
Chunghee merebahkan tubuh lelahnya pada sofa, hari ini dia benar-benar lelah. Baik fisik dan batinnya juga merasa lelah dengan apa yang ia lewati hari ini.
Mina memasuki ruangannya setelah selesai memeriksa pasiennya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Chunghee masih disana
"Kau belum pulang?" Tanya Mina setelah ia duduk dikursinya
"Eoh Noona, aku hanya ingin beristirahat sebentar. Kau baru selesai memeriksa pasien?" Tanya Chunghee
"Em, apa kau begitu lelah hari ini?" Tanya Mina
"Tidak juga, aku hanya ingin disini saja" jawab Chunghee
Mina mengernyit, wanita itu kemudian memutar duduknya menghadap Chunghee. Ia tatap laki-laki itu dari bawah sampai atas. Mendapat tatapan seperti itu tentu saja membuat Chunghee tidak nyaman. Laki-laki itu kemudian membenarkan duduknya
"W-wae?" Tanya Chunghee gugup
"Kau... apa masih tinggal dengan Karina?" Tanya Mina dengan mata menatap tajam Chunghee
"Ne, dia memintaku untuk tinggal disana untuk beberapa saat. Dia bilang masih merindukanku" jawab Chunghee
Mina mendekat pada Chunghee
"Apa kalian melakukannya?" Tanya Mina sedikit berbisik
Chunghee mengernyit, ia tidak tahu apa maksud Mina
"Ne?" Tanya Chunghee
"Ck, apa kalian melakukan 'itu'? Kau pasti tahu lah apa maksudku, kalian sama-sama dewasa dan kalian bahkan tidur pada ranjang yang sama. Jadi aku bertanya, apakah kalian sudah....." tanya Mina
Mata Chunghee membulat "Yak Noona, apa maksudmu eoh? Tentu saja kami tidak melakukan apapun. kami tidak melakukan seperti yang kau pikirkan. Aku tidak segila itu untuk menyerahkan nyawaku pada Daejung" sangah Chunghee
"Syukurlah kalau kau masih sayang nyawa. Aku peringatkan padamu, jangan berani-berani kau melakukan hal 'itu' pada Karina, kalau kau sampai melakukannya... aku tidak akan segan-segan membuatmu mendekam di IGD. ingat itu" peringat Mina
Chunghee bergidik ngeri mendengar ancaman Mina. Ck, kenapa semua orang senang sekali mengancamnya. Chunghee bangkit dari sofa, laki-laki itu berjalan menuju pintu
"Kau mau kemana?" Tanya Mina
Chunghee menoleh pada seniornya itu "menemui Son Gyosungnim. Dia ada bukan?" Tanya Chunghee
"Ne, untuk apa kau kesana? Jangan bilang kalau kau akan mengadukanku pada Son Gyosu" ujar Mina
Chunghee menyeringai, laki-laki itu berpikir mungkin dia harus sedikit mengerjai Mina
"Eoh bagaimana kau bisa membaca pikiranku Noona? Wah kau benar-benar hebat" ujar Chunghee
Mina melebarkan matanya mendengar penuturan Chunghee. Chunghee tertawa puas, laki-laki itu segera keluar dari ruangan sebelum sepatu Mina mengenai tubuhnya
"Yak Chunghee-ah, kau benar-benar" pekik Mina
.
.
.
Chunghee mengetuk pintu bertuliskan Son Gyosungnim itu sebelum diijinkan masuk oleh sang empunya
"Eoh Chunghee-ah. Kau belum pulang?" Sapa Son Gyosu begitu mendapati keponakannya itu berdiri diambang pintu
Chunghee hanya tersenyum, ia kemudian berdiri didepan meja Son Gyosu
Son Gyosu yang mendapati wajah lain dari keponakannya itu heran tidak biasanya Chunghee terlihat selesu itu
"Apa.... kau membutuhkan sesuatu Chunghee-ah?" Tanya wanita itu
Chunghee hanya menggelengkan kepalanya
Satu alis Son Gyosu terangkat mendapati jawaban dari keponakannya itu
"Imo..." ujar Chunghee
Son Gyosu berdiri dari duduknya. Sepertinya sedang terjadi sesuatu dengan Chunghee karena tidak biasanya anak dari adiknya itu memanggilnya Imo, dan kalau hal itu terjadi, pasti ada sesuatu yang berat yang Chunghee alami
"Duduklah, aku akan buatkan kopi untukmu" perintah Son Gyosu dengan senyum teduhnya
Chunghee hanya mengangguk, ia kemudian duduk pada sofa yang tersedia di ruangan tersebut. Setelah selesai membuat kopi, dia berikan satu pada Chunghee dan duduk disamping keponakannya itu
"Imo, dia...kembali" ujar Chunghee setelah dia menyesap kopi miliknya
Son Gyosu urunga meminun kopi nya begitu mendengar penuturan Chunghee. Wanita itu kemudian meletakkan kembali cangkirnya
"Ap-apa maksudmu?" Tanya Hee Young atau biasa disapa Son Gyosu.
Nama lengkap wanita itu adalah Son Hee Young kakak dari Son Eun Hee, yang tak lain adalah ibu dari Chunghee
"Aboji kembali ke Korea. Dan kemarin dia menemuiku" jelas Chunghee
"Apa yang dia katakan?" Tanya Hee Young
"Dia... menintaku untuk melepaskan Karina dan menikah dengan gadis yang sudah dia pilihkan" lanjut Chunghee
Hee Young memejamkan matanya, emosinya mendadak tersulut mendengar penuturan Chunghee
"Lalu apa yang kau jawab?" Tanya Hee Young
"Aku mengatakan kalau sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Karina. Dan pagi tadi ketika aku mengantar Karina, kami terkejut ketika mendapati caffe nya sudah berantakan. Beberapa barang rusak, tembok yang penuh coretan belum lagi beberapa perabotan yang rusak. Tadi sebelum aku kemari, aku sempat menemui Aboji. Aku mengancamnya dengan warisan yang Halmoni berikan padaku. Aku tidak tahu apakan ancaman itu akan berhasil untuk Aboji atau tidak, tapi setidaknya selagi Aboji percaya akan ancaman yang aku katakan, aku akan berusaha mencari cara untuk melindungi Karina dari Aboji" jelas Chunghee
Hee Young menarik tubuh Chunghee, ia peluk erat tubuh keponakannya itu. Air mata nya menetes tanpa ia minta. Ia tidak dapat membendung kesedihannya, ia begitu menyayangi Chunghee sebagaimana ia menyayangi anak nya sendiri. Ia menyesal karena Chunghee harus menerima kehidupan yang sepedih ini. Ia harus kehilangan ibunya sedari dia belia, ayahnya memutus hubungan sejak perceraian kedua orang tuannya. Ia harus bekerja keras agar dapat mengenyam bangku pendidikan.
Hee Young mengatakan kalau Chunghee, tidak perlu bekerja sekeras itu agar dia bisa melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, ia bisa menggunakan uang yang nenek nya berikan. Tapi Chunghee tidak mau melakukannya, ia sudah berkata kalau dia tidak akan lagi menerima atau pun berhubungan lagi dengan kekuarga dari ayahnya. Dan ketika Hee Young mengatakan kalau dia akan membiayai pendidikannya, Chunghee kembali menolak. Ia mengatakan kalau dia akan menempuh pendidikannya dengan hasil jerih payahnya sendiri. Ia habiskan waktu mudannya untuk belajar dan bekerja paruh waktu agar bisa mencukupi semua biaya pendidikannya
"Mianhae... mianhae Chunghee-ah" gumam Hee Young disela isakannya
"Aniyo, Imo tidak bersalah. Jadi tidak perlu meminta maaf padaku untuk apapun. Aku seharusnya berterimakasih pada Imo, gomawo karena Imo sudah merawatku dan menyayangiku layaknya putra Imo sendiri. Mianhae kalau aku masih sering merepotkan Imo" ujar Chunghee
"Aniyo, aniyo Chunghee-ah, aniyo" balas Hee Young
Dan malam ini untuk pertama kalinya Chunghee menangis tersedu setelah kepergian ibunya hampir dua puluh tiga tahun lalu
.
.
.
Hari ini adalah peringatan kematian Eun Hee. Dan siang ini Chunghee dan Hee Young berencana untuk pergi ke tempat penyimpanan abu Eun Hee di Ulsan. Chunghee sengaja tidak mengajak Karina, karena dia merasa belum siap mengajak gadis itu mengunjungi tempat dimana abu ibu nya disimpan
Karena Chunghee harus menyelesaikan suatu urusan terlebih dulu, maka jadilah mereka pergi dengan waktu yang berbeda. Hee Young pergi lebih dulu, baru setelahnya Chunghee akan menyusul
Hee Young menghela nafas berat begitu ia sampai didepan rumah penyimpanan abu sang adik. Ia benarkan letak kaca mata hitam yang bertenger manis dihidung bangirnya. Ia langkahkan kakinya untuk memasuki tempat dimana abu Eun Hee disimpan
Langkahnya terhenti ketika ia dapati seorang laki-laki tengah bersimpuh didepan abu adiknya. Ia hafal dan tahu betul siapa laki-laki itu, bahkan tanpa ia harus melihat wajahnya
"Yoo Joon-ssi" panggil Hee Young
.
.
.
TBC
See you next Chapture...😊