KIKIYO

KIKIYO
Hugo kembali



Sedangkan dipenginapan bulan miciko sedang mengatur guci sake yang berada digudang belakang penginapan bulan dengan dibantu beberapa pelayan lainnya.


Lagi asik menghitung dan menandai tanggal pembuatan sake,miciko menyadari ada hal aneh, dayang yang tadi sedang membantunya tiba-tiba menghilang.


Miciko membalikan badannya sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah,dia mencari kesana kemari dayang-dayang yang tadi.


Saat sudah diluar gudang,miciko melihat seorang pria bertubuh tinggi dan gagah berdiri tak jauh dari sana,baru kemarin dia menerima balasan surat dari burung elang pembawa pesan,kalau pria itu menuliskan kata "tidak",hanya itu tapi sekarang.


"Tuan."miciko memanggil Hugo dengan nada sendu.


Hugo perlahan mendekati miciko yang masih berdiri mematung didepan pintu.


"Apa kamu sedang melihat hantu sampai terkejut seperti itu?."


Miciko langsung merubah ekspresi wajahnya,


"Tidak tuan,aku hanya tidak menyangka kalau tuan akan datang sekarang, bukan kah nona hari ini akan menikah?."


"Aku diminta untuk menjemput kamu , nona ingin kamu menjadi dayang pribadinya, kalau kamu mau kamu harus segera bersiap dan besok kita akan berangkat."


Jadi tuan Hugo kembali kesini bukan karena merindukan aku,tapi hanya menjalankan perintah dari nona?.fikir miciko.


Hugo yang melihat ekspresi wajah bengong miciko,


"Hey,aku tanya kamu mau atau tidak,kalau tidak mau tidak apa,nona juga tidak akan memaksa."


Hugo hanya melangkahkan kakinya menuju kediamannya untuk beristirahat meninggalkan miciko yang masih berdiri disana.


Didalam kediamannya diruangan kerjanya Hugo terfikir tentang ucapan pelayan toko perhiasan tadi tentang wanita spesial.


Dia mengeluarkan kalung dan cincin berlian itu dengan seksama,tak lama Hugo memanggil pengawal bayangannya.


"Masuklah."


"Ya tuan,ada yang bisa saya lakukan."


"Cari miciko dan bilang kepadanya untuk menemui aku sekarang.


"Baik tuan."


Setelah kepergian pengawalnya itu,Hugo kembali memegang perhiasan sambil memastikan hal lain.


Tak lama kemudian datanglah mereka,


"Tuan memanggil ku?."


"Ya, masuklah miciko dan kamu pergi ."ucap Hugo sambil menunjuk kearah pria bawahannya itu.


Sekarang Hugo dan miciko hanya berdua disana,miciko melihat ada sebuah kalung dan cincin diatas meja.


Niat jahil Hugo pun muncul.


"Aku ingin meminta pendapat kamu tentang kalung dan cincin ini,apa keduanya tampak bagus dipakai seseorang wanita."


Hati miciko terasa campur aduk, untuk siapakah perhiasan itu tapi yang jelas pasti itu untuk seorang wanita yang spesial.


"Sangat bagus tuan."


"Bagaimana kamu bisa menilai kalung dan cincin ini kalau dari jarak sejauh itu,Hem."


Miciko mendekati meja lalu melihat kearah perhiasan itu.


"Perhiasan yang sangat bagus tuan."


"Hem tapi masalahnya aku tidak tahu apa dia akan menyukainya atau tidak ,kalung dan cincin itu pas atau tidak saat dipakainya nanti,kemarilah dan bantu aku."


Hati miciko makin tidak karuan saat mendengar ucapan Hugo yang mengeluarkan kata "dia".


"Tuan ingin aku melakukan apa?."


"Kemarilah dan coba kamu pakai perhiasan ini,aku ingin melihatnya."


Miciko tertegun dia masih terdiam ditempatnya berdiri.


"Miciko,kalau kamu tidak mau aku akan meminta wanita bunga untuk mencobanya."


Setelah mendengar jawaban dari Hugo miciko Langsung tersadar dan melangkahkan kakinya mendekat kearahnya, setelah jarak miciko yang sudah dekat dengannya.


Hugo langsung memutar tubuh miciko untuk menghadap membelakanginya dan duduk dipangkuannya.


Setelah miciko duduk diatas pangkuannya, Hugo mengambil kalung berlian itu lalu dilingkarkan ke leher putih milik miciko.


"Bagaimana menurut kamu?."ucap Hugo.


"Sambil jarinya menyentuh bandul berlian,Bagus dan indah tuan,.", kepalanya agak menunduk.


Kini giliran tangan miciko yang diambil oleh Hugo untuk memakaikan cincin berlian.


"Apakah tidak sakit saat memakainya?."


"Cincin ini pas dan sangat indah tuan,."


Miciko masih dengan posisi yang sama.


"Apakah dia akan menyukainya?."


"Dia pasti sangat senang dan menyukai perhiasan ini tuan,."ucap miciko sendu sambil ingin melepaskan kalung berlian yang melingkar indah dilehernya.


Hugo merasa sepertinya sudah cukup dia menggoda miciko,Hugo hanya tersenyum kecil sambil melingkarkan tangannya diperut miciko dan mengecup bagian belakang telinga miciko.


"Kalau suka kenapa ingin dilepas."


"Hah."miciko langsung memutar tubuh dan wajahnya kearah Hugo,"maksud tuan?,bukankah perhiasan ini untuk dia?."


"Iya benar dia itu adalah kamu, memangnya kamu fikir apa?, wanita lain?."


Miciko dengan wajah cemberut langsung mencubit pinggang dan lengan Hugo dengan kesal, memukulnya.


Tapi itu tidak sakit sama sekali untuk Hugo,


"Kenapa diam saja?."ucap miciko yang sambil memukul lengan Hugo


"Sebelum kamu puas memukul,aku tidak akan bicara."


Miciko langsung menghentikan aktivitasnya menatap kearah Hugo dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi.


Hugo langsung mencium bibirnya,


"Sudah aku bilang jangan menangis untuk hal yang tidak perlu."ucapnya sambil menggigit bibir bawah miciko


"Akh,sakit tuan,Hem perhiasan ini."


"Semua ini untuk mu,apa kamu suka?."


"Benarkah?."


"Apa kamu fikir aku becanda?."ucap Hugo dengan tatapan mata tajam.


"Tidak tuan,aku sangat menyukainya ini sangat indah, terimakasih."ucap miciko dengan senyum indahnya.


"Bagus kalau kamu menyukainya."


Miciko hanya masih menatap wajah tampan Hugo.


Dengan jantung yang berdetak kencang.


"Aku juga sangat menyukai tuan."


"Benarkah?."


Miciko berkata dengan sedikit ketakutan Hugo akan menjauhinya saat dia mengatakan perasaannya.


"Iya,tuan ,semenjak tuan menyelamatkan aku dulu."


"Kalau aku tidak bisa membalas perasaan mu,apa yang akan kamu lakukan?."


"Aku akan tetap berada disisi tuan, mengikuti kemanapun tuan mengajakku melangkah."


Hugo langsung mencium rakus bibirnya.


"Ikut dengan ku besok kekaisaran tengah dan kita akan tinggal bersama sampai tua disana,ini perintah aku tidak menerima penolakan."


"Iya tuan."


"jangan panggil aku tuan."


Miciko tertegun


"Lalu aku harus panggil apa?."


"Panggil aku suami."


Hati miciko sangat senang, ternyata ketakutan akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan akan menjadi akhir yang bahagia seperti ini.


"Iya, suamiku."ucap miciko gugup


"Aku akan memanggil kamu istri, nanti saat kita sudah menetap dikekaisaran tengah, kita akan meresmikan hubungan ini,apa kamu senang."


Miciko sudah tidak sanggup untuk berkata-kata lagi,dia hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju.


Hugo menyisir rambut depan miciko dengan lembut menggunakan tangannya.


"Kamu satu-satunya wanita yang dekat dengan ku dan sangat mengerti dengan sifat dinginku,miciko."


"Aku kira tuan tidak akan melihat ku karena masa lalu yang sudah aku jalani."


"Masa lalu biarlah berlalu, jangan memikirkan hal itu lagi, sekarang kamu hanya fokus pada ku,dan masa depan kita."


Miciko langsung mencium bibir Hugo dengan rakus,Hugo menyambut ciuman itu dengan tak kalah panasnya.


Hugo menggendongnya menuju kearah kamar tidur,menindihnya dengan semangat membara karena hari ini mereka tahu isi hati masing-masing.


_________________________________________


bersambung


(^∆^)