KIKIYO

KIKIYO
emi bingung



Nenek tua yang dipanggil dengan sebutan nyai itupun langsung menatap kearah kakek tetua kuil.


"Jangan kamu rusak kebahagian mereka, cucu kamu sudah memilih jalannya sekarang.ucap kakek tetua


Nyai hanya tersenyum sinis,


"Bahagia?, putriku bahkan tidak merasakan bahagia saat berada disisi pria yang dia cintai, apalagi dia adalah cucuku satu-satunya, persetan dengan gelang kutukan itu,bahkan kalau mau cucuku itu bisa menguasai seluruh kekaisaran dengan mudah."ucapnya dengan mantab dan berlalu pergi meninggalkan kuil.


"Semoga takdir berkata lain,hati yang kotor berasal dari hati yang mulanya bersih,itu karena hasutan dan dorongan dari orang lain lah yang merubah semuanya, semoga yang mulia permaisuri,sampai kapanpun hatinya tetap akan bersih dan bercahaya,." Ucap tetua kuil dengan suara lirih


Sedangkan ditempat lain dikediaman Jendral imamura,dia sudah menerima surat dari Hugo, sekarang pun semua penjagaan dikediamannya diperketat oleh imamura dan dia sangat menyesal karena sudah mengirim penyusup kesana.


Sangat ceroboh, sekarang musuh lebih meningkatkan kewaspadaannya, sedangkan didalam kediamannya,Momo sang adik sangat tertekan dengan pengaturan baru dari sang kakak.


Dia sedang sibuk membuat rencana untuk bisa kabur dari penjara rumah ini, Momo tidak tahu tentang hal membahayakan apa diluar sana.


Hari festival penyucian kuil dua hari lagi akan tiba, seluruh rakyat kekaisaran tengah berbondong-bondong datang kearah kuil untuk mengikuti acara suci ini.


Setiap orang banyak yang membawa sesajian dan doa yang ingin mereka peroleh ditahun ini dan dikehidupan yang sekarang.


Yamato dan kikiyo hanya akan merayakan dikuil istana saja karena penjagaan yang sangat ketat, bersama dengan miciko,Hugo, Muso dan emi.


Sedangkan ditempat lain disebuah hutan,masih dalam kekuasaan kekaisaran tengah,ada sekelompok orang yang memakai baju serba hitam dengan topeng diwajah mereka,


Mereka adalah orang-orang yang mengikuti menteri pertahanan kekaisaran tengah , sudah mendapatkan komando dari salah satu jenderal yang mengikuti sang menteri.


Target mereka adalah anak dari seorang menteri yaitu Mentri sastra,


Saat penyerangan itu dimulai menteri sedang berada diruang kerjanya,mereka mendatangi kediaman paling belakang lebih dulu,membunuh beberapa pelayan dan penjaga kediaman.


Lalu memasuki kamar anak bungsu laki-laki dari sang Mentri , mereka langsung membunuh anak itu tanpa ba-bi-bu.


Membunuh dengan sadis ,dan tak lupa meninggalkan gulungan kertas untuk sang menteri.


Saat selang beberapa jam,ada pelayan yang datang menghampiri tempat kediaman tuan muda itu.


Tapi dia hanya berteriak sambil meremas bajunya sendiri,dia melihat mayat berserakan dimana-mana, bagaikan mimpi buruk disiang hari untuk dayang itu.


Sesaat dia merasa sudah mengontrol tubuhnya sendiri sekarang,dayang itu pergi menuju kediaman istri sah dari sang jendral sastra,ibu dari tuan muda yang dibunuh itu.


Saat sudah sampai dikediaman istri sah, pelayan itu bergegas memberitahukan tentang keadaaan putranya yang sudah tidak bernyawa.


Dengan tubuh yang masih sedikit bergetar,


"Nyonya,saya ingin melapor."


Wajah istri sah sang jendral sastra itu menjadi rumit Saat melihat keadaan sipelayan yang seperti habis melihat hantu sampai wajahnya sangat ketakutan.


"Kamu kenapa?,lalu dimana putra ku, bukankah aku sudah katakan untuk memanggilnya ."ucapnya sambil melihat kesegala arah dia mencari sang putra.


"Maaf, nyonya itu,,,tuan muda sudah mati dan kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya yang bersimbah darah."ucap sipelayan sambil merunduk ketakutan


Istri sah jendral sastra langsung berdiri dengan wajah tidak percaya dan langsung bergegas pergi menuju kearah kediaman putranya itu.


"Anak ku,putra ku,."ucapnya sambil berlari menuju kearah pintu.


Sesaat setelah pintu terbuka istri sah dari sang jendral pun langsung berteriak histeris saat melihat banyaknya jumlah pengawal dan pelayan sang putra yang mati secara mengenaskan.


Dia langsung pingsan saat melihat lebih dalam kedalam kamar tidur,tubuh dan jiwanya tidak kuat menahan apa yang telah dilihatnya,sang putra tercinta sudah tidak bernyawa dengan kepala terpisah dari tubuhnya.


Sang jendral sedang berada diruang kerjanya,dia mendapatkan laporan dari pelayan kalau ditempat kediaman putranya itu sedang terjadi keributan.


Sang jendral terlihat sangat terburu-buru untuk melihatnya dan dia berpapasan dengan beberapa pelayan yang sedang membawa istrinya yang sedang pingsan.


Wajah terkejut dan bingung dengan keadaan yang sedang terjadi,sangat kacau


"Ada apa ini."ucap sang jendral sambil menyentuh wajah sang istri yang sedang pingsan.


"Tuan muda,tuan,dia dibunuh didalam kediamannya."


Sang jendral sangat terkejut mendengar ucapan dari salah satu pelayannya itu.


Dia langsung bergegas pergi menuju kedalam kediaman sang putra,


Saat ini dia melihat putranya itu sudah mati dengan kepala terpisah.


Setelah semakin mendekati mayat putranya itu,dia melihat gulungan kertas,lalu membukanya.


Isi gulungan kertas.


Inilah akibatnya karena memihak pada kaisar Yamato.


Sang jendral meremas gulungan kertas itu lalu bergegas pergi dengan menunggangi kudanya menuju kearah istana.


Sedangkan diistana kekaisaran tengah, Yamato sedang bergelut dengan beberapa gulungan surat dari berbagai wilayah, dan kikiyo sedang berbicara dengan Hugo.


"Hugo,."


"Ya, nyonya."


"Kenapa,aku merasakan perasaan buruk."


"Tenang saja nona semua sudah aman terkendali, festival penyucian kuil besok akan berjalan dengan lancar disetiap penjuru kekaisaran tengah ini."


Hugo mencoba untuk menenangkan hati dan fikiran kikiyo.


"Tapi entah mengapa, seperti ada yang terasa aneh ,ada sesuatu yang kurang."


Saat mendengar ucapan kikiyo,membuat Hugo bingung,


Kikiyo sangat merasa cemas entah apa, tapi dia yakin akan ada hal buruk.


Ditempat lain miciko sedang membereskan tempat tidur kikiyo,dibantu dengan dayang lain dan juga emi.


Saat melihat wajah miciko,emi merasa seperti miciko sedang sangat kelelahan.


"Kakak miciko,ada apa dengan kamu, kakak terlihat sangat pucat."ucap miciko dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Tidak apa emi,aku baik-baik saja,hanya sepertinya aku sangat lelah sekali."ucap miciko sambil menyeka keringat yang keluar didahinya.


"Kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja jangan dipaksa seperti ini kak, nanti suamimu menjadi merasa bersalah."


Miciko mendengarkan ucapan emi,dia sangat tidak mau kalau sampai mengecewakan suami tercintanya itu.


Miciko hanya menganggukkan kepalanya lalu duduk dikursi sambil menopang kepalanya diatas meja.


Emi langsung menghampiri miciko dengan membawa segelas air putih.


"Kakak, minumlah,apa kakak sudah makan."


Ucap emi dengan penuh perhatian


Miciko hanya bisa meminum air yang diberikan oleh emi lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kalau dia belum makan,


Emi hanya menghela nafasnya,


"Aku akan ambilkan kakak beberapa camilan ya."


Saat emi mau beranjak dari hadapan miciko, tiba-tiba saja miciko langsung mengambil lengan emi,


"Aku tidak mau makan ,itu hanya akan membuat aku mual,mau muntah emi." Ucap miciko dengan bibir yang dimajukan.


Emi yang kepergiannya ditahan oleh miciko pun ,hanya bisa pasrah.


"Lalu kalau kakak tidak mau makan masakan dapur,kakak mau makan apa?."


Saat mendengar ucapan dari emi,miciko mulai berfikir,


"Aku mau makan buah kesemek,ada."ucap miciko dengan mata yang berbinar-binar


________________________________________


bersambung


(^∆^)