
Perasaan Yamato benar-benar rumit,inikah takdirnya dia yang agung dan perkasa harus rela untuk tunduk kepada seorang wanita.
Dua puluh tahun yang lalu kekaisaran selatan mengadakan sebuah acara kelahiran penerusnya, kaisar dan permaisuri sangat senang, rakyat di seluruh kekaisaran pun ikut senang.
Keempat kekaisaran yang mengelilinginya pun ikut merayakan hari kelahirannya, saat itu mereka mengundang seorang tetua dari kuil terbesar dikekaisaran tengah.
Tetua itu datang dan langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah kotak bayi, tapi setelah melihat bayi itu pandangannya berubah suram.
Tetua menyarankan agar kaisar dan permaisuri mendidik anaknya dengan bijaksana,
"Tetua kenapa anda terlihat tidak senang?."
Ucap sang permaisuri sambil menatap wajah tetua.
"Yang mulia, hamba sebenarnya tidak ingin merusak kebahagiaan kalian tapi sang putra mahkota memiliki takdir yang sangat hitam, pembantaian dimana-mana, dia memang akan menjadi kaisar yang tegas tapi ,,,kejam yang mulia."ucapnya dengan nada lirih diakhir kata.
Tetua kuil memang terkenal dengan keahliannya dalam hal meramalkan masa depan tapi yang dia ramalkan itu hanya nasib seseorang bukan takdir jadi masih bisa dirubah.
"Jadi bagaimana kami mengatasi hal ini tetua."ucap Kaisar
"Tunggu usia anak ini lima tahun diusianya itu nanti akan muncul sifat yang berbeda dan dengan waktu itu baru yang mulia putuskan."
Setelah selesai bicara tetua kuil mengundurkan diri dari hadapan kaisar, setelah beberapa lama kemudian disebuah kamar,
"Suamiku,apa menurut kamu tetua tidak salah bicara."
"Tetua tidak pernah gegabah dalam setiap perkataannya istriku,lebih baik kita tunggu saja lima tahun kedepannya apa yang bisa dilakukan oleh anak berusia lima tahun."
"Hem, baiklah suamiku."
Hari-hari pun berlalu, waktu terus bergulir tiba disaat lima tahun umur putra mahkota kerajaan tengah itu, permaisuri dan kaisar masih belum mendengar hal buruk dari anak tercinta mereka itu.
Tapi tiba disebuah ruangan di hari yang sangat meriah saat kekaisaran mengadakan pesta panen untuk mengucap syukur karena tahun ini mereka diberikan limpahan Rahmat disetiap ladang dan kebun para petani disana.
Sang putra mahkota membunuh seorang pelayan karena dia salah memberikan baju yang ingin dia pakai warna merah bukan biru.
Saat kaisar dan permaisuri melihat hal itu,
"Apa ini yang dimaksudkan tetua?.", Ucap kaisar
Permaisuri langsung memeluk tubuh putra mahkota.
"Yamato,apa yang sudah kamu lakukan sayang,kamu tidak boleh membunuh mereka tanpa sebab nak."ucap permaisuri
"Tapi mereka sudah membuat kesalahan ibunda?."
"Kesalahan apa yang mereka perbuat putraku?."tanya kaisar
"Mereka sudah salah aku minta baju warna merah, mereka malah memberikan aku baju warna biru ibunda."
Kaisar dan permaisuri mereka saling menatap bagaimana mungkin putra mahkota menghukum mati pelayan yang kesalahannya hanya hal sepele seperti ini.
Hari itu juga kaisar dan permaisuri melakukan kunjungan kekuil tempat tetua tinggal membawa serta Yamato bersama mereka.
"Tetua."ucap kaisar yang langsung dipotong oleh tetua.
Tetua menunjukan telapak tangannya.
"Aku sudah tahu tujuan kalian jadi jangan tergesa-gesa."
Kaisar dan permaisuri duduk dibelakang Yamato, sedangkan tetua melangkah menuju kesebuah altar untuk mengambil peti dari kayu, membawanya kearah Yamato.
"Yamato,apa kamu suka dengan gelang ini." Ucap tetua sambil membuka kotak dan disana ada dua gelang emas berukiran naga dan satu lagi berukiran burung Phoenix.
"Ya aku suka kakek tetua."ucap Yamato bahagia
Saat Yamato ingin mengambil gelang,tetua langsung menutup kotak itu.
Yamato langsung berwajah gelap.
"Kakek tetua,apa yang kamu lakukan hah, aku mau gelang itu kemarikan cepat, aku ini putra mahkota calon kaisar tengah ."
Kaisar dan permaisuri sangat sedih melihat sifat keras anak mereka, tidak habis fikir kalau suatu hari nanti Yamato naik takhta, apa yang akan terjadi dengan kekaisaran ini.
"Kalau Yamato mau,kakek tetua ada syaratnya."
"Katakan."
"Kamu harus menikah dengan seorang wanita yang memakai gelang satunya yang berukiran burung Phoenix,karena kamu hanya akan memakai gelang yang berukiran naga."
"Baiklah aku mau, aku Yamato akan menerima takdir ini dan takdir dari wanita siapapun itu."
Disekitar kuil angin berhembus kencang dan dingin,tetua langsung saja memakaikan gelang itu,dia sangat senang berbeda sekali dengan kaisar dan permaisuri dengan adanya takdir ini putra mahkota tidak bisa memilih wanita yang akan menjadi menantunya kelak.
Keesokan paginya, Yamato sudah berada didalam ruangan pertemuan yang sudah dia pesan bersama pengawalnya.
"Apa dia sudah diberitahu?."
"Kikiyo,namanya jangan memakai nama nona bulan lagi."
"Baik yang mulia."
Tak berapa lama kemudian, kikiyo datang bersama beberapa pelayan dan ingin mengetuk pintu.
"Selamat datang nona kikiyo,tuan sudah menunggu didalam."
"Baiklah."
Pengawal Yamato tidak ikut kedalam, sekarang hanya ada Yamato dan kikiyo didalam ruangan tersebut.
"Salam yang mulia Kaisar tengah,semoga panjang umur."
"Tidak perlu sungkan nona bulan, panggil aku suami saja,tanpa gelar."
Pengawal Yamato serasa ingin muntah darah saat mendengar junjungannya berkata seperti itu.
"Aku merasa sangat tidak pantas untuk memanggil seperti itu, yang mulia.
Kikiyo duduk didepan Yamato untuk memeriksanya, Yamato tidak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah kikiyo.
Aku tidak pernah menyesal dengan takdir yang sudah aku pilih dulu.fikir Yamato
"Apa ada sesuatu yang mengganggu fikirkan, yang mulia."
"Suami, panggil aku suami."
Wajah kikiyo sudah terdapat tiga garis hitam didahinya.
"Pemeriksaan ini sudah selesai,luka luar juga sudah menjadi lebih baik jadi aku sudah membuatkan obat minum."
Kikiyo memerintahkan kepada para pelayan untuk menyiapkan obat minum untuk Yamato, kikiyo mengambil mangkuk dari pelayan dan memberikannya kepada Yamato.
"Minumlah."
"Aku tidak mau dan tidak suka minum obat."
"Kenapa?."
"Rasanya pahit,kalian para dayang keluar."
Yamato mengusir semua pelayan,dan ruangan kembali hanya ada mereka berdua.
"Apa tidak ada cara lain."
"Tidak ada kalau tidak mau minum mending tidak usah."
Yamato dengan cepat memegang tangan kikiyo.
"Baiklah aku akan minum tapi kamu coba dulu obat yang kamu buat untuk ku."
"Ini obat bukan racun."
"Coba dulu."
Kikiyo sedang tidak ingin berdebat apa lagi dengan pria seperti ini,dia langsung mencoba obat itu sendiri dan saat selesai memasukan obat kedalam mulutnya, Yamato langsung menyentuh wajah kikiyo untuk bisa memalingkan wajah kikiyo menjadi kearahnya.
Saat wajah mereka bertemu Yamato langsung mencium bibir tipis dan merah kikiyo sambil menghisap semua air obat yang ada dimulutnya.
"Hem, obatnya enak tidak terasa pahit."
"Pria tidak tahu malu."
"Kenapa harus malu dengan istri sendiri."
"Astaga."
Kikiyo sudah ingin pergi keluar dari sana.
"Istri,temani suami sarapan dulu."
"Aku bukan istrimu."
"Belum,tapi akan hanya menunggu waktu saja."
"Aku tidak mau."
______________________________________________
bersambung
(^∆^)