
Lora kini tengah tersenyum melihat pesan masuk dari Nora yang mengirim banyak sekali photo saat mereka bersama merayakan ulang tahun seharian tadi. Seperti Nora, ini adalah hari ulang tahun paling mengharukan setelah mereka terpisah selama beberapa tahun belakangan ini.
Hanzel, pria itu sebenarnya merasa senang melihat Lora bahagia seperti ini, tapi dia jadi harus menunda kejutan yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari. Tapi sudahlah, bahagia seperti ini juga mungkin sudah seperti kado ulang tahun terbaik yang pernah di dapatkan olehnya.
" Ngomong-ngomong apa kau masih butuh lama untuk memandangi ponsel mu? " Tanya Hanzel karena lelah juga menunggu Lora yang tak berhenti dengan ponselnya.
" Ah, maaf, sayang! " Lora segera menjauhkan ponselnya, dia berjalan mendekati Hanzel yang duduk di dekat jendela. Lora duduk di pangkuan Hanzel, mengalungkan kedua lengannya memeluk Hanzel. Benar sekali, dia sudah terlaku sibuk seharian ini, dan sekarang di tidak boleh memikirkan yang lain apalagi ini adalah liburan pertamanya dengan Hanzel.
" Kita pergi makan keluar ya? " Ajak Hanzel.
" Iya,aku ganti baju dulu ya? "
" Aku sudah menyiapkan baju untukmu, tuh di atas lemari ada paper bag, pakai itu ya? '' Pinta Hanzel seraya mengusap wajah Nora dengan lembut.
" Oke! "
Seperti yang diminta Hanzel, Lora segera mengganti pakaiannya, lalu memoles riasan natural ke wajahnya. Tak lupa dia juga menggunakan parfum yang di belikan Ita sebagai penambah sedap aroma tubuh yang katanya akan memikat lawan jenis.
Setelah semuanya dirasa siap, Lora berjalan mendekati Hanzel yang sudah siap juga.
" Sayang, lihat nih! Cocok tidak? "
Hanzel berbalik badan untuk melihat Lora, dia membeku sebentar karena terpana melihat Lora menggunakan dress yang ia pesankan untuknya. Padahal hanya dress berwarna nude yang cenderung polos, tapi begitu melekat di tubuh Lora, dress itu benar-benar terlihat sangat mahal luar biasa.
" Sayang, kenapa diam? Cocok atau tidak? " Tanya lagi Lora karena belum mendapatkan jawaban apapun dari Hanzel.
" Bagus, kau cantik, sangat cantik. " Hanzel berjalan mendekat, meraih dagu Lora dan mencium bibinya sebentar.
" Aku sulit menahan diri kalau kau secantik ini. " Ujar Hanzel seraya meraih pinggang Lora dan merapatkan dengan tubuhnya. Ah, seandainya saja tidak harus segera berangkat, dia benar-benar akan menerkam dan memakan Lora sampai habis.
" Bagaimana kalau kita batalkan saja rencana malam ini? "
" Tidak boleh! " Tegas Hanzel, bagaimana mungkin membatalkan rencana yang sudah dia tunda cukup lama dari rencana sebelumnya.
" Ya sudah, kan kita bisa menahannya sampai pulang nanti. " Ujar Lora lalu terkekeh sendiri.
" Benar sekali. "
Tak membuang waktu terlalu lama, Han ke dan Lora segera menuju tempat makan yang sudah dipesan oleh Hanzel.
" Sayang, kok sepi sekali? Apa sudah tutup? " Tanya Lora kebingungan. Padahal jelas dekorasinya sangat cantik, tapi kenapa sepi sekali? Kalaupun sudah tutup apakah mungkin restauran di Bali jam masih terbilang sore sudah tutup?
" Nanti kau akan tahu kok. " Hanzel meraih tangan Lora, membawanya masuk ke dalam. Hanzel dan Lora disambut dengan ramah, membuat Lora semakin kebingungan karena merasa seperti tamu spesial karena restauran mereka sangat sepi sekali, dan Hanzel beserta Lora adalah pelanggan pertama mereka.
Di sebuah meja yang sudah di siapkan dua gelas berisi anggur, juga ada beberapa makanan pembuka, sekaligus potongan buah yang tersusun rapih dan cantik.
Hanzel, pria itu hanya bisa menghela nafas dan menahan tawanya sedari tadi.
" Sayang, aku memang sengaja menyewa tempat ini khusu untuk kita berdua saja, tapi kalau hari-hari biasa tempat ini sangat ramai kok. "
Lora mengernyit menatap Hanzel. Menyewa tempat semewah ini pasti sangat mahal kan?
" Sayang, pasti mahal sekali ya? "
Hanzel mencubit pipi Lora dengan pelan.
" Tidak semahal momen yang akan kita ciptakan disini berdua, jadi abaikan masalah uang dulu. " Lora mengangguk setuju.
" Ah, lihat lah kue ulang tahun untukmu sudah datang. " Hanzel tersenyum sembari menunjuk seorang pelayan yang berjala mendekat membawakan kue ulang tahun yang sangat mewah Meksi ukurannya tidak sebesar yang ada di film-film. Kalau dilihat desain kuenya, Lora yakin sekali pasti harganya sangat mahal kalau di bandingkan dengan kue yang pernah ia tahu.
" Selamat ulang tahun, istriku. "
Lora yang tadinya tengah mengagumi betapa cantiknya kue ulang tahun yang kini berada di dalamnya, kini menjadi fokus menatap Hanzel saat Hanzel dengan lembut mengucapkan kata selamat ulang tahun dengan tambahan nama yaitu, istriku.
Lora tersenyum, dia sangat bahagia hingga tanpa sadar matanya memerah menahan tangis, tentu bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Lora memeluk Hanzel dengan erat, kini dia semakin yakin bahwa satu-satunya pria yang akan dia patrikan di dalam hatinya adalah Hanzel seorang. Entah kapan memang usia akan berakhir dan perpisahan di antara mereka kan terjadi, tapi sumpah demi Tuhan, Lora akan bertahan sampai hari itu tiba, hari dimana sudah tidak bisa menolak berpisah jika maut sudah tiba.
" Terimakasih, sayang. Terimakasih karena sudah hadir di dalam hidupku. Terimakasih karena membuat hari ulang tahunku semakin bahagia hari ini. Aku benar-benar belum pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini sebelumnya, dan ini berkat dirimu. "
Hanzel mengecup kening Lora, lalu mengarahkan tubuh Lora agar berbalik dan memikat ke langit karena sebentar lagi kembang api akan segera bermunculan membentuk kata, Happy Birthday wife, and i love you!
Lora kini semakin tak bisa menahan air mata yang jatuh bercucuran tak tertahankan.
" Ini hadiah kecil untukmu! " Hanzel memasangkan sebuah kalung dari mas putih, liontin kecil yang ada disana terbuat dari berlian murni dan itu juga sudah dipesan Hanzel dari sebulan yang lalu.
Lora memegang dengan jemari kalung indah yang kini sudah menghiasi lehernya. Dia menyeka air matanya dan berbalik untuk menatap Hanzel.
" Terimakasih, sayang. Aku benar-benar merasa diperlakukan degan sangat baik, aku benar-benar tidak membayangkan hal ini akan terjadi dulu. Semua berkatmu, sekarang aku baik-baik saja, Bahakan aku sangat bahagia karena mu. "
Hanzel membawa Lora ke dalam pelukannya.
" Kau juga, aku juga ingin berterimakasih padamu karena sudah menganggap ku pria yang bisa di andalkan, kau juga selalu mengutamakan ku membuatku merasa begitu dicintai. Aku bahagia bersamamu Lora. "
" Aku juga. "
" Mulai sekarang kita harus semakin terbuka, apapun masalah di antara kita usahakan ceritakan sedetailnya, kita tidak perlu menyimpan rahasia dengan alasan klasik untuk kebaikan, aku lebih suka kejujuran karena dengan begitu aku bisa menentukan sikap, apakah aku harus membantu, apakah aku harus diam, kau mengerti kan? "
" Iya. "
Bersambung.