Just Us

Just Us
Chap 83



Chunghee baru saja memasuki kamar Karina, dapat ia lihat kini Karina sudah bergelung di dalam selimutnya, ia yakin bahwa Kekasihnya itu belum tidur, jadi ia ayunkan kakinya untuk mendekati ranjang lalu duduk tepat di samping Karina


"Karina-ya, aku yakin kau pasti belum tidur. Changiya mianhae. Tidak seharusnya aku berkata demikian, tidak seharusnya aku meragukan perasaanmu padaku, seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu lebih dulu. Mianhae karina-ya, kau pantas marah padaku karena memang ini adalah kesalahanku, mian karena tidak bisa menepati janjiku, mian untuk kekecewaan yang kembali aku torehkan padamu. Tapi sungguh Karina, bukan maksutku untuk melakaukan kebodohan seperti tadi. Kau berhak marah dan aku memang pantas mendapatkan kemarahanmu, kau berhak mendiamkanku, tapi Karina jebal jangan pernah tinggalkan aku apapun nanti yang terjadi" ujar Chunghee


Benar apa yang dikatakan Chunghee, Karina sebenarnya belum tidur, gadia itu sedari tadi mendengarkan apa yang Chunghee katakan. Dalam hati ia bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Chunghee untuknya


Tidak mendapatkan respon dari Karina, Chunghee memejamkan mata, laki-laki itu menarik nafas dalam. 'Mungkin Karina masih marah padanya' pikirnya. Jadi dengan langkah gontai laki-laki itu mengitari ranjang untuk kemudian membaringkan tubuhnya di samping Karina. Laki-laki itu berbaring dengan membelakangi Karina, sebelum menutup mata dan menjemput alam mimpi, ia lebih dulu dikejutkan dengan sebuah lengan yang memeluknya dari belakang. Saat akan berbalik suara Karina lebih dulu menginstrupsi


"Jangan berbalik biarkan seperti ini dulu" ujarnya


"Wae?" Tanya Chunghee penasaran


"Aniyo aku hanya merindukanmu, jadi aku ingin seperti ini sebentar saja" ujar Karina dengan wajah yang ia benamkan pada punggung sang kekasih


Chunghee terkekeh dibuatnya, laki-laki itu memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Ia usap sayang kepala Karina


"Karina-ya, mianhae aku meminta maaf atas semua yang aku cupakan tadi. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu tadi" sesal Chunghee sekali lagi


Karina tersenyum, gadis itu sedikit melonggarkan pelukan mereka untuk kemudian berujar


"Ne aku memaafkanmu Chunghee-ah, anggap ini sebagain pembelajaran baru bagi kita. Tapi Chunghee-ah lain kali apapun masalah yang terjadi dengan kita, tolong jangan bersikap seperti tadi lagi. Jangan pernah memotong penjelasaku, dan jangan pernah mempertanyakan tentang perasaanku padamu. Kau tahu bukan seberapa besar aku mencintaimu? Kalau aku tidak mencintaimu mungkin sudah sedari dulu aku kembali menerima pernyataan cinta dari Baekhwa, dan lagi saat aku menjelaskan sesuatu padamu tolong jangan pernah memotongnya ataupun meragukannya, jangan pernah percaya akan apa yang kau lihat ataupun dengar dari satu sisi, coba dengarkan dan cari tahulah lebih dulu sebelum kau memutuskan. Dan seandainya suatu hari nanti ada berita ataupun gosip yang buruk tentangku tolong jangan  kau percaya kalau itu bukan dari mulutku sendiri. Chunghee-ah kau tahu bukan salah satu pondasi utama dari sebuah hubungan adalah kepercayaan, jadi tolong berikan aku kepercayaanmu maka aku akan menjaganya" ujar Karina begitu tulus


Chunghee terpaku di tempatya ketika dia mendengar penuturan Karina, bagaimana bisa kekasihnya itu bisa mengatakan hal tersebut, disaat seharusnya dia lah yang harus mengatakan hal itu pada Karina. Sungguh kini beban hati Chunghee semakin bertambah, bagaiman bisa dia meninggalkan Karina, ketika gadis itu mencintainya begitu besar


Tanpa berkata apapun, Chunghee menarik Karina dalam depakapnnya. Ia kecup berulang kali pucuk kepala Karina


"Mianhae, jeongmal mianhae Karina-ya. Saranghae, nomu nomu saranghae Changiya" Chunghee terus bergumam demikian


Karina tersenyum ia balas pelukan tersebut "nado sarangahe Chunghee-ah"


Cukup lama mereka dalam posisi tersebut hingga Chunghee teringat akan satu hal, laki-laki itu kemudiam memisahkan jarak mereka, ia tatap Karina dengan begitu dalam


"Wa-wae?" Tanya Karina gugup


"Changiya aku masih penasaran akan satu hal, bolehkah aku bertanya?" Tanya Chunghee


"Wae? Apa yang ingin kau tanyakan?" Jawab Karina


"Kau bilang, tadi karyawanmu membantumu mengobati lukamu? Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu dekat tadi? Dan... dan siapa laki-laki itu?" Tanya Chunghee begitu penasaran, dan untuk pertanyaannya yang terkahir itu, ia sebenarnya hanya ingin memastikan satu hal saja


Karina terkekeh mendengar rentetan pertanyaan dari kekasihnya itu


"Dia Kwon Sun, dia karyawan baruku. Eemm sebenarnya sudah hampir satu bulan dia bekerja di Caffe. Dia anak yang baik, awalnya aku menggira dia adalah laki-laki yang kaku dan dingin seperti wajahnya, tapi semakin hari semua itu terbantahkan, dia adalah laki-laki hangat dan baik hanya saja semua itu tertutupi oleh wajah dinginnya. Kau tahu Chunghee-ah, dulu saat pertama dia bekerja aku, Jobin dan Jhony sempat berpikir bahwa dia adalah anak orang kaya" jelas Karina


"Wae?" Tanya Chunghee, dia sedikit berdebar mendengar Cerita Karina, ia pikir mungkin saja Kwon Sun akan mengatakan sesuatu tentang mereka


"Dia mengatakan kalau dia tinggal di kawasan ****** kita tahu bukan bahwa itu adalah kawasan bagi para elit. Tapi saat Jhony bertanya apakah dia dari golongan elit, dia menjawab bahwa ia hanyalah anak dari seorang maid yang bekerja disana, dia bisa tinggal disana karena ia membantu Eommanya bekerja" penjelasan Karina, membuat pikiran Chunghee kosong seketika. Bagiamana bisa Kwon Sun mengatakan hal tersebut, apa maksud dari adik tirinya itu berkata demikian.


"Selain itu apakah dia bercerita atau mengatakan sesuatu tengang meluarganya?seperti Ayahnya atau... saudaranya mungkin" tanya Chunghee


"Aku pernah bertanya padanya tentang apakah dia memliki saudara,  dan dia menjawabnya tidak. Dia bilang dia adalah anak tunggal. Dan mengenai Ayahnya, dia tidak pernah bercerita tentang hal terebut padaku, entah kalau dengan Jobin maupun Jhony. Tapi yang aku tahu, dia merupakan seseorang yang tertutup mengenai keluarganya. Dia hanya akan menangapi sesekali obrolan kami" jelas Karina


Chunghee terdiam mendengarkan penjelasan  Karina. Penjelasan tersebut seolah menjadi sebuat teka- teki untuknya tentang apa maksud sebenarnya dari semua yang Kwon Sun lakukan? Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan sang Ayah?


Terlalu larut dalam pikirannya Chunghee sampai tidak mendengarkan panggilan Karina. Laki-laki itu tersadar ketika Karina mengguncangkan tubuhnya


"Wae? Kenapa kau melamun? Apa kau mengenal Kwon Sun?" Tanya Karina


"Ah aniya. Lalu bagaimana kau bisa terluka?" Tanya Chunghee mengalihkan topik


Karina meringis, gadis itu menggaruk tengkukknya yang tidak gatal, mempertimbangkan perlukah dia menceritakan hal tersebut pada Chunghee atau tidak


"Wae?" Kini giliran Chunghee yang bertanya


Karina menghembuskan nafas, ia memutuskan untuk menceritakannya pada Chunghee. Toh Chunghee kekasihnya, jadi laki-laki itu harus tahu


"Siang tadi Eunso berkunjung ke Caffe. Ia datang untuk menyapaku, dia bilang jarang menemui ataupun menghubungiku karena ia harus mengikuti Ayahnya pergi ke Jepang untuk mengurus perusahaannya yang sedang mengalami masalah. Dia memesan hot capuccino dan cake, singkat cerita aku menemaninya berbincang, tapi saat itu aku melihat kalau kunci mobilnya terjatuh, jadi aku berinisiatif mengambilkannya. Tapi saat aku hendak berdiri, Eunso tidak sengaja menyengol minumannya dan... yah begitulah cerita aku menapatkan luka di tanganku. Beruntung saat itu Kwon Sun berada disana jadi dia segera menolongku mengobati luka ini" jelas Karina dengan menunjukkan tangannya yang masih diperban


Darah Chunghee mendidih mendengar cerita Karina, laki-laki itu merasa begitu geram pada Eunso. Ia yakin gadis itu pasti sengaja menumpahkan minuman panas tersebut pada Karina. Ingin rasanya malam ini juga dia pergi ke Seoul untuk memberikan pelajaran pada Eunso


Karina yang mendapati keterdiaman Chunghee serta expresi Chunghee yang tiba-tiba mengeras, ia segera menggengam tangan kekasihnya itu


"Hay gweanchana Changiya. Aku tidak apa sungguh, ini sudah tidak sakit lagi, hanya saja bekasnya mungkin akan lama memudar. Tapi selebihnya aku baik-baik saja sungguh. Aku yakin bekas luka ini tidak akan mengurangi rasa cintamu padaku, bukan begitu Changiya" ujar Karina mencoba menenagkan Chunghee serta mencairkan suasana


Chunghee terkekeh, ia mengusap sayang kepala Karina, tak lupa ia sematkan sebuah kecupan pada kening kekasihnya itu


"Tentu, aku sangat mencintaimu. Dan rasa cinta ini tidak akan pernah berkurang apapun yang terjadi nanti. Bahkan jikalau kau tua dan sudah berkeriput nanti aku akan tetap mencintaimu dengan sama besarnya. Sama seperti yang kau katakan tadi Karina-ya, hanya percaya padaku dan jangan pernah percaya pada berita tentangku di luaran sana jika itu bukan dari mulutku sendiri. Kau hanya perlu memberikan kepercayaan padaku, maka aku akan menjaganya sampai nanti dam selamanya" ujar Chunghee


Karina tersenyum "aku percaya padamu dan aku percayakan cintaku padamu"


Chunghee tersenyum ia peluk Karina dengan begitu erat "saranghae Karina-ya" ujarnya


'Mianhae Karina-ya' batinnya meratap pilu


.


.


.


TBC


See you next Chaprure😊