
Tiga Minggu telah berlalu dari saat kepergian Hugo ,saat tiba esok harinya Hugo kembali dengan membawa seorang wanita,mereka menunggang kuda bersama.
Miciko yang sudah berlari dengan langkah besar pun tertegun saat melihat dua orang itu,tatapan mata miciko sudah menandakan betapa hancur hatinya.
Hugo turun lalu membantu wanita itu turun dengan cara memeluk pinggangnya.
Miciko langsung merubah ekspresi wajahnya dan menyambut mereka untuk masuk.
"Tuan,anda sudah pulang."ucap miciko dengan senyum terpaksa
"Ya,siapkan kamar untuk wanita ini ."
"Baik tuan."
Miciko langsung merunduk saat melihat Hugo menggenggam tangan wanita itu masuk secara bersamaan.
Setelah selesai menyiapkan sebuah kamar Hugo dan wanita itu masuk kedalam,
Tak terasa waktu mereka didalam sudah lebih dari tiga puluh menit,miciko menangis sendu didalam ruangan penyimpanan guci sake milik kikiyo.
Sudah puas menangis ,miciko mau melangkah pergi,tak jauh dari sana terlihat temannya datang dengan tergesa-gesa.
"Ais,nona miciko dicari kemana-mana ternyata ada disini,kamu diminta kekamar yang dipesan tuan Hugo dan wanita yang tadi."
Miciko bingung,apa dia harus menuruti perintah atau mencari alasan,dia sudah membayangkan kalau Hugo dan wanita itu sedang membelit satu sama lain dan dia diminta untuk datang kesana,apa itu tidak menambah hatinya hancur.
"Tapi apa tidak ada orang lain."
"Tidak ,tuan Hugo sendiri yang mencari kamu."
"Hah."
Miciko bergegas pergi menuju kearah kamar itu dan sesampainya dia didepan kamar,
"Tok,tok,tuan ini aku,miciko."
"Masuklah."
Miciko membuka pintu dengan sedikit menelan ludah karena gugup dan takut akan apa yang akan dia lihat nanti.
Saat sudah berada didalam,pandangan miciko sedang menatap kedua orang itu, mereka masih memakai pakaian yang lengkap sama saat masuk kedalam ruangan.
"Kemarilah miciko."ucap Hugo sambil mengulurkan tangannya
Miciko menurut dan mendekati Hugo lalu memegang tangannya,miciko duduk dipangkuan Hugo.
Hugo yang menatap kebawah sambil melihat wajah miciko pun tertegun karena mata miciko yang bengkak.
"Kamu tadi baru selesai menangis,Hem."
"Hah, tidak mataku hanya kelilipan tuan."
"Oh, baiklah mari kita mulai,"Hugo langsung melahap bibir miciko didepan wanita itu.
Miciko masih agak bingung tapi dia tetap melayani Hugo.
Hugo melucuti satu demi satu baju yang membungkus tubuh miciko,melahap buah pir yang menggantung itu.
"Tuan."
"Hem."Hugo masih sibuk memakan buah
"Wanita itu masih disini,apa tidak jadi masalah."
Hugo menggigit kecil ujung buah pir itu sampai miciko berteriak,lalu Hugo menatap kearah wajah miciko.
"Dia disuruh seseorang untuk menggodaku, dari tadi aku sudah menginterogasinya tapi dia tetap tidak mau mengaku jadi , perlihatkan kemampuan kamu kepadanya dalam melayani aku,paham."
Miciko langsung melahap bibir Hugo dengan ganas dan dia mulai memimpin permainan dengan membuka semua pakaian Hugo,memainkan bagian bawah tubuhnya.
Saat sudah semakin panas merekapun saling membelit satu sama lain sampai wanita yang sedang melihat mereka pun mulai terangsang.
Hugo langsung berdiri dengan miciko yang masih didalam pelukannya lalu mengambil selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuh,miciko diminta memegangi ujung selimut itu supaya tidak terlepas.
Sebelum Hugo pergi melalui jendela bersama dengan miciko yang masih menempel ditubuhnya pun langsung berteriak.
"Kepala pelan,masuklah dan nikmatilah."
Kepala pelayan beserta beberapa orang yang lainnya pun menggilir wanita yang dibawa oleh Hugo tadi.
Miciko masih memegangi selimut untuk menutupi tubuh bagian depannya,Hugo menarik pundak belakang miciko untuk bisa mendekat sambil meremas buah pir dan memakan bibirnya sampai kedalam.
Setelah beberapa lama kemudian Hugo menyelesaikan penyiksaannya ke miciko lalu membalikan tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menangis untuk hal yang tidak penting, mengerti?."ucapan Hugo sangatlah mendominasi.
"Iya,tuan."
Hugo melahap lagi bibir itu lembut,
"Hayo kita kembali,pakai baju yang benar,." Ucap Hugo sambil mengenakan selemut kepundak miciko untuk menutupi tubuhnya
"Iya tuan."
Semenjak hari itu setiap Hugo kembali dari tugasnya,miciko dengan setia menunggu dan melayani Hugo,mereka menghabiskan malam yang panjang bersama ,saling membelit satu sama lain,Hugo sudah seperti lintah saja,setiap dia menyiksa miciko ,pasti terus menghisap cairan yang keluar dari sang tiram dengan lahap sampai-sampai miciko dibuat lemas.
Tapi satu malam saat sebelum Hugo diutus oleh kikiyo untuk membawa pasukan ke barak militer kekaisaran tengah untuk menolong Yamato,miciko telah melakukan aksi membelit dengan Hugo,dipagi hari yang menjadikan kediaman Hugo penuh dengan aroma cinta itu.
Miciko tidak ingin Hugo menjeda untuk menumbuknya bahkan dia meminta untuk lebih cepat lagi,saat tiba waktunya bom itu meledak,Hugo membiarkan semuanya didalam sana.
Miciko tertegun sejenak karena baru kali ini dia merasakan hangat dibawah sana, Hugo yang merasakan keterkejutan miciko pun langsung mendekatkan wajahnya ke wajah miciko.
"Kenapa?."
"Tidak apa-apa tuan,."
"Apa kamu keberatan?."
"Tidak tuan ,itu sangat hangat."
"Apa kamu takut."
"Tidak tuan."
Mata mereka masih saling menatap.
"Lalu ,kenapa kamu seperti terkejut dengan apa yang sudah aku lakukan,Hem."
Mereka mengobrol dengan keadaan yang masih saling membelit dan milik Hugo masih sempurna terpendam dibawah sana.
"Aku hanya berfikir ini bukan hal yang biasa tuan lakukan."
"Apa kamu tidak mau hamil anakku ,miciko."
Miciko tertegun kembali lalu mencium bibir Hugo dengan rakus.
"Aku mau tuan,aku mau hamil anak kamu berapapun yang kamu minta."
"Hey ,memangnya kamu babi apa, memangnya kamu mau hamil dengan jumlah berapa?."
Miciko sangat malu kali ini dia terlihat sangat antusias untuk hamil anak Hugo.
Hugo kembali mencium bibirnya dengan lembut,lalu sebelum pergi dia menciumi setiap inci wajah miciko.
Sekarang setelah miciko mengingat semuanya,dia tersenyum kecil sambil mengelus pelan perutnya yang masih rata itu,dia sangat ingin bertanya kapan pujaan hatinya itu kembali kepenginapan,
Tapi selalu diurungkan niatnya itu,karena dia tahu sebagai pelindung bulan,Hugo harus siap sedia berada disisi sang bulan, miciko hanya bisa mernafas kasar saja.
Beginilah nasib seseorang wanita yang sangat mencintai orang kepercayaan nonanya itu.
Sedangkan ditempat lain Muso sedang membawa seorang wanita muda kepenjara bawah tanah, wanita itu adalah Sora anak dari menteri pertahanan kekaisaran tengah.
"Membusuklah kamu disini ."ucap Muso dengan nada sinis
"Tuan tolong lepaskan aku."
Sora hanya bisa menangis,dia juga teringat dengan nasib ibunya pagi tadi.
___________________________________________
bersambung
terimakasih sudah berkunjung
(^∆^)