KIKIYO

KIKIYO
malam indah



Pencarian hari ini diakhiri dengan hasil yang kurang memuaskan,Hugo kembali kekediaman jendral imamura,dia langsung disambut hangat disana, lalu dia berjalan menuju kediaman pribadi milik Momo.


Momo sangat bahagia melihat sang suami pulang seperti yang dijanjikan,dia meminta pelayannya untuk menyiapkan bak mandi dan juga makanan untuk dia santap bersama sang suami.


Momo dengan senang hati, mendekati Hugo lalu membantunya melepaskan pakaian luar yang sedang Hugo kenakan,tak lama, seorang pelayan masuk untuk memberitahukan kalau semuanya sudah siap.


Hugo melangkah kearah pemandian, dengan tubuh yang sedang berendam dikolam tanpa satupun orang lain disana karena Hugo tidak mau dilayani seperti bangsawan.


Momo membawakan pakaian ganti untuk suaminya dia pergi kepemandian.


"Suami."


"Ya."


"Ini pakaian gantinya sudah aku siapkan."


Hugo langsung berdiri dan keluar dari bak mandi, seketika Momo yang melihat pemandangan tubuh suaminya pun langsung berwajah merah karena malu,


Hugo mengambil baju itu dari tangan Momo,Hugo melihat wajah sang istri sudah berubah merah sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Kenapa dengan wajah kamu itu?."


"Ah, tidak ada,."


"Apa kamu belum pernah melihat pria bertelanjang dada?."


Momo hanya menggelengkan kepalanya saja,


"Kamu malu?."


Momo langsung menganggukkan kepalanya,


Hugo tersenyum kecil,melihat wajah malu Momo ,miciko dan Momo hanya berbeda tiga tahun selebihnya mereka terlihat sama, hanya latar belakangnya saja yang berbeda, Momo lebih beruntung daripada miciko untuk dikehidupan sekarang sebelum bertemu dengan Hugo.


"Kenapa kamu malu, bukankah aku ini suami kamu?."ucap Hugo sambil meninggalkan Momo yang masih mematung disana,


Saat setelah Momo sadar kalau sudah ditinggalkan,Momo langsung menyusul Hugo untuk makan bersama.


Momo melayani Hugo dengan penuh perhatian.


"Suamiku."


"Hem."


Saat mendengar jawaban dari Hugo, Momo diam dan memandang kearah Hugo,


Hugo yang merasa ditatap pun menatap balik sang istri.


"Ada apa, istri ku?."


"Ah, tidak ada, apakah makannya enak?."


"Ya,enak."


Saat setelah selesai makan Hugo menerima sebuah pesan dari beberapa anggota pengikut bulan, untuk meminta sebuah solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi.


Hugo membacanya sambil duduk didepan sebuah meja rias milik Momo, sedangkan Momo sudah menanggalkan pakaian luarnya.


Momo melangkah mendekati Hugo.


"Suamiku."


"Ya."


"Apa yang kamu sedang lakukan?, apakah aku boleh mengetahuinya?."


"Kamu ingin mengetahuinya?."


"Iya,tentu."


"Kemarilah."


Momo dengan senang hati mendekati Hugo,lalu Hugo menuntun Momo untuk duduk diatas pangkuannya.


Momo hanya melihat sebuah surat tapi tidak bisa membacanya,


"Ini surat apa?."


"Sekarang kamu sudah tahu bukan."


"Iya,tapi aku sama sekali tidak bisa membacanya."


"Ya memang seperti itu,hanya aku yang bisa membacanya."


Momo sekarang berwajah ngambek sambil mengerucutkan bibirnya,dia merasa dipermainkan oleh Hugo.


Saat mendengar ucapan dari mulut Hugo, Momo langsung menatap wajah suaminya itu.


"Apa kamu , tidak mau menyentuh aku?."


"Umur kamu masih lima belas tahun, lebih baik kita tidak melakukannya."


"Tapi , bukankah kita sudah menikah dan memang seperti itu bukan, untuk melengkapi pernikahan ini."


Hugo hanya memandang wajah Momo yang penuh harap,Hugo mengeluarkan kantung ramuan yang diberikan kikiyo kepada Momo dan memintanya untuk menyeduh kantung itu dan meminum airnya.


Momo pun langsung melakukan apa yang diminta oleh Hugo tanpa bertanya lagi apa isi dari kantung tersebut, setelah Momo selesai meminumnya didepan Hugo.


Hugo langsung mengambil wajah Momo untuk mencium bibirnya,kemudian menggendongnya kearah tempat tidur.


Hugo menciumi setiap inci tubuh Momo tanpa celah sedikitpun,menghisap semua cairan dari dalam tiram merah milik Momo sampai sang istri mengejang hebat.


Hugo kembali kearah wajah Momo sambil mengangkat kaki putih milik Momo,lalu Hugo perlahan memasukkan bagian bawah tubuhnya kebagian bawah tubuh Momo,.


Akh,,,


Satu kata sudah lolos dari bibir kecil dan merah milik Momo,tak lama air mata pun jatuh dipipinya,Hugo yang melihat hal itu pun langsung menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa?."


"Sakit,,,tapi nikmat."


"Mau berhenti?."


Momo hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan malu,kata "nikmat" yang lolos dari mulut nya itulah yang membuat wajahnya berubah merah karena merasa malu dengan sang suami.


Hugo melanjutkan aktivitasnya memakan Momo dengan sangat cepat bahkan lebih cepat, yang membuat Momo tidak tahan untuk berteriak,sampai penjaga didepan kamarnya pun merasa malu mendengar teriakan ambigu itu.


Setelah bom waktu terasa mau meledak, Hugo melepasnya diluar,sambil mengerang hebat,dia juga melihat bercak darah diatas tempat tidur,Momo pun langsung tertidur pulas karena terlalu lelah karena ini adalah pengalaman pertamanya.


Keesokan harinya,Momo terbangun dan melihat Hugo masih berada disampingnya, mereka masih belum memakai sehelai benang pun,dan semalam bukanlah mimpi indah tapi kenyataan.


Momo ingin menyentuh wajah tampan suaminya itu,dia menyentuhnya dari dahi turun kehidung lalu turun kebibirnya, kemudian jari Momo digigit oleh Hugo.


"Akh,suami,kamu bikin kaget saja."


Hugo hanya tersenyum melihat Momo.


"Hari ini apa yang ingin kamu lakukan?."


"Aku tidak tahu."


"Hari ini aku masih akan bertugas dan aku meminta kamu untuk mengunjungi miciko , istri ku yang pertama untuk berkenalan dan mengajaknya jalan-jalan, bagaimana."


"Iya baiklah,aku juga sangat ingin berkenalan dengan kakak miciko,."ucap Momo dengan senyuman manisnya


"Kalau begitu kita bersiap sekarang."


Momo hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju,


Setelah selesai bersiap,Momo keluar dari kediamannya dan melihat sang suami sedang mengobrol dengan sang kakak.


"Kakak ipar,kami pamit dulu."


"Iya, baiklah,Momo baik-baiklah kamu disana nanti."


"Iya kakak tenang saja."


Setelah itu Hugo membawa Momo masuk kesebuah kereta kuda yang sudah disiapkan,mereka pun bergegas pergi menuju kearah istana kekaisaran tengah.


Dilain tempat,kaisar Yamato sudah memasuki perbatasan antara kekaisaran tengah dengan kekaisaran selatan,dia masih sangat bersemangat untuk berkuda demi memastikan kalau sang istri pasti berada disana, dipenginapan bulan.


Sesaat dia beristirahat disebuah rumah makan, Yamato mendengar ucapan dari mulut seorang pria yang mengatakan kalau sang Dewi bulan sudah kembali dan dia tampak semakin cantik setiap harinya,


Saat mendengar hal itu,darah ditubuh Yamato mulai mendidih,dia sangat tidak senang kalau ada pria lain yang memimpikan istrinya walau hanya khayalan semata.


Yamato menunggu pria itu keluar dari dalam rumah makan , lalu saat ditengah jalan, Yamato menghadang pria itu dan membunuhnya dengan cepat.


"Walaupun hanya dalam khayalan bahkan dalam mimpi pun, tidak akan aku izinkan kalian memikirkan kikiyo,dia milikku dan hanya aku."ucap Yamato sambil menancapkan pedangnya berkali-kali kearah jantung pria itu


Setelah selesai dengan urusannya, Yamato pergi meninggalkan mayat pria itu dihutan, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan bulan.


________________________________


bersambung


(^∆^)