
Yamato yang merasakan gerakan aktivitas kikiyo pun ikut terbangun.
"Sayang,tidurlah lagi nanti kamu kelelahan."
"Aku sudah merasakan lelah,kamu baru memperingatkan aku sekarang, seharusnya yang diperingatkan itu kamu suamiku, dasar pemaksa."
Kikiyo melipat kedua tangannya didada dengan wajah ngambek.
Sedangkan Yamato hanya tersenyum mengerti kenapa tubuh istrinya itu bisa pegal-pegal.
"Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat semalam."
Yamato berusaha untuk membujuknya.
"Hem,lihat ini aku sudah seperti orang tua pinggang ku pegal sekali, karena ulah kamu."kikiyo berbicara dengan bibir maju kedepan.
Yamato yang mulia gemas dengan tingkah istrinya itu, langsung menangkup wajah kikiyo dengan kedua tangannya, mencium setiap inci wajahnya.
"Iya sayang ku maafkan suamimu ini ya, apa pun yang kamu minta suami turuti,itu sebagai permintaan maaf dari suamimu ini."
"Benarkah."
"Benar sayang ku."
"Aku ingin keluar untuk berkuda."
"Boleh,dengan bersama ku tentunya."
"Ais, curang."
Kikiyo langsung berdiri dari duduknya, Yamato ikut bangun dan berdiri.
"Aku akan berada disamping mu,bila perlu menyatu dengan kamu selamanya tidak masalah ."
Sekarang kikiyo sedang terbayang kalau dia menyatu dengan Yamato.
"Astaga,."
itu sangat menakutkan,fikir kikiyo
Fikiran jahil Yamato muncul,dia mulai mendekat perlahan kearah kikiyo, sedangkan kikiyo sadar kalau ini adalah tanda bahaya.
Saat sudah tidak bisa melangkah mundur lagi, kikiyo terdiam, Yamato lebih mendekatkan dirinya,lebih dekat dan memeluk erat tubuh kikiyo yang masih berbalut kimono tipis.
"Kenapa?,kamu tidak mau sayang."
Kikiyo hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.
"Kita ini suami istri sayang."
"Iya tapi nanti kita akan menjadi manusia aneh."
Yamato langsung tertawa senang karena dapat membuat kikiyo termakan oleh ucapannya.
"Hahaha, sayang apa yang sudah kamu fikirkan,apa kamu berfikir kita menyatu seperti kembar Siam begitu."
Kikiyo yang sadar telah termakan oleh ucapannya pun langsung mendorong Yamato dan melangkahkan kakinya kearah pemandian, sedangkan Yamato masih terus tertawa melihat wajah ngambek kikiyo.
Ditempat lain, Hugo dan miciko sudah sampai diperbatasan kekaisaran selatan dan tengah,mereka melewati sebuah kota kecil.
Miciko yang masih tertidur dipangkuan Hugo perlahan membuka matanya,
"Suami."
"Iya istriku."
"Apa kita sudah sampai."
"Belum,baru memasuki perbatasan antara kekaisaran tengah dan selatan,kita akan melewati sebuah kota kecil."
"Apa kita akan mampir disana sebentar?."
"Apa kamu mau?."
"Ya, suamiku."
"Baiklah nanti kita akan beristirahat sejenak dikota itu."
Miciko hanya menganggukkan kepalanya.
Sedangkan ditempat lain, diistana kekaisaran tengah,kaisar selatan pamit pulang lebih dulu dari yang lainnya karena tidak sanggup lagi menahan rasa sedihnya melihat kikiyo berada dipelukan pria lain.
Tanpa kaisar selatan sadari kalau kikiyo memang sengaja melakukan kemesraan itu dihadapan banyak orang termasuk kaisar selatan,memang sejak awal kikiyo tidak pernah memberikan kesempatan kepada pria manapun untuk terlalu dekat dengannya.
Jadi dia tidak merasa bersalah, Yamato malah sangat senang dengan hal ini, setelah kaisar selatan pamit, begitu juga dengan kaisar timur dan Utara,tapi sebelum kaisar timur dan Utara pamit,mereka dengan senang hati mengundang kikiyo dan Yamato berkunjung kekaisaran mereka.
Kini hanya tersisa kaisar barat,dia belum mau pulang dengan alasan kalau masih ada tempat untuk dikunjungi, sebagai tuan rumah Yamato tidak ambil pusing walau dia tahu kalau kekaisaran barat juga menyukai istrinya.
Setelah itu kikiyo hendak pergi berkuda sambil berjalan-jalan.
"Sayang,apa itu yang kamu bawa?."
"Bumbu makanan,."
"Bukankah kita akan pergi berkuda bukannya mau memasak?."
"Aku terbiasa membawa perbekalan seperti ini sayang."
"Ya baiklah,"Yamato mengiyakan saja mungkin saja itu akan berguna.
Sebenarnya tidak hanya itu saja yang kikiyo bawa, senjata seperti pisau kecil dan racunpun dibawanya.
Setelah selesai bersiap, kikiyo dan Yamato pergi menunggangi kuda mereka masing-masing.
Dengan penampilan orang biasa, kikiyo dan
Dengan penampilan orang biasa, kikiyo dan Yamato pergi,
Mereka berkuda dengan saling mengejar karena kikiyo meminta siapa dari mereka yang sampai diperbatasan ibu kota akan mendapatkan hadiah.
Yamato pun tak mau kalah,
"Sayang, sekarang aku tahu nama baru untuk kamu."teriak Yamato kearah kikiyo yang juga sedang melajukan kudanya.
"Dewi kekalahan, hahahaha."ucap Yamato sambil menambah laju kudanya.
"Ais,pria itu untung saja dia adalah suamiku kalau tidak,aku tidak akan berfikir dulu untuk membunuhnya."
Saat mereka memiliki jarak yang sangat tipis, ternyata masih Yamato yang memimpin.
Yamato tak berhenti tersenyum dan tertawa,saat menang dari kikiyo.
"Sayang,lihat kan suamimu ini pemenangnya."
Mereka masih diatas kuda yang jalan ditempat sambil memutari satu sama lain.
"Ya ,aku tahu,jadi."
"Aku yang mendapatkan hadiah bukan."
"Iya,apa?."
"Nanti saja,aku belum membutuhkannya sekarang."
"Hem, terserah kamu saja."
"Lalu kita mau menuju kearah mana sayang."
"Kita kearah lembah yang dulu pernah terjadi peperangan saja sayang,aku sangat ingin melihat desa-desa kecil yang mereka serang."
"Hem, baiklah disana jangan berpisah dari ku ya sayang,"
"Iya suamiku yang terlalu khawatiran."
Mendengar jawaban dari kikiyo, Yamato tersenyum
Mereka melanjutkan perjalanan menuju lembah.
Sedangkan ditempat lain, disebuah ruangan dikediaman naga,Muso sedang disibukkan dengan setumpuk pekerjaan yang seharusnya kaisar Yamato yang memeriksanya.
Tapi lagi-lagi,dia terkena dampaknya.
Tak lama terdengar suara seorang wanita mengetuk pintu.
Tok,tok
"Masuk."
Emi kemudian masuk setelah dipersilahkan oleh Muso.
"Suami,aku membawakan kamu makan siang,mau makan bersama?."
"Tentu saja sayang, duduklah di bangku itu." Ucap Muso sambil menunjuk kearah bangku dan meja yang berada didalam ruangan itu.
Emi meletakan semua yang dia bawa dan duduk disana,Muso langsung menghampirinya sambil tersenyum.
"Terimakasih,"Muso duduk disebelah emi sambil mencium dahi dan bibirnya.
"Pasti kamu sangat lelah?."emi sangat khawatir dengan kesehatan Muso
"Aku baik-baik saja,ini semua aku sudah terbiasa, sebelum menikah nanti kita akan mengunjungi orang tua kamu."
Emi hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Kikiyo yang masih melanjutkan berkudanya dengan Yamato tiba disebuah desa ,
Saat mulai masuk dan melewati sebuah gapura, tertulis desa Ibe.
Saat menyusuri jalan , kikiyo melihat beberapa orang sedang berkebun dan bercocok tanam dan dari jauh sudah terlihat pegunungan yang akan mereka kunjungi.
Kikiyo menatap kearah Yamato, Dengan masih menunggangi kuda.
"Sayang , apakah desa ini juga terkena dampak dari bandit lembah dulu?."
"Sepertinya tidak sayang tapi setelah desa ini, mungkin karena masih ada desa lagi setelah ini."
Ais,kaisar macam apa dia ini,kalau aku yang menjadi rakyatnya dulu pasti sudah aku bunuh, fikir kikiyo
Yamato mengamati istrinya yang sedang terdiam diatas kuda.
"Sayang,."
"Ya."
"Apa yang kamu lamunkan?."
"Tidak ada."
Saat mendengar jawaban kikiyo Yamato langsung turun dari kudanya lalu dengan cepat Yamato menghentikan juga kuda yang dinaiki oleh kikiyo.
Kikiyo tertegun sejenak saat Yamato menaiki kudanya,sambil tangan kiri Yamato memegang pinggang rampingnya sedangkan tangan kanannya memegang tali pengikat kuda.
Dari belakang Yamato menaruh dagunya diatas pucuk kepala kikiyo.
"Aku hanya ingin jujur kepada kamu sayang, aku ingin kamu tahu tentang aku dari mulutku sendiri,bukan dari orang lain,aku memanglah kaisar yang menyebalkan tetapi semua itu tidak sepenuhnya kesalahan aku."
"Iya aku mengerti, sayang, untuk apa kamu punya bawahan seperti para menteri dan para jenderal kalau mereka tidak bisa diandalkan."
Yamato langsung menurunkan wajahnya kearah pipi kikiyo lalu menciumnya.
"Terimakasih ya sayang,."sambil menyembunyikan wajahnya tengkuk leher kikiyo
"Sekarang tugas kamu,merebut kembali kepercayaan rakyat, mengerti."
"Iya sayang ku, jangan pernah meragukan suamimu ini ya."
"Iya,kaisar ku, suamiku."
Saat Yamato mendengar ucapan kikiyo hatinya langsung berubah menjadi taman bunga matahari yang hangat.
_________________________________________
bersambung
(^∆^)