Little Wife

Little Wife
BAB 86



Semakin hari semakin berbunga-bunga, itu adalah perumpamaan dari hubungan yang tengah dijalani Angkara dan Nora. Sepasang manusia itu awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sebagai mana mestinya tanpa mengharapkan hubungan mereka akan menjadi sedekat sekarang ini. Nora dengan segala tingkah manisnya, Angkara yang agak cuek dan menjaga jarak akhirnya semakin di dekatkan oleh takdir.


Memang belum ada kata cinta yang keluar dari mulut mereka berdua, tapi dari cara memperlakukan satu sama lain, dari mereka saling menatap, tentu mereka paham benar bahwa ada rasa yang sama di hati mereka. Angkara, pria itu kini benar-benar sudah tidak bisa menghilangkan Nora dari hati juga pandangannya, sekarang semua sudah tentang Nora, yah meksipun sesekali juga masih mengingat mantan istrinya.


Nora, gadis itu jadi semakin memiliki semangat untuk sembuh, maka dari itu semua saran Dokter dia lakukan tanpa mengeluh. Seperti hari ini, saat Dokter mengatakan untuk dia istirahat beberapa hari, Nora dengan cepat mengangguk setuju. Angkara yang tahu benar keadaan Nora juga ikut menjaga Nora, terutama setelah Ayah dan juga Lora pulang ke rumah. Awalnya memang agak aneh kedekatan mereka bagi Ayahnya Nora dan Lora, tapi melihat Angkara adalah pria yang baik, Ayah mereka tak mau mempermasalahkan karena yang paling penting adalah anak-anaknya bahagia. Mengenai Alexander, Ayah akan segera mendatangi keluarganya, mengembalikan cincin pertunangan Nora karena memang sudah lama juga Nora melepaskannya yang artinya dia menyerah dengan Alexander.


" Apa yang kau butuhkan sekarang? " Tanya Angkara setelah selesai memberikan minum untuk Nora.


" Aku, butuh kau. "


Angkara menghela nafas, di saat begini saja Nora masih bisa menggodanya seperti ini. Haruskah dia merasa bahagia? Tapi melihat wajah Nora yang pucat, berat badannya juga nampak sangat banyak berkurang, Angkara mana bisa tersenyum bahagia begitu saja?


" Aku disini, jadi cepatlah sembuh ya? " Ucap Angkara, dia tersenyum seraya mengusap kepala Nora dengan lembut. Sungguh dia ingin sekali memeluk Nora sekuat mungkin, tapi sadar juga bahwa Nora mudah kesakitan sekarang ini.


" Kak, dulu aku sama sekali tidak ingin sembuh, jadi mengabaikan sakit ku. Sekarang setelah bertemu denganmu aku jadi menyesal tidak mengobatinya secepat mungkin. "


Angkara menatap Nora dengan tatapan lembut. Kini dia meraih tangan Nora dan menggenggamnya erat, lalu kembali tersenyum kepada Nora.


" Kau juga merubah arah tujuanku, awalnya aku tidak ingin dekat dengan wanita manapun, tapi kau tiba-tiba saja datang, mengacaukan pertahanan ku, dengan pasti menguasai semua ruang di hatiku. "


Nora tersenyum, dia menatap Angkara dengan tatapan haru. Iya, ini adalah kata-kata indah yang sangat menyentuh untuk seorang Nora yang selama bertahun-tahun mengemis cinta dari Alexander, tapi akhirnya dia malah mendengar itu dari pria lain yang dia sendiri tidak sangka akan begitu cepat melupakan Alexander dan mengubah arah cintanya.


" Kak, aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku benar-benar ingin mengatakannya sekarang bahwa aku mencintaimu. "


Angkara terdiam, jelas dia tahu bagaimana perasaan Nora dari sikapnya, tali yang tidak dia tahu adalah ungkapan cinta itu akan di dengar olehnya dari seorang Nora yang adalah aktris terkenal, usianya masih sangat muda, cantik, sedangkan dia? Ah, kalau masalah wajah tentu dia bisa dibilang plus, tapi dia kak terllau biasa untuk menjadi pria yang dicintai Nora.


" Kak, kenapa diam? Kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku, aku tidak keberatan menunggu kok. "


Angkara menghela nafas, dia mengusap wajah Nora dan mengecup keningnya.


" Tentu saja aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, tapi apakah aku lantas? Kau tahu aku itu kan sudah tidak lagi muda, dan aku juga hanya seorang pemilik butik biasa saja. Aku merasa aku kurang pantas untuk- "


" Yang paling penting kau mencintaiku, maka yang lain tidak penting lagi. Perbedaan usia, atau apapun tidak penting lagi. Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, aku sudah cukup dengan itu. "


Angkara terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Bahagia? Iya dia sungguh bahagia! Tapi apakah perasaan Nora itu akan ada untuk seterusnya, ataukah hanya perasaan sesaat saja?


" Kau sedang menolak ku ya? " Nora menjadi terlihat sedih, padahal dia sudah sangat yakin akan memiliki kesempatan untuk hidup bersama dengan Angkara. Tapi nyatanya di tolak juga karena usianya yang masih muda, padahal usia muda juga bukan masalah untuk jatuh cinta dan hidup bersama dengan pria matang seperti Angkara kan?


" Mana mungkin aku menolak mu? Aku hanya takut, takut kalau suatu hari perasaan mu berubah. Entah kau percaya atau tidak, aku bukan pria yang mudah sekali jatuh cinta, selama bertahun-tahun aku setia kepada mantan istriku karena aku orang yang sulit mencintai wanita lain, aku ini pernah berkeluarga dan tahu benar bagaimana sulitnya menjalani sebuah hubungan, tapi pada akhirnya juga harus menyerah dan merasa apa yang aku lakukan kemarin adalah sampah. Aku tidak ingin seperti itu, Nora. Kau masih muda, akan banyak pria yang menyukaimu, dan kau pasti juga ingin melakukan banyak hal di usia muda kan? "


Nora tersenyum kelu.


" Aku sudah melakukan banyak hal dari usiaku sebelas tahun. Aku tidak ingin lagi seperti itu, aku hanya ingin tenang hidup bersama seseorang yang mampu menjagaku, melindungiku, mencintai dan menyayangiku, aku hanya merasa yakin bahwa kau lah orangnya. "


Angkara menatap kedua bola mata Nora yang nampak bersungguh-sungguh. Sekarang dia mulai berpikir, mungkin memang benar suatu hari perasaan Nora akan berubah, tapi bukankah yang harus dia lakukan adalah menjaga agar perasaan di hati Nora tidak pernah mati?


Angkara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Dia kembali menatap Nora dengan sorot mata yang terlihat bersungguh-sungguh.


" Jadi, mari kita menikah. Aku tidak suka menjalani hubungan yang tidak pasti. " Sebenarnya ajakan ini adalah tantangan terberat menurut Angkara, kenapa? Karena Nora yang masih muda itu bisa saja mengatakan banyak hal yang meyakinkan, tapi belum tentu sanggup melakukan sebuah hal nyata untuk menunjukan sebuah keseriusan.


" Kapan? Sekarang juga? Atau mau besok? "


Angkara menatap bingung, apakah Nora tidak begitu dengar apa yang dia katakan? Apakah dia paham apa itu artinya menikah?


" Nora kau tahu apa artinya menikah kan? "


Nora mengangguk paham.


" Menikah ya artinya dua orang yang memiliki karakter berbeda hidup bersama dalam tali pernikahan. Susah senang bersama, dan saling memberikan kekuatan di saat salah satunya goyah atau terpuruk. Iya, intinya melakukan segalanya berdua. "


Angkara tersenyum.


" Menikah denganku tidak boleh berselingkuh. "


" Aku tidak punya cita-cita berselingkuh kok. " Ujar Nora percaya diri.


Bersambung.