
Chunghee kembali meneguk soju entah untuk gelas keberapa yang jelas dimeja laki-laki tersebut sudah terdapat dua botol soju yang sudah kosong. Setelah mendengar jawaban Karina tadi, ia memberi alasan pada Karina kalau ia mendapat panggilan mendadak dari Rumah sakit, padahal jelas-jelas itu hanyalah sebuah kebohongan agar ia dapat pergi dari situasi canggung tersebut, bukannya ia menghindar dari masalah tersebut, ia hanya belum siap untuk kembali membahas masalah itu dengan Karina. Dan alhasil disinilah ia berada, di sebuah kedai yang menyediakan soju dan beberapa makan lainnya, ia lebih memilih datang ke kedai tersebut dari pada datang ke bar, entahlah sudah satu tahun belakangan ini ia tidak lagi menginjakkan kaki di bar lagi, ia merasa risih dengan wanita-wanita yang selalu datang mengganggu dan mengodanya.
Selagi Chunghee berkutat dengan berbagai hal dikepalanya, ia terus memainkan gelas sojunya tanpa menyadari bahwa sesorang yang sedari tadi ia tunggu sudah duduk di depannya.
"Jadi kali ini apa?" Tanya Daejung yang kini sibuk memanggang daging
"Kau lapar?" Bukannya menjawab Chunghee justru bertanya pada Daejung
"Tidak juga, aku hanya merasa kasihan melihat daging ini yang sedari tadi tidak kau sentuh"
Chunghee terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu, ia kemudian meneguk kembali soju dalam gelasnya
"Daejung-ah apa menurutmu aku tampan?" Tanyanya kembali
"Inginnya aku menjawab tidak, karena jelas aku lebih tampan dan menarik dari pada dirimu. Tapi sayangnya, para wanita itu mengatakan kalau kau memiliki wajah yang tampan" jawab Daejung dengan tangan yang masih sibuk memanggang daging
Lagi-lagi Chunghee terkekeh untuk jawaban itu "berarti aku masih pantas untuk memdapatkan dua wanita dalam gengamanku bukan"
Daejung mengernyit, ia menghentikan gerakan tangannya. Laki-laki itu kemudian menatap Chunghee dengan alis yang menukik
"Apa maksudmu? Jangan katakan kalau kau ingin menduakan Karina" ujar Daejung
"Bagaimana kalau aku melakukannya? Bagaimana kalau aku menikah dengan wanita lain tapi aku tidak melepaskan Karina" tanya Chunghee
Dengan rahang mengeras, Daejung menatap tajam sahabatnya itu "maka saat itu juga terakhir kali kau melihat Karina"
Chunghee kembali terkekeh dan meneguk kembali sojunya "itu juga yang Karina katalan padaku"
"Kau sudah mengatakannya? Yak Chunghee-ah apa kau gila? Ada apa denganmu hah? Kalau kau bosan dan tidak mencintainya lagi, setidaknya lepaskan dia dengan baik-baik bukan seperti ini" ujar Daejung dengan penuh emosi
"Ya sepertinya sebentar lagi aku akan gila. Kau tahu Appa menjodohkanku dengan putri dari rekan bisnisnya" jelas Chunghee
"Lalu?" Tanya Daejung yang semakin penasaran
Sekali lagi Chunghee mengak sojunya, ia kemudia menceritakan semuanya pada Daejung, termasuk pelaku perusakan cafe Karina, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Mendengar cerita tersebut, tiba-tiba saja kepala Daejung terasa begitu pening ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.
"Hah kepalaku pening" ujar Daejung, laki-laki itu kemudian meminum soju yang sedari tadi ia diamkan
"Aku akan membawa Karina pergi, aku akan membawanya keluar daru negara ini, aku akan membawanya kemana saja asalkan tidak ada yang memisahkan kami. Ketempat terpencil sekalipun akan aku bawa dia pergi, biarlah disana hanya ada kami dan kebahagiaan kami" ujar Chunghee
"Apa kau sudah kehilangan akalmu hah? Kau bilang apapun akan Ayahmu lakukan asalkan keinginannya tercapai. Mendengar ceritamu aku yakin Ayahmu akan dengan mudah menemukan keberadaan kalian, dan aku yakin kau pasti tahu bagaimana kalau sampai dia menemukan kalian" sanggah Daejung
Chunghee menggeram frustasi, ia membenarkan apa yang dikatakan Daejung. Ayahnya pasti akan dengan mudah menemukannya, dan pasti akan berakhir buruk bagi Karina kalau sampai Ayahnya menemukan mereka
"Lalu apa yang harus aku lakukan Daejung-ah?" Tanya Chunghee dengan nada putus asa
"Kau bilang besok malam kau harus menemuinya bukan, maka saat kalian bertemu nanti buatlah kesepakatan dengannya atau katakan kalau kau menolak perjodohan ini, dan minta padanya untuk menolak perjodohan ini. Sebagai gantinya kau katakan padanya bahwa perusahaanku akan menjalin kerjasama dengan ayahnya dan aku bersedia menyuntikan dana pada perusahaan mereka" jelas Daejung
Chunghee menatap Daejung dalam laki-laki itu kemudian mengangguk menyetujui saran dari sahabatnya itu. Terdengar jahat mungkin rencana mereka ini, tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa membiarkan perjodohan ini terjadi
.
.
.
Sesuai rencana yang telah Ayahnya buat, kini Chunghee duduk di salah satu ruangan VIP di restoran berbintang pilihan Ayahnya. Sembari menunggu wanita yang dijodohkan dengannya datang, Chunghee bertukar kabar dengan Karina. Sesekali laki-laki itu terkekeh tanpa suara hingga dimpel dipipi kanannya terlihat ketika membaca pesan dari Karina. Tanpa ia sadari wanita yang sudah ia tunggu berjalan kearahnya
"Ekhem"
Chunghee mengalihkan pandangan dari ponselnya, laki-laki itu menatap gadis yang berdiri di depannya, ia berdiri lalu mempersilahkan gadis tersebut untuk duduk
"Maaf membuatmu menunggu" ujar gadis tersebut dengan senyum yang begitu manis
"Gweanchana, sepulang dari rumah sakit aku langsung menuju kemari" jelas Chunghee
"Kau sudah memesan makanan?" Tanya gadis tersebut
Gadis itu mengangguk kemudian ia memanggil pelayan, mereka memesan beberapa makanan, setelah pesanan mereka dicatat pelayan tersebut pergi dan meninggalkan Chungher dan gadis itu dalam keheningan.
Chunghee kembali memainkan ponselnya, ia masih bertukar pesan dengan Karina, sesekali dia tersenyum, dan semua itu tak luput dari pandangan gadis di depannya
"Chunghee-ah" panggil gadis itu
Merasa terpanggil Chunghee menyimpan ponselnya dan menatap gadis tersebut,
"Nde, kau memerlukan sesuatu?" Tanya Chunghee
Gadis itu menggeleng "kau..tidak mengingatku?"
Kening Chunghee mengernyit "apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Gadis itu menghela nafas, ia menunduk kemudian kembali manatap Chunghee, tergambar jelas raut kekecewaan pada mata gadis itu
"Aki bahkan selalu mengingatmu selama ini Chunghee-ah, aku berharap semoga kau juga mengingatku, tapi ternyata kau bahkan melupakanku" ujar gadis tersebut dengan senyuman yang begitu miris
"Siapa kau, dan kenapa kau berbicara seolah kita begitu dekat?" Ujar Chunghee
"Aku Eunso Chunghee-ah gadis kecilmu, kita selalu bersama dulu. Apa sedikitpun kau tidak mengingatku?" Jelas gadis tersebut yang ternyata adalah Eunso, ia menatap Chunghee dengan raut penuh kekecewaan
Chunghee terdiam, laki-laki itu mencoba mengingat-ingat mengali masa lalunya. Dan ketika mengingatnya ia menatap Eunso dengan pandangan terkejut, namun sesaat kemudian ia kembali menetralkan ekspresinya seolah tidak terjadi apa-apa
"Ekhem, ya aku mengingatnya, aku mengingatmu. Mian aku sempat melupakanmu" ujar Chunghee
Senyum Eunso kembali terbit ketika Chunghee ternyata masih mengingatnya. Mereka kemudian kembali berbincang ringan seperti menanyakan kabar, apa saja kesibukan mereka dan beberapa hal lainnya, sebenarnya Eunso lah yang banyak membuka obrolan, sedangkan Chunghee laki-laki itu hanya menjawab pertanyaan Eunso
"Eunso-ya, ada yang ingin aku sampaikan padamu" ujar Chunghee
"Eoh, katakanpah aku alan mendengarkan"
"Sebelumnya maafkan aku. Aku menolak perjodohan ini, aku sudah memiliki seorang kekasih dan aku sangat mencintainya, sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkannya, jeongmal mianhae" ujar Chunghee
Eunso menegang, gadis itu merasa sesak luar biasa mendengar penuturan Chunghee. Ia sudah mendugannya sejak tadi saat laki-laki itu memainkan ponselnya dengan sesekali tersenyum
"Aku mencintaimu Chunghee-ah, bahkan aku sudah mencintaimu sejak dulu kita masih anak-anak. Tidak bisakah kau mempertimbangkannya? Tidak bisakah kau meninggalkannya?" Tanya Eunso
"Mianhae aku benar-benar tidak bisa." tegas Chunghee
Air mata Eunso menetes dan kini mulai menganak sungai tanpa ia minta, mendengar Chunghee mengatakan hal tersebut entah mengapa hatinya seperti diremat begitu kuat oleh tangan tak kasat mata
Chunghee yang menyaksikan hal tersebut merasa menjadi seorang laki-laki yang buruk, sungguh ia tidak berniat membuat Eunso menangis, apa lagi setelah mengetahui bahwa Eunso adalah sahabat kecilnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa meninggalkan Karina. Laki-laki itu membiarkan Eunso menangis untuk menyalurkan perasaannya, di tengah keheningan tersebut, tiba-tiba ponsel Chunghee berdering dan menampilkan nama Karina disana, segera laki-laki tersebut menerima panggilan tersebut
"Yeobseyo" sapanya
"Em, aku akan segera pulang. Tunggu sebentar aku akan membelikan apa yang kau pesan dan kita akan makan bersama" lanjutnya
"Eoh, saranghae" tutupnya
Hati Eunso semakit teriris pilu mendengar percakapan Chunghee dan kekasihnya, dan lagi air matanya kembali berderai.
Chunghee menghela nafas berat "Mianhae Eunso-ya, aku harap kau mau membatalkan perjodohan ini. Aku memita hal tersebut untuk kebaikan kita, aku tidak ingin menyakiti perasaanmu untuk kedepannya karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan kekasihku. Sekali lagi jeongmal mianhae"
Setelah mengatakan hal tersebut Chunghee berdiri dari duduknya, membungkuk sebentar dan berlalu begitu saja meninggalkan Eunso yang semakin tergugu dalam tangisnya, sejujurnya ia tidak tega melakukan tersebut pada Eunso, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, dia tidak ingin seolah memberikan harapan pada Eunso kalau dia berbalik dan menenagkan gadis tersebut, dalam hati Chunghee merapalkan beribu maaf untuk Eunso
.
.
.
TBC
See you next Chapture😊