KIKIYO

KIKIYO
umpan termakan



Momo pun kembali kekediamannya dengan perasaan rumit,dan itu terlihat oleh mata sang kakak, imamura pun langsung mengirimkan elang pembawa pesan kepada Hugo,


Setelah matahari mulai terbenam,Hugo pergi kekediaman jendral imamura untuk bertemu dengan sang istri,Momo masih didalam kamar dengan wajah sendunya.


Hugo masuk kedalam,Momo terlihat sangat terkejut,Hugo langsung mendekati Momo.


"Ada apa?,apa ada masalah saat kalian pergi?."


Momo hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangisnya,Hugo langsung memeluknya dengan erat.


"Katakanlah, jangan seperti ini."


"Kantung ramuan yang suami berikan yang meminta aku menyeduhkan dan meminumnya,ramuan apa itu?."ucap Momo sambil menatap kearah Hugo


"Itu ramuan penunda kehamilan, memangnya apa yang salah?."


"Apa itu artinya suami tidak mau memiliki anak dari ku?."


"Bukan seperti itu maksudnya,ramuan itu aku dapat dari yang mulia permaisuri,dia sangat khawatir karena mengingat kamu masih berusia lima belas tahun takut tubuhmu belum bisa menerima kehamilan dengan baik,tunggu usia kamu tujuh belas tahun atau sama dengan miciko,baru aku izinkan kamu untuk hamil."


Momo langsung tertegun sejenak saat mendengar jawaban dari Hugo.


"Jadi ,aku boleh hamil saat umurku sudah tujuh belas tahun?."


"Ya, tentu saja,."


Momo langsung berwajah ceria kembali , dengan senyuman manisnya,


"Apa miciko yang memberitahu kamu tentang ramuan itu?."


Momo hanya menggelengkan kepalanya,


tapi walaupun begitu Hugo tetap mengerti kenapa Momo bisa seperti ini,


"Suami, apakah akan tidur disini?."


"Malam ini aku akan kembali keistana dulu."


"Hem, baiklah."ucap Momo


Hugo mencium bibir Momo lalu bergegas pergi menuju kearah istana kekaisaran tengah.


Sesampainya Hugo diistana kekaisaran tengah,dia langsung bergegas pergi menuju kediaman miliknya dan miciko, dari jauh dia sudah bisa melihat sang istri sedang duduk disofa sambil menyentuh perutnya yang semakin membesar.


Hugo mendekati miciko dan duduk disampingnya sambil memeluknya dari belakang dan ikut mengusap perut miciko.


"Istriku."


"Ya, suamiku."


"Apa yang sudah kamu katakan kepada Momo saat pergi bersama tadi."


Miciko tertegun sejenak saat mendengar ucapan dari mulut Hugo.


"Kenapa kamu terkejut."ucap Hugo masih tetap diposisi nya.


"Aku hanya ingin menggodanya saja,hanya itu, tidak ada maksud lain, suamiku."


"Benarkah?."


"Iya suamiku."


Hugo langsung mencium bibir miciko lalu merebahkan tubuhnya, menaikan rok yang dipakai miciko keatas lalu membuka pakaian dalam milik istrinya itu,Hugo langsung memakan habis tiram dibawah sana ,saat sang istri sudah diliputi kabut hasrat seksual,Hugo langsung pergi meninggalkan miciko sendirian didalam kamar serta mengunci pintunya dari luar.


Menurut Hugo ini adalah hukuman yang bisa membuat wanita seperti miciko jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya dimasa depan, memang benar ,miciko yang sudah berkabut ingin sekali mengejar sang suami untuk menyelesaikan rasa panas ditubuhnya ini.


"Sayang, suamiku kembalilah,aku janji tidak akan mengulanginya lagi, sayang buka pintunya,."ucap miciko sambil berteriak dari dalam kamar


Sedangkan ditempat lain, dipenginapan bulan, kikiyo sedang menunggu kedatangan seorang pria yang akan membawakan umpan besar,dengan ditemani sang suami yang selalu ingin dilibatkan dalam setiap rencananya.


Saat pria ini baru sampai ditengah hutan yang tidak jauh dari penginapan bulan, Yamato menghadang laju kuda Pria itu.


"Siapa kamu?."ucap sipria


Yamato tidak begitu perduli dengan pertanyaan dari pria itu dan dia langsung menyerang tanpa memberikan celah sedikitpun kepadanya,


Jlebb,,,,


"Sayangku,bisakah kamu memberikannya sedikit pengampunan?."ucap kikiyo dengan nada suara manja


"Maaf sayang,aku terlalu terburu-buru kali ini."


"Baiklah, tidak masalah, yang aku perlukan hanyalah burung elang pembawa pesan milik pria ini ,dia akan membawakan umpan besar kepada ku."


"Bukankah burung ini lambang dari kekaisaran barat."


"Iya,memang dari sana."


Kikiyo lalu mengambil burung elang pembawa pesan itu dan menaruh pesan yang sudah dia siapkan sebelumnya, kemudian dia menerbangkannya, burung itu langsung melesat cepat keatas langit malam yang gelap.


"Sekarang kita hanya tinggal menunggu." Ucap kikiyo sambil tersenyum senang


Yamato pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kini hari pun telah berganti,pagi yang indah untuk kikiyo berolahraga berlari-lari kecil ditemani oleh sang suami walaupun hanya dilingkungan penginapan bulan saja.


Kikiyo menerima surat dari burung elang pembawa pesan milik Hugo,dipesan itu tertulis kalau sekarang dikekaisaran tengah telah tersebar rumor permaisuri kekaisaran tengah pergi meninggalkan istana karena kecewa.


Sedangkan kaisar sendiri dikabarkan sedang depresi didalam istana kekaisaran tengah karena kepergian sang istri permaisuri kekaisaran tengah ini.


Yamato yang melihat sang istri tersenyum saat melihat isi surat pun langsung mendekat kearah kikiyo.


"Ada apa sayang?."


"Lihat dan bacalah."ucap kikiyo sambil menahan tertawanya


Saat Yamato sudah selesai membaca surat itu.


"Oh,kamu sedari tadi ternyata sedang menertawakan aku,Hem."


Kikiyo langsung berlari menjauh dari Yamato,karena dia tahu pasti sang suaminya itu saat ini sedang memikirkan hukuman apa yang akan dia terima,dan kikiyo lebih memilih melarikan diri dari pada dihukum pagi siang malam bahkan jika bisa sampai bertemu dengan hari esoknya.


Yamato seakan tidak pernah puas menghukum kikiyo,Ais pria itu kuat sekali.


Dua hari telah berlalu langit diatas penginapan bulan kian menghitam padahal ini siang hari, tadinya sangat cerah, kikiyo menatap kearah langit sambil tersenyum kecil dengan tangan memegang sebuah kertas, surat dari bawahannya.


Yamato mendekati kikiyo lalu memeluknya erat dari belakang,


"Cuaca mendung hari ini, tapi sepertinya tidak berpengaruh terhadap kamu sayang, apa yang membuat kamu tersenyum senang?."


Kikiyo lalu memutar tubuhnya supaya bisa melihat wajah tampan Yamato.


"Tentu saja aku senang, bagaimana tidak, umpan yang sudah aku buat,kini sudah membuahkan hasil."


"Jadi."


"Sudah saatnya."


Yamato sangat senang melihat sang istri senang tapi dia sedikit gelisah karena rencana kali ini akan melibatkan rasa sakit dihatinya.


"Berjanjilah padaku, sayang."


"Berjanji apa?."


"Berjanji tidak akan berlebihan."


Saat kikiyo mendengar kata "berlebihan" terucap dari mulut sang suami,dia sudah sangat mengerti, kikiyo hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Setelah beberapa lama kemudian, dari jauh penjaga penginapan bulan melihat kedatangan seorang pria yang sedang berada diatas punggung kuda yang sedang berlari kencang kearah penginapan bulan.


Pria itu melaju tanpa henti,walau rintik hujan mulai turun membasahi tanah, tidak menyurutkan semangatnya untuk melangkah pergi demi melihat sang pujaan hatinya,siapa lagi kalau bukan kaisar barat.


Dia mulai memasuki pintu gerbang penginapan bulan,lalu dia bertemu dengan seorang pelayan,sambil turun dari kudanya.


"Dimana Dewi bulan berada."


"Salam tuan,saya tidak tahu,mungkin kepala pelayan tahu sesuatu."


________________________________


bersambung


(^∆^)