
Chunghee menatap nyalang pada ayahnya itu, pandangannya masih belum teralihkan dari laki-laki paruh baya itu
"Aku tidak akan pernah melakukannya. Jadi jangan pernah berharap aku akan melakukannya. Aku rasa pembicaraan ini selesai, aku pergi Aboji" ujar Chunghee. Laki-laki itu membungkuk sebentar sebelum beranjak dari hadapan ayahnya
Baru beberapa langkah Chunghee berjalan, langkahnya harus terhenti karena suara ayahnya
"Karina seorang mantan dokter residen di rumah sakit Seoul, dia memiliki dua orang kakak laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara. Kesehariannya sekarang mengurus caffe yang ia dirikan satu tahun lalu, aku dengar caffe nya selalu ramai oleh pengunjung dan selalu mendapat ulasan yang bagus. Aku rasa besok aku harus mengunjunginya " ujar Yoo Joon
Chunghee kembali melangkah menuju ayahnya, ia berdiri didepan ayahnya
"Aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah mengganggunya. Dan apa Aboji pikir aku seorang anak kecil yang akan takut oleh ancaman semacam ini. Hah, cukup dulu aku merasa bodoh dan hancur karena kepergian Mijin, sekarang tidak lagi, aku bukan Chunghee yang dulu, yang akan menerima semuanya dengan diam dan tidak melakukan apapun. Jadi aku tegaskan lagi pada Aboji, berhenti mengancamku dan jangan pernah menganggu Karina" ujarnya
Yoo Joon mengusap bibirnya dengan lap yang tersedia, ia kemudian berdiri didepan putranya
"Apa kau pikir ucapan Aboji tadi hanya sebuah ancaman? Chunghee-ah tidakkah kau menyadari semua yang aku lakukan ini untukmu, untuk masa depanmu. Kau tidak akan selamanya hidup dengan cinta, cinta tidak akan menjamin masa depanmu, cinta hanya akan membuatmu lemah. Jadi lupakan gadis itu dan menikahlah dengan gadis yang Aboji pilihkan" ujar Yoo Joon
Emosi Chunghee semakin memuncak, nafasnya memburu tangannya terkepal erat, matanya menyorotkan kemarahan yang tak dapat lagi ia bendung
"Aboji benar, cinta tidak bisa menjamin masa depan ku, cinta juga melemahkanku. Tapi yang harus Aboji tahu, dengan cinta aku bisa mengapai masa depanku, dengan cinta aku menjadi kuat dan mampu untuk melangkah mengapai semua cita dan masa depanku. Aku pernah mengenal seorang laki-laki yang dengan bodohnya melepas cinta istri dan putra kandungnya sendiri untuk sebuah kekuasaan, dia memang berkuasa dan memiliki segalanya. Tapi hidupnya kosong, dia beraga tapi tak bernyawa, karena nyawa nya yang sesungguhnya adalah istri dan putranya. Demi kekuasaan dia rela menjual dan melepas cintanya" ujar Chunghee dengan menatap nyalang pada mata ayahnya tanpa takut sedikit pun
Emosi Yoo Joon tersulut dengan apa yang baru saja Chunghee katakan, ia sadar bahwa laki-laki yang putranya itu katakan adalah dirinya. Dengan nafas memburu ia layangkan sebuah tamparan keras pada pipi Chunghee, hingga putranya itu menelengkan kepalanya. Chunghee terkekeh mendapat hal tersebut dari ayahnya, laki-laki itu kemudian menatap ayahnya
"Wae? Apa Aboji merasa tersinggung? Bukankah apa yang aku katakan benar adanya. Aboji menceraikan Eomma dan meninggalkan kami hanya untuk menikahi wanita itu agar bisnis kalian semakin meluas bukan, dan sekarang Aboji ingin aku melakukan hal yang sama pada Karina? Meninggalkan gadis itu lalu menikah dengan gadis pilihan Aboji agar bisnis kalian semakin meluas begitu bukan? Hah... " Chunghee menjeda ucapannya dengan kekehan
"Bukankah Aboji dan wanita itu juga sudah memiliki anak? Kenapa kalian tidak menjodohkan mereka saja, dan berhenti menganggu hidupku. Cukup sekali Aboji merengut kebahagiaan ku. Sekarang biarkan aku bahagia dengan pilihanku sendiri" lanjutnya
"Kau putraku jadi aku berhak mengatur hidupmu. Dan dia yang kau sebut anak Aboji itu adalah adikmu, tidak seharusnya dia menikah lebih dulu. Darahku mengalir pada kalian berdua, jadi aku mau mulai sekarang kau harus menganggap dia sebagai adikmu" ujar Yoo Joon
"Benar kau memang ayahku, tapi perlu aku luruskan dan aku ingatkan lagi Aboji. Aku masih teringat dan akan selalu mengingat hal dimana dulu setelah Aboji dan Eomma bercerai, saat itu juga bukankah Aboji mengatakan kalau kami bukan lagi bagian dari dirimu? Bukankah dulu Aboji juga mengatakan kalau aku ini bukan lagi putramu? Kalau sekarang ini aku masih memanggilmu Aboji, itu karena Eomma yang memintanya. Jadi tolong jangan lewati batas yang sudah aku buat, tetap ditempat Aboji berdiri, dan aku minta berhentilah sersikap seolah hubungan kita baik-baik saja" ujar Chunghee, setelahnya dia benar-benar keluar dari ruangan yang membuatnya merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya
Yoo joon kembali terduduk setelah kepergian Chunghee, laki-laki itu kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang
"Berikan gadis itu sebuah salam perkenalan, dan pastikan Chunghee mengetahuinya" ujarnya begitu panggilan tersebut tersambung
"Kau harus tahu kalau aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku ucapkan Chunghee-ah" lanjut Yoo Joon setelah panggilannya dengan salah satu anak buahnya itu terputus
.
.
.
Sungai Han, merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi warga Seoul. Mereka datang untuk berlibur, berjalan-jalan ataupun menenangkan diri. Sama seperti yang Chunghee lakukan saat ini, setelah tadi bertemu dengan ayahnya, laki-laki itu memutuskan untuk mampir ke Sungai Han untuk menenangkan diri. Aliran air yang tenang, membuat Chunghee betah untuk menatapnya lama. Tenangnya aliran tersebut membuatnya ikut merasa tenang dan dapat berpikir jernih
Ia tidak menyangka kalau pertemuannya dangan sang ayah setelah sekian lama akan berakhir seperti ini. Dia terkekeh hambar, memangnya apa lagi yang dia harapkan dari laki-laki yang dulu menelantarkan dirinya dan ibunya itu. Nafasnya ia buang kasar, ia memikirkan cara apa yang harus ia lakukan agar bisa melindungi Karina dari ayahnya. Mengingat Karina, ia jadi merindukan kekasih munggilnya itu. Ia lihat jam yang ada dipergelangan tangannya, ia berdiri kemudian melangkah menuju mobilnya untuk segera pulang sebelum Karina mencarinya.
Karina baru saja menikmati Ramyeon yang selesai ia buat, ia mengernyit mendapati bell pintunya yang berbunyi. Gadis itu segera berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Chunghee berdiri disana, laki-laki itu menatap Karina dengan begitu dalam, ia amati wajah munggil kekasihnya itu. Karina malam ini memakai celana training panjang berwarna abu muda, begitu pun dengan warna sweater yang gadis itu kenakan. Rambutnya ia cepol tinggi dengan beberapa anak rambut yang lepas dari ikatannya. Gadis itu memegang sumpit ditangan kirinya sedang tangan kanannya masih memegang knop pintu
Seulas senyum terbit diwajah Chunghee, laki-laki itu kemudian memeluk Karina dengan erat. Dan tentu saja Karina terkejut dengan hal tersebut
"W-wae?" Tanya Karina
"Boghosipho" ujar Chunghee
Karina tersenyum, gadis itu membalas pelukan Chunghee "Nado, aku juga merindukanmu" balas Karina
"Apa kau sedang makan?" Tanya Chunghee
"Eoh Ramyeon ku" ujar Karina, gadis itu melepaskan pelukan Chunghee dan berjalan menuju ruang tengah untuk kembali menikmati makanannya sebelum dingin
Chunghee menyusul dibelakangnya, ia tersenyum melihat Karina yang sedang menikmati Ramyeon nya. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju Kamar untuk mandi dan berganti baju
"Kau sudah makan?" Tanya Karina setelah melihat Chunghee keluar dari kamar
"Aku sudah makan tadi" bohong Chunghee, laki-laki itu sebenarnya sedari tadi setelah bertemu ayahnya ia belum makan. Nafsu makannya menguap begitu saja setelah obrolannya dengan sang ayah
Karina menganggukkan kepalanya "kalau begitu duduklah, aku dapat film baru yang bagus" pinta Karina
Chunghee tersenyum, ia kemudian berjalan mendekat pada Karina. Ia duduk disamping kekasihnya itu, lalu ia tarik tubuh Karina untuk ia rengkuh. Karina tidak menyaksikan film tersebut sampai selesai, karena kelelahan tadi siang jadi gadis itu sudah terlelap sebelum film tersebut selesai. Merasa pundaknya semakin berat, Chunghee menoleh untuk melihat Karina
"Karina-ya" panggilnya
Tidak ada jawaban dari gadis itu karena ia memang sudah tertidur. Chunghee membenarkan posisi kepala Karina, lalu ia semakin rapatkan tubuh Karina padanya
"Karina-ya.... apa yang harus aku lakukan? Bisakah kita melewati ini? Bisakah aku melindungimu? Bisakah... aku menepati janjiku setelah ini?" Gumam Chunghee. Laki-laki itu menghela nafas lelah. Entahlah setelah pertemuannya dengan ayahnya tadi, rasa takut tiba-tiba saja muncul pada hatinya. Ia takut kalau ayahnya itu melakukan sesuatu yang buruk pada Karina
Chunghee angkat tubuh Karina untuk ia pindahkan ke kamar gadis itu. Chunghee menidurkan tubuh Karina dengan hati-hati, lalu ia selimuti tubuh itu sebatas dada. Ia kecup dahi Karina cukup lama, setelahnya ia satukan dahinya dengan dahi Karina
"Karina-ya... apapun yang terjadi nanti, tetaplah percaya padaku dan tetaplah bersamaku. Aku akan melakukan apapun untuk hubungan kita, aku mencintaimu Karina, sangat sangat mencintaimu" setelah mengatakan itu, Chunghee melangkah keluar untuk menuju kamarnya
.
.
.
Pagi ini Jobin dan Jhony diam membatu didepan pintu caffe. Tadi ketika mereka baru saja sampai, mereka sudah disuguhi dengan keadaan caffe yang berantakan. Beberapa meja dan kursi rusak, kaca etalase roti pecah, AC rusak, lampu pecah, dan yang paling membuat mereka terkejut adalah coretan pada tembok caffe tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana harus merespons atas semua ini, seingatnya mereka tidak memiliki musuh, tapi kenapa hal ini bisa terjadi siapa yang melakukannya?
Karina baru saja turun dari mobil bersama Chunghee, hari ini laki-laki itu shift malam jadi dari pagi sampai siang dia berencana untuk membantu Karina di caffe. Langakah mereka terhenti ketika mendapati Jobin dan Jhony berdiri disana. Segera Karina memasuki caffe, dan respons yang pertama kali setelah ia menyaksikan keadaan caffe nya adalah sama seperti Jobin dan Jhony, syok dengan apa yang dia lihat ini
Chunghee yang baru saja memasuki caffe sedikit mengernyit mendapati ketiga orang itu
"Hey kalian kena...." ucapan Chunghee terhenti ketika netranya mendapati kekacauan yang ada, perhatiannya tertuju pada coteran yang ada di dinding
'Annyeoung' kata itulah yang terdapat disana
Nafas Chunghee tercekat, dadanya bergemuruh, emosinya terpancing. Tanpa mencari tahu siapa dalangnya, ia sudah yakin bahwa semua ini adalah ulah dari ayahnya.
Laki-laki itu mendekati Karina yang masih terpaku, ia kemudian menarik Karina kedalam pelukannya. Tidak ada respons apapun dari Karina, ia yakin sekarang gadis itu pasti syok bukan main melihat apa yang terjadi pada caffenya. Chunghee usap punggung sempit itu, tak lupa ia juga bisikkan kata-kata penenang pada Karina, meski kini hatinya sedang dilanda kemarahan yang luar biasa pada ayahnya sendiri
.
.
.
TBC
See You Next Chapture...😊