KIKIYO

KIKIYO
membantu prajurit



Yamato langsung berwajah gelap,


"Aku akan membunuh mereka semua."


"Tidak perlu seperti itu."ucap kikiyo


"Mereka sudah merendahkan martabat calon permaisuri, berarti mereka juga merendahkan martabat aku sebagai seorang kaisar."


"Kamu saja belum menemukan siapa yang sudah memasukan racun ke air yang ada didalam teko, sekarang ingin menambah masalah tanpa berfikir,bukti apa yang kamu punya,apa hanya mengatakan pendapat Hugo saja,apa menurut kamu itu cukup."


"Tidak sayang,aku lebih suka menutup mulut busuk mereka dengan membunuh mereka dan menggantinya dengan yang baru."


Kikiyo menghela nafas panjang dan kemudian mencubit pinggang Yamato


"Aw sakit sayang."


"Menyebalkan."


"Iya baiklah,apa menurut istri,yang lebih baik dilakukan dari ide suamimu ini."


Muso menganga tidak percaya,tuan kejamnya hilang kemana baru bertemu kikiyo bisa langsung menjadi kaisar yang patuh,bahkan orang tua nya saja dilawan, kalau itu menentang keinginannya.


"Kita lakukan secara perlahan jangan gegabah,Muso selidiki tentang air yang ada di teko,cari dengan teliti."


"Baik yang mulia permaisuri."


Muso langsung pergi dengan cepat seperti ninja.


Hugo masih belum sepenuhnya percaya kalau nonanya akan menjadi permaisuri kekaisaran tengah,itu berarti dia tidak akan menjadi pelindung bulan lagi karena yang akan menjadi suaminya itu adalah pria pencemburu.


"Hugo,kamu ikut kami."


Baik no,,, maksudnya yang mulia permaisuri."


Yamato berjalan dengan tetap memegang tangan kikiyo kearah tenda para jendral menyusun rencana.


Sesampainya mereka didalam tenda, semua orang yang berada didalam ruangan menatap kearah Yamato dan kikiyo.


"Salam hormat yang mulia Kaisar Yamato."


"Salam diterima,aku tidak mau berbasa basi, kalian pasti sudah mengenal wanita yang ada disampingku ini bukan,dia adalah Dewi bulan dari kekaisaran selatan dan dia calon permaisuri kekaisaran tengah ini."


"Tapi bukankah yang mulia Kaisar sudah memiliki pendamping yang sudah ditakdirkan,dan yang mulia tidak diperbolehkan memiliki selir?."


"Apa pertanyaan dari kamu sudah mewakilkan seluruh jendral yang ada ditenda ini atau belum?."


Semua jendral pun menganggukkan kepalanya,


"Baiklah, kalian lihat apa yang melingkar dipergelangan tangannya?."ucap Yamato sambil memegang tangan kikiyo keatas.


Semua jendral yang berada disana pun langsung tertegun.


"apa gelang itu asli yang mulia Kaisar? Yang mulia tidak bisa menentukan tanpa pertimbangan kalau gelang itu asli atau palsu."


"Apa kamu meragukan kemampuan kaisar ini dalam melihat keaslian suatu barang?."


"Bu,bukan maksud saya seperti itu yang mulia hamba mohon maaf."


Yamato sudah berwajah gelap, kikiyo menyadari hal ini dan dia hanya menghela nafas kasar kenapa dia ditakdirkan untuk menjadi istri seorang yang sangat emosional seperti ini.


"Aku akan,,,."Yamato berhenti bicara saat kikiyo memotong ucapannya.


"Cukup, yang mulia mohon bersabar jendral itu tidak bermaksud buruk dia hanya ingin memastikan,pandangan kikiyo beralih kearah jendral tadi,


"Nah jendral,mungkin kamu bisa membedakannya,kalau kamu tahu ini asli atau tidak,kamu bisa melihatnya sendiri, mendekatlah."


Jendral itu pun mendekati kikiyo untuk melihat gelang yang dipakainya.


"Yang mulia tolong tunjukkan kepada jenderal ini gelang yang kamu pakai."


Dengan wajah cemberut dan malas Yamato menjulurkan tangannya kearah sang jendral.


"Percuma saja jendral ini tidak mungkin bisa memastikan,hanya tetua kuil yang akan memutuskan."


Para jenderal yang ada disana sangat ingin sekali berada dekat dengan sang Dewi bulan,mungkin kikiyo bisa muntah darah kalau dia bisa membaca isi otak para jenderal.


Tapi mereka juga merasakan hal aneh dengan sang kaisar karena selama ini tidak ada yang berani menyela perkataannya, tapi wanita itu seperti memiliki keberuntungan yang mutlak karena kaisar mereka menjadi tidak berkutik lagi didepannya.


"Jendral maaf kalau kedatangan ku kesini mungkin membuat kalian merasa terganggu tapi aku sangat penasaran kenapa bisa kaisar terluka,kenapa?apa diantara kalian ada yang bisa menjelaskannya."


"Begini nona ,,,"jendral itu langsung tertegun sejenak melihat tatapan mata membunuh Yamato,saat dia sedang berfikir apa ada yang salah, jendral itu langsung menemukan jawabannya kalau dia salah dalam pengucapan panggilannya.


Kikiyo menatap kearah Yamato dan orang yang sedang ditatap itu langsung salah tingkah,


"Tolong teruskan jendral."


"Baik, yang mulia permaisuri kita sedang menyerang kelompok bandit gunung karena mereka suka menyerang kedesa terdekat."


"Diaman mereka tinggal?."


"Markas mereka berada disebuah lembah ditepian gunung yang mulia permaisuri."


"Ya , yang mulia."


"Bawa pemimpin mereka kesini hidup."


"Baik, yang mulia."


Seorang jendral maju.


"Yang mulia, pemimpin mereka sangat kuat dia sangat ahli dalam berpedang dan mungkin bawahan yang mulia itu tidak mungkin sepadan."


"Oh,Hugo tidak selemah yang kalian fikirkan, aku sangat percaya kepadanya."


"Istriku urusan kita disini sudah selesai."


"Tunggu yang mulia,kalau para bandit itu menyerang desa terdekat pasti disana banyak orang yang terluka bukan?."


"Iya sayang."


"Kita kesana dulu,kasihan orang yang tidak bersalah itu kan."


Yamato mengedarkan pandangannya kesegala arah, sebelum menjawab pertanyaan kikiyo.


"Ya tentu saja istriku."sangat menekankan kata istriku.


Dengan merangkul pinggang ramping kikiyo, Yamato bergegas membawa kikiyo pergi dari tenda para jendral itu.


Sesaat setelah keluar dari tenda,


"Yang mulia,apa prajurit disini banyak yang terluka?."


"Iya istriku,apa kamu ingin melihat mereka juga?."


"Apa boleh?."


"Apa kamu akan menurut kalau aku bilang tidak?."


"Sudah jelas bukan."ucap kikiyo dengan tertawa kecil.


Yamato yang melihat tingkah lakunya hanya tersenyum.


Yamato meminta sebuah meja dan kursi untuk kikiyo melakukan pemeriksaan juga beberapa tanaman obat,serta beberapa yang sudah menjadi bubuk.


Yamato meminta semua prajurit berbaris untuk mengantri giliran,dengan setia menemani kikiyo.


Dari jauh para jenderal yang melihat aksi yang dilakukan kikiyo pun mereka memiliki pemikiran masing-masing.


Saat masih memeriksa kesehatan prajurit, Hugo kembali dengan membawa seseorang dibelakangnya,yang sedang dipegangi dua orang bawahan Hugo dari anggota pengawal bayangan bulan.


"Salam hormat yang mulia Kaisar dan permaisuri."


"Salam diterima."ucap Yamato


"Saya sudah berhasil membawa pemimpin mereka yang mulia."ucap Hugo sambil melirik kearah bawahannya untuk segera maju membawa tawanan kedepan kaisar.


Para jenderal yang melihat kalau orang bawahan wanita itu berhasil membawa pemimpin para bandit tanpa luka ataupun darah dipakaiannya,merasa tercengang dan berfikir sekuat apa pria yang bernama Hugo tersebut.


Kikiyo menyelesaikan pekerjaannya,dan kini sedang menatap kearah Hugo dengan tajam.


"Apa kamu yakin dia orangnya."


"Yakin sekali."


Kikiyo menarik nafasnya kasar.


"Kenapa kamu melakukan pengrusakan di beberapa desa terdekat."


Saat ditatap dengan tatapan wanita pembunuh,pria itu bicara.


"Kami hanya mencari makan , yang mulia."


"Benarkah?."


"Saya punya istri dan juga anak untuk apa saya berbohong."


"Apa tidak ada pekerjaan lain,selain menganggu orang yang tidak bersalah."


"Saya bingung harus melakukan apa."


"Bukankah lembah ditempat kamu tinggal sangat cocok untuk kalian membudidayakan berbagai macam jenis jamur,kenapa kalian tidak mencobanya dan menjadikan itu pekerjaan untuk penghasilan kamu."


"Iya kami memang sudah membudidayakan beberapa jamur obat atau untuk tambahan masakan tapi,,kami tidak memiliki tempat untuk menjualnya karena keterbatasan sumber daya transportasi."


______________________________________________


bersambung


(^∆^)