
Tiga hari kemudian.
Resa menangis meronta ketakutan saat Polisi datang kerumah untuk menjemput Reda yang sudah dinyatakan sebagai tersangka. Tidak ada pemanggilan apapun karena memang semua bukti sudah jelas kebenarannya. Pagi-pagi polisi sudah datang untuk menjemput Resa, mau gak mau paman dan bibinya Resa hanya bisa pasrah tak bisa melakukan apapun untuk mencegah polisi.
Resa, gadis itu padahal sempat merasa lega setelah dua hari yang lalu mengirimkan kalimat ancaman kepada Lora melalui pedang singkat di media sosial milik Lora. Dia terpaksa mengirim pesan karena Lora sama sekali tak menghiraukan telepon darinya, jadi dia mengirim beberapa pesan dengan maksud mengancam agar Lora tetap tutup mulut dan jangan berani berbicara apapun dengan tekanan sebagai bukti ucapan terimakasih kepada keluarganya yang sudah merawat Lora sampai besar.
Hanzel, pria itu sepertinya lupa untuk Resa ingat. Semua pesan yang diterima oleh Lora, Hanzel berikan kepada pihak berwajib, dan jadilah Resa harus merasakan hukuman dari dua kejahatan karena dia terkena pasal berlapis. Pertama, pencemaran nama baik, atau berita bohong mengenai Lora. Kedua, dari semua pesan yang di kirimkan kepada Lora adalah ancaman-ancaman yang jelas menyudutkan Resa karena pasal pengancaman juga.
" Bibi, aku mohon tolong aku, Bibi! Aku tidak mau di bawa polisi! Aku malu, Bibi. Tolong, jangan bawa saya pak! Tolong jangan! " Resa terus meronta begitu Polisi ingin menjemputnya dengan sopan, tapi karena terus meronta tiada henti, polisi pun merasa kalau Resa memang akan lebih baik kalau di borgol saja. Semakin keras dan meraung-raung saat di bawa polisi pergi, tapi setidaknya itu sudah jauh lebih mudah dari sebelumnya.
Paman Resa hanya terdiam sedari tadi tak mengatakan apapun. Sungguh dari awal dia paham sekali bagaimana sikap Resa selama ini, padahal dia sudah sampai memberikan guru les etika agar dia paham bagaimana bersikap dalam kehidupan. Sekarang semua benar-benar seperti yang dia kira, orang yang kasar dalam berperilaku saja pasti akan mendapatkan hukuman, apalagi kasar dalam berbicara yang jelas lebih menyakitkan dari pada pukulan. Berbeda dengan istrinya yang menangis meminta tolong agar membantu keponakanya, dia justru merasa lega karena Resa yang selama ini menjadi sumber masalah di dalam kehidupannya sudah berada di tempat yang seharunya, dan menjalani hukuman agar dia bisa membenahi etikanya nanti begitu keluar dari penjara.
" Sayang, kita jamin saja dia dengan uang ya? Biarkan dua atau tiga hari dia disana, kau mau kan menolong Resa? " Bibi Sela nampak begitu sedih, sedari polisi datang dan menyampaikan maksudnya, dia tak henti menangis, tubuhnya juga gemetar ketakutan.
Paman Resa yang bernama Angkara itu menghela nafas, di usianya yang baru tiga puluh enam tahun, dan telah sepuluh tahun menikah, baru kali ini dia merasakan lega yang begitu terasa di dada.
" Jangan gila, Sela. Resa itu kan tidak mengikuti apa yang guru etikanya ajarkan, biarkan saja dia tinggal disana, siapa tahu penjara dapat membuatnya berubah. " Paman Angkara berjalan meninggalkan Bibi Sela yang semakin deras menangis di depan pintu rumahnya. Rasanya sangat sedih sekali, belum dia juga tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kakaknya bahwa Resa di bawa polisi untuk dipenjara.
Bibi Sela masuk ke dalam kamar menyusul suaminya yang kini tengah menghisap batang rokok di dekat jendela yang ia buka agar asap rokok keluar dari kamarnya.
" Sayang, kau sungguh tidak ingin membantu? "
" Tidak. " Jawab singkat paman Angkara.
" Kau tega sekali, padahal dia juga keponakan mu kan? "
" Bukan, dia hanya keponakan mu. Aku tidak punya kakak atau adik kandung, jadi aku tidak punya keponakan. "
Bibi Sela menatap marah, dengan segera dia membuka lemari pakaian, mengeluarkan koper berukuran besar, dan memasukkan baju disana sembari menangis.
" Kau hanya bisa memberikan kesedihan padaku, jadi untuk apa aku terus bertahan hanya untuk menangis. " Ucapnya tak berhenti memasukkan baju disana. Paman Angkara tak mengatakan apapun, sudah bukan hal baru melihat istrinya seperti kalau sedang marah, tapi kali ini sungguh dia tidak ingin menjamin Resa karena dia tahu pada akhirnya nanti, Resa akan semakin berbuat nekat, bisa saja malah sampai mencelakai Lora nantinya.
" Kau hiduplah sendiri, aku tidak ingin bertahan lebih lama lagi. " Ucap Bibi Sela lagi.
Paman Angkara menghela nafas, lalu degan segera dia membuang puntung rokoknya ke luar jendela.
Bibi Sela melotot semakin marah, tapi sayangnya keinginannya untuk pergi karena kesal tak bisa dia tahan lagi. Dia dengan cepat menuju pintu, lalu keluar dari sana dengan membanting pintu kuat.
" Itu pilihanmu, Sela. Aku sudah muak, tapi karena aku berjanji tidak akan menceraikan mu terkecuali kau memilih pergi, maka jangan salahkan aku yang akan mengambil kesempatan ini. " Gumam Paman Angkara.
***
Lora terdiam tak bicara begitu Hanzel mengatakan jika Resa telah di bawa ke kantor polisi untuk dihukum. Dia sungguh tidak tahu harus bagaimana berekspresi, haruskah dia tersenyum bahagia seperti seharunya? Tapi kenapa dia tidak bisa melakukan itu?
" Sayang, kenapa kau hanya diam saja? " Tanya Hanzel seraya menyentuh wajah Lora dengan lembut.
" Aku tidak tahu, tapi aku tidak merasa bahagia mendengarnya. " Ucap Lora dengan tatapan polos.
Hanzel tersenyum, dia menangkup wajah Lora lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya.
" Karena kau terlaku baik, kau terlalu merasa berhutang Budi kepada keluarganya. Tapi, apakah itu pantas dengan perlakuan keluarganya padamu? Mereka tidak menganggap mu keluarga, benarkan? "
Lora terdiam, iya benar apa yang dikatakan Hanzel. Tapi kala mengingat adiknya Resa yang selama ini dekat dengannya, dia masih merasa tak tega dengan semua yang terjadi ini.
" Berhentilah memikirkan orang lain, yang bersalah harus tetap dihukum. " Hanzel membawa Lora kedalam pelukannya. Tiga hari ini Hanzel terus memantau bagaimana media sosial berkembang terutama mengenai Lora. Sudah berkurang hujatan-hujatan dari orang, tapi ungkapan melas yang berdatangan untuk Lora tentu akan lebih menyakitkan di banding hujatan seperti sebelumnya. Untungnya Lora juga menurut untuk tidak melihat media sosial, kalaupun ini bermain ponsel dia hanya membuka internet untuk menonton video tentang tutorial make up, memasak, membuat kue, dan lain-lain yang jauh dari gosip.
" Sayang, kita pergi berlibur mau? "
Lora mengurai pelukannya untuk menatap Hanzel.
" Liburan? Kemana? "
" Ke Bali, atau mau keluar negeri? "
" Kemana saja aku mau! "
" Ah, tapi kau kan belum ada paspor, jadi sementara kita liburan lokal saja dulu ya? " Lora mengangguk.
Bersambung.