
Kikiyo yang mendengar suara suka cita itu langsung ingin melihat kearah jendela.
"Ada yang aneh."ucap kikiyo sambil menatap kearah luar jendela.
"Apanya yang aneh istri ku."
"Penyambutan disini dan didesa berbeda, kamu bilang kalau penyambutan yang sambil bersujud itu sudah lama dilakukan tapi kenapa dengan mudahnya mereka merubah teradisi?,sangat tidak menghormati leluhur."
Yamato yang mendengar jawaban kikiyo hanya bisa tersenyum kecil,
"Tidak apa sayang yang terpenting,mereka melakukan itu untuk membuat kaisar ini senang."
"Oh ya."pandangan mata kikiyo sangat tajam kearah Yamato.
"Ya begitulah, hehehe."
"Pembohong besar."
Yamato langsung mati kutu saat kikiyo mengeluarkan kata pembohong dari mulut kecil merah miliknya itu.
"Baiklah nanti aku akan menceritakan tentang kekaisaran ini,semuanya bagaimana."
"Ya."
Huh,untung saja.fikir Yamato
Para jenderal yang mengikuti rombongan kaisar hanya mengikutinya sampai ditengah kota saja setelahnya mereka berpisah untuk kembali kekediamannya masing-masing.
Saat kikiyo masih melihat kearah jendela,
"Istriku, lihatlah itu adalah istana kekaisaran ini ,itu akan menjadi tempat tinggal baru untuk kamu sayang."
Kikiyo mengarahkan pandangannya kearah bangunan megah yang ada didepan sana, pintu gerbang yang lebih tinggi dari pintu yang ada dikediaman miliknya yang ada di kekaisaran selatan.
"Aku tidak mau tinggal disana."
"Kenapa sayang."
"Merepotkan."
"(-_-),apa yang membuat kamu berfikir kalau tinggal disana itu sangat merepotkan?."
"Aku sangat suka pekerjaan rumah tangga, aku suka berkebun bercocok tanam,tapi ih pasti sangat merepotkan kalau memiliki rumah sebesar itu ,butuh berapa jam untuk menyapu dan mengepel lantai kamar ku sendiri,astaga aku tidak sanggup,apa lagi untuk berkebun ,mungkin nanti hasil yang aku tanam bisa untuk memberi makan orang satu desa."
"Hahahaha, sayang kamu ini kan ada pelayan yang akan membantu kamu untuk semua itu."
"Aku butuh melatih otot-otot ditubuhku ini supaya masih bisa berfungsi dengan baik, kalau aku tidak memiliki kegiatan sehari-hari lalu aku akan makan dan tidur saja begitu,ih aku tidak mau."
Yamato tersenyum sambil mengambil tangan kikiyo untuk dia genggam.
"Istriku, setelah kita menikah hari-hari yang akan kamu jalani nanti hanya untuk menemani aku memimpin rakyat kekaisaran tengah ini."
"Apakah aku harus menerima kenyataan ini, aku tidak mau menjadi permaisuri, aku tidak mau berurusan dengan kekaisaran mana pun,aku ingin kembali saja menjadi Dewi bulan,menjalani hari-hari dengan santai."
Yamato langsung memeluknya dengan erat.
"Maaf kan aku sayang,aku tidak bisa mengabulkan itu semua untukmu karena kamu akan menikahi seorang kaisar jadi kamu harus menerima kenyataan dengan lapang dada."
"Hem,kenapa harus aku,kenapa gelang bodoh itu memilih ku."
"Nanti setelah kita sampai ,aku akan meminta tetua kuil untuk mendatangi kita keistana dan kamu bisa bertanya dengannya."
"Iya, baiklah."
Sesampainya mereka diistana,
"Yang mulia Kaisar tengah telah tiba."
Suara itu menggema keseluruh penjuru istana kekaisaran oleh seluruh Kasim yang berada didalam istana.
Yamato hendak turun dari kereta kuda, setelahnya dia membantu kikiyo untuk turun.
Mereka berdua bergegas menuju kedalam istana, dari jauh terlihat ada dua orang paruh baya,pria dan wanita.
"Itu, mereka siapa?."
"Calon ibu mertua kamu sayang."
Kikiyo langsung menatap kearah orang tua Yamato ada perasaan akrab ,
"Mama,papa."ucap kikiyo yang tanpa sadar mengucapkan
Yamato yang mendengar kata-kata dari kikiyo merasa agak bingung karena baru kali ini mendengar sebutan itu, setelah langkah mereka sudah berada didepan mereka.
"Salam hormat kepada ayahanda dan ibunda."ucap Yamato sambil memberikan hormat kepada kedua orangtuanya.
Kikiyo masih diam sambil menatap kedua orang tua Yamato.
"Sayang."
Orang tua Yamato langsung melakukan inisiatif dengan cara memulai obrolan untuk memecah keheningan.
Ibunda Yamato melangkahkan kakinya menuju kikiyo
"Gadis cantik,siapa namamu."
"Kikiyo nama yang bagus, tunggu apa?."ucap ibunya Yamato dengan nada bingung sambil melirik kearah suaminya.
"Yamato,sejak kapan kamu dekat dengan seorang wanita?."ucap ayahandanya.
"Dia takdir dari gelang Phoenix ayahanda." Ucap Yamato sambil memegang tangan kikiyo untuk menunjukkan gelang yang dimaksud.
Ayah dan ibunya sangat senang dan bahagia karena tidak lama lagi kekaisaran tengah akan mengadakan pesta pernikahan.
"Baiklah kalau begitu kikiyo ikut ibunda ya."
"Iya ,ibunda."ucap kikiyo sambil melepaskan genggaman tangan Yamato.
Yamato langsung berwajah gelap,
"Ibunda jangan kamu culik istriku."
"Istri?,kalian itu belum menikah jadi tunggu dan sabarlah."ucap ibunya sambil bergegas pergi menjauh meninggalkan Yamato dan suaminya.
"Akh ibunda, ayahanda lihat itu ibunda menculik istri ku."
"Yamato,biarkan saja ibumu itu pasti ingin dekat dengan sang calon menantu."
"Tapi ayahanda, pasti akan ada niatan lain dari ibunda."
"Ais,kamu ini sama ibumu saja kamu tidak percaya."
"Akh,yasudah aku mau kembali keruangan aku saja."
Yamato kembali kekediamannya dengan perasaan kesal dengan sang ibu,niat hati ingin menghabiskan waktu bersama kikiyo sirna sudah.
"Akh ,ibunda menghancurkan semuanya, akh, sayang."ucap Yamato yang sedang mengamuk didalam ruangan pribadi miliknya.
Sementara itu kikiyo sedang membahas pria yang sedang mengamuk itu,sambil meminum teh hijau bersama ibu Yamato
"Apa Yamato memaksa kamu?."
"Iya yang mulia."
"Panggil aku ibunda sama seperti Yamato memanggilku."
"Baiklah ibunda."
"Kamu pasti sangat lelah kan,kita lanjutkan obrolan ini besok saja kalau begitu."
"Iya ibunda ,aku sangat lelah."
Kikiyo sangat menikmati obrolannya dengan ibunya Yamato sebenarnya tapi rasa lelah sudah sangat memenuhi tubuhnya sekarang.
"Sekarang kamu bisa tinggal di kediaman ini,semua yang ada disini adalah milikmu."
"Iya, terimakasih ibunda kalau begitu aku mau bergegas pergi istirahat."
"Iya,mimpi indah ya sayang."
Ibunda Yamato bergegas pergi bersama para dayangnya, kikiyo juga memiliki sepuluh pelayan yang melayaninya dikediaman miliknya.
"Mari yang mulia,kami akan membantu Anda membersihkan diri."
Kikiyo dengan langkah malas pergi kepemandian,disana pelayan sibuk mengurus semua kebutuhan kikiyo.
Kikiyo siap memasuki kolam air mawar untuk berendam, setelah sudah didalam air.
"Yang mulia,apa membutuhkan sesuatu yang lain."
"Tidak,kalian bisa pergi."
"Baik yang mulia."
Kikiyo menutup matanya merasakan air hangat yang masuk kepori-pori kulitnya.
"Kenapa orang tua Yamato sangat mirip dengan orang tua aku dikehidupan sebelumnya,Hem."
Masih dalam posisi berendam kikiyo merasakan jika ada seseorang yang masuk kedalam pemandiannya, orang itu semakin mendekat, kikiyo langsung membuka matanya dan orang itu dengan sigap langsung membungkam mulutnya.
"Sayang,ini aku."ucap pria itu yang ternyata Yamato,dia langsung memindahkan tangannya yang tadi menutup mulut kikiyo.
"Kenapa kamu disini,aku sedang mandi."
"Aku kangen kamu sayang,kalau bukan karena ibunda yang menculik kamu dari aku, kita pasti sudah berada disatu kamar berdua, mengobrol tentang masa depan."
"(-_-) astaga,kenapa sekarang ikut berendam?."
"Apa ada yang berani untuk melarang ku?."
"Hem,ya aku mengerti."
______________________________________________
bersambung
(^∆^)