Little Wife

Little Wife
BAB 25



Hanzel menghela nafas kesalnya karena terjadi kesalahan dalam proses pemasaran teh kemasan yang rencananya akan di pasarkan mulai bulan depan. Padahal Hanzel sudah selektif memilih dua model untuk mengiklankan teh kemasannya, tapi dengan alasan kegagalan operasi plastik mode wanitanya, dia kini harus memilih lagi siapa yang cocok untuk iklan teh kemasannya. Rupanya pusingnya Hanzel kali ini terbawa sampai ke rumah, dan Lora bisa melihat itu dengan jelas.


" Tuan, ada masalah apa? " Tanya Lora yang tidak tahan juga lama-lama melihat suaminya berdiam dengan wajah kusut, kan sayang wajah tampannya jadi terlihat kalah dan tidak terlihat jelas.


Hanzel tersentak lalu menatap Lora, kalau Lora sudah bertanya, pasti terlaku kentara wajahnya yang sedang pusing itu kan?


" Hanya ada sedikit masalah di kantor, tidak ada yang serius. " Ucap Hanzel sebisa mungkin tidak ingin berbagi kepusingan dengan Lora yang dia saja baru mulai berkuliah.


Lora menghela nafas sebalnya, karena rasa ingin tahunya yang besar, Lora akhirnya mendekatkan kursinya dengan kursi Hanzel hingga lengan mereka bertabrakan.


" Tuan, cerita saja denganku. Siapa tahu aku bisa membantu, memang sih aku hanya anak-anak dimata Tuan, tapi kadang-kadang orang tua juga membutuhkan anak-anak untuk inspirasi loh. " Lora terkekeh setelahnya, Hanzel yang sedari tadi wajahnya lesu juga ikut tersenyum meski tak terlalu terlihat nyata.


" Jadi maksudmu, aku adalah orang tua dan kau adalah anak-anak begitu? "


" Kan Tuan sendiri yang bilang begitu. "


Hanzel mengernyit bingung. Kapan dia pernah mengatakan itu? Tapi pastinya itu pernah dia katakan kepada Lora kan?


" Tuan, jangan bilang kekasih Tuan akan datang kesini. "


Hanzel menatap Lora dengan tatapan kaget, iya dia memang kaget! Bagaimana tidak kalau Lora membahas tentang kekasih di saat seperti ini? Memang benar kalau putus cinta pasti akan sedih, tapi kali ini dia lebih cenderung pusing memikirkan siapa artis atau model yang cocok untuk mengiklankan minumannya. Ada sih beberapa yang sudah di rekomendasikan kepadanya, tapi setelah melihat visual mereka Hanzel tidak cocok sama sekali dengan mereka.


" Wah, Tuan diam saja berarti benar ya?! " Lora meraih segelas air putih, lalu menenggaknya habis dengan wajah sebal.


" Untunglah air ini bisa membuat otak ku yang mulai panas kembali dingin. " Ujar Lora sedikit melirik sebal kepada Hanzel. Benar sih di dalam perjanjian tidak di izinkan dia ikut campur urusan pribadi Hanzel, tapi kali ini dia sulit menahan diri.


Hanzel, pria itu sedari tadi terus menatap Lora, dan kini bibirnya terlihat tersenyum tipis.


" Tuan, meskipun aku tidak dibolehkan ikut campur urusan pribadi Tuan, tapi aku kan istrinya Tuan, jadi aku belum bisa menerima wanita lain di rumah ini. Tuan jangan marah ya?"


Lora mengeryit bingung, kenapa sedari tadi Hanzel tidak bicara sama sekali? Apakah tuduhan itu sungguh benar? Hah! Kalau benar sungguh dia akan murka, dan mungkin dia akan murka kepada Tuhan yang merusak kehidupan indahnya.


" Tuan, kalau sungguhan Tuan ingin meni- "


" Lora, kau mau jadi model minuman teh kemasan tidak? "


" Hah? " Lora menatap Hanzel bingung, sebenarnya Hanzel itu dengar tidak sih sedari tadi mengoceh banyak hal?


" Model yang sudah aku pilih membatalkan rencana karena operasi plastiknya mengalami infeksi. "


" Jadi Tuan galau sedari tadi bukan karena memikirkan wanita lain? " Tanya Lora dengan mimik yang berbinar semangat.


" Bukan. " Jawab Hanzel.


" Kalau begitu aku mau kok! jadi model minuman, model lingerie juga boleh asalkan Tuan bahagia. "


Hanzel menggeleng dengan wajah sebal. Lingerie? Bukankah kalau dengan begitu sama artinya dia menjual tubuh istrinya agar ditonton banyak orang? Lora ini sebenarnya paham tidak sih dengan kata-katanya sendiri? Atau malahan dia tidak paham apa arti dari Model?


" Lora, model itu adalah orang yang diphoto dengan berbagai gaya. Kalau model minuman berarti mau berphoto dengan minuman, dan harus berpose yang cocok saat diambil gambar agar membangkitkan minat pembeli. "


" Iya iya aku paham, pokoknya gunakan saja aku sesuka hati Tuan, kan aku istrinya Tuan. "


Hanzel menelan salivanya sendiri. Gunakan aku? Kenapa kata-kata itu benar-benar membuatnya gugup ya? Sebentar Hanzel megambil nafas dan menghembuskan untuk mengurangi perasaan gugupnya. Berbeda dengan Lora, gadis itu malah nampak semangat, dia juga memeluk dan menyender di lengan Hanzel karena merasa bahagia.


Hanzel menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya menyembunyikan rona merah yang mulai menghiasi wajahnya.


Lora ini benar-benar ya, setiap kali bicara kalimatnya begitu ambigu sekali. Bahagia karena dia berguna? Apakah dia tidak sadar kalau setiap malam juga dia sangat berguna untukku? Kalau tidak ada kau Lora, aku pasti akan mengejar cinta lama agar bisa melampiaskan sesuatu seperti pria normal lainnya.


" Tapi besok aku ospek terakhir Tuan, jadi bagaimana dong? "


" Nanti kau ambil saja minuman botol di lemari pendingin, kau bisa gunakan itu sebagai contoh, nanti gayanya akan aku arahkan sesuai yang aku bisa. "


" Oke! "


" Jadi besok kau akan menginap disana? "


" Iya. "


Hanzel menghela nafasnya.


" Apakah kau senang kuliah disana? "


" Iya. "


" Kau punya banyak teman? Apakah teman perempuan atau teman laki-laki yang sudah kau kenal? "


" Teman? Apakah yang dimaksud teman itu yang mengajak bicara? "


" Memang banyak yang mengajakmu bicara? "


" Em, ada beberapa sih. Tapi kalau teman perempuan hanya kenal satu orang saja. "


" Lora, teman laki-laki sebaya dengan mu adalah anak-anak muda yang kadang suka sembrono dan tidak berpikir panjang. Kau harus bisa menjaga diri dari mereka, mereka itu pasti sangat suka bermain dengan banyak gadis cantik, berpacaran dengan dua, tiga atau bisa juga lebih. Kau harus hati-hati sekali, bila perlu jangan menjawab saat dia menegur atau menyapa mu, kau mengerti tidak? "


Lora mengangguk saja karena yang Ita katakan adalah untuk menurut apa ya.g diperintahkan Hanzel.


" Oh, kalau dia mengatakan, Lora kau cantik sekali, Lora kita berteman yuk? Atau kalau ada yang mengatakan Lora kita pacaran yuk?, yang harus kau lakukan adalah mengacungkan jari tengah mu, dengan seringai seperti ini. Setelah itu katakan, F**k you! " Hanzel mempraktekan bagaimana caranya mengatai seseorang melalui senyum dan acungan jari tengahnya.


" Artinya apa itu Tuan? "


Hanzel sontak menurunkan tangannya, dia berdehem beberapa kali karena merasa malu sendiri dengan tingkahnya yang seperti cacing kepanasan takut Lora akan terpesona dengan pria yang jauh lebih muda dari pada dirinya.


" Artinya, artinya, " Hanzel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Artinya aku tidak mau! "


" Oh, baiklah! " Lora mengacungkan jari tengahnya dengan seringai persis seperti yang Hanzel ajarkan.


" Tuan, F**k You mengecewakan mu! "


Apa-apaan ini?! Mungkin bagi Lora ini artinya Tuan, aku tidak mau mengecewakan mu, tapi kenapa aku merasa sedang di maki?!


Bersambung.