mulut Hanzel. Hidup selamanya? Kata-kata itu dia pikir hanya akan ada di dalam mimpi saja, selain karena Hanzel sangat tertutup, Hanzel juga tidak pernah mengatakan ketertarikannya dengan Lora.
" Kenapa kau diam? Apa kau sudah berubah pikiran? " Tanya lagi Hanzel karena tak mampu membaca apa yang hati Lora katakan.
" Bukan, tapi aku masih tidak percaya kalau akan mendengar ini darimu. "
" Jadi, kau mau atau tidak hidup selamanya bersamaku? " Tanya Hanzel lagi, tapi kali ini tatapan matanya semakin terlihat lembut, juga terlihat pengharapan yang besar, seperti apa yang dirasakan Lora. Tak menjawab, tapi Lora mewakili dengan anggukan dan senyuman bahagia sesuai dengan apa yang dirasakan hatinya.
" Terimakasih, Lora. " Hanzel membawa Lora ke dalam pelukannya. Cukup lama mereka berpelukan, tapi sejujurnya juga masih ingin terus berpelukan kalau bisa.
" Jadi, surat perjanjian itu tidak berlaku lagi kan? "
Hanzel mengurai pelukannya, melepaskan diri dari pelukan Lora untuk berjalan menuju laci yang tak jauh dari tempat tidurnya, di sanalah Hanzel meletakkan surat perjanjian itu.
" Kau bisa membakarnya, merobek atau menginjaknya sesuai dengan apa yang kau inginkan. " Hanzel menyerahkan lembaran surat perjanjian itu kepada Lora.
" Iya. "
Lora menarik nafas dalam-dalam, menatap sebentar surat perjanjian sembari bernostalgia di hari itu. Sungguh tidak diangka kala pada akhirnya surat perjanjian yang nampak sangat merugikannya dan melecehkan dirinya sebagai seorang wanita tak pernah dirasakan olehnya. Hanzel pada awalnya terlihat sangat dingin dan arogan, tapi semakin hari mengenal Hanzel, Lora selain jatuh hati dan terperangkap dengan cinta indah yang di rasakan hatinya. Hanzel, nama itu adalah nama pertama dan terakhir yang akan dia cintai dengan segala kesungguhan hatinya. Memang benar tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi Lora akan terus meyakinkan bahwa hanya Hanzel seorang lah yang akan di cintai dari awal hingga akhir.
Setelah cukup bernostalgia, Lora segera merobek-robek surat perjanjian itu hingga menjadi kecil-kecil tak beraturan. Dia menebar surat perjanjian itu dengan bahagia karena bebas mencintai Hanzel tanpa adanya batasan dan tidak usah khawatir lagi tertekan oleh surat perjanjian suatu hari nanti.
Hanzel, pria itu hanya bisa tersenyum melihat indahnya wajah Lora saat tersenyum bahagia. Dia seperti bisa langsung merasakan bagaimana bahagianya Lora, jadi tidak sulit untuknya kalau hanya tersenyum saja.
" Kau sebahagia itu? " Tanya Hanzel tapi tak juga menghentikan senyumnya. Lora mengangguk dengan cepat, lalu segera dia kembali memeluk Hanzel dengan erat. Sekarang dia bisa menjadi istri yang sesungguhnya, dia tidak perlu lagi menempatkan dirinya sebagai wanita sementara.
" Aku bahagia sekali, bahkan sangat bahagia sampai aku sendiri tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaanku dengan benar. Aku sangat bahagia, tapi aku malah ingin menangis. "
Hanzel tertawa kecil, lalu segera merapatkan pelukannya bersama Lora.
" Sayang, kalau kau ingin punya anak sekarang aku juga tidak masalah. Aku kan bis tetap kuliah saat hamil. "
Hanzel menghela nafasnya, lalu mengecup pipi Lora. Jika boleh jujur dia juga menginginkan anak, tapi dia juga tidak ingin merampas masa muda Lora dengan mengandung anaknya sekarang.
" Kita tunda dulu sampai kau lulus sekolah ya? "
Lora mengurai pelukannya dan menatap Hanzel sedih.
" Kau tidak mau anak dariku ya? "
Hanzel menghembuskan nafas beratnya.
" Bukan begitu, kau kan masih muda, akan lebih baik kalau tunda saja sampai selesai kuliah. Aku janji pada diriku sendiri untuk membiarkan mu menikmati masa muda mu. Lora, masa itu tidak akan pernah kembali seberapa besarpun penyesalan yang kau rasakan. "
Lora terdiam tidak ingin menjawab. Memang benar dia masih muda, dia juga bisa melihat dengan jelas teman-teman di kampusnya akan nongkrong di kafe setelah jam kuliah selesai, janjian di malam Minggu itu nongkrong dan menonton film. Tapi, meksipun begitu Lora juga tidak memiliki niatan seperti mereka. Tiga belas tahun dia habiskan di desa, tempat yang penerangannya saja sangat terbatas, setiap hari yang dia lihat adalah pepohonan dan tumbuhan hijau yang segar. Jika saja boleh jujur, suasana di desa sangat nyaman meksipun kota juga menyuguhkan keindahannya sendiri, tapi Lora adalah gadis kampung yang terbiasa hidup di kampung. Di usia delapan belas tahun bahkan ada yang sudah punya anak, jadi apakah salah jika Lora berpikir seperti itu?
" Kenapa kau diam begini? Apa kau lebih semangat punya anak di banding aku? " Hanzel menangkup wajah Lora dan membuatnya menatap ke arahnya.
" kenapa kau diam? "
" Aku sebenarnya ingin sekali punya anak, tapi aku akan mengikuti keinginan mu karena anak juga aku kan tidak bisa buat sendiri. " Ujar Lora yang sukses membuat Hanzel terkekeh.
" Ngomong-ngomong, jadwal mu tidak padat hari ini? "
Lora terdiam sebentar.
" Ada seseorang yang mengatakan padaku, balas dendam yang sesungguhnya adalah bahagia. Bahagia sebahagia mungkin hingga yang membencimu terbakar oleh api kecemburuan dan tanpa sadar melakukan apa yang di luar akal sehat. Aku hanya bahagia bersamamu, jadi aku hanya akan bersamamu terus agar bisa bahagia. "
Bersambung.