
Risha pergi meninggalkan rumah Hanzel dengan perasaan kesal. Masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi, padahal selama ini yang ia tahu Hanzel begitu mencintai dan mendambakan dirinya untuk menjadi istrinya. Andai saja saat itu dia tidak ragu-ragu dan mendapat restu dari orang tuanya, maka sekarang dia lah yang akan menjadi istrinya Hanzel. Menyesal, itu jelas sekali ia rasakan, karena dari sekian banyak pria yang dekat dengannya, hanya Hanzel lah satu-satunya yang selalu bisa memanjakan dan membuatnya merasa seperti seorang putri raja. Boleh saja kali ini dia pergi begitu saja karena tak bisa menahan kekesalannya, tapi akan ada esok hari, dan dia akan tetap memperjuangkan Hanzel yang dia pikir memang tercipta untuknya.
Lora duduk terdiam sembari menggigit bibir bawahnya karena takut Hanzel akan marah atas kelancangannya tadi. Memang sadar kalau dia salah, jadi seandainya Hanzel mengomel dia akan terima dan pasrah saja.
Hanzel, pria tampan itu terus memandangi Lora yang terlihat lucu karena ketakutan. Padahal Hanzel sama sekali tidak melotot, atau memasang wajah sebal atau kesal. Tapi diam memandangi Lora yang imut seperti ini malah membuatnya betah berlama-lama.
" Tuan, apa tidak ingin bicara apa-apa? Tuan sangat marah sampai tidak bisa bicara ya? " Lora yang sudah tidak tahan rupanya memutuskan untuk bertanya, dia juga menatap Hanzel dengan kedua alisnya yang menurun sedih.
Hanzel kembali tersenyum tipis, memang benar-benar sangat imut, semoga saja dia tidak akan pernah menunjukkan mimik seperti ini di hadapan pria lain.
" Duduk sini! " Hanzel menepuk sebelah pahanya agar Lora duduk disana, tentu saja tak membuang banyak waktu Lora segera bangkit dan duduk dipangkuan Hanzel. Apapun yang Hanzel katakan sebisa mungkin tidak akan dia bantah, terkecuali Hanzel ingin menikah lagi.
" Kau mendengar semua pembicaraan kami? "
Lora menunduk karena tak berani mengiyakan, tapi tak berani juga mengatakan tidak karena Hanzel adalah pria yang paham benar apakah dia bohong atau jujur.
" Kenapa diam? Takut? Dengan siapa? " Pertanyaan Hanzel barusan benar-benar membuat Lora berani menatap Hanzel dengan lekat. Dengan siapa? Melihat kedua mata Hanzel Lora mulai tahu kalau Hanzel sama sekali tidak marah, jadi dia tidak perlu merasa takut lagi.
" Tadi aku penasaran, jadi turun ke bawah untuk mendengarkan apa yang Tuan bicarakan dengan pacar Tuan tadi. Meskipun di surat kontrak sudah di ingatkan, tapi aku tetap tidak bisa menahan diri, jadi aku pikir kalau Tuan membahas soal surat kontak pernika- " Lora tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya karena Hanzel sudah lebih dulu membungkam mulut Lora dengan serangan bibir yang tiba-tiba.
" Em..... " Lenguh Lora saat Hanzel mengerakkan tangannya memijat bagian dadanya, bibirnya kini sudah pindah untuk menyesap leher indahnya. Padahal tadinya hanya ingin mencium bibir Lora saja, tapi kehilangan kendali juga bukan sengaja, dan memang sulit untuk menahan diri bila Lora bersamanya.
" Tuan.... " Panggil Lora dengan suara yang begitu menikmati apa yang sedang Hanzel lakukan padamu. Dress rumahan yang digunakan Lora sudah berantakan, bagian benda kembar kenyalnya juga sudah terbuka dengan jelas, bagian bawahnya Hanzel singkap ke atas, kain penutup segitiga juga sudah ia singkirkan. Sebentar Hanzel memandangi bagian tubuh Lora yang sangat indah, bagian atas, hingga ke intinya yang polos seperti milik anak-anak tanpa rambut, membuat Hanzel semakin tak sabar dibuatnya. Masa bodoh dimana mereka berada sekarang, karena Ita juga tidak mungkin berani melihat, jadi Hanzel tak tahu menggunakan ruang tamu untuk melakukan apa yang dia inginkan.
" Tuan..... " Panggil Lora lirih saat Hanzel menyesap nikmat bagian terpenting dari seorang Lora.
" Jangan panggil aku Tuan, panggil aku dengan mesra. "
Lora terdiam sebentar.
" Ha Hanzel,.... "
Hanzel tersentak karena mendengar namanya disebut dengan nada begitu menggoda dan indah sekali di telinganya. Hanzel semakin menjadi, dia melakukan banyak gerakan di lidah juga ditangan demi terus namanya disebut oleh Lora.
Ita, janda tanpa anak itu hanya bisa memaki handset saja karena tidak mau mendengar suara-suara aneh yang mengerikannya melebihi kuburan keramat.
" Tenang saja, tidak akan ada yang bisa melihat. Kan pintunya sudah di tutup, di depan juga ada pagar tinggi, tidak akan ada orang yang kurang kerjaan sampa harus mengintip dan naik ke tembok. "
" Kak Ita? "
Hanzel mengecup singkat bibir Lora, lalu perlahan bangkit melepaskan perlahan bagian mereka yang menyatu. Hanzel duduk sebentar di sofa, mengatur nafas dan tenaganya yang terkuras habis karena memang dari kemarin mereka seperti kerasukan jin mesum lagi-lagi melakukannya entah sudah berapa kali. Lora juga bangkit dari posisinya yang berbaring di atas sofa, meraih beberapa lembar tisu untuk menyeka miliknya, lalu mengambil tisu lagi untuk menyeka milik Hanzel. Benar-benar seperti Suami istri yang sudah bertahun-tahun hidup bersama, tidak ada lagi kecanggungan, dan itu membuat Hanzel merasa amat senang.
" Lora, sore nanti kita pergi keluar ya? "
" Kemana? "
" Pergi saja, kita bisa menonton atau apa. Karena kalau kita tetap dirumah, yang ada kita tidak bisa berhenti, besok kau bisa jadi tidak bisa kuliah, aku juga kehabisan tenaga. "
Lora tertawa kecil, senangnya mendengar Hanzel bicara seperti itu. Kalau boleh jujur, dia juga sangat lelah, tapi saat akan melakukanya pasti lupa dengan lelahnya, nanti kalau sudah selesai baru perasaan lelah itu menjadi lebih terasa.
Seperti yang dijanjikan Hanzel, setelah mereka cukup untuk istirahat, sorenya Hanzel membawa Lora untuk pergi menonton film bersama.
" Film apa yang ingin kau tonton? " Tanya Hanzel kepada Lora begitu mereka sampai di bioskop.
" Tidak tahu, Tuan. Apa saja yang penting filmnya bagus. " Ujar Lora. Dia mana tahu akan menonton film apa, pergi ke bioskop saja dia baru pertama kali ini, dan itulah sebabnya dia terus memeluk lengan Hanzel karena takut tertinggal dan tidak bisa pulang.
" Action mau? "
" Mau! "
" Oke. "
Sembari menunggu, Hanzel meminta Lora untuk duduk terlebih dulu, sementara dia membeli minuman soda, pop corn dan juga camilan lain yang sepertinya disukai oleh Lora.
Dari kejauhan Lora melihat Alexander, pria yang pernah ia temui di gerbang kampus, dan seingat Lora dia adalah calon tunangan atau mungkin sudah menjadi tuangan Nora. Bukan hanya Alexander saja, tapi ada seorang gadis menggunakan penutup wajah, juga topi hitam serta kaca mata hitam. Kalau dilihat dari tinggi badan, atau bentuk tubuhnya, sepertinya orang itu adalah Nora. Lora segera mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu Alexander tak sengaja menoleh ke arahnya. Lora dengan sengaja mengibaskan rambutnya, tapi tak sekalipun melihat ke arah Alexander saat pria itu terus menatapnya.
" Lora? Benar itu namamu kan? Kau temannya Arlando dan Nora? " Sapa Alexander yang entah sejak kapan meninggalkan Nora yang sedang membeli minuman dan camilan.
Bersambung.