Little Wife

Little Wife
BAB 56



Nora terdiam dengan air mata yang tak terbendung lagi. Hari ini, kabar penangkapan Resa sebagai tersangka pencemaran nama baik, juga pengancaman telah beredar luas menghiasi media sosial. Memang masih menjadi pertanyaan besar apakah Lora sungguh telah di nodai atau belum, karena Lora sama sekali gak sekalipun muncul untuk mengklarifikasi. Lora benar-benar menghilang seperti di telan bumi. Orang yang mencari tahu Lora, alias detektif sewaannya sama sekali belum memberikan kabar. Entah apakah masa lalu Lora begitu dirahasiakan, atau memang butuh waktu lumayan lama untuk mendapatkan hasil yang di inginkan.


Sedih, sungguh dia ikut sedih dengan apa yang terjadi kepada Lora. Jujur Ita memang merasa iri dengan Lora yang terlihat bahagia, juga memiliki kekasih yang kaya dan sangat mencintainya tidak seperti Nora yang harus bekerja keras setiap waktu, bahkan cinta dari tunangannya pun tidak bisa ia dapatkan.


Nora meraih dompetnya, disana ada photo bersama Lora, Ibu dan juga Ayahnya saat mereka merayakan ulang tahun ke empat. Senyum mereka nampak indah, setiap hari juga Nora selalu merasakan kebahagian Meksi dia lupa detail hal-hal bahagia yang ia lalui bersama orang tua dan saudari kembarnya yaitu Lora, nyatanya hati tak bisa berbohong kalau masa itu adalah masa yang bahagia. Tapi siapa sangka setahun kemudian mereka menjadi terpisah, yang mengejutkan lagi Ibunya juga telah meninggal dunia.


" Ibu..... " Nora mengusap wajah Ibunya yang saat itu berdiri di sampingnya, senyumnya sangat indah, Ibunya juga sangat cantik mirip sekali seperti Lora. Nora membawa photo mereka kedalam pelukannya. Rindu sekali, tapi dia juga tetap harus menyimpan rasa rindu sedalam mungkin.


" Nora? "


Nora yang terperanjak segera menyimpan dompetnya di belakang tubuhnya. Sungguh dia tidak menyadari jika ada Ibu tirinya di kamarnya.


" Ibu? Ada apa? "


Ibu tiri terdiam sebentar, tapi tak lama dia tersenyum.


" Ayahmu bilang, dia ingin mengajakmu untuk Nenek dan Kakek mu, hari ini Nenek kan ulang tahun. " Nora mengangguk, tapi dia tak mengatakan apapun.


" Ya sudah, kau siap-siap dari sekarang ya? "


" Iya. "


Tadinya Ibu tiri sudah akan pergi, tapi entah apa yang ingin dia ucapkan tiba-tiba dia berhenti dan berbalik menatap kembali Nora.


" Nora, jangan terus melihat masa lalu. Sekarang ini adalah masa yang harus kau jalani dengan fokus, dan masa depan sudah akan menantimu. Masa lalu hanya akan membuatmu terbelenggu dan mengandai-andai saja, jadi hentikan ya? "


Nora mengeratkan tangannya yang tengah memegang dompet. Dia tak menjawab, tapi tatapan matanya cukup menjelaskan bahwa dia tidak ingin mendengarkan kata-kata itu. Selama ini Ibu tirinya memang memperlakukan Nora dengan baik, tapi tatapan matanya yang selalu tak suka setiap kali Nora mengenang masa lalu, rasanya membuat Nora sesak dan tertekan.


Setelah kepergian Ibu tirinya, Nora menangis tanpa suara.


***


" Sayang, makan malam di luar saja yuk? Sekalian saja ajak Ita. " Hanzel memeluk Lora dari belakang karena Lora tengah berdiri menghadap ke jendela kamarnya untuk merasakan betapa segarnya angin senja yang begitu sejuk.


" Tapi bagaimana kalau ada yang mengenaliku? "


Hanzel menghela nafas, lalu membalikkan tubuh Lora untuk menghadapnya.


" Lalu kenapa? Kau bukan penjahat, jadi berhentilah terintimidasi dengan keadaan ini. Lagi pula, ada aku yang akan melindungi mu. Ah, ada Ita juga kan? "


Lora tersenyum, lalu mengangguk. Kalau dipikir-pikir, dia sudah lumayan jenuh juga terus berada di rumah menyembunyikan diri seperti seorang penjahat yang takut di tangkap polisi.


Setelah bersiap-siap lumayan lama, Hanzel dan Lora kini sudah siap untuk berangkat, Ita juga sudah menunggu di ruang tamu. Tak membuang waktu lagi, mereka akhirnya masuk ke dalam mobil yang biasa digunakan Ita untuk membeli kebutuhan rumah. Satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke restauran yang di tuju. Untuk menghindari tatapan orang yang akan membuat Lora tertekan, Lora memutuskan untuk menggunakan masker.


Sesampainya disana, mereka langsung menuju meja, lalu memesan makanan yang mereka inginkan.


" Wah, aku sudah lama sekali tidak makan di tempat ini. " Ujar Ita tersenyum kelu. Tempat makan ini sebenarnya merupakan tempat makan favorit bersama dengan mantan suaminya dulu. Untunglah kenangan itu sudah lumayan bisa ia lupakan, jadi tidak begitu berat berada disana.


" Kau sedang mengingat seseorang ya? " Ledek Hanzel karena dia kenal sekali mantan suami Ita.


" Memang, mantan suami kak Ita itu siapa, dan orang seperti apa? " Tanya Lora penasaran.


Ita menghela nafas panjangnya.


" Dia orang baik, hanya saja takdir yang tidak mengizinkan kita bertahan lama dalam ikatan pernikahan. "


" Hanzel! "


Ita menelan salivanya mendengar suara yang sangat tidak asing untuknya, dan sudah hampir lima tahun tak ia dengar secara langsung.


Hanzel, pria itu hanya bisa menelan salivanya melihat pria yang datang, dia adalah salah satu sahabatnya, yaitu Roni. Iya, Roni adalah matan suami Ita, tapi kedatangan dia di sana benar-benar bukan sengaja Hanzel atur. Padahal, sudah lima tahun ini Ita bersembunyi di rumah Hanzel karena menghindari Roni, dan juga keluarganya yang selalu menunjukkan betapa kecewanya dia dengan perceraian mereka.


" Roni? Kenapa kau ada disini? " Tanya Hanzel.


" Aku sedang makan malam bersama- " Roni tidak melanjutkan kalimatnya saat dia sudah mendekat kepada Hanzel dan melihat Ita juga disana. Jelas awalnya dia melihat ada wanita di seberang meja Hanzel dan Lora, tapi sungguh dia tidak menyangka jika wanita itu adalah mantan istrinya.


" Prita? " Roni menatap Ita dengan tatapan terkejut.


Lora yang tidak tahu tentu saja hanya bisa melihat ekspresi Roni yang tidak biasa itu, dan juga Ita yang menjadi pendiam dan menunduk saja seperti sengaja menghindari tatapan Roni.


" Kau kemana saja, Prita? " Tanya Roni yang terlihat seperti merindukan Ita dengan sangat hingga lupa jika dia datang bersama dengan seorang wanita.


" Kak Ron, memang dia siapa? " Tanya wanita yang datang bersama dengan Roni.


Roni menoleh ke arah wanita itu dengan tatapan terkejut. Iya, dia benar-benar tidak ingat bahwa datang bersama calon tunangannya.


" Hanya teman lama. " Jawab Roni.


Ita masih tidak ingin bicara, juga tidak ingin melihat ke arah Roni.


" Hanzel, setelah ini kau tahu kan kalau harus menjelaskan sesuatu padaku? "


Hanzel terdiam, tapi tak lama dia mengangguk paham.


" Aku ke toilet dulu ya? " Ita bangkit dari posisinya menuju kamar mandi, sementara Roni terus memandangi punggung Ita hingga tak lagi terlihat.


" Kak Ron, kita duduk yuk? " Ajak calon tunangan Roni.


" Iya. "


" Sayang, Kak Roni dan Kak Ita kenapa sih? Tatapan kak Roni tadi agak aneh. " Tanya Lora penasaran.


" Roni itu mantan suaminya Ita. "


Lora membulatkan mata terkejut.


Bersambung.