Just Us

Just Us
Chap 58



Daejung memasuki sebua club yang dulu sering ia kunjungi bersama Chunghee. Ia edarkan pandangannya kesekitar guna mencari keberadaan sang sahabat. Begitu netranya menemukan sosok yang ia cari, laki-laki itu segera mengurai langkah dan menghampiri Chunghee.


"Sudah berapa botol yang kau teguk?" Tanya Daejung begitu duduk disebelah Chunghee


"Aku tidak sempat menghitungnya" jawab Chunghee


Daejung terkekeh, ia kemudian menuangkan cairan berwarna kuning keemasan itu pada gelas yang sudah tersedia. Laki-laki itu sedikit mengeram setelah merasakan panas akibat cairan tersebut melewati tenggorokannya.


"Kau akan berada dalam masalah kalau sampai disipilin rumah sakit tahu kau kembali ke tempat ini" ujar Daejung, laki-laki itu kembali meneguk minumannya


"Kalau begitu jangan sampai mereka tahu" jawab Chunghee acuh


Lagi-lagi Daejung terkekeh, laki-laki itu mengangkat gelasnya lalu mengajak Chunghee untuk bersulang


"Bagaimana keadaanmu selama berada disana?" Tanya Daejung


"Buruk, rasanya seperti tubuhku dikuliti setiap harinya. Tidak sedetik pun aku lalui tanpa rasa rindu ini, kau tahu setiap kali dia mengirimku pesan atau menelfonku, ingin rasanya aku membalasnya dan ingin rasanya aku pulang untuk memeluk tubuh itu" Jelas Chunghee


"Lalu kenapa tidak kau lakukan?" Tanya Daejung


Chunghee menggelengkan kepalanya dan terkekeh


"Untuk apa Daejung-ah, untuk apa aku pulang kalau hanya untuk membuat luka hati ini semakin mengangah" Jawab Chunghee


"Apa maksudmu?" Tanya Daejung


Chunghee menatap cincin yang melingkar di jari manis Daejung, laki-laki itu kemudian menatap sahabatnya itu dengan serius


"Cincin yang bagus Daejung-ah. Ah mianhe aku tidak datang saat pernikahan kalian" ujar Chunghee


Daejung terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang sahabatnya itu maksud. Lalu ingatannya kembali pada saat dimana Karina mengatakan kalau Chunghee pergi karena salah paham. Laki-laki itu kemudian menatap Chunghee dengan ekspresi tidak percaya


"Jangan katakan kalau kau mengira ini cincin pernikahanku dengan Karina" ujar Daejung


"Bukankah memang seperti itu adanya. Saat ulang tahun Karina, saat itu aku melihat sendiri kau memasangkan cincin tersebut pada Karina benar begitu bukan?" jelas Chunghee


"Wae? Kenapa kau tidak menjawabku Daejung-ah? Kau pemenangnya, kau yang memenangkan hatinya. Seharusnya aku sadar sedari dulu kalau dia mencintaimu. Ah tapi sudahlah sekarang mari kita minum, malam ini aku yang akan membayar, anggap saja ini hadiah kecil driku" ujar Chunghee, sepertinya kesadaran laki-laki itu mulai terengut minuman laknat tersebut


Kesabaran Daejung menipis, laki-laki itu kemudian menarik Chunghee untuk keluar dari tempat tersebut. Sahabatnya itu sepertinya harus diberi sedikit palajaran agar pikirannya dapat kembali berpikir normal.


Setelah keluar dari Club, Daejung melayangkan sebuah pukulan pada rahang tegas sahabatnya itu hingga mengakibatkan Chunghee terduduk pada jalanan. Chunghee meringis merasakan linu pada pipinya, laki-laki itu terkekeh lalu mendongak menatap Wajah Daejung yang kini diselimuti emosi. Chunghee berdiri lalu berdiri tepat didepan Daejung


"Wae? Kenapa kau memukulku? Bukankah apa yang aku katakan benar? Kau seharusnya senang Daejung-ah, kita tidak perlu bersaing lagi untuk memperebutkan Karina. Sekarang dia milikmu, milikmu seutuhnya" lanjut Chunghee


Emosi Daejung semakin tersulut, laki-laki itu kemudian menarik kerah Chunghee. Ia layangkan tatapan tajam pada sahabatnya itu


"Apa seperti ini laki-laki yang Karina cintai? Apa seperti ini laki-laki yang selama ini memenangkan hati Karina? Apa laki-laki bodoh ini yang membuat Karina harus kehilangan cita-citanya. Jadi seperti ini laki-laki yang sudah menghancurkan Karina hingga sedemikian rupa. Laki-laki bodoh yang hanya mementingkan keegoisannya, laki-laki berengsek yang lari dari masalah tanpa mencari tahu kebenarannya dulu, dan memilih pergi untuk sebuah alasan konyol bernama salah paham itu eoh. Dimana kau gunakan otak cerdasmu itu Chunghee-ah? Bagaimana bisa kau pergi meninggalkan Karina hanya karena sebuah asumsi yang kau buat sendiri tanpa dasar, dimana otakmu Chunghee-ah. Kau tahu Karina mencintaimu, dia memilihmu. Apa selama ini kau tidak menyadarinya eoh? Kau tidak menyadari tatapan cinta yang selama ini Karina tunjukkan untukmu? Kau salah Daejung-ah, bukan aku pemenangnya. Tapi kau, dia lebih memilihmu tapi kau dengan seenaknya meninggalkannya, kau melanggar janji yang kau buat sendiri. Waktu itu, aku memang mengungkapkan perasaanku, tapi dia menolakku karena di mencintaimu. Aku memasangkan cincin itu sebagai hadia untuknya. Apakah kau tahu dampak dari kebodohan yang kau lakukan itu? Dia teluka Chunghee-ah, dia hancur bahkan kini lebih parah dari yang dulu saat ia kehilangan ayahnya, dia kehilangan hidupnya. Mungkin dia memang terlihat kuat diluar tapi sebenarny dia hancur. Aku harus kembali menyaksikannya terpuruk untuk kedua kalinya. Karina yang sekarang bukanlah Karina yang dulu, dia telah pergi dan menghilang entah kemana" jelas Daejung, laki-laki itu melepas gengamannya pada kerah Chunghee.


Mendengar penuturan Daejung, tubuh Chunghee melorot, laki-laki itu menangis. Hari ini dia seperti mendapat tamparan keras dari Tuhan karena kebodohan dan keegoisannya dulu. Dia menyesali semua apa yang dia lakukan dulu, seharusnya dia bisa berpikir dan mencari tahu terlebih dulu kebenarannya sebelum bertindak. Tapi semuanya sudah terlambat, Karina sudah kehilangan segalanya dan itu semua karena dirinya.


Daejung berjongkok, ia tepuk bahu Chunghee berusaha memberi kekuatan pada laki-laki itu


"Tidak ada gunanya menyesal Chunghee-ah, semua sudah terjadi. Kau tidak perlu menyesalinya, ini semua sudah takdir yang Tuhan gariskan untuk persahabatan kita. Sekarang yang harus kau lakukan adalah memperbaiki semuanya, bawa Karina kembali, bawa dia keluar dari kegelapa itu Chunghee-ah. Buat dia kembali menjadi Karina yang dulu, Karina yang selalu merengek, Karina yang selalu bersikap manja, Karina yang selalu berbuat semaunya,Karina yang menyebalkan, Karina dengan segala tingkah ajaibnya" ujar Daejung


"Andwae, aku tidak bisa Daejung-ah. Aku terlalu malu untuk menemuinya, setelah semua yang aku lakukan padanya. Bagaimana kalau dia menolakku dan tidak bisa menerima kehadiranku?" ujar Chunghee


"Wae? Kenapa kau jadi pesimis seperti ini eoh? Kau ingat bukan kalau akan selalu ada kesempatan kedua pada mereka yang berusaha dan bersungguh-sungguh. Bukankah sudah biasa kalau dia menolakmu? Kau hanya harus menyikapinya sama seperti biasa yang sering kau lakukan. Kalau dulu Karina yang sering mengungkapkan perasaanya padamu,maka kini kau lah yang harus melakukan hal itu" jelas Daejung, berusaha meyakinkan Chunghee.


Chunghee terdiam, Daejung benar sekarang yang harus dia lakukan adalah berusaha lebih keras untuk mendapatkan maaf dan hati Karina kembali. Ia akan berusaha menebus semua kesalahannya pada Karina, meski ia harus mrnerima kesakitan untuk itu semua.


.


.


.


TBC


See you next chapture...😊