KIKIYO

KIKIYO
menginap



Nenek dan wanita itu, mereka saling bicara, wanita yang sedang bicara itupun langsung menatap kearah Yamato dan kikiyo dengan wajah ketakutan.


"Nenek,kita tidak bisa menampung orang lain,kita saja sedang kesusahan,bisik wanita itu yang masih terdengar oleh kikiyo.


Kikiyo melangkahkan kakinya mendekati nenek dan wanita itu.


"Kami akan melanjutkan perjalanan saja,aku tidak ingin merepotkan siapapun."ucapan kikiyo sangat lembut sampai-sampai orang yang mendengarnya pun tidak tega untuk mengusirnya pergi.


"Nyonya kami hanya bisa memberikan tempat istirahat sementara,tapi tidak ada makanan yang cukup disini,maaf."ucap wanita yang sedang menggendong bayi itu.


Kikiyo melihat kearah Yamato.


"Sayang,aku ingin makan daging hasil berburu,tapi aku tidak tahu dari mana mendapatkannya karena aku hanya mempunyai bumbunya saja."


Kikiyo berucap seperti itu karena dia tidak ingin seperti menyuruh suaminya,karena itu tidak sopan jadi dia memilih untuk meminta dengan wajah manja.


Sedangkan Yamato merasa sebagai suami yang baik dia akan memberikan apapun yang istrinya mau,dan dia merasa bangga kalau kikiyo membutuhkannya.


"Baiklah sayangku,begini saja kamu siapkan bumbu,biar aku yang berburu,aku akan membawakan buruan yang besar untuk kamu."


Kikiyo langsung tersenyum lebar mendengar jawaban suaminya itu,


"Suamiku memang yang terbaik."


Kikiyo sangat tahu kelemahan suaminya, kalau Yamato sangat suka dipuji , pria bucin itu sangat senang saat sang istri mengucapkan kalimat itu, dengan langkah besar dan hati yang berbunga-bunga Yamato menaiki kudanya menuju hutan.


Sedangkan kikiyo kembali mendekati wanita tua tadi,


"Nenek,tenang saja suamiku itu akan membawa daging yang lumayan banyak."


"Terimakasih nyonya,kami memang sedang kesulitan bahan pangan didesa ini,akibat dari ulah bandit tadi."ucap sang nenek sambil meminta kikiyo untuk masuk kedalam


Tapi kikiyo menolak dan ingin duduk di bangku yang berada di teras rumah saja sambil menunggu Yamato datang,


Saat kikiyo sedang mempersiapkan bumbu nenek itu menghampiri kikiyo dan duduk di bangku yang sama,


"Nyonya,boleh nenek membantu,."


"Tentu saja boleh nenek,oh ya nenek disini tinggal dengan siapa saja?,kalau aku boleh tahu."


"Tentu saja boleh nyonya, yang tadi itu anak menantu aku , suaminya anak aku sudah mati dalam perang nyonya,dia mati meninggalkan dua anak dan sekarang,,,."


Nenek menghentikan ucapannya membuat kikiyo penasaran tapi dia tidak mau memaksa nenek kalau itu dapat membuka luka lama.


Nenek itu tetap melanjutkan ucapannya.


"Sekarang cucu nenek sedang sakit nyonya jadi nenek bingung,didesa ini tidak ada tabib aku ingin membawanya keibu kota tetapi tidak memiliki uang,nenek ingin memintanya pada nyonya,maaf kalau nenek lancang"


Wajah nenek sangat sedih dan takut saat mengutarakan maksud dia menemani kikiyo saat ini.


"Biarkan aku memeriksa kondisi cucu nenek,boleh."


Wajah nenek langsung terangkat dan nampak terkejut.


"Apa nyonya seorang tabib?."


"Mungkin tapi boleh aku mencobanya,siapa tahu aku bisa memberikan solusi."


Nenek bangun dari duduknya dan menggandeng tangan kikiyo untuk pergi kedalam rumahnya, kikiyo hanya pasrah saat dia ditarik oleh nenek.


Setelah tiba didalam sebuah kamar ,ada seorang anak laki-laki sedang terbaring lemah ditempat tidur, wanita yang tadi membawa bayi itu langsung menyingkir dari sisi anaknya itu, setelah nenek memberikan pengertian.


Kikiyo mendekati anak itu dan mulai untuk memeriksanya.


Kikiyo mengerti dengan kondisi anak ini setelah melihat dan merasakan denyut nadi anak itu, kikiyo menyimpulkan bahwa anak ini terkena gejals tifus,dia mengambil beberapa obat serta beberapa tanaman kering yang dia beli saat diperjalanan.


Setelah selesai meracik obat, kikiyo memberikannya kepada anak itu,


"Nenek, tidak perlu khawatir cucu nenek hanya butuh istirahat sekarang.


Nenek hanya menganggukkan kepalanya


Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki kuda mendekat kearah rumah nenek.


Kikiyo bergegas pergi kearah luar,


Saat turun sambil membawa hasil buruan, Yamato sangat bahagia dan tersenyum karena Yamato berfikir kalau istrinya akan semakin memujinya kali ini.


"Sayang,ini aku membawakan rusa muda dan sudah aku bersihkan tadi disungai sana supaya kamu tidak perlu repot-repot lagi."


Kikiyo mendekati Yamato dengan wajah ceria,lalu dia mengecup pipi Yamato singkat.


"Terimakasih ya suamiku sayang."sambil mengambil daging rusa muda yang dibawa oleh Yamato."


Kikiyo langsung membumbui daging itu dan mulai dipanggang, Yamato dengan sigap membantu sang istri.


Setelah daging matang, kikiyo membawanya kedalam rumah,dia ingin memberikan daging itu untuk nenek ,anak dan cucunya.


Setelah nenek menerima makanan itu dia menangis kembali,dan siwanita yang anak menantu sang nenek pun juga menangis.


Kikiyo tidak tahan dengan kesedihan ini, akhirnya dia lebih memilih makan diluar bersama sang suami,berdua.


"Sayang,apa kamu lelah?."ucap Yamato sambil melihat wajah kikiyo.


Kikiyo langsung memeluk lengan suaminya.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu suamiku,kamu kan tadi berburu."


"Aku tidak pernah lelah mencari makan untuk istriku ini."ucap Yamato sambil mencubit pipi kikiyo.


Yamato sangat senang kalau kikiyo bertingkah manis seperti ini kepada,saat sedang mengobrol, Yamato melihat benda seperti kembang api didalam kantung yang kikiyo bawa.


Dia lalu mengambilnya,


"Kembang api ini untuk apa sayang."


"Oh,itu entahlah,terbawa tadi,simpan saja."


Yamato mengembalikan kembang api itu, sedangkan matanya melihat sekeliling.


"Sayang,apa kita akan tidur ditempat ini."


"Ya,apa kamu keberatan suami ku."


Yamato langsung memasang wajah biasa saja dengan sedikit tersenyum.


"Tentu saja tidak sayang,aku akan tidur di manapun kamu tidur."


Tak lama nenek keluar sambil membawa dua selimut.


"Nyonya ini aku memiliki beberapa selimut untuk anda pakai dan mungkin selimut ini tidak sebanding dengan apa yang kalian pakai,terimalah."


"Sambil menerima selimut dari tangan nenek, terimakasih nenek baik sekali."


"Kalian tidurlah disana,sambil menunjuk kearah sebuah bangunan gubuk,disana kamarnya sudah bersih jadi , selamat malam."ucap nenek sambil berjalan meninggalkan kikiyo dan Yamato.


Yamato yang sedari tadi mendengarkan percakapan kikiyo hanya tersenyum saja.


"Sayang,hayu kita istirahat."ucap Yamato sambil merangkul pundak kikiyo.


Kikiyo hanya menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua pun pergi menuju kearah gubuk yang tadi nenek beritahu.


Saat kikiyo membuka pintu gubuk itu terlihat didalam ada sebuah ranjang yang terbuat dari kayu tua.


Kikiyo menatap kearah Yamato yang sedang melepaskan jubahnya untuk digantung.


"Hem,apa kita akan tidur diatas ranjang ini?."ucap Yamato dengan wajah yang kurang yakin


"Lalu mau dimana lagi sayang?."


Kikiyo langsung melebarkan selimut Pertama untuk alas mereka tidur pengganti seprai,lalu selimut kedua untuk menutupi tubuh mereka.


_______________________________


bersambung


(^∆^)