
Pagi hari.
Setelah Hanzel mengantarkan Lora ke kampus, dia langsung menuju ke kantor, dan tidak lama mengadakan rapat untuk membahas tentang model iklan yang rencananya akan digantikan dengan Lora. Untunglah semua berjalan lancar, tidak ada yang merasa keberatan, malah kebanyakan dari mereka memuji betapa cantiknya wajah Lora. Sebenarnya agak menyesal juga Hanzel meminta Lora untuk menjadi model, karena pada akhirnya akan banyak orang memperhatikannya, bahkan tidak mungkin kalau akan semakin banyak orang yang menginginkan Lora menjadi kekasih, atau bahkan menikahinya. Ah! Membayangkan itu benar-benar membuat Hanzel semakin tidak tenang, apalagi mengingat kalau hari ini Lora menginap di kampus, rasanya gatal sekali dua kakinya ingin berlari ke kampus dan membawa Lora pulang.
Sudah hampir satu jam setelah dia mengirim pesan kepada Lora, tapi pesan itu tak kunjung mendapatkan balasan. Hanzel menghela nafas panjangnya, sebentar-sebentar menatap ponsel yang belum juga mendapatkan notifikasi dari Lora. Apakah dia sedang bersama dengan seorang pria sehingga lupa padanya? Apakah sekarang ini begitu sibuk banyak pria yang sedang mendekatinya? Hah?! Kira-kira apakah Lora akan tetap teguh dan tidak tergoda?
" Sialan! Kalau begini apa keputusan untuk membiarkan Lora kuliah adalah hal yang salah ya? Apa lebih baik minta dia untuk berhenti minum pil penunda kehamilan supaya dia hamil saja? Atau, aku perlu melakukan itu padanya supaya dia merasa sudah cukup melakukanya bersama denganku? " Gumam Hanzel seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
***
Sudah dua jam setelah ospek di mulai, Lora sama sekali tida sempat untuk melihat ponselnya. Selain sibuk dengan kegiatan ospek, ada beberapa pria yang begitu terus saja mengikutinya. Sok baik dengan menawarkan minuman, bantuan, bahkan juga tak jarang mengajak Lora berbicara disaat ospek berlangsung. Padahal sudah mengikuti cara Hanzel dengan menyeringai dan mengacungkan jari tengah, tapi tetap saja tidak berfungsi. Memang benar pada awalnya mereka terkejut, tapi karena mimik Lora yang menyeringai terlihat imut, jadilah mereka semakin gemas terhadap Lora.
Tidak ada Nora si artis yang menonjol jika Lora berada disana, semua perhatian terarah kepada Lora yang polos, dan tidak ragu bertanya untuk hal-hal kecil yang memang dia tidak mengerti. Memang, bukan sekali dua kali Lora mengatakan jika dia berasal dari desa yang listrik saja masih jarang, apalagi televisi, bahkan dia juga tidak memiliki ponsel. Tapi kalau sudah melihat penampilan Lora, memang siapa yang akan percaya dengan pengakuannya? Tapi kendati demikian, Lora tetaplah gadis polos bagi mereka.
" Nora, kenapa akhir-akhir ini kau pendiam sekali? Padahal biasanya kau akan banyak tersenyum. Apa ada masalah? " Tanya teman Nora yang bernama Ratih. Dia juga berasal dari kalangan berada, dan dia adalah salah satu sahabat Nora sedari sekolah menengah atas.
" Tidak ada apa-apa, mungkin ospek ini agak berlebihan, jadi aku merasa agak terganggu. Tapi tida masalah kok, pelan-pelan aku pasti akan terbiasa nanti. " Ujar Nora lagi-lagi memaksakan senyumnya. Sebenarnya dia agak merasa tidak suka dengan perlakuan semua mahasiswa yang begitu memperhatikan Lora, entah karena biasanya perhatian selalu berpusat padanya, atau entah bagaimana, yang jelas sikap sok polos Lora benar-benar membuatnya terganggu.
" Bilang tidak apa-apa, tapi matamu selalu melihat ke arah Lora si bunga kampus itu. " Ujar Ratih setelah mendengus mengejek Nora.
" Aku hanya penasaran, tapi apakah dia memang secantik itu? "
Ratih terperangah heran. Sudah jelas bisa di lihat kan? Kenapa juga mesti bertanya untuk pertanyaan yang sudah jelas sapa jawabannya.
" Dia itu memang cantik, Nora. Sebenarnya kalau diperhatikan wajah kalian itu agak mirip sih. Cuma karena kau memakai filler di hidung dan bibir mu jadi terlihat berbeda. Lora itu bibir atasnya tipis, bibir bawahnya agak berisi, jujur sih, aku paling suka melihat matanya yang bulat dan bola matanya agak besar jadi seperti boneka. "
Nora terdiam tak bicara. Dia sebenarnya juga tidak ingin memakai filler di bibir dan hidung, bukan hanya itu, juga menggunakan sedikit filler di dagu. Tentu saja ini bukan inginnya, ditambah usianya baru delapan belas tahun. Tapi demi totalitasnya menjadi model dari salah satu produk kecantikan, mau tidak mau dia merelakan wajahnya di filler.
Nora kembali melirik ke arah Lora, dan benar saja Lora memang sangat cantik mirip sekali seperti Ibunya. Cara Lora tersenyum, berbicara yang kadang malu-malu, saat tertawa keras akan menutup mulutnya itu benar-benar kebiasaan Ibunya. Nora kembali tertunduk karena tak berani menatap lebih lama kepada Lora. Bukan benci, tapi dia merasa sedih untuk semua yang terjadi. Dia juga ingin memeluk adik kembarnya, tapi dia juga tidak bisa melakukan sesuka hatinya. Biarlah jika kebenaran pada akhirnya akan terbongkar, maka Nora hanya bisa berdoa agar kebenaran itu tertulis tersimpan lebih lama lagi, selama mungkin jika bisa.
Sudah mulai malam, para mahasiswa/i juga sudah mulai bersiap untuk acara malam nanti. Dan syukurlah ada jam untuk beristirahat sebentar sehingga Lora bisa melihat pesan yang banyak sekali dikirimkan Hanzel. Ah, dia juga empat kali menghubunginya, duh senangnya. Lora memeluk ponselnya sembari tersenyum bahagia.
" Lora, kau sedang jatuh cinta ya? Kenapa memeluk ponselmu seperti baru saja mendapat pesan dari kekasih saja. " Tanya Kasih, dia adalah satu teman yang sudah dua hari ini akrab dengan Lora.
" Iya dong. "
" Aku, eh dia telepon, sebentar ya aku angkat telepon dulu. " Segera Lora mengangkat telepon dari Hanzel.
Kenapa tidak membalas pesan dariku, kenapa juga tidak menerima panggilan dariku?
" Tadi sibuk sekali, ini baru melihat ponsel dan membaca pesan dari Tuan. "
Aku ada di depan kampus, di dekat kedai minuman. Kesini sekarang ya?
" Oke oke! "
" Kasih, ini kan kita masih istirahat, boleh keluar sebentar kan? "
" Boleh sih, tapi ngomong-ngomong kok panggil kekasihmu Tuan sih? "
" Oh, itu pajang sekali ceritanya. " Alasan Lora yang tidak ingin menjelaskan. Segera setalah itu Lora bangkit dan berjalan setengah berlari melewati dan mengabaikan saja pemuda yang menyapanya. Lora tersenyum senang melihat mobil Hanzel terparkir agak terpencil di ujung sana, tapi tida masalah, jarak itu juga tidak sampai dua puluh meter.
Tok Tok
Lora mengetuk jendela kaca mobil Hanzel, lalu segera Hanzel membukanya.
" Masuk. " Ucap Hanzel.
Tak menunggu lama, Lora langsung saja masuk ke dalam mobil.
" Ada apa, Tuan. "
Tak mengatakan apapun, tapi dengan cepat Hanzel menyatukan bibir mereka. Tangannya menggerayang mulai dari wajah, tengkuk, punggung, hingga pindah ke bagian dada Lora, dan memijatnya dengan lembut.
" Lain kali tidak boleh mengabaikan pesan dariku sampai seharian begini. " Ucap Hanzel sebentar menjeda kegiatannya.
Bersambung.