Just Us

Just Us
Chap 50



Daejung baru saja memasuki apartemennya ketika waktu menunjukkan pukul enam sore. Dia letakkan tas kerjanya pada meja singel yang terletak disamping rak sepatu.


"Daejung-ah" sapa Karina begitu melihat sahabatnya itu memasuki apartemen. Gadis itu berjalan mendekat


Senyuman terkembang begitu manis pada wajah tampan itu, akan tetapi setelah melihat ekspresi Karina yang terlihat begitu marah, senyuman itu perlahan mulai luntur dan tergantikan dengan wajah gugup serta kecemasan terlihat begitu jelas diwajahnya


"W-wae?" Tanya Daejung gugup


"Kemari kau laki-laki sialan. Akan aku beri pelajaran pada wajah menyebalkan yang sayang nya tampan itu. Akan aku buat kau tidak bisa membuka mulutmu lagi" ujar Karina dengan penuh emosi


Daejung menelan ludahnya kasar, dia merasa sesuatu yang buruk sepertinya akan segera terjadi. Laki-laki itu melangkah mundur ketika langkah Karina semakin mendekat


"Ad-ada apa ini?kenapa kau ingin melukaiku? Ap-apa ada yang salah? Ap-apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Daejung tergugup


Karina menghentikan langkahnya, gadis itu memicing tajam pada Daejung. Melihat Karina berhenti melangkah, Daejung berjalan menuju ruang makan untuk menghindar dari gadis yang sedang emosi itu


"Kau masih bertanya apa salah mu eoh? Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Yak Daejung-ah kau sudah tinggal satu atap dengan Hye in, dan kau bahkan sudah memiliki putri dengannya tapi kau masih tidak tahu apa salah mu? Wah, kau benar-benar minta aku hajar. Kemari kau" balas Karina, kini gadis itu kembali mendekati Daejung


"Ye? Ka-kau salah paham Karina, aku memang tinggal satu atap dengan Hye in tapi ini tidak seperti yang kau bayangkan. Dia bukan putri ku, dia...." ucapan Daejung terputus oleh pekikan Karina


"Yak... kau sudah membuatnya hadir di dunia ini dan sekarang kau justru tidak mengakui nya. Wah kau benar-benar bedebah sialan" ujar Karina, gadis itu kemudian mengejar Daejung


Daejung kembali berlari mengitari ruang tengahnya dengan Karina yang masih setia megejar dan memekikkan nama nya. Hye in berusaha melerai, tapi ketika dia akan mendekati dua orang tersebut, tiba-tiba saja suara tangisan Hana menghentikan langkahnya dan alhasil wanita itu harus memutar arah dan menghampiri putrinya


"Karina-ya, sudah cukup aku menyerah" ujar Daejung dengan mengangkat kedua tangannya


Karina menghampiri Daejung dengan satu tangan menjewer telinga laki-laki itu. Dan tentu saja hal itu membuat Daejung memekik kesakitan. Gadis itu kemudian mendudukkan Daejung di sofa


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi" perintah Karina dengan nafas yang terengah


"Berjanjilah kau akan mendengarnya tanpa menyela atau pun protes" pinta Daejung dengan nafas tak kalah terengah


"Oke, jadi katakan yang sejujurnya" ujar Karina


Daejung pun memulai ceritanya, laki-laki itu menjelaskan awal mula dirinya bertemu Hye in, dia juga menceritakan perjalanan hidup Hye in sampai wanita itu bisa memiliki seorang putri. Mendengar cerita Daejung, Karina geram bukan main gadis itu bahkan mengumpat beberapa kali disela cerita Daejung


"Bedebah sialan, laki-laki kurang ajar awas saja kalau aku bertemu dengannya akan aku gunduli kepalanya dengan tangan kosong, akan aku buat laki-laki itu mendekam di rumah sakit ah... ani akan aku buat dia mendekam di penjara" ujar Karina penuh emosi


Daejung yang mendengarnya bergidik ngeri membayangkan apa yang Karina katakan. Lalu atensi mereka teralih pada suara tawa khas seorang bayi, dan sontak saja hal itu membuat mereka menoleh pada sang pelaku.


Karina beranjak dari duduknya, gadis itu menghampiri Hye in dan seorang bayi dalam gendongannya. Senyum Karina semakin terkembang ketika semakin mendekat pada bayi lucu tersebut


"Aigo... kau sangat lucu" ujar Karina, gadis itu lalu meraih tubuh buntal itu kedalam dekapannya


Karina tersenyum, gadis itu masih megagumi wajah bayi berusia sembilan bulan itu. Setelah dirasa puas, gadis itu menatap Hye in, lalu gadis itu memberikan Hana pada Daejung dan tentu saja Daejung menerimanya. Karina mendekat pada Hye in, gadis itu lalu meraih tangan Hye in dan menggenggamnya


"Hye in-ah, aku turut prihatin atas apa yang menimpamu. Tapi Hye in-ah kau tidak perlu merasa khawatir ataupun kesepian lagi, karena aku ada disini, aku akan ada disampingmu, aku akan selalu ada untuk mendukungmu. Jadi mulai sekarang bagilah apa yang kau rasakan padaku, kau tidak perlu memendamnya sendiri lagi sekarang" ujar Karina tulus, tak lupa dia sematkan sebuah senyuman manis untuk Hye in


Tanpa sadar air mata Hye in menetes mendengar penuturan Karina. Dia tidak menyangka kalau gadis yang dulu pernah ia benci itu ternyata memiliki hati yang begitu baik, pantas saja Daejung begitu menyayangi dan lebih memilih Karina.


Hye in mengangguk menyangupi permintaan Karina. Karina tersenyum, gadis itu mengusap air mata Hye in kemudian dia peluk tubuh ibu satu anak itu. Daejung yang sedari tadi menjadi penonton ikut tersenyum melihat hal manis didepannya itu.


Kini mereka sedang berada di meja makan, menikmati masakan yang Hye in buat. Karina dan Daejung nampak sangat menikmati dan beberapa kali juga memberikan pujian untuk masakan Hye in, dan tentu saja hal tersebut membuat Hye in merasa senang


"Ah...Daejung-ah kapan kau akan kembali?" Tanya Karina


"Molla, mungkin pertengahan bulan aku baru bisa kembali ke Seoul" jawab Daejung


"Yak apa-apaan itu eoh? Kau ingat bukan kalau satu minggu lagi ulang tahunku. Aku tidak mau tahu dan tidak mau mendengar alasan apapun, pokoknya saat ulang tahunku tiba kau harus sudah berada di Seoul bagaimana pun caranya. Kalu kau sampai tidak datang, maka aku anggap persahabatan kita putus dan berakhir saat itu juga" ujar Karina


"Yak yak yak, apa-apaan itu eoh, tarik kembali ucapanmu gadis nakal kau mau hubungan kita berakhir eoh" jawab Daejung


"Tentu saja tidak" sangah Karina


"Lalu kenapa kau mengataknnya" lanjut Daejung


"Aku mengatakannya karena kau menyebalkan" bela Karina


Daejung mendengus kesal "Geurae aku akan menyelesaikannya sebelum ulang tahunmu datang, dan akan aku pastikan kalau kita akan merayakannya bersama" ujar Daejung final


Dan tentu saja hal itu membuat senyum Karina terkembang begitu lebar


"Gomawo Daejung-ah... kau memang yang terbaik" ujar Karina


Daejung hanya menjawabnya dengan deheman. Hye in yang sedari tadi hanya dapat mendengarkan perdebatan antar dua sahabat itu, ia hanya dapat tersenyum. Jujur saja dia merasa iri pada persahabatan mereka. Selama ini teman-teman yang menjalin hubungan dengannya hanya ingin mendapatkan hartanya saja, mereka berteman dengan Hye in hanya untuk kepopuleran mereka saja, betapa mirisnya hubungan pertemanannya dulu. Dan sekarang lihatlah Betapa menyenangkannya ikatan persahabatan antara dua orang didepannya itu.


.


.


.


TBC


See you next Chapture...😊