KIKIYO

KIKIYO
memohon lah



Sekarang kembali ketempat kediaman Hugo.


Hugo yang baru kembali tidak langsung menuju kamar ,tapi dia malah keruangan kerjanya, duduk sambil melihat gulungan dari seluruh anggota yang tersebar dibenua ini.


Miciko menyadari bahwa Hugo tidak langsung menuju kearah pembaringan, dia memiliki inisiatif untuk membuatkannya teh dan beberapa kue untuk dia bawa keruangan kerja milik Hugo,saat sudah sampai didepan pintu masuk.


Miciko menarik nafasnya perlahan sambil menenangkan detak jantungnya,lalu dia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.


Tok,tok


"Masuklah."


Terdengar suara seorang dari dalam ruangan


"Tuan,aku membawakan kamu teh dan beberapa kue untuk mengganjal perut."


Hugo masih dengan kesibukannya membaca beberapa gulungan kertas, miciko dengan perlahan meletakan cangkir dan gelas itu diatas meja,tapi dia belum mau pergi dari sana masih melihat sang pujaan hati yang masih sibuk dengan dunianya.


Setengah jam telah berlalu dan miciko masih setia berdiri didepan Hugo.


Hugo yang menyadari hal itu hanya menghela nafas panjang, sebenarnya dia tidak mau berurusan dengan wanita manapun cukup hidupnya untuk mengabdi kepada nonanya.


Hugo perlahan menurunkan gulungan kertas yang sedang dia pegang dan menatap kearah miciko yang masih berdiri didepannya.


"Duduklah miciko,apa kamu tidak lelah?."


Miciko mengedarkan pandangannya kesegala arah didalam ruangan itu tapi dia tidak melihat satu tempat dudukpun.


"Dengan sedikit menggigit bibir bawahnya, hem,tuan tidak ada bangku untuk aku duduk."


"Kemarilah."ucap Hugo sambil mengulurkan tangannya kearah miciko.


Miciko menurut dan memegang tangan Hugo,lalu Hugo menarik tubuhnya dengan kuat sampai-sampai tubuh miciko tertarik lumayan kencang dan sekarang dia sedang terduduk diatas pangkuan Hugo.


Wajahnya berada tepat didepan dada bidang Hugo,miciko berusaha untuk melihat keatas dan benar saja tatapan mata mereka bertemu.


"Apa yang kamu lakukan disini,apa kamu sudah diusir dari kediaman kamu,Hem."


Wajah miciko berubah sangat merah.


"Bukan begitu tuan, aku,,,hanya menjalankan perintah dari nona kikiyo.",


"Benarkah."


"Benar tuan."


"Kalau aku tidak mau,apa kamu akan pergi."


Saat mendengar jawaban dari Hugo, miciko merasakan hatinya hancur berkeping-keping,


"Apa tuan merasa terganggu?."


Miciko menatap kearah Hugo dengan mata berkaca-kaca,dan suaranya berubah serak.


"Miciko,aku bertanya lebih dulu kepadamu dan kamu malah bertanya balik."


Miciko tertegun dia tetap menatap wajah tampan Hugo sambil jari tangannya menyentuh dada bidang Hugo.


Hugo langsung mencengkram dagu sampai pipi miciko dengan hanya satu kepalan tangan,lalu mencium bibirnya dengan rakus, miciko hanya membalas dan memejamkan matanya sampai pada Hugo menggigit bibir bawahnya,mata miciko terbuka sambil mendesis sakit.


Lalu Hugo mengangkat tubuh miciko untuk mendudukkan tubuhnya diatas meja kerja,Hugo membuka kimono sutra tipis yang membalut tubuh putih dan mungil milik miciko,dia mencium lagi bibirnya sambil turun perlahan,


Kedagu,leher,saat sampai dibuah pir milik miciko,hugo menjilat sambil menghisapnya kuat-kuat,miciko berteriak karena merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan,


Setelah puas bermain dibuah pir itu,Hugo melanjutkan perjalanan ciumannya kearah pusar dan bawah pusar,disana dia berhenti didepan sebuah tiram putih dan besar yang sudah mengeluarkan cairan bening,Hugo mulai melahapnya perlahan-lahan sampai cairan itu terus menerus keluar.


Miciko yang sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya lagi,dia hanya berteriak sambil meremas meja dan sudah lama tubuhnya langsung bergetar hebat.


Tubuh miciko sudah banjir dengan keringat yang muncul dari efek permainan yang Hugo lakukan, setelah Hugo merasa miciko puas dengan permainannya dibawah sana, dia beralih menuju bibir indah miciko,


Hugo menurunkan miciko dari atas meja,lalu dia kembali duduk.


"Hisap dan telan."


Miciko yang mendengar perintah mendominasi dari Hugo langsung berjongkok sambil melahap tubuh bagian bawah Hugo.


Kini giliran hugo yang sibuk meracau nikmat,saat beberapa lama kemudian Hugo merasakan ada yang ingin meledak dalam tubuhnya,dia memegang kepala dan rambut miciko lalu mempercepat gerakan menumbuknya dan akhirnya bom waktu itu meledak.


Miciko terlihat sangat kacau,tapi Hugo tidak melepaskannya sebelum semuanya tertelan, setelah dirasa sudah cukup,baru Hugo melepasnya, tatapan mata mereka bertemu,Hugo memberikan cangkir teh itu kemiciko,dan miciko meminumnya dengan cepat.


Setelah selesai Hugo mengambil kembali cangkir itu dan mengangkat tubuh miciko keatas pangkuannya,dengan ibu jari yang Hugo letakan dibibir bawah miciko.


"Lelah?."


Miciko hanya menggeleng-gelengkan kepalanya


Kemudian Hugo kembali mencium ganas bibir miciko.


"Masih menginginkannya?."


Miciko hanya mengangguk malu.


"Memohon lah ."ucap Hugo sambil meraba-raba punggung tubuh miciko


"Tuan, tolong aku mau lebih."


"Kamu mau aku siksa."


"Ya,ya kumohon tuan siksa,a,,akh."


Ucapan miciko terpotong karena Hugo telah membenamkan bagian bawah tubuhnya kebagian bawah tubuh miciko.


Sudah setengah jam Hugo tidak berhenti menumbuk untuk menyiksanya yang membuat miciko semakin berteriak, Hugo berdiri sambil mengendong miciko dan masih menumbuknya dengan sangat cepat.


Tak terhitung sudah berapa kali tubuh miciko bergetar hebat malam ini,sampai pada akhirnya,bom waktu Hugo meledak lagi tapi langsung dicabut tepat waktu supaya meledak diluar.


Miciko sudah sangat lemas bahkan dia sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri karena siksaan dari Hugo.


Hugo yang merasakan kalau tubuh miciko sudah seperti agar-agar pun tidak melepaskan gendongannya tapi dia melangkahkan kakinya kearah pintu kamar.


Setelah sampai didepan pembaringan,Hugo meletakan miciko diatasnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


Setelah itu Hugo pergi untuk kembali keruang kerjanya,membaca beberapa gulungan kertas tak terasa sudah dua jam dia membutuhkan waktu untuk menyelesaikan semua gulungannya.


Hugo beranjak dari tempat duduknya untuk pergi kearah kamar, setelah sampai didalam kamar dia melihat miciko yang masih nyenyak tertidur,Hugo berjalan mendekatinya lalu menyingkap selimut.


Hugo langsung menindih tubuhnya dengan posisi tubuh miciko sedang dalam keadaa miring, miciko tersadar kala dia merasakan penyiksaan itu kembali.


Hugo mempercepat gerakan menumbuknya dan mencium bibirnya tanpa ampun dan tanpa jeda sama sekali.


Sampai miciko mengejang dari yang pertama kali,menjadi dua kali,menjadi tiga kali dan menjadi yang keempat kalinya, baru Hugo menyelesaikan penyiksaannya itu dan langsung menuju kearah pemandian.


Setelah Hugo selesai membersihkan diri , dia langsung pergi meninggalkan kediamannya.


Saat pagi menjelang miciko terbangun, dia melihat kesegala arah dan tidak menemukan Hugo di manapun.


Saat dia sudah mengenakan baju rapih, dia keluar dari kediaman Hugo dan bertemu dengan kikiyo dihalam depan saat dia ingin memastikan bahwa kuda pujaan hatinya masih ada atau tidak.


Tapi sesaat dihalaman depan penginapan bulan,kudanya sudah tidak ada.


Miciko sedih kala Hugo pergi tanpa pamit tapi dia senang telah bisa melayani Hugo lagi.


___________________________________________


bersambung


(^∆^)