Just Us

Just Us
Chap 52



Hari ini Karina berangkat ke rumah sakit lebih awal dari seharusnya, sebenarnya jam kerjanya akan dimulai satu jam lagi tapi karena Chunghee, gadis itu memutuskan untuk datang lebih awal.


Sudah tiga hari setelah ulang tahunnya Chunghee menghindarinya, bahkan laki- laki itu tidak datang ke resotran. Saat itu dia mengatakan harus segera pergi karena tiba-tiba saja pamannya menelfon, begitu alasan yang Karina terima. Laki-laki itu hanya menitipkan buket mawar pada pelayan untuk diberikan pada Karina. Malam harinya Karina mencoba menghubunginya, tapi selalu saja panggilan itu tidak terjawab. Bahkan pesan yang Karina kirimkan tidak Chunghee balas.


Sampai saat ini Karina dibuat kelimpungan karena perubahan sikap Chunghee, sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu? Kenapa dia tiba-tiba berubah dan berusaha menghindarinya seperti ini.


Begitu menginjakkan kakinya di lantai dimana ruangannya berada, Karina mempercepat langkahnya. Gadis itu ingin segera menemui Chunghee dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu.


BBRRAAKKK


Pintu terbuka dengan kasar, dapat ia lihat disana Chunghee sedang memeriksa beberapa berkas entah itu rekam medis pasien atau apalah itu Karina tidak ingin tahu dan tidak ingin mencari tahu. Sekarang yang terpenting dan yang harus ia tahu adalah kenapa Chunghee menghindarinya.


"Eoh kau sudah datang" ujar Chunghee yang menoleh sekilas pada Karina kemudian kembali membaca berkas yang ada ditangannya


Karina merasa geram dengan sikap Chunghee tidak biasanya laki-laki itu mengacuhkannya seperti ini. Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun gadis itu merampas berkas yang Chunghee pegang dan meletakkannya pada meja yang ada dibelakang laki-laki tersebut dengan kasar, nafas gadis itu memburu


"Wae?" Tanya Karina


"Apanya?" Tanya Chunghee tidak mengerti


"Kau. Kenapa kau tidak datang saat ulang tahunku dan kenapa kau juga menghindariku?" Lanjut Karina


"Bukankah sudah ku bilang pamanku tiba-tiba menghubungiku dan memintaku untuk datang ke rumahnya" jelas Chunghee


"Lalu kenapa kau menghindarku?" Tanya Karina


"Aku tidak menghindarimu, beberapa hari ini aku begitu sibuk jadi tidak bisa mengangkat panggilanmu" jawab Chunghee


"Sesibuk apapun dirimu, kau selalu mengangkat panggilanku. Jangankan panggilan telefon, saat aku memintamu datang sekali pun kau pasti akan datang. Lalu sekarang kenapa kau berubah?"


"Kali ini berbeda Karina-ya, semua orang bisa berubah. Dulu aku memang selalu memprioritaskan dan mengerti dirimu, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Jadi bisakah sekarang kau yang mengerti keadaanku? Bisakah aku terbebas darimu sebentar saja? bisakah kau tidak terlalu merengek padaku? Kau tahu aku sudah tidak tahan lagi, aku... aku sudah bosan dengan semua tingkah manjamu. Bersikaplah lebih dewasa Karina" ujar Chunghee


Karina melangkah mundur, air matanya sudah menganak sungai bahkan kini tangannya bergetar. Dia tidak menyangka akan mendengar hal semenyakitkan itu dari Chunghee. Hatinya terasa begitu sakit, rasanya seperti ribuan pisau menyayat hatinya, begitu memilukan dan menyakitkan. Gadis itu mengusap air matanya


"Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakannya sedari dulu Chunghee-ah? Kenapa kau tidak pernah mengatakan dari dulu kalau aku begitu merepotkanmu? Mianhe, kalau selama ini aku merepotkanmu, Mianhe kalau... kalau aku sudah bertingkah kekanak-kanakan. Gomawo sudah mau bersabar menghadapiku selama ini. Sekali lagi Mianhe karena selalu menganggumu dengan segala rengekan dan sikap manjaku" ujar Karina, gadis itu membungkukkan badannya lalu berjalan ke luar ruangan


Dengan langkah lebar serta air mata yang semakin mengalir deras gadis itu berlari menjauh dari ruangan yang menjadi saksi bisu bagaimana hatinya hancur. Gadis itu tidak memperdulikan tatapan beberapa orang yang berpapasan dengannya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia menghilangkan rasa sesak serta sakit hati ini.


Setelah kepergian Karina, tubuh tegap Chunghee luruh, laki-laki itu terduduk di kursinya. Sedari tadi sebenarnya laki-laki itu berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Karina, dan menenagkan gadis itu sama seperti yang selalu dia lakukan, dalam hati dia merapalkan beribu kata maaf pada Karina. Hatinya juga terasa sakit mengingat apa yang dia katakan pada Karina tadi, laki-laki itu mengumpati dirinya sendiri, bagaimana dia bisa dengan teganya mengatakan hal sekejam itu pada gadis yang sangat dia cintai. Sungguh dia benar-benar menyesal telah mengatakan semua itu. Dia bahkan melebeli dirinya sendiri sebagai laki-laki berengsek dan tidak berperasaan.


Mina memasuki ruangan tersebut, sebenarnya sedari tadi wanita itu mendengar percakapan dua juniornya itu. Tadi ketika dia baru kembali dari kantin dia melihat Karina berjalan tergesa menuju ruangan mereka, jadi Mina berinisiatif mengikuti gadis itu, dan tanpa sengaja dia mendengar semuanya


"Nunna, aku memang laki-laki berengsek yang tidak berperasaan" ujar Chunghee


"Syukurlah kalau kau mengakuinya. Kau tahu kau bukan hanya laki-laki berengsek, tapi kau juga bedebah sialan yang sayangnya aku kasihani. Chunghee-ah dengar, aku tahu kau memang ingin menghindari Karina, aku tahu kau berniat untuk membuat Karina menjauh darimu. Tapi tidak dengan cara seperti ini Chunghee-ah, tidak dengan cara kau menyakitinya dengan kata-katamu itu, it's oke kalau Karina hanya menghindarimu saat ini atau beberpa bulan yang akan datang. Tapi bagaimana kalau dia justru membencimu dan menjauhimu selamanya?" Maki Mina pada Chunghee


"Itu akan lebih baik Nunna, setidaknya dengan begitu dia akan melupakanku dan menjalani hidup bahagianya dengan Daejung tanpa harus bimbang dan bingung dengan perasaannya sendiri. Aku bisa menerima kemarahannya bahkan kebenciannya. Tapi aku tidak bisa melihatnya selalu tersiksa dengan kebimbangan hatinya karena aku dan Daejung. Kalau dalam hubungan ini ada yang harus mengalah, maka aku lah orangnya. Aku yang harus mundur karena aku dengan kurang ajarnya masuk kedalam lingkaran persahabatan mereka" jelas Chunghee


Mina menatap sendu Chunghee, dia tidak menyangka kalau juniornya itu ternyata memilik hati yang begitu luas. Dia mendekat pada Chunghee, lalu ia usap lengan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu


"Kau laki-laki yang hebat Chunghee-ah, aku bangga padamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, kalau kau memang berjodoh dengan Karina aku yakin Tuhan pasti akan menunjukkan jalan-Nya untuk kalian. Tapi kalau kalian memang tidak berjodoh, aku berdoa semoga Tuhan memberikan gadis yang terbaik untukmu" ujar Mina


"Gomawo Nunna" balas Chunghee


Mina tersenyum, wanita itu membuang nafas berat lalu berusaha mencairkan suasana dengan membuka obrolan lain pada Chunghee


"Kau sudah membuat keputusan?" Tanya Mina


"Em, aku sudah mengataknnya pada Kang Gyosungnim" jawab Chunghee


"Kapan Kau berangkat?" Tanya Mina


"Lusa aku berangkat"


Lagi-lagi mina menghembuskan nafasnya berat, kemudian dia usap tangan Chunghee


"Hati-hatilah selama disana, selalu waspada akan keadaan sekitar dan jaga selalu kesehatanmu. Aku disini akan selalu mendoakanmu, dan kau tenang saja aku juga akan selalu menjaga Karina" ujar Mina


"Gomawo Nunna, aku sangat berutung bisa mengenalmu. Aku harap kita bisa bertukar pikiran dan bercengkrama seperti ini lagi suatu saat nanti" ujar Chunghee


Mina mengangguk, wanita itu lalu menarik Chunghee ke pelukannya. Dan tanpa terasa air matanya luruh membasahi pipinya. Sejujurnya berat baginya melepas Chunghee pergi, tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini yang terbaik untuk Chunghee. Dia hanya bisa meminta dan berharap ada Tuhan agar DIA selalu menjaga Chunghee


.


.


.


TBC


See you next Chapture....😊