Little Wife

Little Wife
BAB 24



Hanzel benar-benar dibuat tak berdaya dengan Lora yang semakin aktif dan begitu tahu bagaimana membuatnya merasa seperti dibawa terbang ke nirwana. Cara dia menatap saat melakukan hubungan suami istri, cara dia mengeluh seperti menandakan bahwa dia juga sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan, Lora nampak seperti sosok lain saat sedang berada di atas tempat tidur.


Ini sudah larut, mereka juga sudah melakukannya hingga dua kali. Tidak tahu sejak kapan, dan dimana Kita memiliki pengetahuan tentang kegiatan suami istri, tapi Hanzel amat yakin bahwa Lora tidak berselingkuh selama ini. Mungkin dari internet, tapi jika Ita apakah tujuannya untuk menyenangkan Hanzel seorang?


Hanzel menjauhkan tangan Lora yang kini tengah memeluknya. Gadis cantik yang kini sudah menjadi istrinya itu tengah tertidur pulas, mungkin dia kelelahan setelah kehebohan yang ia lakukan beberapa saat lalu di tempat tidur. Tidak apa-apa, selama Lora hanya melakukan itu dengan Hanzel, tentu saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh meskipun dia dua belas tahun lebih tua dari Lora, nyatanya dia masih mampu melakukan hubungan badan dengan sangat baik.


Hanzel perlahan bangkit dari posisinya karena tidak ingin membangunkan Lora, lalu segera dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Maklum saja, keringat yang dihasilkan tubuhnya beberapa saat lalu tida membuatnya nyaman untuk tidur.


Besok paginya.


Seperti biasa, Hanzel mengantarkan Lora ke kampus barulah dia pergi ke kantor.


" Hati-hati di jalan, Tuan. " Ucap Lora lalu turun dari mobil, melambaikan tangan sampai mobil Hanzel tidak terlihat lagi. Lora yang akan berbalik tak sengaja menabrak seorang pria paruh baya, dan tak sengaja menjatuhkan kunci mobil yang ia pegang.


" Maaf! Maaf! " Ucap Lora seraya memungut kunci mobil itu berniat menyerahkannya kepada pria paruh baya yang ia tabrak tadi.


Sebentar Lora terdiam karena terkejut melihat wajah pria paruh baya itu. Sama seperti Lora, pria paruh baya itu juga terlihat menatap Lora karena merasa mengenali Lora.


" Ini kunci mobilnya, Tuan. " Ucap Lora dengan segera mengalihkan pandangan.


" Iya, terimakasih. " Ucap pria itu.


" Ngomong-ngomong, apa kita pernah bertemu sebelumnya? " Tanya Pria itu dengan mimik wajah seperti tengah mengingat-ingat. Lora memaksakan senyumnya, lalu menggeleng dengan cepat.


" Tidak mungkin, aku baru datang dari kampung. "


" Benarkah? "


" Maaf aku masuk dulu. " Ucap Lora setengah berlari karena tidak ingin lebih lama berada di dekat pria itu. Dia berjalan cepat, lalu duduk di bawah pohon untuk menenangkan dirinya. Pria tadi, dia malah Ayah kandungnya.


Tubuh Lora bergetar dengan mata memerah seperti ingin menangis. Apakah wajahnya begitu sulit untuk dikenali? Padahal waktu itu dia juga masih sangat kecil saat berpisah dengan Ayahnya, tali dia masih jelas mengingat wajah Ayahnya dan dapat dengan mudah mengenali setelah belas tahun berlalu. Mungkin kalau Ayahnya mengenalinya tadi, Lora yang tadinya ingin membalas dendam akan mengurungkan niatnya dan memeluk Ayahnya, tapi karena Ayahnya cenderung tidak mengenali, lalu untuk apa dia memperkenalkan diri ketika dia sudah dilupakan?


Lora menarik nafas dalam-dalam, menghempaskan perlahan, begitu beberapa kali hingga dia merasa berkurang kesedihannya barusan. Tidak apa-apa, sekarang dia boleh tidak dikenali, tapi di dalam hatinya bertekad bahwa pada suatu hari nanti semua orang akan mengenalinya, bahkan akan melebihi Nora pesonanya.


" Aku bersumpah, aku akan menjadi bersinar dan membuat orang yang sudah melupakan aku menjadi menyesal seumur hidup. "


Tak lagi ingin lebih lama larut dalam kesedihan, Lora akhirnya bergabung dengan mahasiswa/i lain untuk kegiatan ospek terakhir ini. Nora juga ada di sana, dan Lora menyadari benar jika Nora sering kali mencuri pandang ke arahnya. Entahlah, mungkin di sedang was-was, ataukah dia sedang mencari tahu Lora itu kembarannya atau bukan. Nama boleh sama, tapi mengelak tentu saja dia bisa.


Terakhir adalah Lora, dia yang sedari diam memperhatikan hanya bisa tersenyum saat yang lainnya tersenyum, dan sekarang adalah gilirannya. Lora bangkit dan berjalan ke depan. Jelas dia gugup, tapi sebisa mungkin dia tersenyum mengusir kegugupannya.


" Sebenarnya aku tidak tahu apa bakat ku karena aku tinggal di desa yang terbilang terpencil, jadi aku tidak tahu apakah suaraku bagus atau tidak, nanti kalau agak fals atau jelek, kalian bisa memintaku untuk berhenti. "


" Ah, Lora! Kau bicara saja suaramu sangat indah di dengar. Apalagi kalau tersenyum, aku sampai seperti minum banyak alkohol nih! " Ucap salah satu mahasiswa yang pada ujungnya mengundang gelak tawa.


Tak lama setelah itu Lora mulai bernyanyi, salah satu lagi lawas yang ia nyanyikan karena hanya lagi itu lah yang dulu sering diputar dan di nyanyikan oleh Ibu kandungnya. Lora nampak sangat menghayati nyanyian yang memilki lirik tentang sebuah rasa cinta yang dirasa indah tapi berujung luka. Sama persis seperti cara Ibunya bernyanyi, karena itu adalah kesan paling jelas yang dia ingat tentang Ibunya.


" Wah, Lora suaramu bagus sekali! "


" Aku fans mu mulai sekarang, Lora! "


Puji para mahasiswa disana.


Sementara Nora, gadis cantik itu hanya bisa diam dengan mata memerah menahan tangis. Lagi ini jelas sekali dia ingat bawa Ibunya sering menyanyikannya. Entah apa yang bagus dari lagu ini, tapi Ibunya memang saku menyanyikannya bahkan saat mandi pun tidak pernah absen.


" Lora, dari mana bakat menyanyi mu? " Tanya salah satu mahasiswa kepada Lora.


" Aku hanya sering mendengar mendiang Ibuku menyanyikan lagu ini, jadi lagu ini sangat berkesan sekali untukku. "


" Ah, maaf Kira jadi mengingatkan mu kepada mendiang Ibumu. "


Lora tersenyum.


" Tidak apa-apa, Ibuku meninggal saat aku masih kecil, jujur aku mengalami banyak hal menyakitkan di dalam hidupku. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, aku bertemu dengan orang yang memberikan aku kebahagiaan, dan aku sekarang bisa bersyukur atas hidupku. "


" Lora kau sangat keren! "


Nora mencengkram kuat kedua lututnya, tubuhnya bergetar hebat sampai bibirnya juga gemetar. Mendiang? Mendiang Ibu? Berarti Ibunya sudah meninggal? Lalu, dengan siapa Lora hidup selama itu? Tidak tahan lagi, segera Nora bangkit dan berlari menuju ke toilet untuk menangis.


Sebagai seorang anak tentu dia merindukan Ibunya juga. Hanya saja dia tidak bisa menceritakan banyak hal kepada siapapun karena alasan yang penting. Dia sebenarnya juga merasa bersalah karena baru mengetahui jika Lora sudah ditinggal ibunya amanat lama.


" Maaf, Lora. Maaf, dan sampai kapanpun aku hanya bisa meminta maaf padamu saja. "


Bersambung.