KIKIYO

KIKIYO
sebuah jimat



"Hem,kakek aku butuh jimat."


"Apa kamu punya koin emas."


"Tentu saja aku punya kakek."


"Lebur semua itu dan jadikan lempengan bundar yang lumayan besar,lalu selipkan dibaju atas sebelah kiri,hanya itu."


"Hanya itu kek?."


"Iya,hanya itu saja yang kamu butuhkan sekarang sebagai jimat."


Kikiyo tertegun sejenak lalu dia pergi meninggalkan kakek tetua kuil, sendirian.


Sesaat kikiyo sudah berada dikediamannya, dia bertemu dengan Hugo yang sudah menunggu,


"Nyonya."


"Ada apa Hugo?."


"Apa hari ini nyonya tidak ada perintah untuk saya?."


"Hem, sepertinya tidak ada,kamu bebas hari ini."


"Terimakasih nyonya,hari ini aku ingin mengajak miciko jalan-jalan berkeliling kota dan melihat pemandangan juga,."


"Baiklah tapi jangan lupa suruh miciko meminum ramuan penguat janin yang sudah aku buatkan, jangan makan makanan dari luar,kita masih harus waspada kalau tidak nyawa bayi yang ada didalam perut miciko taruhannya."


"Baiklah nyonya."


Sesaat memikirkan ucapan kikiyo, Hugo merasa kalau hal itu benar adanya, dia kembali kekamar dan melihat miciko yang sedang menyulam.


Walaupun langkah Hugo masih jauh tapi miciko sudah bisa merasakan kedatangan suami tercintanya itu.


Miciko langsung melihat kedepan dan dia melihat Hugo berjalan dengan senyuman manisnya.


Saat sudah dekat dengan miciko, Hugo langsung merunduk untuk mencium bibir miciko.


"Sayang apa kamu bosan?."


Miciko hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ada tugas hari ini,apa kamu mau jalan-jalan berkeliling kota sayang."


Miciko yang mendengar ucapan Hugo pun langsung berwajah ceria sambil menganggukkan kepalanya semangat.


Mereka berdua pun bergegas menuju halaman depan istana,Hugo menaikan miciko kepunggung kuda dan Hugo menyusul naik untuk duduh dibelakangnya,


Dengan tangan Hugo yang membelit tubuh mungil miciko, dan yang memegang tali pengekang kuda sudah jelas miciko untuk saat ini saja.


Hugo menempelkan wajahnya dibahu miciko.


"Sayang,apa kamu senang."


"Iya sayang ku,."


"Belilah apapun yang kamu mau sayang."


"Apapun?."


Hugo menjawab dengan anggukan kepala, sedangkan miciko sedang memikirkan apa yang ingin dia beli,


Mereka terus berkeliling sampai tidak sadar ada seorang wanita duduk didalam sebuah kereta kuda dengan beberapa pelayan wanita dan pria yang sedang menjaganya,


Itukan teman kak imamura,apa wanita itu adalah istrinya,Hem mereka sangat romantis,aku ingin menikahi pria seperti Hugo, sangat ingin.fikir Momo adik dari jendral imamura yang sedang keluar dari kediaman untuk membeli sesuatu dipasar,


Padahal itu hanya akal-akalan dia saja, dia bosan dikurung dikediamannya terus menerus karena alasan yang tidak jelas.


Kakaknya imamura begitu over protective terhadap adik kesayangannya itu,apa lagi setelah mendapatkan surat peringatan dari Hugo waktu itu.


Sebenarnya imamura sudah sangat pusing menghadapi adiknya ini, rasanya kalau bisa dia minta ditukar saja dengan adik yang lebih penurut.


Momo masih melihat kearah Hugo dan miciko yang berhenti disebuah penjual camilan,Hugo pergi sejenak meninggalkan miciko untuk kesuatu tempat sebentar.


Miciko lalu mengiyakan saja,dia hanya ingin makan camilan disini,saat tak berapa lama Hugo meninggalkan miciko ditempat itu, ada beberapa orang wanita menghampiri miciko.


Mereka menunjukan wajah yang sangat sombong.


"Hay pengemis itu tempatnya bukan disini jadi kamu lebih baik menyingkir sekarang."


Wanita itu menjadi sangat marah,


"Oh,jadi kamu tidak mau menyingkir hah, kamu tidak tahu siapa saya."


Miciko hanya diam tidak perduli


"Hey ,aku ini anak dari menteri keuangan kekaisaran tengah."


Miciko masih diam sambil memakan camilan, sedangkan Momo sudah sangat kesal oleh anak dari menteri itu,dia ingin menolong miciko tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun,karena dia tidak mau mempersulit sang kakak, imamura.


Sedangkan putri dari sang menteri keuangan kekaisaran tengah itu ingin sekali menampar wajah miciko, tapi sebelum tangan itu mendarat dipipi miciko, sebuah tangan besar sudah mencengkeram erat sampai wanita itu meringis kesakitan.


"Akh,,sakit."ucapnya sambil menatap kearah Hugo


"Cukup besar nyali kamu untuk menyakiti wanita ini?."ucap Hugo sambil melepaskan tangan siwanita yang tadi dia cengkeram.


Sedangkan putri menteri keuangan kekaisaran tengah itu terdorong agak menjauh dari depan Hugo.


"Lihat saja ,aku akan mengadu kepada ayahanda ku."


Si anak menteri itu meminta salah satu dayang yang dia bawa untuk pergi menemui tuannya,mereka harus bilang kalau anaknya sedang dihina disini.


Dayang wanita itupun langsung mengerti dan bergegas pergi untuk menemui sang tuan majikan dikediamannya.


Ditempat lain disebuah kediaman seorang menteri,dayang yang diperintahkan untuk mengadu itu pun sampai dengan sangat cepat, dengan menunggangi kuda.


Sesampainya dia dikediaman menteri keuangan kekaisaran tengah,dayang itu bergegas pergi menuju kearah kediaman pribadi sang menteri.


Diapun meminta izin kepada pengawal yang berjaga dipintu kediaman tersebut untuk berbicara kepada junjungannya.


Salah satu pengawal pun langsung masuk kedalam ruangan,tak lama dia terlihat keluar dan mengizinkan dayang itu untuk masuk.


Setelah didalam ruangan sedang ada seorang pria paruh baya,dia sedang memeriksa beberapa gulungan laporan.


"Salam hormat tuan."


"Hem."


"Saya membawa pesan dari putri,dipasar putri Mora memiliki masalah tuan,dia dihina oleh seorang rakyat biasa."


"Siapa yang berani mengusik putriku."ucap sang menteri keuangan kekaisaran tengah


"Kami tidak mengenalnya tuan,dia seorang wanita dan juga seorang pria.


"Baiklah, tunjukan jalannya dimana mereka sekarang."


"Baik tuan."


Mereka pun bergegas pergi menuju pasar, tempat dimana sang putri dari menteri keuangan kekaisaran tengah merasa dihina.


Sesampainya mereka dipasar, dari jauh sang menteri keuangan kekaisaran tengah sudah melihat kearah putrinya.


"Ayahanda."teriak sang putri.


Menteri keuangan kekaisaran tengah pun langsung menghampiri sang putri.


"Putriku Mora,kamu kenapa sayang."ucap sang Menteri merasa cemas melihat pergelangan tangan putrinya lebam.


"Dia,sudah membuat aku seperti ini ayahanda , lihatlah."sambil menunjukkan tangannya


Sang Menteri pun langsung berwajah gelap sekarang, dia menatap sinis kearah Hugo.


"Beraninya kamu melukai putriku."


"Suamiku tidak salah,dia hanya ingin membela istrinya yang sedang duduk santai tapi dikatai pengemis oleh wanita itu."ucap miciko yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan dari wanita tadi.


"Mora,apa yang mereka katakan benar."


Mora sekarang menjadi sangat tegang, bagaimana ini.fikirnya


"Istriku sedang duduk disini untuk menikmati camilan yang sudah dia beli dari toko ini,kemudian putrimu datang untuk mengusirnya,mengatainya pengemis dan malah berani ingin menamparnya,aku sebagai seorang suami tidak rela melihat istriku diperlakukan seperti ini."ucap Hugo dengan mantab


__________________________________


bersambung


(^∆^)