Little Wife

Little Wife
BAB 38



" Lora, apakah kau sudah hamil? " Tanya Ibu Rose, dan dia terlihat sangat antusias.


Pertanyaan Ibu Rose itu benar-benar membuat Lora dan Hanzel kompak terdiam sebentar dengan saling menatap. Sementara yang lain juga nampak menantikan jawaban dari keduanya. Kalau Ibu Rose dan Lina tersenyum menunggu kata iya, maka berbeda dengan Velo dan Tuan Haris yang seperti tak senang jika sampai benar Lora hamil.


Hanzel tersenyum, lalu meraih tangan Lora untuk dia genggam. Iya dia sengaja melakukan itu karena kesal dengan tatapan Ayahnya yang selau mencuri pandang ke arah Lora, dia juga kesal dengan tatapan Velo yang aneh dan menjijikan.


" Ibu, bersabar sedikit ya? Sekarang Lora kan sedang fokus untuk kuliah, nanti kalau sudah lulus baru kami akan segera memberikan cucu untuk Ibu. "


Lora tersenyum menatap Hanzel, rasanya dia bahagia sekali dengan kalimat yang keluar dari mulut Hanzel itu.


" Yah, padahal Ibu sudah ingin menggendong cucu loh. " Ujar Rose agak kecewa. Tapi melihat Lora yang masih sangat muda dia juga merasa kasihan kalau harus mengandung di usia sekarang. Dia tahu benar bahwa tidak mudah mengandung di usia yang sangat muda karena dia dulu juga begitu.


" Kalau aku minta sebenarnya Lora pasti akan menuruti Bu. Tapi dia terlalu muda, dia butuh untuk menikmati masa mudanya. Minimal setelah kuliah selesai, baru nanti kami akan memikirkan soal anak. "


" Iya, Ibu dukung saja. Lora kan baru delapan belas tahun dan kuliah, memang lebih baik kalau jangan hamil dulu. " Ujar Ibu Rose.


Velo, wanita cantik yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Hanzel benar-benar gerah dengan pembicaraan ini. Jelas dia menyesal karena telah mengkhianati Hanzel dan mendekati Ayahnya yang dia pikir Ayahnya punya banyak uang. Memang benar sih, dia mendapatkan banyak kepuasan materi, tapi kalau dari segi fisik, Hanzel tentu tidak bisa dibandingkan dengan Ayahnya yang sudah paruh baya itu. Hanzel itu mirip seperti Ibunya, memiliki paras kebarat-baratan, postur tubuhnya tinggi, tegap, bidang, dan kekar. Wanita mana yang tidak akan tergoda kalau melihat Hanzel? Apalagi sekarang Hanzel sudah mewarisi empat puluh persen kekayaan Ayahnya, ditambah dia juga memilki usaha minuman teh kemasan yang terbilang maju, semakin menyesal saja dia sudah mengkhianati Hanzel.


Sialnya, hari ini dia tidak bisa menggoda Hanzel dengan kakinya karena ruang tamu tidak memiliki meja yang tinggi seperti meja makan. Sekarang dia hanya bisa menggunakan belahan dadanya yang jelas terlihat, dan separuh dadanya dia biarkan menyembul keluar agar membuat Hanzel tergoda. Tapi sialnya Hanzel malah sama sekali tak memperhatikannya.


" Ayah mertua, ini hadiah dari kami. Tolong maafkan jika hadiahnya kurang cocok dan tidak berkesan untuk Ayah mertua. " Ucap Lora seraya bangkit dari duduknya untuk menyerahkan hadiah ulang tahun. Semua orang sudah memberikannya, Lora dan Hanzel adalah yang paling terakhir.


" Terimakasih banyak. " Tuan Haris menerima paper bag berukuran sedang dari Lora, dan dengan sengaja dia menyentuh tangan Lora dengan lembut. Lora, gadis cantik itu hanya bisa menahan diri agar tak terlihat takut ataupun marah. Dia tetap tersenyum seolah tak terjadi apa-apa, dia juga kembali duduk di samping Hanzel dengan tenang.


Hanzel, pria itu mengambil selembar tisu, lalu mengangkat tangan Lora dan menyekanya di hadapan semua orang.


" Sayang? " Lora mengeryit bingung karena Hanzel melakukan ha diluar dugaannya.


" Aku tidak suka tanganmu kotor. " Ujar Hanzel tak menghentikan kegiatannya dan itu sukses membuat Tuan Haris melotot tajam tanpa suara.


Ibu Rose membiarkan saja putranya bersikap seperti itu meski dia paham bahwa tidak baik membiarkan hubungan Ayah dan anak yang tidak akur seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ayah dari anaknya, atau suaminya itu memang tokoh utama yang sudah membuat hubungan mereka tidak baik. Mulai dari membawa Lina ke dalam rumah itu saat wanita itu berusia tujuh belas tahun dan dengan lantang mengatakan jika Lina sudah ia nikahi. Berselang dua tahun dia datang lagi dengan seorang wanita yang tak lain adalah Velove yang saat itu tengah mengandung tiga bulan, lalu dinikahi oleh suaminya. Meski pada akhirnya anak itu tidak lahir karena keguguran, tetap saja rasa sakit di hati Ibu Rose tak akan bisa hilang malah bertambah setiap harinya. Kenapa masih bertahan? Karena dia bodoh, dan cinta yang sudah membuatnya bodoh.


Setelah cukup lama mengobrol, sekarang giliran mereka untuk makan malam.


" Sayang, aku ambilkan makanan untukmu ya? Kau mau makan apa? " Tanya Lora, bukan sok mencari muka, hanya saja kebiasaan itu sudah berlangsung cukup lama hingga sudah seperti kebiasaan untuknya. Tapi Velo malah semakin tak menyukai Lora, dia bahkan mengira kalau Lora sengaja melakukan itu untuk membuatnya cemburu saja.


" Aku makan steak saja. Tapi aku juga mau jus, sayang. " Jawab Hanzel. Iya, dia ingat benar kalau harus memanggil Lora seperti itu selama di sana kan? tapi kalau boleh dia juga tidak keberatan memanggil seperti itu seterunya kok.


" Oke! " Lora juga memakan menu yang sama dengan Hanzel. Seperti sebelumya, Hanzel yang paham benar bahwa Lora belum pandai memotong steak, jadi dia mengambil dulu piring Lora, memotongnya menjadi beberapa bagian agar Kita lebih mudah untuk memakannya.


" Iya, makanlah yang banyak. Siang tadi kau hanya makan sedikit kan? "


" Iya, aku pasti akan habiskan daging ini! " Ucap Lora semangat.


" Kampungan. " Ujar Velo kelepasan karena dia benar-benar tidak tahan melihat bagaimana kemesraan Lora dan Hanzel yang mirip sekali seperti suami istri yang saling mencintai sehidup semati.


Hanzel pria itu menatap dengan dingin, dia juga menatap Ayahnya yang selaku saja mencuri pandang ke arah Lora. Risih, dan ingin cepat-cepat untuk kembali ke rumah, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Ibunya yang pasti juga merindukannya.


" Hanzel, nanti menginap disini kan? " Tanya Ibu Rose.


Hanzel terdiam menatap Lora, sementara Lora dengan segera mengangguk setuju saja.


" Besok kan akhir pekan, Hanzel. Menginap lah disini, rencananya Ibu ingin mengajak Lora membuat kue. Nanti kalau kau ulang tahun kan Lora bisa buat untukmu, karena buatan sendiri itu jauh lebih enak kok. "


Hanzel menatap Lora lagi dengan maksud bertanya pendapat.


" Baik, Ibu. "


Ibu Rose tersenyum bahagia, begitu juga dengan Velo dan Tuan Haris karena mereka memiliki maksud mereka sendiri.


Setelah makan malam bersama, sudah tidak ada kegiatan lagi. Mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing untuk tidur. Tapi Kita dan Hanzel justru masih belum bisa tidur padahal sudah semakin malam.


" Lora, aku ambil air dulu ya? "


" Buat aku saja, sayang. " Ujar Lora.


" Jangan! Nanti kalau bertemu Ayahku bagaimana? Aku saja yang ambil, nanti kunci pintunya kalau bukan suaraku tetap mau tutup ya? "


" Iya. "


Hanzel menuruni anak tangga, lalu menuju ke dapur setelahnya. Dia mengambil satu botol air mineral yang sudah dingin untuk dia bawa ke kamar.


" Hanzel? " Velo berjalan ke arahnya dengan riasan wajah yang berani, dia juga menggunakan dress tidur yang sangat seksi dengan senyuman menggoda.


Bersambung.