
Emi hanya bisa menepuk dahinya saja.
"Kakak,buah kesemek tidak ada,stoknya habis."
Wajah miciko berubah menjadi sangat murung,ingin memakan buah kesemek saja sulit sekali.
Emi yang melihat wajah miciko berubah sedih pun merasa tidak tega.
"Bagaimana kalau aku bertanya ke dapur dikediaman yang lain, mungkin mereka memilikinya.
Sekarang setelah emi berkata seperti itu, miciko langsung berwajah cerah dengan air liur yang mau keluar dari mulutnya dan dia hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju.
Emi bergegas pergi meninggalkan miciko untuk berkeliling istana mencari buah kesemek yang sangat diinginkan oleh miciko.
Setelah lama berkeliling,dia menemukan hanya satu buah didapur istana milik ibu suri,emi dengan senyuman manisnya berjalan sambil memegang erat buah itu, sampai emi berpapasan dengan kikiyo dan juga Hugo yang melintasi jalan yang dilalui oleh emi.
Dari jauh emi sudah berdiri tegak sambil membungkuk hormat,saat kikiyo akan melewatinya,tapi kikiyo berhenti pas didepannya,dia sangat penasara, kenapa saat tadi dia melihat emi sangat bahagia karena buah kesemek itu.
"Emi."
"Ya, yang mulia permaisuri,."
"Itu, bukankah buah kesemek?."ucap kikiyo sambil menunjuk kearah buah yang sedang dipegang oleh emi.
"Yang mulia permaisuri benar,ini adalah buah kesemek."
"Untuk apa buah kesemek itu,tadi aku melihat kamu sangat senang saat membawanya pergi,bahkan kamu memegangi buah itu sangat erat."
Hugo yang mendengar penuturan dari ucapan kikiyo merasa sangat terkejut, dia baru sadar kalau kikiyo sangat memperhatikan sampai hal terkecil seperti itu, junjungannya ini begitu teliti.
"Iya yang mulia permaisuri,ini buah untuk kakak miciko,dia sangat ingin memakan buah kesemek,dia tidak mau makan makanan lain,dia bilang kalau akan muntah, begitu yang mulia."
Hugo yang mendengar ucapan dari mulut emi pun langsung berwajah bingung, kenapa istrinya itu tidak mau makan dan setiap akan makan dia akan muntah.
Berbeda dengan kikiyo,dia langsung meminta untuk diantar kemiciko sekarang, emi dengan senang hati mengantar sang permaisuri.
Sesampainya mereka ditempat miciko berada,
Kikiyo melihat kearah miciko yang sedang duduk dengan wajah yang pucat.
Miciko yang terkejut melihat sang suami Hugo berjalan beriringan dengan kikiyo yang sedang menuju kearah dirinya.
Miciko sedang bersiap untuk berdiri tetapi langsung ditahan oleh kikiyo dengan gerakan tangannya.
Miciko yang melihat itu langsung tidak jadi untuk berdiri dan kembali duduk.
"Salam hormat yang mulia permaisuri."
Kikiyo duduk disampingnya,lalu langsung mengambil pergelangan tangan miciko untuk diperiksa, setelah itu kikiyo tersenyum senang sambil mengalihkan pandangannya kearah Hugo.
"Kamu akan memiliki seorang anak,Hugo."
Hugo yang mendengar ucapan dari kikiyo pun hanya diam,dia seperti tidak bisa berfikir,miciko yang melihat hal itu mengira kalau Hugo tidak menginginkan berita ini.
Miciko menjadi murung,
Kikiyo yang melihat adegan membagongkan ini,dia langsung menyikut Hugo, yang langsung tersadar dan bergegas menghampiri miciko.
Memeluknya dengan erat.
"Istriku,kamu sedang hamil dan disini ada Hugo kecil."ucap Hugo dengan nada senang sambil memegang perut miciko.
"Iya,suami,kalau bukan karena nyonya yang bilang, pasti aku tidak akan pernah tahu."
"Aku memang suami yang bodoh, tidak tahu keadaan kamu seperti ini,maaf ya sayang,." Ucap Hugo sambil mengecup kening miciko.
"Jangan menyalahi diri sendiri,apa kamu senang suami."
"Tentu saja."
Kikiyo yang merasa seperti nyamuk sekarang ini ingin bergegas pergi kembali menuju tempat kerja Yamato.
Hugo yang melihat hal itupun langsung ingin mengikuti kikiyo,
"Kamu mau kemana?."ucap kikiyo sambil membalikan tubuhnya untuk melihat hugo.
"Aku akan mengikuti nyonya."
"Tapi miciko hanya butuh istirahat jadi saya mau menemani nyonya saja,saya juga memikirkan hal yang nyonya katakan tadi."
"Hem,miciko apa kamu oke."
Miciko hanya menunjukan jempolnya sambil memakan buah kesemek yang diberikan oleh emi.
Kikiyo kembali berjalan dengan Hugo dibelakangnya dan beberapa pelayan wanita, setibanya mereka didepan pintu ruang kerja kaisar,ada seorang Kasim menghampiri.
"Salam hormat yang mulia permaisuri, kaisar sedang tidak berada diruang kerjanya,kaisar sedang kedatangan tamu Mentri sastra kekaisaran tengah,mereka berada diaula pertemuan sekarang, yang mulia."
Kikiyo hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sambil bergegas pergi menuju kearah ruangan aula pertemuan.
Setibanya mereka diaula pertemuan.
"Yang mulia permaisuri kekaisaran tengah telah tiba."ucap sang Kasim dengan suara lantang
Yamato dan yang lainnya pun melihat kearah kikiyo.
Setelah sampai didepan yang mulia Kaisar, kikiyo memberikan hormatnya lalu mengarahkan pandangannya kearah menteri itu,lalu kembali menatap kearah suaminya untuk meminta penjelasan.
"Istriku,kemarilah."
Yamato meminta kikiyo untuk mendekat karena sekarang Yamato sedang memegang gulungan kertas yang tadinya berada disamping mayat putra dari sang menteri.
Sedangkan sang menteri saat ini sedang bersujud dan memohon,dia meminta keadilan untuk sang putra.
Kikiyo menatap kertas gulungan itu dengan tatapan sinis.
"Hugo."ucapnya dengan nada marah
"Ya, yang mulia."
"Pergi ke kediaman keluarga menteri sastra kekaisaran tengah,cari semua bukti disana , bawa semua orang yang dapat membantu kamu, jangan sampai ada yang terlewatkan."
"Baik, yang mulia."
Mentri yang tadi sedang bersujud itu langsung bangun dari duduknya.
"Yang mulia,apa yang mulia sudah tahu siapa yang melakukan hal ini."
"Apa kamu mendengarkan titah kaisar yang harus memperketat penjagaan dikediaman masing-masing?."
Menteri sastra kekaisaran tengah pun hanya menundukan kepalanya lagi, dia tahu kalau kaisar Yamato meminta para bawahannya untuk memperketat penjagaan dikediaman pribadi masing-masing.
Tapi dia tidak menganggap titah itu ,jadi sekarang karena ketidak perduliannya itulah yang membuat keluarganya seperti ini.
Kikiyo yang melihat ekspresi wajah sang Menteri pun hanya bisa pasrah, dari wajahnya dia sudah tahu kalau sang Mentri tidak menghiraukan titiah kaisar.
Kikiyo meminta Yamato untuk bicara.
"Menteri sastra kekaisaran tengah."
"Hamba , yang mulia."
"Kembalilah kekediaman mu,lihat pengawal setia ku mencari bukti dan petunjuk siapa yang sudah melakukannya."
"Baik yang mulia,hamba pamit pulang, terimakasih atas kebaikan yang mulia Kaisar dan permaisuri."
Kikiyo hanya tersenyum mengerti,
Sesaat setelah kepergian Hugo dan menteri sastra kekaisaran tengah, kikiyo dan Yamato masih berbincang, kikiyo memberitahukan tentang perasaannya yang sedang kalut.
Kikiyo juga memberitahukan tentang kehamilan miciko kepada Yamato.
"Sayang, bagaimana kalau kamu hamil juga seperti miciko?."ucap Yamato
Kikiyo tertegun sejenak,dia tidak mengira kalau respon Yamato malah kearah miciko yang sedang hamil bukannya tentang masalah pembunuhan dikediaman salah satu menterinya.
Ais,kaisar macam apa dia ini,kalau bukan masalah yang menyangkut tentang nama baik kaisar, kikiyo tidak perduli,kenapa peristiwa ini harus terjadi dan pakai membawa nama kaisar segala.
___________________________________
bersambung
(^∆^)