
Mulai dari hari ini, Lora mengikuti saran dari Hanzel untuk kuliah dari rumah saja. Untunglah semua berjalan sesuai harapan karena tidak ada yang merasa berat, Lora juga dengan semangat menurut tanpa sepatah kata bantahan. Bukannya ingin menjadikan Lora pengecut dengan lari dari kenyataan, hanya saja tidak semua orang setebal itu mukanya menghadapi hal yang jelas mengguncang hati. Berada jauh dari lingkungan yang terbilang tidak mendukung untuk sementara waktu Hanzel pilih agar Lora bisa sejenak menenangkan diri, tidak ada kata-kata menghakimi, Hanzel juga melarang Lora melihat media sosial untuk sementara waktu. Sebagai gantinya Hanzel memberikan iPad untuk Lora gunakan dan sudah di atur agar tidak ada berita atau gosip apapun di dalam sana. Ada juga tumpukan novel dan komik untuk mengisi waktu luang, tapi Ita juga sudah membeli banyak perlengkapan menanam, dan sepertinya Lora juga tertarik dengan itu.
" Kak, aku benar-benar berharap pohon anggur ini cepat tumbuh dengan subur ya? Aku bukannya ingin memakan anggur sih, tapi aku senang sekali bisa melihat pinggir anggur secara langsung, dan kalau membayangkan anggur ini berbuah nanti, aku jadi sangat bahagia sekali. " Lora tersenyum dengan begitu bahagia, tentu itu membuat Ita merasa lega karena ternyata Lora tidak lama dalam keterpurukan. Padahal kalau melihat seharian kemarin, Lora seperti kehilangan semangat hidupnya, bahkan Ita juga sampai tidak berani ke toilet meninggalkan Lora takut dia memilih untuk bunuh diri nantinya.
Hanzel rupanya juga melihat hal itu, di jam makan siang dia memutuskan untuk kembali ke rumah melihat keadaan Lora. benar-benar tidak seperti yang dia takutkan, nyatanya Lora bisa tersenyum dengan begitu bahagia seperti tak ada yang terjadi beberapa waktu lalu.
" Kalau kau tidak sabar, bagaimana kita beli saja pohon anggur ya sudah berbuah? "
Lora dan Ita menoleh ke arah sumber suara, dan Lora tersenyum bahagia melihat Hanzel ternyata berdiri di tak jauh dari mereka.
" Sayang? " Lora bangkit dari posisinya yang tengah berjongkok di depan pohon anggur yang tumbuh di dalam pot berukuran sedang. Dia berjalan mendekati Hanzel dan memeluknya dengan mimik manja.
" Kau mau makan siang? " Tanya Lora, Hanzel segera mengangguk meski dia tidak merasa lapar hanya demi membuat Lora bahagia saja.
" Sayang, aku buatkan spagheti kesukaan mu ya? Ita sudah mengajariku kok jadi jangan meragukan rasanya. " Lora memeluk lengan Hanzel dan membawanya untuk menuju dapur.
Hanzel, pria itu kini menyadari kepura-puraan yang dilakukan Lora. Kenapa? Karena Lora sama sekali tidak menatap matanya saat bicara. Dia seperti takut jika Hanzel bisa melihat bahwa dia masih belum baik-baik saja, dia melakukan banyak kegiatan hanya untuk melupakan kesedihannya saja.
Lora, aku janji akan membuat mereka menyesal telah memberikan luka ini kepadamu. Kau harus jadi Lora ku yang bahagia, karena saat kau bahagia kau akan melakukan segalanya dengan bahagia, barulah aku juga bisa bahagia, Lora.
Setelah dua hari berselang, Nira kini semakin bertanya-tanya di dalam hati kemana Lora pergi. Ada yang bilang Lora di DO dari kampus, ada yang bilang Lora malu sehingga mengambil cuti, ada juga yang bilang dia keluar dari kampus karena merasa malu dengan apa yang sudah pernah ia lakukan di masa lalu.
Nora sebenarnya ingin bertanya tentang kepastian tidak munculnya Lora selama dua hari ini, tapi dia juga bingung ingin bertanya dengan siapa. Rasanya ingin mengirim pesan kepada Lora, tapi dia juga bingung kalau Lora sampai bertanya kenapa begitu memperdulikannya hingga menanyakan apa yang terjadi padahal mereka kan tidak dekat?
Tak bisa tenang hanya karena menebak-nebak, Nora membulatkan tekad untuk menghubungi asisten pribadinya, lalu meminta untuk dicarikan detektif terkenal agar bisa melacak apapun tentang Lora, termasuk masa lalunya yang menurut cerita siswa kampus Lora berasal dari desa yang terbilang terpencil.
" Semoga hasilnya akurat, dan aku bisa tahu apa saja, bahkan kalau bisa semuanya tentang Lora. " Gumam Nora seraya mengeratkan genggaman tangannya yang tengah memegang ponsel miliknya.
Di sisi lain, Resa semakin mejadi dengan rasa tidak tahu malunya. Dia terus menggiring opini agar menyudutkan Lora tanpa henti. Dia sengaja membalas pesan satu-persatu yang masuk ke ponselnya dengan kalimat melas, dia juga berharap jangan terlalu menghakimi Lora karena bagaimanapun Lora adalah manusia biasa yang pasti memiliki kesalahan. Seperti harapannya, orang semakin bersimpati dengannya karena merasa Resa adalah gadis teraniaya dan baik hati, sementara semua kata-kata makian juga mengutuk kompak terarah kepada Lora.
Bahagia? Iya, Resa sangat bahagia dengan apa yang terjadi sekarang. Jujur saja, dari awal melihat Lora datang kerumah orang tuanya dan dia angkat menjadi anak, dia langsung tidak menyukai Lora. Kenapa? Karena Lora semangat cantik, memiliki kulit yang bagus, tubuh yang bagus, bahkan rambutnya juga agak kecoklatan sangat cocok dengan warna kulitnya. Lora diberkati banyak hal menarik di dalam tubuhnya, jadi dia merasa tidak rela jika hidupnya juga bahagia dengan adanya Hanzel yang tampan dan sangat kaya. Bukankah Lora sudah bahagia dengan rupanya? Maka cukup saja dengan itu, sedangkan Hanzel dirasa cocok untuknya.
Dia bukannya bodoh dan menganggap Lora benar-benar menggoda Ayahnya, karena dia juga sudah mendengar rekaman suara Ayahnya dan Lora, maka sebisa mungkin dia manfaatkan saja situasi ini. Apa dia tidak merasa takut? Jawabannya adalah tidak! Kenapa? Karena dia berpikir, Lora adalah gadis bodoh yang akan menghormatinya sebagai seorang kakak, dia hanya akan diam dan menerima perlakukan kasarnya sama seperti dulu. Jadi, anggapan bukti itu tidak akan muncul tentu saja membutakan Resa, padahal jelas ada Hanzel yang sampai detik ini tidak dia khawatirkan.
***
Setelah makan siang, Hanzel kembali ke kantor dan meminta Sekretaris nya untuk mencarikan orang terbaik aga bisa menutup semua akses bagi pihak yang ingin mengobrak-abrik masa lalu Lora, dan juga merahasiakan dengan baik dimana Lora tinggal dengan harapan, Lora akan baik-baik saja tanpa ada gangguan apapun.
Hanzel menjauhkan ponselnya setelah selesai menghubungi orang yang dia maksud.
" Lora, aku akan melakukan apapun agar kau bisa bahagia. Tunggu sebentar saja lagi, mari kita beri pelarajan kepada orang yang sudah menyakitimu selama ini. " Gumam Hanzel dengan tatapan mengancam.
Bersambung.