
Nora terdiam melihat air mata Lora yang jatuh saat mendesaknya untuk segera sembuh. Tubuhnya kini gemetar takut, iya, dia takut bahwa dia tidak bisa mendapatkan kesembuhan itu, dan dia taku membuat Lora kecewa dan semakin bersedih setelah kemalangan bertubi yang di alami olehnya.
Nora gadis itu mengepalkan kedua tangannya, rasanya ingin membujuk Lora untuk jangan memaksanya, tapi melihat tatapan Lora yang begitu menuntut, dia seperti tidak sanggup mengatakan itu, dan jadi ingin mengatakan iya sesegera mungkin.
" Aku ingin kau sembuh, bukankah kita harus mengganti waktu kita yang hilang karena takdir jahat ini? Kenapa kau datang untuk meminta maaf lalu ingin pergi mati seperti tidak punya perasaan saja! " Lora kembali menangis, kali ini dia sampai terisak karena tidak tahan lagi. Dia kehilangan Ibunya saja sudah seperti kehilangan keinginan untuk hidup, kaki sekarang dia harus melihat saudari kembarnya juga mati? Benarkah Tuhan memang sejahat itu? Kenapa ujian kehidupan begitu berat untuknya? Tidakkah Tuhan tahu bahwa dia amat menderita dan hampir mati setiap saat karena kejamnya dunia ini dengannya?
Nora, gadis itu bangkit dan memeluk Lora, dia sendiri juga menangis tanpa suara. Sejujurnya dia juga ingin hidup lebih lama, tapi karena selalu tak mendapatkan apa yang dia rasa bisa membuatnya bahagia, dia berpikir mati adalah jalan terbaik untuknya agar tak merasakan kekecewaan yang amat dalam dan menyakitkan ini.
" Maaf, Lora. "
" Apa kau tidak tahu betapa mengerikan dan betapa sakitnya melihat orang yang dicintai mati? Aku tidak ingin merasakannya lagi asal kau tahu! " Ucap Lora marah tapi dia juga tak mendorong tubuh Nora menjauh.
Setelah mereka berdua tenang, sekarang Lora dan Nora memutuskan untuk membicarakan bagaimana Ibu mereka bisa meninggal.
" Aku benar-benar tidak terlalu mengerti alasan Ibu meninggal. Pagi harinya padahal Ibu baik-baik saja, tali begitu Ibu pulang dari bekerja di pasar, Ibu bilang bahwa dia sangat pusing, kemudian tidak lama dia pingsan. Aku masih sangat kecil sehingga tidak tahu menahu bagaimana cara merawat orang yang pingsan, jadi aku hanya berteriak minta tolong saja. Karena tidak banyak tetangga, lama sekali tidak ada orang yang datang, lalu aku berlari keluar dan meminta orang yang sedang lewat untuk membantu Ibu. Tapi orang itu malah mengatakan kalau Ibu sudah mati, padahal aku tidak menginginkan ucapan seperti itu. "
Nora meraih tangan Lora dan menggenggamnya. Dia juga seorang anak yang lahir dari rahim Ibunya, jadi mana bisa dia tidak menangis? Selama ini dia pikir Lora dan Ibunya pasti akan hidup bahagia karena Ibunya adalah orang yang penuh kasih dan juga selalu bersikap lembut. Tapi sungguh tidak disangka kalau jalan cerita hidup Kita dan Ibunya sama sekali tak seperti yang ia bayangkan.
" Lora, kita sama-sama mengalami kesedihan setelah perceraian Ayah dan Ibu, meksipun apa yang aku rasakan tidak bisa dibandingkan dengan dirimu, tapi dengan tidak tahu malunya aku malah merasa sangat cemburu karena berpikir hidup mu jauh lebih baik dan bahagia tidak sepertiku yang bahkan tersenyum pun harus di atur. "
Lora mengeratkan genggaman tangan mereka.
" Aku juga cemburu parah melihat betapa indahnya semua photo yang kau unggah di media sosial. Kau, Ayah, dan juga keluarga baru mu benar-benar terlihat sangat bahagia, jadi aku sangat marah dan ingin membalas. "
" Tidak seperti itu, Lora. Aku harus terlihat bahagia, aku harus terlihat begitu mencintai Ibu tiri ku karena demi menjaga nama baik ku di dunia hiburan. Lora, apa kau tahu penyesalan terbesarku selama ini? Aku amanat menyesal membiarkan wanita itu muncul, bahkan aku menuruti keinginannya untuk membujuk Ayahku dan menikahinya. "
Lora mengeryit karena merasa aneh dengan adanya wanita yang katanya adalah Ibu tirinya Nora yang muncul secara tiba-tiba.
" Dari mana wanita itu datang? " Tanya Lora penasaran.
" Dia bilang dia adalah teman kerja Ayah, jadi dia berniat membatu dengan merawat Ayah, tali dengan alasan adab, dia meminta ku untuk membujuk Ayah agar segera menikahinya. "
Lora semakin tak habis pikir jadinya.
" Kau sudah menyelidiki orang itu? " Tanya Lora.
" Sudah, semuanya sangat bersih, begitu bersih sampai aku malah menjadi curiga. " Ujar Nora yang sampai sekarang juga masih tak bisa mempercayai Ibu tirinya itu.
" Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa dia bukan wanita yang baik. "
" Aku juga berpikir begitu, tapi sangat sulit membuktikannya. "
Nora dan Lora kompak saling berpikir, lalu mereka kompak menghela nafas juga karena lelah berpikir tapi tak mendapatkan jawaban apapun dari sega dugaan mereka. Mereka berdua tersenyum karena menyadari jika mereka melakukan hal kecil dengan kompak tanpa mereka sadari sebelumnya.
" Kau belum memaafkan mu, kan aku sudah bilang akan memaafkan mu kalau kau sudah sembuh nanti. "
Nora tersenyum lalu mengangguk.
" Aku akan menemui Dokter begitu pulang dari sini. Oh iya, pacar mu tidak khawatir kau pergi lama begini? "
Lora menggeleng dengan senyuman.
" Dia yang sudah memberikan saran untukku menemui mu, dan sebenarnya dia bukan pacarku. "
" Apa?! Tapi panggilan sayang kalian itu untuk apa?! "
" Karena kami kan suami istri. "
Nora terdiam sebentar, hanya matanya saja yang terus berkedip menandakan dia sedang berpikir di saat dia sedang terkejut.
" Kau sudah menikah? "
Lora mengangguk cepat.
" Kau kan masih delapan belas tahun! " Ucap Nora.
" Jangan lupa, hari ini kita kan sudah sembilan belas tahun. "
Nora terdiam sebentar, iya! Hari ini mereka berulang tahun.
" Selamat ulang tahun, Lora. " Ucap Nora seraya menyeka air mata haru. Ini adalah kali pertama merasakan bagaimana indahnya hari ulang tahun setelah mereka berpisah.
" Selamat ulang tahun juga, Nora. " Mereka kompak menangis haru lalu berpelukan dengan bahagia.
Tak lama kemudian, Lora dan Nora memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sembari mencari tempat yang menjual kue tart coklat kesukaan mereka berdua sat kecil. Lalu mereka meniup lilin bersamaan, tak lupa mereka juga mengabadikan momen bahagia itu bersama.
" Hah! Kenapa dahi ku terlihat lebih lebar? " Gerutu Nora.
Lora terkekeh sendiri sembari menatap Nora yang sibuk dengan ponselnya. Rasanya masih tak percaya kalau hubungan mereka akan membaik secepat ini, tapi setidaknya Lora juga merasa bersyukur karena pada akhirnya dia tidak jadi membalas dendam. Iya, dulu dia sempat berpikir ingin merebut tunangan Nora untuk membuat Nora sakit hati, tapi adanya Hanzel dan sikapnya yang baik setiap waktu, Lora jadi mulai mementingkan perasaan Hanzel dan membatalkan niat buruknya itu.
" Lora, apa kau sadar bahwa wajahmu sangat mirip dengan Ibu? Kita ini kan kembar, tapi pasti tidak banyak orang yang akan menyangka jika tidak mengamati wajah kita dengan seksama. " Ucap Nora sembari memandangi photo mereka.
" Iya, dan kau sangat mirip Ayah. "
Bersambung.