
Kikiyo yang masih didepan pintu meminta Hugo untuk menolong wanita tadi.
Dengan gerakan cepat Hugo menarik siwanita dan memakaikannya kain untuk menutup bagian atas tubuhnya.
"Nona,pergi keluar dan ikut dengan nona muda yang ada didepan pintu."
Wanita itu langsung pergi karena ketakutan, Hugo langsung melawan para pria itu.
Didepan pintu,
"Nona, terimakasih sudah mau menolong saya."
"Pakaian kamu sudah tidak layak, ikutlah."
"Baik nona."
Kikiyo membawa wanita itu masuk kedalam kamarnya,
"Pakai ini untuk sementara."
Wanita itu memakai baju yang diberikan oleh kikiyo,
"Siapa namamu?."
"Miciko nona."
"Oh,minumlah ."
Kikiyo menuangkan secangkir teh hangat dan beberapa camilan.
"Nanti setelah Hugo selesai dengan mereka, aku akan meminta Hugo untuk menemani kamu kembali pulang."
"Aku tidak punya tempat untuk kembali nona."
"Hem,apa kamu tidak punya rumah."
Miciko hanya menggelengkan kepalanya,
"Kamu bekerja menjadi selimut malam bukan."
"Ya,tapi aku bernasib sial hari ini, awalnya aku berkenalan dengan seorang pria, dia membeli satu malam dengan ku ,tapi saat dia membawaku kesini, ternyata didalam kamar masih ada pria lain,itu diluar kesepakatan."
"Hem,apa kamu berbakat bekerja dirumah bordil?."
"Apa maksud pertanyaan nona itu?."
"Aku akan menyediakan tempat untuk kamu dan menjadikan kamu pemimpin dari rumah bordil itu asal kamu mau menjadi bawahan ku."
"Tentu saja aku mau nona, dari pada menawarkan diri dijalan atau menyewa mucikari,mereka suka menganggap remeh saya yang tidak memiliki naungan,apa boleh aku mengajak beberapa teman nona."
"Tentu saja boleh."
"Terimakasih banyak nona sudah mau menampung wanita seperti saya."
"Aku percaya kepada kamu, jangan pernah mengecewakan saya."
"Baik nona."
"Hugo."
Hugo yang sudah berada didepan pintu langsung masuk kedalam kamar kikiyo, dia sengaja belum masuk kedalam kamarnya karena pasti nona mudanya membutuhkan sesuatu.
"Saya nona."
"Besok kamu temani miciko untuk menemui temannya dan beli kereta kuda yang lain, untuk mereka."
"Memang apa yang mau mereka lakukan nona?."
"Mereka akan ikut bersama kita pulang kekediaman ku di kekaisaran selatan."
"Baik nona."
"Dan pesankan kamar untuk miciko istirahat."
"Tapi kamar sudah penuh nona."
"Hem,kalau begitu Hugo kamu tidur berdua dengan miciko."
"Hah,(-_-)."
"Kenapa?."
"Tapi dia kan wanita nona?."
"Lalu?."
"Saya pria normal."
"Yang bilang kamu tidak normal itu siapa?."
Krik krik krik
Hugo tidak menjawab lagi apa yang dikatakan kikiyo,dia langsung membawa miciko pergi ke kamarnya.
Didalam kamar
"Terimakasih tuan sudah menyelamatkan saya."
"Aku hanya menjalankan perintah saja, panggil aku Hugo."
"Baik tu,,eh Hugo."
Keesokan harinya,Hugo tidur dilantai sedangkan miciko tidur dikasur empuknya.
Dari samping terdengar suara berisik beberapa pelayan penginapan karena kondisi kamar yang rusak.
"Siapa yang melakukan ini semua."ucap kepala pelayan yang ada disana.
Bekas perkelahian masih ada tapi mayat mereka tentu saja sudah hancur dan menyatu dengan debu.
Miciko dan Hugo sudah bersiap mau keluar dari kamar, kikiyo juga sama.
"Hey nona,bukankah kamu semalam berada dikamar ini dengan seorang pria."
Miciko tertegun sejenak,tapi dengan cepat Hugo menarik pinggang rampingnya.
"Kalian salah,semalam wanita ini menemaniku disini bukan dikamar sebelah, apa kalian minta dihajar karena sudah menuduh yang bukan-bukan."
"Maaf, maafkan saya tuan mungkin saya melihat hanya sekilas."
Miciko tertegun sejenak tapi akhirnya dia sadar kalau mereka sedang memainkan drama disini.
Kikiyo sudah berada dibawah untuk sarapan.
"Pagi nona."
"Hem."
"Kami mungkin akan langsung pergi."
Kikiyo langsung menaruh sekantong koin emas diatas meja,Hugo mengambilnya kemudian pergi.
Saat masih didalam rumah makan yang terletak dilantai bawah penginapan, kikiyo kedatangan tamu tidak diundang.
"Nona, bolehkah saya ikut duduk dimeja ini."
"Silahkan,lagi pula semua bangku dan meja disini bukan milikku."
"Terimakasih,kamu sangat pengertian."
Kikiyo hanya terus melanjutkan makannya,
"Nona,apa anda sudah melihat berita dipapan pengumuman kota ini."
"Belum,apa berita itu sangat penting."
"Ya ,tentu saja,kaisar barat membuat titah untuk mencari seorang wanita yang memakai penutup kepala, mungkin kita bisa bekerjasama."
"Mungkinkah."
"Ya ,kalau kamu mau ikut kami keistana dengan baik-baik, tentu bisa menjadi mungkin."
"Oh,,,Hem baiklah."
"Silahkan ikuti saya nona."
Kikiyo mengikuti pria itu keluar dari rumah makan berjalan menuju kesebuah kereta kuda milik dipria,ada dua orang lagi yang ikut , mereka duduk didepan untuk mengemudi sedangkan kikiyo dan pria tadi masuk kedalam kereta.
"Nona,apa kamu selalu memakai penutup kepala itu."
"Ya."
"Kenapa?."
"Hanya ingin."
Wanita ini bicaranya sedikit sekali, fikir pemuda itu
"Bukankah orang yang memakai penutup kepala itu hanya untuk menutupi sesuatu dibagian tertentu."
"Hehehehe,."kikiyo tersenyum kecil
"Apa yang lucu nona?."
"Kamu pria yang sangat penasaran."
"Aku hanya heran saja kalau rumor bilang wanita itu kecantikannya bagaikan Dewi tapi kenapa harus ditutupi."
"Apa kamu ingin melihatnya?."
"Ya tentu saja."
Kereta kuda sudah melewati perbatasan, kikiyo yang ada didalam kereta sedang ingin membuka penutup kepalanya,
"Sekarang apa pendapatmu?."
"Aku kira itu hanya rumor belaka."ucap pemuda itu dengan wajah yang terpana melihat kikiyo.
"Apa kamu tidak takut padaku?."
"Kenapa aku harus takut dengan wanita cantik, seperti kamu nona."
"Oh,jadi kalau aku cantik, menurut kamu aku wanita lemah begitu?."
Tiba-tiba kereta kuda berhenti ditengah hutan,
"Hah kenapa berhenti."
Akh
Saat kereta berhenti dan pria itu berteriak, kikiyo dengan cepat menusukan pedang pendek kearah perut sipria.
Pria itu langsung tertegun sambil memegang perut,dia memelototi kikiyo yang sedang memandang dirinya dengan wajah datar.
"Kamu,,,"
Pria itu mau menyerang balik tapi kalah cepat, kikiyo sudah mengoleskan racun pelumpuh otot dipedang pendek yang sudah menancap diperutnya itu.
Kini tatapan mata pria itu penuh dengan rasa ketakutan yang luar biasa.
"Bukankah kamu tidak takut dengan wanita cantik."
Kikiyo langsung menarik keluar pedang pendeknya lalu pindah keleher pria itu untuk langsung merobek lehernya hampir putus karena senjatanya sangat tajam.
Kikiyo turun dari kereta,dia lihat didepan,ke dua pria itu juga bernasib sama,
"Nona,apa anda baik-baik saja."
"Menurut kamu?."
Hugo hanya tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kamu mengikuti aku, miciko kemana?."
"Iya saat aku mau keluar rumah makan bersama miciko ,saya merasa ada hal aneh dengan beberapa orang disana dan ternyata benar jadinya saya mengikuti nona sampai disini,miciko bilang dia pergi sendiri dan bertemu lagi dengan nona dipenginapan."
"Hem,baiklah,kita bawa saja kereta kuda ini kembali kepenginapan, lumayan untuk kita pergunakan,tapi kamu bersihkan dulu."
"Baik nona."
______________________________________________
bersambung
(^∆^)