KIKIYO

KIKIYO
bertemu dengan bandit



Kikiyo menyempatkan berhenti untuk membeli obat-obatan jadi maupun masih dalam keadaan utuh dan kering.


Yamato sudah tahu kalau istrinya mempunyai keahlian seperti tabib,saat dibarak militer kikiyo pernah memberikan perawatan medis kepara prajurit yang terluka.


"Sayang, waktu dikediaman perdana menteri pertahanan kemarin, aku melihat Hugo meneteskan sesuatu ketubuh mayat ibunya Sora dan tubuhnya langsung terurai dan habis tak tersisa."


Yamato menghentikan ucapannya, kikiyo hanya diam saja tidak menimpalinya, dia tidak suka berbasa-basi.


Yamato menyadari bahwa kikiyo tidak perduli dengan ucapannya.


"(-_-)Sayang."


"Ya."


"Apa kamu masih mendengarkan aku?."


"Kamu terlalu banyak basa-basi."


"Baiklah sayangku,aku tertarik dengan cairan pelebur raga itu,apa boleh a,,."


Saat ingin mengucapkan kalimat lagi, kikiyo memotong ucapannya.


"Tidak."


"Kenapa?."


"Itu aku buat khusus untuk Hugo saja."


(-_-) Yamato langsung tertegun sejenak dengan wajah datar,kata "khusus" yang diucapkan kikiyo sangat meresahkan hatinya,


Apa Hugo lebih penting dari dia,suaminya sendiri,apa tidak ada diriku ini tidak ada kata khusus juga.fikir Yamato


Kikiyo langsung mencium bau kecemburuan sosial dari Yamato.


"Apa kamu cemburu?."


"Ya."


"Tidak perlu cemburu karena tidak ada yang harus dicemburui."


Yamato langsung berwajah memelas.


"Sayang,apa tidak ada ramuan khusus untuk aku?."


"Ada ,tapi aku akan anggap itu sebagai permintaan dari kompetisi balap kita tadi bagaimana?."


Yamato langsung berfikir,apa kalau dia jawab iya dia akan mendapatkan hadiah cairan pelebur raga itu atau di berkata tidak dan bisa mendapatkan hadiah lebih bagus daripada cairan pelebur raga,Ais Yamato mulai bingung,


dia ditempatkan dengan pilihan yang keuntungan setengah-setengah,kalau dia beruntung ah, dia ingin cairan pelebur raga itu tapi dia ingin menggunakan hadiah kemenangannya untuk membuat malam yang tidak pernah terlupakan olehnya,


Sekarang dia harus memilih apakah dia rela hadiah kemenangannya dijadikan pengganti untuk cairan pelebur raga yang katanya hanya khusus untuk Hugo seorang itu,


Kikiyo masih dalam mode tenang ,dia sangat mengerti tentang apa yang diinginkan suaminya itu, suaminya terkenal dengan sifat ingin menang sendiri,coba kalau tadi dia yang menang, pasti Yamato akan meminta perlombaan ulang.


Kikiyo hanya menghela nafas panjang.


Kini kikiyo merasakan kalau sepertinya suaminya itu sudah bisa memutuskan.


"Sayang,aku ingin hadiah kemenangan ku saja,,,."


Aku bisa memaksa Hugo untuk memberikan cairan pelebur raga itu nanti dengan begitu aku bisa mendapatkan kedua-duanya,fikir Yamato


Sekarang malah giliran kikiyo yang tertegun, bagaimana tidak pasti suaminya yang mesum itu akan meminta permintaan yang akan membuat tubuhnya lelah kembali.


"Baiklah,jadi jangan ungkit hal itu lagi."


Yamato hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti sambil tersenyum senang.


Mereka pun masih santai menjalankan kuda mereka, Yamato belum mau pindah kembali kekudanya,dia tidak ingin kehilangan momen ini.


Tapi kikiyo berfikir lain,kapan kita akan sampai kedesa berikutnya kalau seperti ini.


"Sayang,apa kamu tidak mau pindah kuda,."ucapnya lembut


"Baiklah aku akan pindah sayang."


Kuda yang sedang mereka naiki pun berhenti dan Yamato langsung turun untuk pindah menaiki kudanya sendiri .


Tanpa bertanya kikiyo langsung menarik tali pengekangan kudanya supaya kuda yang dia naiki Langsung berlari kencang, Yamato yang merasa ditinggalkan pun langsung naik ke punggung kudanya ,lalu mengejar kikiyo.


"Sayang,"ucap kikiyo dengan nada khawatir


Yamato langsung turun dari kudanya,dia memilih untuk berjalan sambil memegang tali pengikat kudanya dan kuda yang sedang kikiyo naiki.


Tak lama ada sekelompok orang datang, mereka melihat kearah kuda Hugo dan kikiyo.


"Serahkan kuda itu kepada kami,kalau kalian mau selamat."


Yamato yang mendengar ucapan salah satu dari bandit itu, langsung mengeluarkan pedang yang dia bawa,tanpa bicara Yamato menyerang mereka dengan cepat.


Gerakan permainan pedagang Yamato sangat stabil dan tepat sasaran,tanpa butuh waktu lama,para bandit itu langsung kalah, mereka tidak tahu kalau yang sedang mereka mintai kudanya adalah kaisar tengah yang terkenal kebrutalannya.


Kikiyo yang melihat sang suami menyelesaikan sampah itu dengan cepat dan tepat,dia sangat bangga bisa menikahi seorang pria luar biasa seperti Yamato.


Saat bandit yang ada masih sisa satu yang masih hidup, kikiyo meminta Yamato untuk tidak membunuhnya.


"Sayang,jangan,kita membutuhkannya."


Yamato yang tadinya sudah mengarahkan pedangnya kejantung sibandit pun langsung ditarik kembali.


Kikiyo turun dari kudanya lalu berjalan mendekati Yamato,lalu memegang tangannya yang kosong.


"Sambil tersenyum,siapa yang menyuruhmu."


Bandit itu bukannya tidak mau berbicara tapi dia sangat ketakutan jadi mulutnya kaku sekarang ini.


Kikiyo yang sangat tidak suka membuang waktu pun hanya memandang kearah Yamato dengan wajah malas.


Yamato sangat tahu arti dari tatapan itu,kalau sang istri sudah tidak tertarik lagi, baru saja Yamato ingin membunuh pria itu.


"Tunggu,saya akan menjawab,saya diperintahkan oleh ketua untuk mengambil harta benda penduduk,tapi kami termasuk saya tidak pernah tahu siapa ketua itu."


Kikiyo yang sudah membalikan badannya untuk kembali menjadi berhenti sejenak saat mendengar pria bandit itu bicara,dan hanya menolehkan wajahnya sedikit kearah belakang.


"Hanya itu,."ucapnya dengan nada dingin


"Ya,hanya itu."


"Dengan senyuman sinis,heh tidak penting."


Yamato langsung melanjutkan pekerjaannya yang sedari tadi sudah tertunda dua kali dan kali ini pedang ditangannya tertancap sempurna terpendam kejantung pria bandit itu,kemudian dia mencabutnya kembali.


Kikiyo berjalan sambil meneteskan cairan pelebur raga kesetiap mayat yang tadi dibunuh oleh Yamato.


Yamato hanya menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya sambil mengelap pedangnya dari darah yang masih menempel.


"Sayang,kamu ternyata juga menyimpan cairan pelebur raga itu."


"Tentu saja karena aku yang membuatnya,kenapa aku tidak punya untuk diriku sendiri."


"(-_-),,ya tentu saja, istriku sangat hebat."


Kikiyo hanya berjalan kembali kearah kuda, tak jauh dari sana kikiyo melihat wanita paruh baya menatap mereka dengan seulas senyuman dan telapak tangan yang menyatu seperti orang yang sedang menyembah.


Lama kelamaan wanita tua itu mendekat.


"Salam tuan dan nyonya, terimakasih sudah menghabisi para bandit itu walaupun mungkin yang kalian lakukan hanya untuk melindungi diri sendiri saja."


"Kikiyo kembali mendekati Yamato dan mengandeng tangannya yang kosong.


"Nenek, apakah nenek adalah salah satu warga dari desa ini?."ucap kikiyo dengan ramah


"Iya nyonya benar,hehe,nenek warga didesa ini dan kalau kalian mau,nenek akan memberikan kalian tumpangan malam ini karena hari mulai gelap."


"Terimakasih banyak nenek."


Yamato hanya diam saja sambil mendengarkan percakapan kikiyo dan nenek yang baru saja mereka temui.


Mereka pun mengikuti sang nenek kesebuah rumah,saat sampai disana nenek itu memanggil seorang wanita yang sedang menggendong bayi.


____________________________


bersambung


(^∆^)