
Hanzel menelan salivanya sendiri saat Lora memintanya untuk menaikkan resleting dress yang ia gunakan. Ah, mulus! Tapi sayangnya dia hanya bisa membatin begitu saja karena sebentar lagi acara ulang tahun Ayahnya akan segera berlangsung. Sebenarnya juga subuh tadi dia dengan Lora sudah melakukan hubungan suami istri, tapi tubuh Lora yang sangat menggoda itu juga tak bisa tidak membuat dirinya tergugah.
" Sayang? "
" Hah? " Hanzel segera menyelesaikan menaikan resleting itu setelah beberapa saat sempat tergiur dan melamun menikmati indahnya punggung putih mulus milik Lora.
" Sayang, baju ini kok terlalu ngepas ya? Padahal beberapa waktu kemarin masih agak longgar loh. "
Hanzel tersenyum melihat Lora yang tengah menunduk memandangi tubuhnya sendiri, memiringkan ke kanan dan ke kiri untuk meneliti dan menilai tubuhnya.
" Itu bagus, kemarin saat baru datang kau terlalu kurus. Ceruk mu saja sampai begitu jelas seperti tengkorak. Seperti ini sudah bagus, kalau kau tidak nyaman ganti saja dengan yang agak longgar. "
" Tidak usah, aku tidak merasa sesak kok. Lagi pula waktunya juga sudah hampir mepet. "
Hanzel tersenyum sembari mengangguk. Dia meraih tangan Lora, menggenggam nya lalu membawa untuk keluar dari sana dan menuju ke garasi mobil. Tidak seperti orang kaya pada umumnya yang suka mengoleksi mobil, Hanzel hanya punya dua mobil saja. Satu yang sering dia gunakan, satu lagi mobil yang luas untuk dia berpergian jauh, atau ke desa untuk melihat perkebunan teh milik keluarganya.
Sekitar empat puluh menit mereka menempuh perjalanan, sekarang Hanzel dan Lora sudah sampai di rumah Tuan Haris. Sebentar Lora dan Hanzel kompak menghela nafas, lalu mereka saling menatap dan tertawa karena menghela nafas secara kompak.
" Jangan mendudukkan kepala mu, kau tidak boleh terlihat takut. Ingat saja bahwa apapun yang terjadi aku akan berada di pihak mu, aku akan mendukungmu, jadi jangan merasa rendah, Ingat dengan jelas, aku adalah suamimu. "
Lora tersenyum, mengangguk. Rasanya benar-benar luar biasa memiliki Hanzel di dalam hidupnya. Jika saja tidak bertemu Hanzel, mungkin tidak akan ada Lora yang seberani ini. Hanzel memang terlihat dingin dan jarang bicara, tapi Hanzel adalah pria yang hangat dan pengertian. Jadi kenapa dia harus terbelenggu dengan rasa takut? Selama ada Hanzel dia akan baik-baik saja, dan hanya kehilangan Hanzel adalah hal yang paling menautkan untuk Lora.
" Sayang, pokoknya kau selama di dalam sana kau harus memanggilku sayang juga ya? "
Hanzel mengalihkan wajah dari Lora. Benar-benar memuat gugup, padahal ini bukan yang pertama untuk Hanzel jatuh cinta dan menjalin hubungan, tapi nyatanya gadis kecil seperti Lora malah membuatnya berdebar tak menentu seperti ini.
" Iya. " Jawab Hanzel tak berani menatap wajah Lora yang kini tersenyum bahagia.
" Lora, Hanzel? " Ibu Rose berjalan cepat menghampiri anak dan menantunya. Dia memeluk Lora dan Hanzel bergantian penuh rindu.
" Kalian kenapa jarang datang kesini kalau tidak diminta untuk datang? " Ibu rise menatap sebal anak dan menantunya itu.
Tuan Haris, pria yang sudah lama mengincar Lora kini semakin tak bisa menahan matanya memperhatikan tubuh Lora yang begitu menggoda Meksi terbungkus dengan dress ketat dan terbilang tertutup. Lina, dia adalah istri kedua Tuan Haris, meski begitu dia juga dekat dengan Ibunya Hanzel yang adalah istri pertama. Pernikahannya dengan Tuan Haris tentu saja karena dia memiliki maksud untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Tapi setidaknya dia paham benar jika dia tidak terlalu Maruk, asalkan orang tua, adiknya tidak kelaparan, kepanasan dan kehujanan itu sudah jauh lebih dari cukup untuknya.
" Selamat malam, Hanzel, dan Lora? " Sapa Lima dengan sopan. Sebenarnya dia merasa takut menyapa Hanzel, karena sedari pertama dia masuk ke dalam hubungan rumah tangga orang tuanya, Hanzel tak henti-hentinya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dirinya.
" Malam. " Jawab Hanzel dan Lora.
" Kalian pasti lelah kan? Ayo segera duduk, suamiku sudah menunggu tuh. " Ucap Velo, lalu tersenyum sembari menunjuk Tuan Haris yang sudah duduk di ruang keluarga.
" Berhentilah menyebut dia suami mu, dia suami tiga wanita. " Ibu Rose menekan ucapannya dengan tatapan tajam kepada Velo. Sayang, wanita itu nampak enggan menganggap ucapan Ibu Rose, dan melenggang begitu saja karena dia tidak ingin bertengkar.
" Biarkan saja, kak. Dia pasti sengaja. " Ujar Lina lalu tersenyum pahit.
Ibu Rose menghela nafasnya, sebenarnya tidak ada satupun wanita yang rela di madu seperti dirinya. Dengan Lina dia juga awalnya sama sekali tak terima, bahkan dulu dia sampai menggunting acak-acakan rambut wanita itu. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa cemburu dan rasa sakit hati sudah seperti teman hidupnya jadi dia sudah terbiasa akan hal itu.
" Kau terlalu banyak diam, juga selalu mengalah. Kau lihat apa hasilnya? Kau sedang hamil tapi sekalipun tidak pernah merasakan suamimu menuruti ngidam mu. "
Lina menunduk tak bicara lagi. Sudah masuk ke sembilan bulan, nyatanya sekalipun saja suaminya tidak pernah menanyakan dia menginginkan apa. Bahkan pergi ke dokter kandungan saja selalu seorang diri, merasakan sulitnya kehamilan tanpa dukungan suami juga sudah ia lalui hampir sembilan bulan ini.
" Berhentilah sok baik, Lina. Di dunia ini orang naif sepertimu hanya akan terinjak, jika tidak bergegas untuk mengubah sikapmu, kau akan mati mengenaskan nantinya. "
Lora tersentak, dia menatap Ibu Rose dengan tatapan kagum. Memang benar, dulu dia terlaku naif dan takut akan menyakiti orang lain, tapi sikap naif seperti itu nyatanya membuat dirinya sendiri terluka, naasnya tak ada satu orang pun yang perduli seperti dia memperdulikan orang lain selama itu.
Benar, aku harus tegas dan berani untuk masa depan ku. Aku bukan hanya ingin menggapai tempat Nora dan naik jauh ke atasnya, tapi aku juga harus kuat dan berani agar tidak kehilangan Hanzel.
Tak lama setelah itu, mereka kini sudah duduk bersama di ruang keluarga. Teh sudah di hidangkan, kue kering maupun kue basah juga tersedia untuk menemani mereka ngobrol. Tidak ada acara potong kue seperti kebanyakan orang merayakan ulang tahun. Itu semua karena Tuan Haris sadar benar bahwa orang yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya tidak akan setulus hati.
" Lora, apakah kau sudah hamil? " Tanya Ibu Rose, dan dia terlihat sangat antusias.
Bersambung.