
Hugo tampak sedang berfikir.
"Kalau memang mereka mengincar anggota keluarga istana,mengapa mesti membunuh keluarga menteri, nyonya?."
"Menteri sastra kekaisaran tengah itu mendukung yang mulia Kaisar jadi,,,."ucap kikiyo sambil melirik kearah Hugo
Saat mendengar jawaban dari kikiyo,Hugo pun akhirnya mengerti motif dari pembunuhan ini.
"Ah,ya dia ingin membuat semua orang yang berpihak kepada kaisar untuk berpaling dan mengikuti jejak mereka sebagai pemberontak."
Kikiyo hanya melanjutkan minum tehnya,
"Jadi nyonya,apa kita akan mengejar pembunuh kembar itu?."
"Nanti saja,biarkan mereka bersenang-senang dulu."
"Baik."
Kikiyo pergi dari kediamannya,dan dia menuju ruang kerja sang suami.
Dengan beberapa hidangan makanan dari dapur kediamannya.
Sesampainya dia disana terlihat Yamato masih sibuk dengan gulungan kertas itu.
"Suamiku."
Suara kikiyo ibarat mendengar suara dari syurga ditelinga Yamato.
"Iya istriku, sayang,."ucap Yamato sambil tersenyum
"Aku membawakan beberapa makanan dari kediamanku dan aku ingin makan bersama suamiku tentunya."
Kikiyo memerintahkan kepada para pelayan untuk menaruh semua makanan yang dibawa keatas meja kosong diruangan itu.
Setelah selesai para dayang menyiapkan makanan,mereka diperintahkan menunggu diluar.
Kikiyo dan Yamato sekarang duduk berdampingan.
"Suami sepertinya sangat lelah,besok adalah hari festival penyucian kuil,suami harus terlihat segar."
Kikiyo merasa simpati dengan kondisi suaminya itu.
"Iya,maaf sudah membuat kamu khawatir sayang."
Melihat Yamato yang seperti ini kikiyo sangat sedih, bagaimana pun Yamato adalah orang yang dia cintai.
"Sayang,apa kamu tidak mau meminta hadiah dari balap kuda waktu itu?."
"Ah sayang,untung kamu ingatkan, aku mau memintanya malam ini."ucap Yamato sambil menaikan alis .
Ais, kadang aku merasa kalau cinta dan bodoh itu sama, astaga.fikir kikiyo
"Baiklah apa yang harus aku lakukan."
Yamato tersenyum lebar sambil membisikan sesuatu ketelinga kikiyo.
Sedangkan wajah kikiyo langsung berubah menjadi merah padam,dia sangat malu dengan ucapan suaminya itu,
"Bagaimana,bisa?."ucap Yamato sambil menatap kearah kikiyo
"Tentu saja bisa,itu sangat mudah, didunia ini tidak ada yang tidak bisa aku lakukan."
Yamato langsung mencium bibir kikiyo,
"Baik aku akan selesai dua jam lagi jadi begitu aku sampai dikediaman ,permaisuri sudah harus siap."
"Baiklah, yang mulia."
Merekapun tertawa bersama.
Tak terasa waktu sudah dua jam berlalu, Yamato juga sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan kini dia sedang bergegas pergi menuju kearah kediaman permaisuri,
Setelah sampai dikediaman permaisuri, Yamato disuguhkan dengan nuansa temaram,lilin berjejer rapi disetiap langkah besar Yamato yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri.
Setelah sudah memasuki kamar , Yamato tidak menemukan kikiyo dimana pun sampai ada suara dari balik tirai tipis menggambarkan siluet tubuh kikiyo yang tidak jauh dari tempat tidur.
Yamato langsung tertegun sejenak melihat keindahan istrinya.
Yamato langsung duduk ditepian tempat tidurnya.
Lalu kikiyo mulai memainkan alat musik koto miliknya dengan sangat merdu,tubuh kikiyo tidak memakai sehelai benang pun sekarang.
Inilah permintaan dari sang suami, Yamato ingin melihat kikiyo memainkan alat musik koto dengan tanpa busana.
Walaupun hanya tertutup tirai tapi Yamato bisa melihat dengan jelas.
Tapi saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Yamato yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu ingin memakan kikiyo.
Yamato langsung merunduk dan melahap bibir manis kikiyo,memeluk sambil mengangkat tubuh kikiyo untuk dia bawa ketempat tidur.
Mereka saling melahap satu sama lain, suara ambigu yang sangat menggebu-gebu pun langsung terdengar,bahkan Muso yang masih berjaga diluar pun mendengar dan sekarang kepalanya sudah sangat pusing.
Saat Muso sedang merasa kepalanya berat, tiba emi lewat dihadapannya ingin mengambil sesuatu dari dapur kediaman permaisuri.
"Sayang,emi."
"Iya suami,ada apa?."
"Kemari sebentar."
Muso yang sedang duduk diruang tunggu pun langsung menarik tangan istrinya itu untuk duduk diatas pangkuannya dengan cara membelakangi wajah Muso,jadi Muso dengan leluasa bisa melihat bagian punggung sang istri.
Muso tanpa bertanya lagi,dia langsung melucuti pakaian dalam sang istri, emi hanya bisa diam dengan perlakuan suaminya itu,
"Suami,,,akh."
Emi ingin bertanya kepada suaminya itu kenapa melakukan hal ini disini,dia sangat merasa malu tapi tidak kuat jika harus menolak permintaan suaminya itu.
"Emi, sayang nikmati saja,bantu aku, kepalaku rasanya sudah seperti mau pecah."
"Hem,."ucap emi dengan pasrah.
Muso terus menggoyangkan pinggulnya dan pinggul emi sampai sang istri mengejang hebat,Muso langsung menutup mulut emi dengan bibirnya.
"Sayang,jangan berisik aku belum keluar."
Emi hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti,semakin lama emi semakin merasa lemas,tapi nikmat.
"Sayang,apa aku boleh hamil."ucap emi ditengah-tengah pembelitan mereka.
"Tentu saja boleh sayang,kamu kan istri aku, siapa lagi yang akan melahirkan anak untuk aku kecuali kamu,."
"Aku mau hamil seperti kak miciko."
Tak lama Muso mengejang
,,Akh,,
Muso menahan suaranya dengan menggigit punggung emi lembut, sebenarnya emi dan Muso masih memakai pakaian lengkap cuma bagian bawah saja yang mereka buka.
"Aku keluarkan semuanya didalam sana, hamil anak aku ya sayang."
Emi hanya menganggukkan kepalanya sambil merasakan sesuatu yang hangat masuk kedalam tubuh bagian bawahnya.
Setelah dirasa sudah tuntas,Muso melepas emi untuk kembali kekamar dan beristirahat, sebelum pergi emi mencium bibir Muso singkat.
Setelah kepergian sang istri,Muso sudah rapih kembali dan kepalanya sudah tidak terasa berat lagi,hah.
Kini dia bisa bertugas dengan tenang.
Sedangkan yang sedang bergulat didalam kamar, kikiyo dan Yamato masih merasa panas satu sama lain , setelah bom waktu itu meledak dan keluar didalam sana, mereka berdua langsung tumbang.
Bahkan kikiyo sudah tidak ingat ini sudah yang keberapa kalinya dia mendapatkan kenikmatan sambil mengejang hebat.
Keesokan harinya, festival penyucian kuil dilaksanakan, seluruh rakyat kekaisaran tengah sudah ramai-ramai datang dengan harapan yang berbeda-beda.
Acara sangat meriah,kaisar dan permaisuri kekaisaran tengah dengan menaiki sebuah tandu diarak keliling ibukota, rakyat merasa kali ini kekaisaran tengah akan bangkit kembali.
Disela keramaian festival penyucian kuil, ada beberapa pasang mata yang menatap kearah tandu kaisar dan permaisuri, mata itu memandang dengan tatapan tidak senang.
"Kali ini kalian selamat,tapi tidak lain kali," ucap salah satu pemilik dari mata yang terlihat tidak senang itu.
Setelah semuanya telah selesai, kikiyo menyempatkan diri untuk pergi ke kuil tetua sendirian tanpa sepengetahuan siapapun.
Saat semuanya sudah sepi, kikiyo masuk kedalam kuil dan disambut hangat oleh kakek tetua kuil.
"Salam yang mulia permaisuri."
"Kakek."ucap kikiyo sambil tersenyum
"Sedang perlu apa yang mulia datang kesini sendirian."
_________________________
bersambung
(^∆^)