
Wajah Chunghee pias, dia tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan yang Daejung berikan padanya. Dia bingung, haruskah dia jujur pada Daejung tentang perasaan yang sebenarnya dia rasakan pada Karina? Atau di harus berbohong pada Daejung tentang hal itu? Chunghee memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam. Sepertinya akan percuma saja kalau dia berbohong pada Daejung, karena cepat atau lambat sahabatnya itu pasti akan mengetahuinya juga. Laki-laki itu lalu mengangkat wajahnya dan kembali menatap Daejung
"Sepertinya aku terlalu bodoh dalam hal menyembunyikan perasaan" kekeh Chunghee menertawakan dirinya sendiri
Daejung pun juga terkekeh, laki-laki itu juga menertawakan dirinya sendiri. Entah untuk urusan apa
"Gweanchana Chunghee-ah, memang tidak semua orang pandai dalam menyimpan dan menyembunyikan sebuah perasaan yang bernama cinta. Kau tau bukan kalau cinta dapat membuat seseorang menjadi begitu bodoh" kekeh Dajung diakhir kalimatnya
Chunghee mengangguk "Sejak kapan kau menyadarinya Daejung-ah?"
Daejung tersenyum" Entah sadar atau tidak, tapi kau banyak menunjukkan rasa cintamu pada Karina. Mulai dari sikap yang kau tunjukkan, rasa khawatirmu yang begitu besar padanya, serta tatapan mata yang kau berikan pada Karina itu menjelaskan semuanya Chunghee-ah. Kau memang selalu membuatnya kesal, tapi aku yakin kau melakukan itu karena suatu hal. Bukan begitu Chunghee-ah" jelas Daejung
Dalam hati Chunghee membenarkan semua yang Daejung katakan. Selama ini bukan tanpa alasan dia selalu membuat kesal Karina, hal itu dia lakukan untuk menutupi rasa cintanya pada Karina. Selain itu, dia melakukan hal itu agar Karina jangan sampai menyimpan rasa padanya. Jadi dia berusaha untuk membuat Karina tidak mencintainya
Tapi siapa yang tau tentang perasaan seseorang? kita mungkin bisa merencanakan tapi ketika Tuhan sudah membuat rencana lain, maka manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya. Begitu juga dengan perasaan Karina, baik Chunghee mau pun Daejung tidak ada yang tahu pada siapa sebenarnya hati Karina berlabuh. Hanya Tuhan dan Karina sendiri lah yang Tahu
"Tapi kau tenang saja Daejung-ah aku akan menekan atau bahkan menghapus perasaan ini. Aku tidak akan mungkin merebut gadis yang sahabatku cintai, aku sadar perasaanku ini salah. Aku memang mencintainya tapi untuk memilikinya aku rasa itu tidak mungkin aku dapatkan" jelas Chunghee
Laki-laki itu tau bagaimana perasaan Karina pada Daejung, entah itu benar atau tidak tapi yang dapat di lihat Chunghee seperti itu. Karena selama ini yang dia lihat adalah Karina yang selalu dan begitu memilih Daejung dari pada dirinya
"Andwae, kau tidak boleh melakukan itu Chunghee-ah. Jangan pernah menekan apa lagi menghapus perasaan itu. Kau ingat bukan kalau kau pernah mengatakan bahwa dalam perasaan cinta tidak ada yang salah, itu wajar terjadi karena aku pun juga pernah mengalaminya. Jadi jangan pernah melakukan hal itu Chunghee-ah, biarkan semua berjalan layaknya air mengalir. Kita tidak bisa mencegahnya, yang dapat kita lakukan adalah memperjuangkan perasaan kita, aku tidak keberatan kalau kau mencintainya. Kita bisa berjuang bersama untuk mendapatkan hati Karina, soal hasilnya nanti kita hanya bisa berpasrah pada Tuhan dan menerima apapun dan menerima dimana hati Karina akan berlabuh nantinya" ujar Daejung dengan penuh ketulusan
Chunghee tersenyum, laki-laki itu tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Daejung. Dia pikir Daejung akan marah atau bahkan memukulnya, tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Dia benar-benar bersyukur pada Tuhan karena telah memberinya sahabat sebaik Daejung
"Jadi mari kita berjuang bersama, bukan hanya untuk mendapatkan hati Karina tapi juga untuk memastikan kebahagiaannya, seperti yang pernah kita janjikan dulu" ujar Chunghee dengan tangan yang ia ulurkan pada Daejung
Daejung tersenyum dan menyambut genggaman tangan tersebut mereka tertawa setelahnya, seketika mereka tersentak ketika mendapati tangan lain menggengam tangan mereka berdua. Sontak mereka menatap si pemilik tangan lentik tersebut, dan yang mereka dapati adalah Karina yang tersenyum begitu manisnya pada mereka
"Aku juga setuju dengan apa yang kalian katakan tadi" ujarnya polos
Daejung dan Chunghee saling menatap, mereka merasa gugup, takut-takut kalau Karina mendengar obrolan mereka tadi. Chunghee menelan ludahnya kasar
"Ap-apa ya-yang kau dengar Karina-ya?" Tanya Chunghee gugup
"Molla, aku tidak tau apa yang kalian bicarakan. Tapi aku rasa itu sesuatu yang bagus,jadi aku akan ikut menyetujuinya. Memangnya apa yang kalian bicarkan?" Tanya Karina penasaran
Daejung dan Chunghee menghela nafasnya lega, mereka kira gadis itu mendengar obrolan mereka tadi. Gadis itu duduk ditengah Daejung dan Chunghee
"Ck kau tidak perlu tahu, ini urusan laki-laki" jawab Chunghee
Karina mencibir, gadis itu lalu mengaitkan lengannya dengan lengan Daejung dan Chunghee lalu kepalanya dia sandarkan pada pundak Chunghee. Chunghee melirik sebentar lalu kembali menatap kedepan
"Daejung-ah, Chunghee-ah apa kalian tahu aku sangat bersyukur pada Tuhan karena Dia telah mengirimkan kalian untukku. Daejung-ah kau tahu Aku bersyukur karena Tuhan dengan baiknya mengirimkan Chunghee kedalam persahabatan kita ini. Dia memang menyebalkan tapi aku yakin dibalik semua itu pasti dia menyayangiku. Aku suka cara kalian menunjukkan rasa sayang kalian padaku. Aku harap kita akan selalu seperti ini sampai nanti kita menua. Daejung-ah, Chunghee-ah berjanjilah padaku kalau kalian tidak akan pernah melupakanku meskipun nanti kalian sudah membangun sebuah rumah tangga. Berjanjilah kalau kita akan tetap dan selalu seperti ini, berjanjilah kalau kalian akan selalu menepati janji kalian untuk selalu melindungi dan menyayagiku. Aku.... aku tidak bisa lepas dari kalian, aku terlalu bergantung pada kalian. Aku menyayangi kalian" gadis itu menangis tersedu-sedu bahkan punggungnya bergetar hebat akibat tangisnya
Gadis itu lalu menelusupkan kepalanya pada dada Chunghee. Chunghee mengusap sayang kepala Karina sedangkan Daejung memeluk gadis itu dari belakang. Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu, setelah dirasa Karina sudah cukup tenang Chunghee buka suara
"Aku akan membelikanmu minum" ujar Chunghee, setelahnya dia berdiri dan segera beranjak dari dari sana. Hatinya seperti tercubit mendengar apa yang Karina ucapkan, dia takut kalau dia tidak bisa menepati janjinya untuk selalu disisi Karina kalau ternyata suatu hari nanti Karina benar-benar melabuhkan hatinya pada Daejung
Sepeninggal Chunghee, Daejung masih setia memeluk Karina. Dia usap kepala Karina dengan sayang, dan tak lupa dia terus gumamkan kata-kata penenang untuk gadis itu
"Uljima Karina-ya, bukankah kami sudah berjanji kalau kami akan selalu bersamamu. Dengar Karina-ya, meski pun nanti kau sudah menikah sekali pun aku dan Chunghee akan selalu ada untukmu, kami tidak akan pernah meninggalkanmu" ujar Daejung
Karina mendongak lalu dia tatap wajah tampan Daejung. Tangan Daejung terulur untuk mengusap air mata Karina dan ia usap lembut pipi Karina
"Yakso?" Tanya Karina
"Yakso" balas Daejung
Karina tersenyum, Daejung masih setia mengusap pipi Karina. Lalu seiring berjalannya detik jarum jam, Daejung semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Karina bahkan hidung mereka sudah saling bergesekan dan....
"Karina-ya...." Chunghee urung melanjutkan ucapannya ketika mendapati pemandangan didepannya yang membuat hatinya terasa begitu sakit luar biasa
.
.
.
TBC
See You next Chapture....😊