
Dengan menahan sakit di kepalanya Chunghee menurskan perjalananya menuju apartemen Karina. Sesampainya ia disana segera laki-laki itu memasuki unit Karina, dan kini tujuannya adalah kamar gadis itu tentu saja. Secepat yang ia bisa, Chunghee memeriksa lemari Karina. Dan benar saja, tiak ada pakaian Karina disana, hanya ada beberapa pakaiannya saja yang memang sengaja ia tinggalkan disana dulu. Setelah dari lemari pakaian ia kembali memeriksa beberapa tempat dan memang benar disana hanya ada barangnya dan beberapa barang yang ia berikan untuk Karina dulu. Merasa tidak puas Chunghee kembali memasuki kamar Karina, ia duduk di tepi ranjang, dahinya mengernyit ketika mendapati sebuat Nite tertempel disalah satu bantal itu. Dengan rasa penasaran ia meraihnya untuk kemuian ia baca
“Chunghee-ah, aku yakin kau pasti akan datang kemari maka dari itu aku meninggalkan surat ini untukmu. Chunghee-ah, mianhae jeongmal mianhae atas keputusan yang aku ambil. Jika aku diberikan kesempatan untuk memilih, maka aku tidak ingin memilih untuk mengambil keputusan ini. Awalnya aku ingin pergi dari sisimu tanpa mengakhiri hubungan kita, tapi hal itu urung aku lakukan. Berat memang bagiku untuk mengakhiri hubungan ini, tapi jika aku tetap egois dan tetap mempertahankannya, maka aku hanya akan menjadi penghalang bagi masa depanmu. Sulit bagiku menerima apa yang Tuang Park katakana tentang status sosisal kita, tapi sesulit apapun itu aku harus menerima dan menyadarinya bahwa apa yang dai katakana memang benar adanya. Chunghee-ah menikahlah dengan Eunso, anggap ini permintaan terakhirku. Aku mohon menikalah dengannya, prcayalah dia gadis yang baik, hanya saya caranya mendapatkanmu yang salah. Cobalah buka hatimu untuknya dan terimalah perjodohan itu, jangan jadikan pengorbananku ini menjadi sia-sia karena kau masih menolak perjodohan tersebut. Dan kau tak perku khawatir tentang aku, aku bisa menjaga diriku dengan baik, aku akan memulai hidup sehat dan mencoba untuk tidak terlambat makan dan tidak bekerja terlaly keras, jadi kau tidak perlu khawatir lagi tentang aku. Ah.. satu lagi Chunghee-ah, aku ingin memberitahumu bahwa kini aku sedang mengandung Aegi kita, buah cinta kita. Dia baru beberapa minggu ada diperutku, dia masih sangat kegil kau tahu. Aku meninggalkan foto USG Aegi untukmu, aku harap kau menyimpannya.kau tenang saja aku akan menjaganya dengan sangat baik.
Terima kasih Chunghee-ah atas segalanya, atas waktu yang kita habiskan bersama, atas cerita yang kita ukir bersama, ata tawa serta kebahagiaan yang kau berika padaku, dan terima kasih juga kau telah menghadirkan Aegi untukku. Aku akan menjaga semua kenangan itu baik-baik, jika Tuhan mengijinkan untuk kita bertemu lagi nanti. Akan aku ceritan semua perkembangan Aegi padaku, dank au juga tidak perlu khawatir, aku bukan orang tuan yang kejam yang tidak mengenalkan anak pada Appanya. Kelak jika besar nanti akan aku ceritakan pada Aegi berapa beruntungnya dai memiliki Appa sepertimu.
Sekali lagi Terima kasih untuk semuanya dan tolong maafkan aku. Ingat permintaan terkahirku, kau harus menikah dengan Eunso dan jangan biarkan perjuanganku ini menjadi sia-sia arraci. Aku pergi Chunghee-ah bye-bye”
Dan setelah membaca surat tersebut luruh sudah pertahanannya sebagai laki-laki, untuk pertama kaliya ia menangis setelah dulu ia menangis karena kehilangan Ibunya. Karena kini ia kembali menanggis karena bukan hanya kehilangan gadis yang ia cintai, tapi ia juga kehilangan calon buah hatinya, yang bahkan belum sempat ia mengetahuinya secara langsung.
“Andwae Karina, andwae. Jebal kembalillah” gumamnya dalam tangis
Sementar itu dilain tempat, Dejung dan Hye In masih berada di dalam mobil, tadi setelah mengantar Karina, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen gadis itu. Mereka berencana untuk membersihkan apartemen Karina, dan menutupinya dengan kain agar tidak berdebu dan tidak rusak. Namun saat akan turun dari mobil, ponsel Daejung berdering dan menampikan nama Chunghee disana. Dan terjadilah obrolan tersebut. Mereka juga sempat melihat Chunghee memasuki gedung itu dengan langkah tertatih. Hingga akhirnya mereka menunggu beberapa saat setelah Chunghee masuk, dan mereka baru akan menyusul
Setelah beberapa saat menunggu, mereka memutuskan untuk mneyusul Chunghee. Dengan segera Daejung menekan pin unit apartemen Karina berikan tadi. Begitu masuk mereka sudah disambut dengan suara tangis yang berasal dari kamar Karina, segera mereka menju sumber suara tersebut. Dan mereka terkejut ketika mendapati Chunghee yang sudah duduk di lantai dengan bersandar pada ranjang. Laki-laki itu menangis dengan tangan yang mengenggam sebuah kertas
Daejung segera mengambil surat tersebut, laki-laki itu membaca setiap kata yang tertulis. Ia meremat kertas tersebut, diraihnya kerah kemeja Chunghee dan segera ia layangkan beberap bogem mentah pada wajah sahabatnya itu. Hye In memekik melihat hal tersebut, ia mecoba menahan tubuh suaminya untuk berhenti memukili Chunghee
“Daejung-ah hentikan kumohon, berhenti memukulnya. Ingat apa pesan Karina” ujar Hye In
Mendengar hal tersebut Daejung berhenti memukuli Chunghee “dengar jika saja bukan karena Karina, aku pasti sudah mengahabisimu saat aku tahu Karina sedang mengandung anakmu. Kau dulu menyakitinya dan kini kau kembali menorehkan luka pada Karina. jika tidak ingat permintaan Karina, aku pasti sudah benar-benar menghabisimu sialan”
Setelah mengatakan hal tersebut Daejung lebih memilih menjauh, ia tidak bisa menjamin kalau dia dekat dengan Chunghee bukan tidak mungkin emosinya kembali terpancing. Setelah Daejung keluar, Hye In membantu Chunghee dan mengobati luka laki-laki tersebut. Hye In membantu Cunghee berdiri dan memapah laki-laki itu untuk berjalan menuju ruang tengah. Disana dapat mereka lihat Daejung duduk dengan kotak P3K yang sudah ada di meja.
“Aku akan menikahinya. Aku akan menerima perjodohan itu, sama seperti apa yang Karina mau” ujar Chunghee memecah keheningan
Emosi Daejung yang tadi mereda kini kembali tersulut setelah mendengar penuturan Chunghee, laki-laki itu secepat kliat meraih kerah bajuyang Chunghee kenakan “apa perlu aku buat kau terkapar tak berdaya diranjang rumah sakit sialan? Apa otakmu bergeser? Sadarkah kau dengan apa yang kau katakana hah?” desis Daejung dengan penuh emosi
Chunghee terkekeh “kau marah? Begitu juga denganku. Apa menurutmu aku mau melakukan hal itu? Apa menurutmu ini hal terbaik yang harus aku ambil? Asal kau tahu aku melakukan ini karena Karina yang memintaku, dai mengatakan ini adalah permintaan terakhirnya, dan dia meminta untuk aku mengabulaknnya. Gila bukan, ingin aku marah tapi pada siapa aku harus melampiaskannya? Saat ini aku seperti orang gila yang kehilanagn arah hidup, aku kehilangan gadis yang begitu aku cintai, aku kehilangan bayiku yang bahkan belum terlahir kedunia. KAU PIKIR SEPERTI APA GILANYA AKU HAH? Pekik Chunghee diakhir kalimatnya
Daejung melepaskan cengkramannya pada kerah Chunghee, bukan hanya Chunghee yang gila tapi dia juga merasa gila dengan semua garis takdir yang Tuhan tuliskan untuk mereka. Ia merasa iba melihat Chunghee, laki-laki itu terlihat begitu frustasi. ia berpikir haruskah dia mengatkan keberadaan Karina? Tidak, dia tidak boleh mengatakannya dia sudah berjanji pada Karina. Tapi jika ia tidak mengatakannya, ia akan melihat kehancuran dari Chunghee. Daejung menjambak rambutnya frustasai, semua ini benar-benar membuatnya seperti akan gila.
“aku akan menikahi Eunso sama seperti apa yang Karina inginkan. Jika Eunso dan Appa menginginkan pernikahan ini terjadi, maka aku akan mengabulaknnya. Mereka mengingkinkan pernikahan dan akan aku berikan neraka dunia pada mereka, mereka harus merasakan apa yang aku dan Karina rasakan” ujar Chunghee dengan penuh tekan, kobaran api terpancar jelas dimata laki-laki itu.
Dejung menatap Chunghee, baru kali ini ia melihat Chunghee yang penuh akan tekan dan diliputi dengan aura yang begitu mengerikan. Entah apa yang sedang sahabatanya itu rencanakan. Tapi apapun itu, entah benar atau salah ia akan mendukunya karena memang benar apa yang dikatakan Chunghee, Tuan Park dan Eunso juga harus merasakan apa yang kedua sahabatnya itu rasakan
.
.
.
TBC
See you next chapture😊