Little Wife

Little Wife
BAB 32



Nora masih menatap Lora yang begitu mesra dengan Hanzel. Rasanya iri sekali, tapi dia juga tidak mungkin kalau memaksa Alexander untuk bersikap begitu, karena mungkin saja Alexander nantinya malah akan memutuskan pertunangan mereka. Baru tiga hari dia menjadi tunangan Alexander secara sah, jadi dia pikir masih membutuhkan waktu untuk mendekatkan diri lebih intens kepada Alexander dan semoga saja pada akhirnya Alexander akan bisa menerimanya, lalu memperlakukan dengan lembut, sama seperti yang dilakukan Hanzel kepada Lora.


" Kau masih menunggu? " Tanya Alexander, pria itu padahal sengaja pergi ke toilet cukup lama dan berharap kalau Nora akan pergi lebih dulu saja karena yang dia tahu Nora ada pemotretan untuk iklan sampo malam nanti.


" Iya kak, kita mau makan malam dulu atau langsung pulang? " Tanya Nora sebisa mungkin dia membuat suaranya terdengar lembut bak tuan putri. Padahal benar-benar itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi Alexander.


" Pulang saja, kau kan ada pemotretan nanti malam. "


" Ya sudah kalau begitu, nanti biar aku pergi dengan sopir dan asisten saja. Oh iya kak, besok pulang kuliah bisa jemput aku tidak? Aku ada pemotretan untuk minuman soda. Ini sudah di undur dua mingguan karena aku harus kuliah, jadi sudah tidak bisa banyak waktu lagi. "


" Iya. " Ucap Alexander.


Esok harinya.


Lora berangkat ke kampus, dan Hanzel pastinya yang mengantarnya kesana. Benar-benar semangat sekali setelah hari Minggu kemarin. Yah, meskipun badan terasa pegal-pegal, nyatanya kebahagiaan yang dirasakan Mire mampu mengalahkan rasa lelah ataupun pegal yang ia rasakan.


Mire berjalan menuju kelasnya, melewati kerumunan mahasiswa/i yang berada di sana. Tatapan kagum begitu tertuju kepada Lora, tapi si gadis itu malah tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum karena teringat dengan wajah Hanzel yang memerah karena malu saat dia terus mengungkit silam cemburu sampai dengan akan tidur semalam.


" Cantik sekali. " Ujar salah satu mahasiswa.


Tuan Hanzel semalam lucu sekali.


Lora terus saja tersenyum tipis karena tidak bisa berhenti memikirkan Hanzel, sementara tanpa Lora sadari ada sepasang mata yang begitu kenal Lora tengah menatapnya intens. Dia adalah Resa, anak kandung dari orang tua angkat Lora. Resa juga berkuliah disana berkat saudari dari Ibunya yang menikah dengan orang berada namun tak memiliki anak, jadi Resa di besarkan dan di biayai oleh saudari Ibunya itu dengan fasilitas terbaik dan sudah dianggap seperti anak kandungan sendiri.


Lora, mau sudah membuat Ayahku di penjara, kau sudah merebut pria yang seharusnya menjadi milikku, pakaian yang kau pakai, dan semua yang melekat di tubuhmu adalah milikku seharusnya, aku tidak akan membiarkan kau tenang Lora, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.


Hari ini semua berjalan lancar, Lora juga menerima dengan baik ilmu yang diberikan dosen hari ini. Sudah waktunya pulang, Lora juga harus segera bersiap untuk berjalan menuju gerbang karena Hanzel akan menjemputnya sebentar lagi. Entah bagaimana para mahasiswa lain menatapnya, dan apa juga maksudnya, Lora tak memperdulikannya, karena yang paling penting dia akan segera bertemu dengan si pria pujaannya itu.


Sebentar Lora berdiri di dekat gerbang kampus karena Hanzel belum tiba disana. Tak lama Lora berdiri, seorang pria menghampiri Lora, dan dia adalah Alexander.


" Lora? " Sapa Alexander seraya berjalan mendekat dan berdiri di samping Lora.


" Kak Alex? Menjemput Arlando, atau Nora? Apa keduanya? " Tanya Lora ya tentu hanya untuk bisa basi saja.


Alexander tersenyum, dia menghela nafas lalu sebentar menatap Lora sebelum menjawab pertanyaan itu.


" Nora memintaku untuk menjemputnya. Arlando bawa motor, jadi tidak perlu dijemput. "


" Oh. " Lora tersenyum setelahnya, bukan ke arah Alexander tapi ke arah jalan raya. Sebenarnya agak risih juga berdekatan dengan Alexander, tapi tidak masalah karena tindakan ini akan membuat Nora cemburu kan? Kalau di lihat-lihat, Nora sangat menyukai Alexander, sayangnya perasaan itu tidak sama seperti yang dirasakan oleh Alexander.


" Kemarin ke bioskop dengan siapa, Lora? "


Lora kembali tersenyum, sebenarnya dia agak untung bagaimana menjawabnya. Haruskah menyebut Hanzel itu pacar, atau suami?


" Pasti dengan pacarmu ya? "


Lora mengangguk saja dan biarkan orang lain berpikir seperti itu. Nyatanya memang masih jarang anak muda seusia dia sudah menikah, dan bisa dibilang baru dia saja yang menikah di kelas.


" Dia adalah pria pertama, meskipun usia kita lumayan jauh, tapi bersyukur sekali karena dia sangat memahami ku. "


" Lora, terkadang pria pertama belum tentu akan jadi yang terakhir. Kau percaya itu tidak? "


Lora terdiam sesaat. Rasanya kenapa dia tiba-tiba merasa takut mendengar kalimat itu? Pertama belum tentu yang terakhir? Akankah Hanzel tidak akan selamanya menjadi suaminya? Apakah benar pertama berarti bukan yang terakhir? Kalau mengingat cerita dari teman barunya, dia jelas sudah berpacaran beberapa kali. Lora mengepalkan tangannya karena takut jika memang benar adanya.


" Apa aku harus menunggu lebih lama? " Ucap Hanzel yang entah dari kapan sudah berdiri tak jauh dari mereka. Dia sangat tampan dengan setelan jas berwarna black navy, kaca mata hitam seperti biasanya saat dia kekuar siang hari.


Lora tersenyum, seketika perasaan takut itu menghilang begitu Hanzel muncul di hadapannya, pria itu juga kini membuka kaca mata hitamnya, sedikit tersenyum kepada Lora yang membuat Lora tak lagi memikirkan ucapan Alexander tadi.


" Tuan! " Lora berlari menuju Hanzel, memeluknya dengan wajah bahagia.


" Kan sudah aku bilang, pakai masker wajahmu saat di luar, kau lupa? " Ucap Hanzel seraya menangkup wajah Lora.


" Ah, aku tadi lupa. "


" Selamat siang? Anda pacarnya Lora? " Tanya Alexander dengan senyum yang tersirat seperti memiliki maksud tak terbaca.


" Jawaban apa yang kau inginkan? " Tanya Hanzel sebagai jawaban dari pertanyaan Alexander.


" Ah, maaf kalau lancang. Hanya saja Lora memanggil anda dengan sebutan Tuan, aku hampir salah paham dan mengira kalau anda Bosnya Lora. "


Hanzel mengeraskan rahangnya. Tatapan mengejek yang ditunjukan Alexander benar-benar diperlihatkan terlalu jelas. Entah apakah dia berpikir bahwa Hanzel adalah sugar Daddy nya Lora atau bagaimana, yang jelas tatapan itu membuat Hanzel kesal dan jelas sekali tidak nyaman untuk mendengarnya.


" Aku memanggil Tuan, buka berarti Hanzel adalah Bos ku kok. Aku kan memanggilnya Tuan karena dia adalah Tuan di hatiku, jadi apa salahnya? " Protes Lora dengan tatapan polosnya.


Alexander, pria itu tadinya ingin memancing dengan pertanyaan menjebak lainya karena dia bisa melihat ada yang tidak beres di antara keduanya, tali melihat tatapan polos Lora seperti anak-anak yang sedang protes dia jadi tidak berdaya dan lemah karena keimutan itu.


" Lora, berhentilah menatap begitu saat bicara. Atau kau akan membuat orang lain mencubit pipimu. " Ucap Alexander.


Hanzel paham benar tentunya maksud dari ucapan Alexander.


" Sayang, kita pulang sekarang saja ya? Kuping ku gatal mendengar lalat berbunyi. " Hanzel menuntun Lora untuk menuju ke mobilnya.


" Sampai jumpa besok, Lora! "


Lora mengeryit dan teringat pesan yang pernah dikatakan Hanzel.


" F*CK you! " Ucap Lora tanpa berbalik tapi mengangkat jari tengahnya tinggi-tinggi.


Alexander terkekeh.


" Imutnya! "


Bersambung.