Just Us

Just Us
Chap 64



Karina dan Chunghee berjalan beriringan dan saling bergandeng tangan, mereka juga saling melempar candaan satu sama lain. Mereka sedang berada di Hongdae, tadi setelah acara pernikahan Daejung dan Hye in selesai Karina meminta pada Chunghee untuk jalan-jalan ke Hongdae, dan tentu saja hal itu langsung dikabulkan oleh Chunghee.


Kini mereka berada di pinggirian Sungai Han, mereka menikmati indahnya malam ini dengan saling bertukar cerita. Karina kaitkan lengannya dengan lengan Chunghee, kepalanya ia sandarkan pada bahu tegap sang kekasih. Sedangkan Chunghee, laki-laki itu merangkul lengan Karina, sesekali ia kecup sayang pucuk kepala gadis munggil itu.


"Chunghee-ah, aku tidak menyangka kalau mereka akhirnya menikah juga. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, kenapa dulu mereka harus berpisah" ujar Karina


"Itu lah Hidup Changiya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Yang bisa kita lakukan hanya lakukan yang terbaik dan jalani apa yang Tuhan gariskan pada kita. Selebihnya hanya Tuhan lah yang Tahu" ujar Chunghee


Karina mendongak untuk menatap wajah kekasihnya itu "Sejak kapan kau jadi bijaksana seperti ini eoh? Apa selama disana kepalamu terbentur sesuatu?" Tanya gadis itu


Chunghee terkekeh lalu ia hadiahi satu kecupan pada dahi gadis yang sangat ia cintai itu


"Hidup mengajariku banyak hal Karina-ya, dari masalah yang kita hadapi dulu aku belajar banyak hal, tentang keikhlasan, tentang pengorbanan dan tentang rahasia Tuhan. Kita mungkin memang bisa membuat rencana seindah mungkin, tapi ketika Tuhan tidak mengijinkan maka semua itu hanya akan menjadi hayalan saja. Sama seperti hubungan Daejung dan Hye In, mereka mungkin punya rencana sendiri-sendiri dan mungkin mereka juga berusaha untuk saling melupakan dan saling membuka lembaran baru, tapi lihat sekarang, Tuhan kembali mempertemukan mereka dan mengikat mereka dalam sebuah ikatan pernikahan" jelas Chunghee


Karina tersenyum mendengar penuturan sang kekasih, ia semakin dibuat jatuh cinta pada laki-laki yang kini sedang memeluknya erat itu


"Sepertinya setelah ini aku harus bersyukur pada Tuhan karena DIA telah mengirimu kembali padaku. Berjanjilah padaku untuk selalu disampingku, jangan pernah kau bosan padaku, dan... jangan pernah berhenti mencintaiku saranghae Chunghee-ah" ujar Karina


Chunghee tersenyum, kemudian ia kecup bibir tipis sang kekasih "Aku lebih bersyukur karena Tuhan telah mengirimmu untukku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan aku akan selalu mencintaimu. Kau tahu aku bahkan menjaminkan hidupku pada Daejung untuk kebahagiaanmu" ujarnya


Karina tersenyum, mereka saling menatap lalu entah bagaimana kedua bibir itu menyatu, saling mengungkapkan rasa cinta mereka melalui ciuman tersebut.


"Kita pulang" ujar Chunghee setelah pangutan itu terlepas


Karina mengangguk. Mereka pun berjalan meninggalkan tempat tadi


"Malam ini kau ada shift?" Tanya Karina


"Ani, aku shift pagi besok" jawab Chunghee


Karina tersenyum lebar, gadis itu berdiri didepan Chunghee, hingga laki-laki itu menghentikan langkahnya


"Malam ini menginap di rumahku ya" ujar Karina


"Wae?" Tanya Chunghee


"Aku ingin menonton film denganmu, rasanya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua. Dan....aku juga masih merindukamu" ujar Karina dengan menundukkan wajahnya diakhir kalimat, gadis itu berusaha menyembunyika  rona merah pada pipinya karena malu dengan apa yang baru saja dia ucapkan


Chunghee terkekeh tanpa suara, ia peluk tubuh munggil itu kemudian ia kecup pucuk kepala gadis itu


"Kenapa kau mengemaskan sekali Bee" ujarnya


Karina mendongak, dahinya berkerut mendengar kalimat terakhir dari Chunghee


"Bee?" Tanya gadis itu


"Em Bee, itu panggilan untukmu" jawab Chunghee


"Kenapa Bee?" Tanya Karina masih tak mengerti


"Karena kau munggil, manis, mengemaskan dan berisik seperti lebah" jelas Chunghee


Mata Karina membola "Yak! Kau menyebalkan ish...ish..." ujar gadis itu dengan memukul dada Chunghee


Bukannya mengaduh kesakitan, laki-laki itu justru tertawa terbahak. Ia menangkup tangan Karina, laki-laki itu melepaskan tangan tersebut kemudian lari setelah mencuri satu kecupan dari bibir Karina


"Yak!! Kemari kau, dasar menyebalkan" pekik Karina, wanita itu menyusul Chunghee yang berlari menjauh darinya


"Tangkap aku kalau bisa" balas Chunghee, laki-laki itu masih berlari dengan tawa yang masih berderai, dan tentu saja hal itu membuat Karina semakin kesal dibuatnya


Karina bersandar pada dada bidang sang kekasih,dengan tangan kanan Chunghee yang dengan setia merangkul bahu nya. Mereka sedang menyaksikan sebuah film yang Karina inginkan, mereka sesekali tertawa ketika film tersebut menyajikan sesuatu yang lucu


Karina menegakkan punggungnya ketika teringat sesuatu, gadis itu kemudian meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Tangannya seperti sibuk mengetikkan sesuatu, hingga membuat Chunghee penasaran dibuatnya


"Wae?" Tanya Chunghee


"Aku sedang mengirim pesan pada Daejung" jawabnya, tanpa mengalihkan tatapannya pada benda pipih tersebut


"Apa yang kau tuliskan?" Tanya Chunghee penasaran


"Aku mengatakan kalau aku ingin anak kembar dari mereka, dan aku mau itu secepatnya jadi" jawab Karina


Chunghee membulatkan matanya, ia tatap wajah kekasihnya itu yang kini sedang tersenyum tanpa dosa. Beberapa saat kemudian gadis itu meletakkan ponselnya setelah memberondong Daejung dengan pesan-pesannya. Ia kembali bersandar pada dada bidang Chunghee


"Kenapa kau senang sekali menganggu Daejung em" ujar Chunghee


"Molla, aku merasa puas ketika menyaksikan wajah kesalnya. Dan aku yakin pasti sekarang ia sedang kesal karena aku mengganggu aktivitasnya dengan Hye in" ujar Karina dengan kekehan


Chunghee menggelengkan kepalanya "Karina-ya, apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan tadi?" Tanya nya


"Yang mana? Yang aku menginginkan anak kembar dari Daejung?" Tanya Karina balik


"Aniyo, tentang kau yang ingin segera menyusul Daejung dan Hye in. Kau ingin kita segera menikah?" Tanya Chunghee


"Kalau aku jawab iya, apa kau akan segera Mengabulkannya?" Tanya Karina


"Bahkan kalau kau memintannya sekarang, aku pun sudah siap dan besok akan aku urus semuannya" jawab Chunghee dengan matap


Karina terkekeh "Aniya, aku memang ingin menikah denganmu tapi tidak sekarang. Sekarang aku masih ingin menikmati masa kencan kita dulu, kau masih harus menyelesaikan Tesisimu dulu, aku juga masih ingin mengembangkan caffe ku. Jadi mari kita gapai dulu apa yang kita cita-citakan" jawabnya


Mendengar Jawaban Karina, salah satu sudut Chunghee merasa sakit, ia merasa bersalah pada kekasihnya itu. Gara-gara keegoisannya, Karina harus kehilangam cita-citanya menjadi dokter hebat


"Mianhe Karina-ya karena aku, kau harus kehilangan cita-citamu menjadi


seorang dokter... aku...." ucapan Chunghee terhenti


"Ck sudah berapa kali aku katakan kalau itu bukan salahmu, ini semua sudah menjadi keputusanku, dan aku yakin pasti ini jalan terbaik yang Tuhan gariskan untukku. Coba kau bayangkan kalau kita menikah dan kita berdua menjadi dokter, bagaimana nanti kita akan mengurus anak-anak kita nantinnya em? Kau tahu kan bagaimana gilanya aku ketika bekerja, jangankan untuk mengurus anak, untuk makan saja aku masih harus diingatkan dan disiapkan, kau tahu itu bukan. Jadi berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri, ini semua bukan salahmu arrachi?" Ujar Karina


Chunghee mengangguk, laki-laki itu kecup kedua punggung tangan sang kekasih, ia tarik tubuh Karina untuk masuk kedekapannya


"Saranghae Karina, neomu neomu saraghae.." ujar Chunghee


"Nado.." balas Karina


TBC


See you next chapture....😊