Little Wife

Little Wife
BAB 53



Setelah makan malam, Hanzel dan Lora kini kembai ke kamar mereka. Mereka tengah berbaring saking memeluk Meksi mereka belum juga bisa tidur. Hanzel, pria itu sebenarnya sangat ragu mengatakan kepada Lora tentang rencananya, tali waktunya juga tidak banyak jadi dia memilih diam mengumpulkan keberanian untuk menghadapi reaksi Lora yang bisa saja akan terlihat sangat sedih, menangis, atau bahkan marah tak setuju.


Cukup lama tak ada suara, tapi kini Hanzel sudah harus mulai bicara karena besok semua sudah harus diselesaikan segalanya agar Lora tidak lagi terus menerus bersedih meski apa yang akan terjadi besok akan mengguncang lebih kuat hatinya.


" Lora? "


" Em? "


" Besok berita tentang mu akan naik pada puncaknya. Aku berniat memperlihatkan bukti yang kita punya, kesaksian dari polisi, hasil visum milikmu waktu itu, juga keterangan dari beberapa tetangga yang aku yakin bisa memberikan pembelaan untukmu. Aku tahu itu akan sama saja artinya dengan menjelaskan kepada semua orang kala kau memang pernah dilecehkan, tapi kalau tidak memilih itu, kau kan terus di salahkan untuk dua hal keji yang sama sekali tidak kau lakukan. "


Lora mencengkram kuat punggung Hanzel karena merasa takut membayangkan saat hal itu sungguh terjadi. Malu, sungguh dia sangat malu dan tidak akan sanggup mengangkat wajahnya lagi di hadapan orang lain, terutama Ibunya Hanzel.


" Jangan takut, aku janji akan terus bersamamu. " Ucap Hanzel mencoba menguatkan Lora karena dia sadar jika Lora tengah ketakutan saat ini.


" Nanti kalau Ibumu jadi membenciku bagaimana? Aku tidak sanggup menghadapinya. " Lora menangis tanpa suara, meski begitu Hanzel tetap bisa merasakan punggung Lora yang bergetar hebat dan menandakan jika ia sedang menangis.


" Aku sudah menghubungi Ibu, dia memang tidak berkomentar apa-apa dan memilih untuk diam, tapi percayalah Ibuku akan memahami nantinya. Lora, aku tahu ini berat untukmu, tapi jalan ini harus kita tempuh agar kau bisa terbebas dari semua ini. "


Lora mengangguk setuju, saat ini hanya Hanzel yang ia miliki dan percaya, jadi apapun yang dikatakan Hanzel Lora benar-benar akan mematuhinya. Tentu dia takut, tentu dia merasa tidak sanggup sehingga merasa kalau mati saja adalah pilihan yang paling benar, tapi perasaan yang terus memaksa untuk bersama Hanzel membuatnya benar-benar tak berdaya.


Berganti hari.


Seperti yang sudah dijanjikan Roni, pria itu telah meminta satu acara yang menyuguhkan berita-berita terpanas untuk membahas permasalahan Lora. Memang Lora tidak hadir disana, melainkan Ita untuk mewakili Lora, dan semua bukti sudah berada siap disana. Pertama, acara di mulai dengan sesi tanya jawab bersama dengan Ita sebagai wakil dari Lora. Pemandu acara bertanya bagaimana kabar kabar Ita dan Lora, lalu tentang bagaimana Lora menurut Ita, lalu adakah sikap yang menjurus sesuai dengan gosip? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mengenai gosip saat ini.


" Nona Ita, apa anda adalah saudari Nona Lora? Karena anda terlihat sangat mengenal dia, jadi saya rasa anda memiliki hubungan baik dengan Nona Lora sendiri. "


Ita tersenyum, sebenarnya dunia hiburan seperti ini sudah pernah ia lakoni saat berumur dua puluhan tahun, jadi dia sama sekali tidak merasa kaku, hanya saja karena kandasnya hubungan rumah tangga dengan mantan suaminya, Ita memutuskan untuk mengenal dunia hiburan, apalagi menjalin hubungan dengan pria.


" Lora, adalah seorang gadis polos yang menganggap ku seorang kakak. " Jawab Ita yang jelas mengikuti keinginan Hanzel agar tidak menganggap dirinya pembantu disana.


" Ngomong-ngomong, usia anda bisa dibilang jauh dari Nona Lora kan? Kapan dan dimana anda bertemu dengan Nona Lora? "


Iya menarik nafas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan itu.


" Waktu itu, aku bertemu dengan Lora di desa. Aku melihat dia berjalan tertatih-tatih dengan luka menganga di kepalanya, di pelipis, kakinya yang tidak memakai alas tertusuk batu Kolar karena jalan disana belum menggunakan aspal. Dia menangis dengan wajah sesegukan, dia baru berusia delapan belas tapi begitu menderita. Aku mengobati lukanya, dan aku melihat banyak sekali luka yang membuatku menghela nafas keheranan. "


Pemandu acara nampak penasaran, hingga dia meminta Ita untuk terus bercerita.


" Ada banyak luka bekas gigitan di lengan, punggung, juga rahang sebelah kiri. Aku melihat banyak lebam di tubuhnya. Dulu, dia amanat kurus, matanya masuk kedalam karena sangat kurus, pipinya sangat tirus, bahkan jala biasa juga tubuhnya gemetaran. Ceritaku ini tidak ada yang aku jarang satu pun, karena selain bercerita, aku dan pihak ku sudah memberikan bukti lengkap yang akan segera di unggah ke media. "


" Bagaimana orang bisa begitu menyedihkan untuk menggoda pria paruh baya seperti itu? " Gumam pemandu acara.


Tak lama karena dikejar dengan durasi juga, akhirnya semua bukti-bukti lengkap yang dimiliki pihak Lora sudah di umumkan di media, tapi sebelum itu Hanzel sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib agar tidak terjadi kesalahan apapun nantinya yang akan membuat Lora di rugikan.


Setelah acara selesai, Ita kembali ke rumah dengan perasaan lega karena merasa telah melakukan hal yang besar untuk Lora.


" Terimakasih, Ita. " Ucap Hanzel, Lora juga ada disana masih dengan wajah khawatir tapi dia paksakan untuk tersenyum. Ita mengangguk dengan senyuman.


" Melihatmu yang luwes sekali di hadapan kamera, apa kau benar-benar tidak ingin kembali kesana? "


Ita terdiam sebentar, lalu menggeleng setelahnya.


" Aku bahagia karena ada disana, tapi juga hancur karena bertahan di tempat itu. Aku sudah baik-baik saja dengan diriku yang sekarang, Tuan. "


Lora menatap bingung.


" Kak Ita dulunya aktris? " Tanya Lora penasaran.


" Bukan kok, hanya model saja, tidak sampai jadi aktris. "


" Wah, pantas saja kak Ita itu gayanya keren sekali. " Ujar Lora dengan wajah bangganya.


" Tapi hidup seperti sekarang ini malah sangat nyaman, Lora. Aku jadi berandai-andai, kalau saja aku tidak pernah berada disana. " Ujar Ita yang sukses membuat Lora semakin kebingungan hingga melupakan masalahnya.


***


Setelah acara live itu, Rasa kini mulai di serang oleh semua orang yang awalnya begitu simpatik padanya. Ah, tidak! bahkan jumlahnya berkali-kali lipat dari yang simpatik padanya. Mainan, sumpah serapah kini memenuhi kolom komentar dia setiap unggahannya. Beberapa saat lalu bahagia karena berhasil menyita simpatik, sekarang dia panik dan kebingungan karena ponselnya terus berdering. Itu pasti adalah orang yang mengenal Resa dan tahu nomor teleponnya, mereka pasti hanya ingin mengatai, jadi Resa tidak berani mengangkatnya.


Tok Tok


" Resa, keluarlah. Ada apa dengan berita di televisi itu?! Apa yang sudah kau lakukan?! "


Reda menggeleng dengan tatapan panik, bahkan seluruh tubuhnya sudah gemetar hebat. Kalau Bibi dan pamannya marah, bisa-bisa dia di pulangkan ke kampung dan tidak di biayai lagi untuk kuliah.


Bersambung.