
Mata Chunghee membola, laki-laki itu menatap horor pada Karina yang telah masuk ke kamar mandi. Dia lalu bergantian menatap Daejung
"Apa-apaan itu. Yak Daejung-ah apa dia akan tidur bersama kita?" Tanya Chunghee memastikan
"Bukankah tadi dia bilang akan tidur disini bersama kita. Apa kau tidak mendengarnya?" jawab Daejung
"Tentu saja aku mendengarnya, tapi maksudku apakah dia akan benar-benar tidur disini? Bersama kita? Di ranjang ini? Yak! Kenapa kau tidak menolaknya eoh?" Tanya Chunghee sekali lagi
"Tentu saja aku menolaknya. Tapi setelah aku pikir lagi, memangnya kau mau semalaman terganggu oleh rengekannya?" Jawab Daejung
Chunghee memejamkan matanya, laki-laki itu mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa mereka tidur satu ranjang bersama, mungkin kalau dia hanya dengan Daejung itu tidak masalah. Tapi ini dia dengan Karina, gadis yang mereka sukai. Dan lagi, mereka bukan anak-anak lagi, mereka sudah dewasa, dan bukankah itu sesuatu yang tabu. Oh ya Tuhan ingin rasanya dia menenggelamkan diri ke Sungai Han. Laki-laki itu menggeram frustasi lalu segera naik ke ranjang dan menimbun diri nya dengan selimut. Dia mencoba menghindari Karina.
Karina baru saja keluar dari kamar mandi, gadis itu melihat Daejung dan Chunghee sudah berbaring diatas ranjang. Gadis itu menghampiri ranjang tersebut dan langsung melemparkan diri diantara kedua sahabatnya. Gadis itu memposisikan diri ditengah, Dia tatap kedua sahabatnya itu yang sama-sama membelakanginya, gadis itu mendengus kesal.
"KKKYYYAAAA!" Pekik Karina
Sontak saja hal itu mengejutkan Daejung dan Chunghee, mereka berdua bangkit lalu menatap Karina
"Wae? Apa ada sesuatu? Kau sakit? Apa? Ada apa?" Tanya Daejung tanpa jeda
Bukannya menjawab Karina justru tersenyum gadis itu kemudian menarik lengan Daejung dan Chunghee hingga kedua laki-laki itu kembali terbaring. Gadis itu lalu kaitkan lengannya pada kedua lengan Daejung dan Chunghee.
"Yak! Katakan kenapa kau berteriak gadis nakal" ujar Chunghee
"Nan gwaenchana. Aku hanya kesal karena kalian mengabaikanku tadi" balas Karina dengan cengiran
Daejung dan Chunghee menggeram kesal dengan gadis itu, tadi mereka benar-benar terkejut. Mereka kira terjadi sesuatu dengan Karina.
"Kau ini benar-benar menyebalkan. Sekarang lepaskan langanmu ini, aku harus tidur" ujar Chunghee
"Shireo, aku tidak akan melepaskannya" jawab gadis itu yang semakin mempererat kaitan lengannya
"Yak! Lepaskan, aku mau tidur Karina-ya aish" ujar Chunghee dengan terus meronta, berusaha melepaskan lengannya.
Berbeda dengan Chunghee, Daejung justru pasrah dengan apa yang Karina lakukan, laki-laki itu paham betul seperti apa keras kepalanya Karina. Kalau dia melawan, bukannya melepasakan Karina justru akan semakin berulah. Jadi dia hanya bisa pasrah.
"Shireo, aku tidak akan melepaskannya. Dan kau tidak boleh tidur sampai aku selesai menceritakan rencana yang sudah aku susun untuk kita lakukan esok hari" Balas Karina tegas.
Gadis itu kini juga menimpa kaki Chunghee dengan kakinya. Dan tentu saja hal itu membuat Chunghee semakin meronta.
"Yak, yak, yak! Kakimu dasar gadis nakal. Karina-ya lepas, yak Daejung-ah kenapa kau hanya diam hah? Katakan sesuatu pada gadis bebal ini agar melepaskan lengan dan kakiku" ujar Chunghee frustrasi
Daejung menarik nafas, laki-laki itu lalu mengangkat punggungnya dan menatap Chunghee.
Lagi-lagi Chunghee nenggeram frustasi, laki-laki itu berusaha mengatur nafas dan emosinya untuk menghadapi Karina. Dirasa sudah cukup laki-laki itu kemudian menatap tajam Karina, ketika dia menoleh pada Karina dia langsung dihadapkan dengan tatapan polos dari Karina. Damn! umpatnya dalam hati, wajah Karina benar-benar mengemaskan. Seketika emosinya menguap begitu saja ketika mendapat kedipan polos dari mata Karina. Laki-laki itu lalu berdehem untuk menetralkan detak jantungnya.
"Ekhem, cepat katakan apa rencana yang kau buat itu" ujar Chunghee pasrah
Karina tersenyum lebar, gadis itu menyamankan posisinya. Lalu dia tatap Daejung dan Chunghee sekilas, memastikan kalau kedua laki-laki itu tidak tidur.
"Kalian harus dengar dan jangan tidur sebelum aku menyelesaikannya mengerti" tegas Karina
"Nde" jawab Daejung dan Chunghee secara bersamaan
"Oke. Jadi besok kita akan pergi ke taman hiburan, aku ingin kita habiskan waktu kita disana. Kalian jangan khawatir untuk pakaian besok, aku sudah memilihkan nya untuk kalian dan aku tidak menerima protes atau pun penolakan. Disana kita akan menaiki semua wahana yang ada, aku ingin kita mengabadikan setiap momen disana, jadi kita harus membawa kamera, besok aku juga ingin......." ujar Karina panjang lebar.
Gadis itu menjelaskannya dengan begitu antusias, sesekali gadis itu bertanya pada kedua sahabatnya sekaligus memastikan kalau mereka masih mendengarnya, sesekali dia hanya mendapat balasan berupa deheman dari keduanya. Tentu saja deheman itu paling banyak berasal dari Chunghee.
Setelah bermenit-menit menjelaskan, suara Karina semakin melirih dan menghilang lalu digantikan dengan suara dengkuran halus dari gadis itu. Sepertinya gadis itu sudah lelah sekaligus mengantuk karena seharian bekerja, padahal gadis itu belum selesai menjelaskan semua rencananya.
Merasa tidak lagi mendengar suara Karina, Daejung dan Chunghee mengangkat punggungnya dan menoleh pada gadis itu, mereka terkekeh melihat wajah polos Karina ketika tertidur. Gadis itu begitu mengemaskan, belum lagi suara dengkuran lirihnya yang mirip seperti suara dengkuran anak anjing, benar-benar mengemaskan. Setelahnya mereka kembali berbaring.
"Dia benar-benar menyebalkan, aku heran bagaimana bisa seorang gadis berusia dua puluh enam tahun bertingkah seperti seorang remaja berumur belasan. Ck aku rasa itu karena kau terlalu memanjakannya" ujar Chunghee
Daejung terkekeh, laki-laki itu lalu menatap Chunghee yang ada disebarang sana
"Kau mau mendengar cerita sekaligus alasan kenapa aku dan kedua kakaknya begitu menyayangi dan memanjakan Karina?" Tanya Daejung
Chunghee kini menoleh pada Daejung, karena merasa penasaran laki-laki itu lalu mengangguk. Daejung menarik nafas dalam kemudian ia alihkan pandangannya pada langit-langit kamarnya.
"Karina adalah anak bungsu sekaligus anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Kedua orang tuanya begitu menanti dan mengharapkan kehadiran Karina, dan ketika Karina lahir mereka begitu menyayangi dan memanjakan Karina. Dia tumbuh dengan begitu banyak cinta dan kasih sayang dari kedua orang tua serta kedua Oppa nya. Aku dan Karina bersahabat sejak kami masih kecil, sedari dulu sampai bangku kuliah kami selalu berada disatu sekolah yang sama, kedua orang tua kami bersahabat bahkan rumah kami pun juga bersebelahan waktu itu. Dulu saat duduk di bangku kelas satu JHS mobil yang ia tumpangi bersama Jung Ahjussi mengalami kecelakaan cukup parah yang menyebabkan Jung Ahjussi merenggang nyawa di tempat kejadian. Sedangkan Karina, dia harus terbaring Koma selama enam bulan, kami pernah putus asa dengan keadaan Karina. Lalu, disaat kami akan menyerah dan merelakan Karina, sebuah keajaiban datang. Karina membuka matanya, kami benar-benar bahagia dan sangat bersyukur saat itu. Ketika dia benar-benar sadar, orang yang pertama dia cari adalan Appa nya. Kau tau Karina begitu dekat dan sangat menyayangi Appa nya, apapun yang dia lakukan, pasti didalamnya selalu ada nama Jung Ahjussi disana. Saat itu kami tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Karina, kami takut ketika mendengar Appa nya sudah tiada, dia akan terpuruk dan akan bersedih. Tapi seperti kata pepatah, sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Begitu pun dengan kebohongan yang kami buat, Karina mengetahuinya dia sangat marah dan begitu terpuruk dengan semuannya. Dia selalu mengngurung diri dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Appa nya, dia berkata kalau saja saat itu dia tidak meminta untuk dijemput pasti saat ini Appa nya masih bersamanya. Singkat cerita dia menjadi seorang yang sangat pendiam dan sangat tertutup, sampai suatu hari dia harus dilarikan kerumah sakit ketika dia mengiris pergelangan tangannya dengan serpihan kaca yang ia pecahkan. Sejak saat itu kami lebih protektif pada Karina, kami lebih memperhatikannya dan selalu berada disampingnya. Sejak kejadian itu Karina selalu melakukan terapi ke psikiater hingga dia benar-benar bisa menerima semuanya dan bisa berdamai dengan keadaan. Sejak saat itu juga aku membuat janji pada diriku sendiri untuk selalu berada disamping Karina, selalu menjaga dan melindunginya, serta memberikan segala yang Karina inginkan. Aku juga berjanji untuk selalu memastikan kebahagiaan Karina" jelas Daejung panjang lebar
Chunghee menatap Karina, dia tidak percaya kalau ternyata selama ini dibalik keceriaan dan tingkah ajaibnya, masa lalu gadis itu begitu berat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana terpuruknya Karina saat itu. Dia usap kepala Karina, dalam hati dia juga mengucap janji seperti apa yang Daejung janjikan pada Karina. Yaitu menjaga, melindungi dan selalu memastikan kebahagiaan gadis yang ia cintai itu.
.
.
.
TBC
See you next Chapture...😊