Just Us

Just Us
Chap 84



Karina dan keluarganya baru saja selesai melakukan upacara untuk memperingati kematian ayahnya. Mereka begitu khusyuk dalam doa, demikian juga dengan Chunghee, laki-laki yang berstatus sebagai kekasih Karina itu juga begitu khidmat mengikuti setiap rangkaian upacara. Begitu acara selesai mereka memilih untuk singgah sebentar di salah satu restoran dekat tempat penyimpanan abu jenazah tersebut, mereka memilih untuk mengisi perut dulu sebelum kembali pulang.


Chunghee dan Karina tidak ikut serta, mereka lebih memilih untuk duduk di taman dekat tempat penyimpanan abu tersebut. Tangan mereka saling tertaut, kepala Karina ia sandarkan pada bahu kokoh Chunghee


"Chunghee-ah kau tau, dulu saat Appa mengajakku kemari untuk peringataan kematian Halmoni. Appa selalu mengatakan kalau nanti dia tidak ada dia ingin abunya ditanam di bawah pohon willow. Kau tahu kenapa? Tanya Karina


"Wae?" Tanya Chunghee


"Dulu Appa lahir dan besar di desa. Appa mengatakan kalau dulu ia selalu bermain di bawah pohon willow. Sebelum Tuhan mengambil Appa, Appa pernah mengatakan kalau suatu hari nanti, saat anak-anaknya sudah memiliki kehidupan sendiri, dia ingin mengajak Eomma untuk tinggal di desa. Appa ingin berkebun, beternak dan ingin menikmati hasil kebun serta ternaknya" Karina menjeda ucapannya


Chunghee masih diam, ia mencoba menjadi pendengar yang baik untuk kekasihnya itu. Ia usap dengan begitu lembut rambut halus kekasihnya itu


"Dan keinginan Appa itu juga menurun padaku. Chunghee-ah...." karina lagi-lagi menjeda ucapannya, ia menegakkan badannya lalu menatap kekasihnya


"Ne" jawab Chunghee, tangannya ia ulurkan untuk menyelipkan rambut Karina ke belakang telinga


"Apa kau serius dengan hubungan ini?" Tanya Karina


Chunghee mengerutkan keningnya, ia heran mengapa kekasihnya itu tiba-tiba bertanya demikian


"Tentu Karina-ya kau tahu bukan seberapa besar cintaku padamu? tentu saja aku serius dengan hubungan ini. Wae? Apa kau ingin kita menikah sekarang juga? Kajja kita urus berkas-berkasnya" ujar Chunghee dengan menggandeng lengan Karina untuk berdiri


"Ck dengarkan dulu Chunghee-ah, aku belum selesai" ujar Karina dengan memukul lengan kekasihnya


"Lalu, kenapa kau bertanya?" Tanya Chunghee


Karina tersenyum "kalau kau memang serius dengan hubungan kita, aku ingin kau memgabulkan permintaanku. Bisakah ketika kita menikah dan memiliki anak nanti, kita menetap di desa? Aku merasa jenuh tinggal di kota, aku ingin anak-anak kita nanti tumbuh dengan tenang di desa, mereka akan mendapatkan banyak hal saat berada di desa nanti. Bisakah kita melakukannya nanti?" Tanya Karina


Chunghee tersenyum, ia usap sayang kepala Karina "Tentu, apapun akan aku berikan untuk keluarga kecil kita nanti, bahkan ketika suatu saat nanti kau ingin kita keluar dari negara ini, aku akan mengabulkannya selama itu membuatmu bahagia. Aku tidak masalah tinggal dimanapun asalkan itu denganmu dan kau bahagia" ujar Chunghee begitu tulus


Karina tersenyum haru mendengar penuturan kekasihnya "Gomawo Chunghee-ah, tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Bagaimana jika rumah sakit tidak mengijinkanmu?" Tanya Karina


"Maka aku akan keluar dari Rumah sakit, aku tidak masalah jika nanti harus mengulang masa kerjaku, aku juga tak masalah jika suatu saat nanti aku harus berhenti menjadi dokter, dan harus bekerja menjadi petani dan peternak sekalipun. Apapun akan aku lakukan asal kau dan anak-anak kita bahagia nanti" jawab Chunghee


Karina tersenyum "tapi menjadi dokter adalah cita-citamu, dan aku tahu bagaimana perjuanganmu sampai bisa berdiri di posisi sekarang ini"


"Benar menjadi dokter dan berada diposisiku saat ini adalah cita-cita ku, tapi saat menikah nanti cita-cita ku adalah membahagiakan keluargaku" ujar Chunghee


Karina tersyum, matanya berkaca-kaca mendengar penuturan Chunghee "gomawo sudah hadir dalam hidupku, gomawo sudah mencintaiku dengan begitu besar. Aku harap Tuhan merestui semua rencana kita"


Chunghee menarik Karina dalam pelukannya, ia kecup pucuk kepala Karina berulang kali "nado, aku harap juga begitu"


Mereka berbincang cukup lama di taman tersebut, ketika hari semakin siang mereka memutuskan untuk menyusul keluarga Karina ke Restoran. Setelah selesai makan bersama, Karina dan Chunghee memutuskan untuk langsung pulang Karena Chunghee mendapat shift malam.


...****************...


Chunghee baru saja selesai dengan shift malam nya, siang ini laki-laki tersebut membuat janji temu dengan Eunso.


Baru saja Chunghee akan menghungi Eunso, namun hal itu urung ia lakukan ketika Eunso memasuki Restoran, gadis itu tersenyum pada Chunghee, namun senyuman itu justru dijawab decihan dari Chunghee


Laki-laki itu tak habis pikir kenapa gadis itu mengenakan pakain yang begitu terbuka. Gadis itu mengenakan dress berwarna merah yang begitu kontras dengan kulit putih nya, panjang dress tersebut hanya sebatas paha, belum lagi potongan rendah pada bagian dada dan punggungnya


"Apa kau menunggu lama?" Tanya Eunso begitu ia mendudukkan diri di depan Chunghee


"Lima belas menit" jawab Chunghee


"Ah mianhae membuatmu lama menunggu. Lama tidak bertemu, kau tahu selama di Jepang aku sangat-sangat merindukamu" ujar Eunso


Chunghee hanya memutar bola matanya malas "apa kau tidak punya pakaian yang lebih pantas untuk dikenakan?" tanya Chunghee, jujur saja ia terganggu dengan penampilan Eunso


"Wae?" Tanya Eunso, dengan tubuh yang sengaja ia majukan untuk menggoda Chunghee


Chunghee memalingkan wajahnya, laki-laki itu berdiri, melepas jaket yang ia kenakan untuk kemudian ia sampirkan pada bahu Eunso. Sontak saja hal tersebut membuat Eunso senang bukan main


"Aku tidak suka melihat seorang wanita berpakian minim, apa lagi itu di depan umum" ujar Chunghee begitu ia kembali duduk


Eunso tersenyum, hati gadis itu kembali berbunga mendengar penuturan Chunghee


"Kenapa kau peduli? Apa kau mulai tertarik padaku?" Tanya Eunso dengan begitu percaya diri


"Inginnya aku tidak peduli, tapi Eomma selalu memintaku untuk selalu menghormati dan menghargai wanita. Wanita itu berharga, tidak seharusnya mereka menampakkan tubuh mereka secara berlebihan, bagaimana dia bisa dihargai kalau ia saja tidak menghargai dirinya sendiri" ujar Chunghee


Eunso semakin jatuh hati pada laki-laki di depannya itu. Jika mereka menikah nanti ia pasti akan menjadi wanita yang sangat beruntung karena menikahi laki-laki seperti Chunghee


"Dan aku tidak tertarik sama sekali denganmu, mian jika kata-kataku terdengar kasar, tapi aku berkata yang sesungguhnya, karena sampai kapan pun hanya satu orang yang akan menempati dan memiliki hatiku, dan tanpa aku sebutkan kau pasti tahu bukan siapa orang tersebut" lanjut Chunghee


Eunso mengepalkan tangannya, baru saja ia merasa terbang ke angkasa saat mendapat perlakuan manis dari Chunghee, tapi kini ia serasa dihempaskan kedasar bumi oleh perkataan laki-laki itu


"Bisakah saat kita hanya berdua jangan membicarakan orang lain apa lagi itu KARINA. Aku tidak suka saat nama gadis itu kau sebut, saat disini hanya ada kita berdua. Aku tidak suka dia hadir di tengah-tengah kita" ujar Eunso dengan mata yang penuh kilatan amarah, gadis itu menekankan kata Karina pada ucapannya


Chunghee terkekeh, dia tidak ambil pusing dengan tatapan tajam yang Eunso layangkan padanya


"Perlu aku ralat Eunso-ssi, disini kau lah yang hadir diantara aku dan KARINA kekasihku. Jangan beranggapan seolah-olah kita memiliki hubungan dan menganggap Karina adalah pengganggu diantara hubungan kita. Tolong sadarlah dengan posisimu" ujar Chunghee yang juga menekankan kata Karina


.


.


.


TBC


See you next chap😊