
Sedangkan kikiyo,sedang berada digazebo miliknya dan sedang meniup sebuah seruling bambu,sampai menghasilkan alunan merdu.
Tak lama ada seorang penjaga datang menghampirinya.
"Nyonya, dari jauh saya melihat kaisar Yamato sedang kearah sini dengan kecepatan tinggi."
"Biarkan dia datang dan bilang saja aku tidak ada,tapi jangan mendekatinya nanti kamu bisa mati, peringatkan kepada semuanya."
"Baiklah, nyonya."
Kikiyo pergi ketempatnya dibelakang penginapan bulan, sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu dengan Yamato.
Sebenarnya kikiyo tidak mempermasalahkan hal yang dilakukan oleh Yamato dan fuji tapi dia hanya menyesal karena tidak waspada akan hal seperti itu bisa terjadi.
Kini Yamato sudah sampai dipenginapan bulan,dia langsung turun dan masuk kedalam penginapan dengan tergesa-gesa, pelayan sudah bilang kepadanya kalau nyonya kikiyo tidak ada disini tapi dia tidak mudah percaya.
Yamato pergi kesetiap bangunan yang ada dipenginapan bulan sampai akhirnya dia berada didepan sebuah kediaman milik kikiyo,dia berjalan masuk dan melihat kikiyo sedang membersihkan alat musik koto miliknya.
Kemudian perlahan Yamato mendekati kikiyo lalu duduk didepannya.
"Istriku."
Kikiyo masih diam dan menganggap Yamato tidak ada.
"Kikiyo."
Kikiyo menghentikan aktivitasnya lalu menatap kearah Yamato.
"Untuk apa kamu datang kesini."
"Aku ingin membawa kamu kembali."
"Kalau aku tidak mau?."
"Aku akan memaksamu."
"Pergilah."ucap kikiyo sambil meneruskan aktivitasnya yang tertunda
Yamato bersumpah tidak akan pulang keistana kalau tidak membawa serta sang istri kembali kesana, Yamato langsung bangun dari duduknya dan mendekati kikiyo.
Dengan cepat Yamato memeluk erat tubuh kikiyo dan mencium bibirnya dengan rakus.
Kikiyo sama sekali tidak melawan,dia juga menyambut ciuman dari suaminya itu,hati Yamato yang tadinya mendung langsung berubah menjadi cerah kembali.
"Pulang bersamaku,kembali keistana,oke."
"Istirahat lah dulu,kamu baru sampai dari perjalanan jauh, setelah itu baru kita bicarakan lagi."
Yamato masih memeluk tubuh kikiyo sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak,aku mau kamu ikut dengan aku, jangan membantah."
"Istirahat dulu oke."
Yamato menatap dan mencium kembali bibir merah itu,lalu kikiyo membawa sang suami kedalam kamar miliknya.
"Temani aku beristirahat,baru aku bisa tertidur dengan nyenyak."
"Baiklah."ucap kikiyo sambil tersenyum
Kikiyo pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Yamato yang sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dipinggang ramping kikiyo.
Yamato pun tertidur pulas, sedangkan kikiyo masih terjaga,dia melihat wajah lelah sang suami yang sangat dia cintai,demi semua rencananya, kikiyo bahkan rela mengorbankan suaminya sendiri, sebenarnya ini hal yang gila tapi ini diperlukan untuk mencapai tujuannya.
Setelah hari menjelang sore, Yamato mulai terbangun dari tidurnya.
"Sayangku,."ucap Yamato sambil meraba wajah cantik kikiyo
"Iya,ini aku sayang."
Hem,,, Yamato langsung memeluk tubuh kikiyo dan mengecup keningnya.
"Dimasa depan,aku akan lebih berhati-hati lagi,maaf sudah membuat kamu merasa kecewa kepadaku."
"Iya, yang lalu biarlah berlalu, suamiku."
"Kita kembali keistana ya."
"Belum saatnya aku pulang sayangku,."
"Kenapa?."
"Masih ada yang harus aku lakukan."
"Apa aku ada didalam rencana ini?."
"Apakah kamu tidak mau kembali sekarang."
"Hem, baiklah tapi kamu harus masih menyamar seperti ini dan jangan sampai ada yang tahu."
"Baiklah, nyonya ku, istriku sayang, memang apa yang akan kamu lakukan."
"Aku ingin menangkap ikan besar disini."
"Ikan besar."
"Ya ,tapi kamu harus berjanji satu hal kepadaku."
"Apa sayang."
"Saat aku sedang memancing nanti,kamu tidak boleh mengganggu konsentrasi ku,oke,kalau ingin mendapat hasil yang besar,harus ada hal yang harus dipertaruhkan."
Yamato sangat tahu maksud dari ucapan kikiyo.
"Tapi,ada syaratnya."
"Apa suamiku."
"Jangan serahkan tiram milikku ini kepada siapapun."ucap Yamato sambil memegang bagian bawah tubuh kikiyo
"Ais, egois,kamu saja bisa mengambil semuanya dari wanita itu,kenapa aku tidak."
"Ya,memang aku egois dan kamu tahu itu, istriku memang nakal dan harus dihukum."
Yamato langsung membelit tubuh kikiyo dibawah Kungkungannya, kikiyo hanya pasrah dan mengeluarkan suara ambigu yang dapat menambah keinginan Yamato untuk lebih menyiksanya.
Menambah kecepatan menumbuknya sampai kikiyo mengejang,satu kali,dua kali dan bahkan sampai tidak terhitung,berapa kali kikiyo mengejang hebat.
Setelah selesai memakan satu sama lain, kikiyo sekarang merasakan lapar yang benar-benar dari dalam perutnya, begitu pula dengan Yamato.
Pelayan pun dengan sigap membawakan berbagai macam hidangan diatas meja untuk kikiyo dan Yamato santap,sambil makan.
"Sayang, wanita brengsek itu sudah berhasil mendapatkan stempel kekaisaran tengah, bagaimana ini?."
"Santai saja sayang,itu bukanlah stempel kekaisaran tengah yang asli,itu hanya sebuah tiruan, yang asli ada didalam kediaman milikku."ucap kikiyo sambil tersenyum
"Istriku memang pintar."
Merekapun kembali melanjutkan makannya,
Setelah selesai makan, Yamato memilih untuk berlatih kemampuan berpedangnya dihalaman belakang, sedangkan kikiyo menerima surat dari burung elang pembawa pesan milik Hugo tentang pencarian wanita tua itu,dan juga Fuji.
Ditempat lain Fuji juga menerima surat dari burung elang pembawa pesan milik kaisar barat,dia diperintahkan untuk tetap menjaga stempel milik kaisar tengah itu dan kini dia harus menemukan jendral yang berpihak kepada menteri pertahanan kekaisaran tengah untuk memberontak.
Fuji pun langsung mencari informasi tentang jendral tersebut dari beberapa penduduk yang dia temui.
Sedangkan ditempat lain,Hugo dan timnya sudah mulai mencari informasi ditempat lain sedangkan Momo dan miciko sedang berada disebuah restoran.
Tadi pagi Setelah Momo dipertemukan dengan miciko pertama kali,Momo langsung berwajah ceria sambil tersenyum dan mendekat kearah miciko.
Miciko mencoba untuk tersenyum dan melihat kearah Hugo,
Hugo meminta mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama seharian penuh dengan begitu mereka bisa saling mengerti satu sama lain.
Dari pagi hingga sore hari,miciko dan Momo pergi bersama,sampai sekarang mereka berada disebuah restoran.
"Kak miciko,maaf bukannya aku ingin merebut suami dari tangan mu tapi hati ini tidak bisa dibohongi, maafkan aku."
"Mungkin ini sudah menjadi takdir untuk aku dan kamu bersama mendukung suami yang sama, Hugo adalah pria yang pantas untuk dicintai."
"Jadi , sekarang apa kakak masih tetap tidak menyukai aku?."
"Apa kamu tahu,apa yang diberikan oleh suami saat dia menyuruh kamu meminumnya?."
Momo hanya menggelengkan kepalanya.
"Itu adalah ramuan penunda kehamilan, ramuan itu yang memberikannya adalah yang mulia permaisuri,."
"Hah,jadi suami tidak mau memiliki anak dari aku?."
"Mungkin saja."ucap miciko
Momo yang tadinya berwajah ceria kini dia sedang berwajah murung.
Setelah selesai jalan-jalan,Momo meminta untuk pulang melewati jalan yang berbeda dari miciko dan Mereka pun berpisah dijalan.
Miciko merasa sedikit bersalah telah mengatakan hal seperti itu,tapi sama dengan Momo, hati ini tidak bisa dibohongi.
__________________________
bersambung
(^∆^)