Just Us

Just Us
Chap 25



Karina mengeram dalam tidurnya. Gadis itu menengelamkan dirinya kedalam selimut, sedari lima belas menit lalu ponselnya terus bergetar. Dia mencoba mengabaikannya, sungguh dia masih sangat mengantuk, ayolah waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, siapa orang yang dengan teganya menelfon di waktu semalam ini.


Dengan emosi sudah memuncak, gadis itu menyibak selimutnya, hingga selimut tersebut teronggok dilantai.


Dia raih ponselnya, lalu emosinya semakin menjadi setelah melihat siapa yang menelfonnya


"Yak! Apa kau tidak punya pekerjaan hah? Kau menelfonku seperti orang gila diwaktu selarut ini. Dengar ya Chunghee-ah, kalau kau menelfonku hanya untuk mengerjaiku saja, aku pastikan besok wajah menyebalkanmu itu akan aku penuhi dengan luka lebam" cerca Karina begitu dia mengangkat panggilan tersebut


Sedangkan seseorang diseberang sana menelan ludahnya kasar, membayangkan ancaman yang Karina ucapkan tadi


"Yak Chunghee-ah" pekik Karina


"N-nde Agashi. Ah Joeseonghamnida Agashi, saya salah satu staff Bar. Sa-saya ingin menyampaikan kalau teman anda tidak sadarkan diri karena mabuk, saya sudah coba membangunkannya tapi teman anda tidak meresponnya" jelas laki-laki tersebut dengan gugup


"Ne?" Karina terkejut mendengarnya, kenapa Chunghee bisa sampai semabuk itu, apa laki-laki itu sedang ada masalah? Pikir Karina


"Agashi" panggil orang dari seberang sana


"Ah ne gomawo untuk informasinya. Tolong jaga dia sampai aku datang ne" pinta Karina pada staff Bar tersebut


"Nde Agashi"


Setelah panggilan tertutup, Karina bergegas memakai coat nya, gadis itu keluar dari gedung apartemen dengan tergesa. Beruntung selalu ada beberapa taxi yang selalu standby disana, hingga dia tidak perlu mencari taxi.


Segera gadis itu memasuki salah satu taxi, gadis itu lalu menyebutkan alamat Bar dimana Chunghee berada. Beberapa menit kemudian taxi yang dia tumpangi sampai di tempat tujuan.


Setelah selesai membayar, Karina bergegas memasuki Bar tersebut, mata gadis itu berpendar mencari keberadaan Chunghee, setelah beberapa menit mencari akhirnya Karina menemukan Chunghee, gadis itu langsung menghampiri sahabatnya tersebut


"Chunghee-ah irreona, yak Chunghee" panggil Karina, gadis itu juga sedikit menguncang tubuh Chunghee


"Mijin-ah...neomu saranghae Mijin-ah kajima" rancu Chunghee dalam tidurnya


Karina mengerti sekarang, kenapa Chunghee bisa seperti ini. Pasti terjadi sesuatu dengan hubungan Chunghee dan Miji. Karina menarik nafas berat lalu membuangnya tak kalah berat


"Chunghee-ah... kajja kita pulang. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik" ujar Karina, dengan tangan mengusap lengan Chunghee


"Mijin-ah...." gumam Chunghee


Karina menghela nafas berat, dia mendekati salah satu Staff yang ada disana, dia meminta bantuan untuk memapah Chunghee sampai keluar Bar


"Gomawo" ujar Karina pada laki-laki tersebut


Kini Karina berdiri didepan Bar, gadis itu menopang tubuh Chunghee seorang diri


"Yak Chunghee-ah, sadarlah sebentar saja. Kalau kau seperti ini bagaimana aku bisa memanggil taxi, yak Chunghee-ah irreona" ujar Karina dengan susah payah


"Ck dasar, setidaknya kalau ingin mabuk sampai seperti ini ajaklah teman Chungee-ah, atau paling tidak bawalah mobilmu. Kalau seperti ini bagaimana bisa aku mengantarmu pulang. Ya Tuhan... Chungee-ah irreona jeball" Karina bergumam dan terus saja berusaha membangunkan Chungee


Baekhwa baru saja turun dari mobilnya, laki-laki itu berencana mengunjungi Bar untuk sedikit meredakan penatnya karena pekerjaan yang akhir-akhir ini menumpuk.


Ketika dia berjalan untuk masuk kedalam Bar, telinganya menangkap sebuah suara yang tak asing baginya, dia edarkan pandangan, matanya memicing melihat seorang gadis sedang memapah tubuh besar seorang laki-laki.


Merasa penasaran,  Baekhwa menghampiri dua orang tersebut. Setelah semakin dekat, semakin jelas pula suara gadis itu, ia coba raih pundak gadis itu


"Karina-ya" sapa Baekhwa


Merasa seseorang menyentuh pundaknya, Karina menoleh. Gadis itu sedikit terkejut mendapati Baekhwa berdiri disampingnya


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan siapa laki-laki itu?" Tanya Baekhwa


Belum sempat Karina menjawab, Chunghee lebih dulu mengangkat kepalanya, laki-laki itu lalu kembali merancu tidak jelas, dan setelahnya kepala laki-laki itu kembali tertunduk


"Chunghee-ah" ujar Baekhwa kaget setelah mengetahui siapa laki-laki tersebut


Segera Baekhwa berdiri disamping Chunghee dan mengambil alih tubuh laki-laki itu dari Karina


"Gomawo Baekhwa, tolong papah Chunghee sebentar. Aku akan panggil taxi dulu" ujar Karina


"Tidak perlu panggil taxi, aku akan mengantar kalian" ujar Baekhwa


"Ah... tidak perlu Baekhwa, aku akan bawa Chunghee pulang dengan taxi saja. Aku tidak mau merepotkanmu" tolak Karina halus


"Aniyo, tidak merepotkan sama sekali. Chunghee temanku juga. Dan lagi, kalau kau mengantarkan Chunghee dengan taxi, bagaimana kau pulang nanti? Ini sudah malam dan tidak baik seorang gadis pergi malam-malam sendiri" ujar Baekhwa


Karina mengangguk, gadis itu akhirnya menerima tumpangan dari Baekhwa


"Kalau begitu Kajja kita pergi ke mobilku" ajak Baekhwa


Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil Baekhwa. Mereka masih memapah Chunghee, sebenarnya Baekhwa mengatakan pada Karina untuk tidak memapah Chunghee, tapi karina bersikeras ingin membantu Baekhwa memapah sahabatnya itu.


Begitu sampai didepan mobil Baekhwa, Karina membukakan pintu penumpang belakang. Setelah memastikan Chunghee duduk dengan benar, Karina memutri mobil untuk duduk disebelah Chunghee. Belum sempat dia memasuki mobil, Baekhwa lebih dulu memintanya untuk duduk di kursi penumpang depan, tentu saja Karina menolak. Tapi dengan berbagai alasan yang Baekhwa katakan, akhirnya Karina bersedia duduk didepan


"Mijin-ah...Kajima" gumam Chunghee


Baekhwa dan Karina yang duduk didepan, menoleh kearah Chunghee secara bersamaan


"Mijin? Nugu?" Tanya Baekhwa


"Kekasih Chunghee" jawab Karina


"Apa terjadi sesuatu dengan hubungan mereka?" Tanya Baekhwa


"Molla, aku juga tidak tau. Setahuku hubungan mereka baik-baik saja selama ini walau pun mereka menjalani hubungan jarak jauh" jelas Karina


"Memangnya dimana Mijin?" Tanya Baekhwa


"Setelah lulus kuliah, dia memutuskan kembali ke Jepang" balas Karina


Baekhwa hanya menganggukkan kepalanya. Setelahnya suasana kembali hening, tidak ada lagi obrolan diantara mereka.


Mereka sudah sampai didepan unit Chunghee. Mereka bingung harus bagaimana, sedari tadi mereka sudah mencoba membangunkan Chunghee, tapi laki-laki itu tetap saja tidak membuka mata juga


"Tunggu sebentar biar aku telfon Mijin siapa tau dia tau passwordnya" ujar Karina


Gadis itu lalu menghubungi Mijin Setelah beberapa menit menunggu akhirnya panggilannya tersambung juga


"Yeobseyo Mijin-ssi"


"Eoh Karina-ya, ada apa menelfonku?" Tanya Mijin dari seberang sana


"Mijin-ah, apa kau tau password apartemen Chunghee? Dia mabuk berat sampai tidak sadarkan diri, dan saat ini aku sudah didepan unit apartemennya, tapi laki-laki menyebalkan itu belum juga sadar" jelas Karina


"Ah... cobalah masukkan tanggal kami menjadi sepasang kekasih. Setahuku dulu itulah passwordnya. Aku akan mengirimkan tanggalnya padamu " jawab Mijin


"Baiklah gomawo Mijin-ah" balas Karina


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka bisa masuk ke apartemen Chunghee. Baekhwa menidurkan laki-laki tersebut kedalam kamarnya. Setelah memastikan Chunghee baik-baik saja , Baekhwa dan Karina pun meninggalkan apartemen tersebut


Suasana begitu hening selama perjalanan menuju Apartemen Karina. Baekhwa fokus pada jalanan, sedangkan Karina lebih memilih utuk memjamkan matanya, gadis itu tidak tidur, dia hanya berusaha menghindari obrolan dengan Baekhwa.


Hampir tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai didepan gedung apartemen Karina, Baekhwa menguncang pelan bahu Karina. Gadis itu perlahan membuka matanya


"Kita sudah sampai" ujar Baekhwa begitu Karina sudah benar-benar membuka matanya


Tidak menangapi, Karina hanya mengangguk. Gadis itu lalu membuka sabuk pengamannya, sebelum keluar gadis itu akan mengucapkan terimakasih pada Baekhwa, tapi belum juga dia mengucapkannya, Baekhwa lebih dulu berujar


"Mianhe Karina-ya. Mian untuk semua yang pernah aku lakukan padamu dulu. Aku sungguh-sungguh menyesal pernah melakukan hal seperti itu padamu Karina. Bahkan setelah kejadian itu, aku selalu memikirkanmu, rasa bersalah itu terus saja menghantuiku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu, seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu bukan malah pergi, dan memilih untuk tidur dengan wanita lain. Karina-ya, sekali lagi aku minta maaf" ujar Baekhwa dengan penuh penyesalan


Karina menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu menundukkan kepalanya, dia menarik nafas pelan lalu membuangnya tak kalah pelan, lalu kembali dia menatap Baekhwa


"Gomawo untuk bantuan dan tumpangnya Baekhwa. Aku turun dulu, sekali lagi terimakasih" ujar Karina. Setelahnya gadis itu turun dari mobil Baekhwa, dan berjalan memasuki apartemennya, tanpa menoleh sedikit pun pada Baekhwa


Sementara itu didalam mobil, Baekhwa menatap sendu pada punggung Karina yang semakin menjauh


"Apakah sesakit itu sampai kau tidak bisa memaafkan aku Karina" monolog Baekhwa


.


.


.


TBC


See you next Chapture...😊