
Beberapa hari terlewati setelah pertemuan Eunso dan Chunghee, bukannya semakin mereda Eunso justru semakin gencar mendekati Chunghee dan semakin menjadi pula ia menganggu Karina.
Contohnya hari ini, wanita itu datang ke Caffe Karina dengan menenteng sebuah paperbag, ia berjalan mendekati Karina yang kini duduk di belakang meja kasir
"Annyeoung Karina-ya" sapanya ramah, tapi jika ditelisik lebih dalam, terdapat kilatan amarah pada mata Eunso
"Eoh Eunso-ya kau datang?" Jawab Karina
"Em, aku suka dengan cake buatan Caffemu jadi aku kembali datang untuk memesannya" ujar Eunso
Karina tersenyum "gurae kalau begitu kau bisa memilih tempat duduk dulu biar aku siapkan pesananmu"
"Ne" jawab Eunso, wanita itu kemudian memilih untuk duduk di meja dekat jendela
Beberapa saat menunggu akhirnya Karina datang dengan membawa pesanannya. Gadis itu meletakkan pesanan Eunso, setelahnya ia beranjak
"Karina tunggu" cegah Eunso
"Nde, kau perlu sesuatu?" Tanya Karina
Eunso mengambil paperbag yang tadi ia bawa, kemudian ia menyerahkannya pada gadis tersebut
"Tolong kembalikan ini pada Chunghee" ujar Eunso
Karina menerima paperbag tersebut dengan kerutan yang tergambar jelas dikeningnya. Mendapati hal tersebut Eunso berdiri, ia kemudian berjalan mendekati Karina
"Beberapa waktu yang lalu Chunghee datang ke apartemenku, kami berbicara banyak hal, kami minum beberapa botol soju, dia mabuk dan yah... aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya. Tapi yang jelas malam itu benar-benar panas" ujar Eunso dengan mengedipkan satu matanya
Karina menegang, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia masih tidak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja Eunso katakan, berbagai hal buruk langsung berkecamuk dalam pikirannya. Mata gadis itu memanas, membayangkan apa yang baru saja Eunso katakan tentang kekasihnya
Mendapati reaksi Karina, Eunso bersmirk. Wanita itu mengambil tasnya kemudian beranjak keluar dari Caffe tersebut. Meninggalkan Karina yang masih berdiri disana dengan pikiran yang berkecambuk
"Nunna gweanchana?" Tanya Jhony, yang melihat keterdiaman Karina
"Em nan gweanchana. Jhony-ya tolong katakan pada Jobin untuk menggantikanku pada meja kasir, ada sesuatu yang harus aku selesaikan" pinta Karina
"Nde Nunna" jawab Jhony
"Dan tolong bersihkan meja ini Jhony-ya" pinta Karina sekali lagi dengan menunjuk meja yang tadi Eunso gunakan
Setelah mendapat anggukan dari Jhony, Karina segera menuju ruangannya. Begitu sampai gadis itu segera meraih handphonnya untuk mengubungi Chunghee. Pada dering ketiga Chunghee baru mengangkat panggilan tersebut
"Yeobseyo Changiya" sapa Chunghee
"Eodiga?" Tanya Karina to the poin
"Aku baru sampai apartemen. Wae?" Tanya Chunghee
"Aku akan pulang, jangan pergi kemana-mana" ujar Karina
"Ne? Apa ada sesuatu? Kau memerlukan sesuatu?" Tanya Chunghee berturut-turut, laki-laki itu merasa penasaran dengan sikap Karina
"Ada yang harus kita bicarakan, jadi tetaplah di apartemen sampai aku datang" ujar Karina. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu mematikan panggilan
Setelah membereskan barang-barangnya, Karina segera memesan taxi untuk mengantarkannya kembali ke apartemen, tak lupa ia juga membawa paperbag yang tadi Eunso berikan.
...****************...
Tiga puluh menit waktu yang Karina butuhkan untuk sampai ke apartemennya. Begitu sampai gadis itu segera menuju unit apartemen Chunghee, tanpa perlu menekan bell ia membuka pintu tersebut, ia hafal betul berapa sandi dari pintu apartemen kekasihnya itu
Begitu memasuki apartemen, ia disambut dengan Chunghee yang sedang menikmati makananya di ruang tengah
"Eoh Karina-ya kau sudah datang" sapa Chunghee
Karina hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tengorokannya seperti terganjal batu yang begiti besar, rasanya begitu menyesakkan dan menyakitkan. Pikiran-pikiran buruk itu tiba-tiba mendera pikirannya, membayangkan bagaimana jika waktu itu Eunso dan Chunghee melakukan hal yang macam-macam? Bagaimana jika mereka melakukan...
"Karina wae?" Tanya Chunghee
"Setelah kembali dari peringatan kematian Appa, kau pergi kemana?" Tanya Karina
Alis Chunghee menukik, ia merasa bingung dengan pertanyaan kekasihnya itu. Kenapa Karina tiba-tiba bertanya seperti itu
"Bukannya setelah itu kita pergi ke rumah Daejung, dan setelahnya aku pergi shift malam. Wae?" Tanya Chunghee
"Pagi setelah dari rumah sakit, kemana kau pergi?" Tanya Karina lagi
"Aku pergi bertemu...." Chunghee menghentikan ucapannya, ingatannya berputar pada saat dimana dia bertemu Eunso. Lalu sebuah firasat buruk menghampirinya, laki-laki itu menatap paperbag yang dibawa Karina. Dapat ia lihat isi dalam tas tersebut adalah jaket miliknya
Karian terkekeh disela isak tangisnya "kau pergi menemui Eunso. Apa aku benar" ujar gadis itu
"Karina dengarkan penjelasanku, ini tidak seperti yang kau bayangkan" ujar Chunghee
"Apa kau sudah bosan dengan hubungan kita? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau merasa terbebani dengan semua sikapku?" Cerca Karina
"Aniyo, itu semua tidak benar sungguh aku tidak pernah merasakan semua itu. Aku mencintaimu sangat-sangat mencintamu Karina" jelas Chunghee
"Lalu kenapa kau melakukan hal itu pada Eunso? Kenapa kau menemui Eunso? Apa yang kalian lakukan? Kenapa jaketmu bisa berada pada Eunso?" tanya Karina
"Aku hanya menemuinya, itu saja dan tidak ada hal yang lain seperti yang kau bayangkan. Dan soal jaket itu, saat itu aku memang memberikannya untuk menutupi tubuh Eunso itu saja" Chunghee kembali menjelaskan
Sudut hati Karina serasa tertusuk sebuah pisau tak kasat mata saat mendengarkan penuturan terakhir dari Chunghee. Gadis itu menyeka air matanya sebelum kembali berucap
"Ah, kau hanya memberikannya untuk menutup tubuh Eunso. Wae? Kenapa kau menutup tubuhnya? Kenapa kau harus menutupnya? Apa kau menyesal karena telah membukanya?" Ujar Karina
Chunghee membulatkan matanya, kini ia tahu kenapa kekasihnya itu menangis, ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Gadis itu salah paham, dan ia yakin semua itu berasal dari Eunso.
"Karina Cukup. Dengarkan penjelasanku dulu" ujar Chunghee dengan terus mendekati Karina
"Wae? Kenapa aku harus berhenti? Apa kau merasa malu saat aku sudah mengetahui apa yang kalian lakukan? Bagaimana rasanya? Apa kau begitu menikmatinya? Apa kau berencana melakukannya lagi dengan Eunso? Dia bilang kalau malam itu begitu panas. Apa kau berencana memiliki anak dari Eunso? Apa kau..."
"CUKUP AKU BILANG" bentak Chunghee menghentikan segala ucapan Karina
Karina berjengkit kaget mendengar bentakan itu, air matanya kembali menetes dengan deras setelah tadi sudah mereda
"Ka...kau membentakku" ujar Karina dengan nada bergetar gadis itu semakin memundurkan langkah
Cunghee tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, segera ia mendekati Karina
"Mian, jeongmal mianhae Karina-ya, bukan begitu maksutku, aku hanya... hanya" Chunghee tak dapat lagi melanjutkan ucapannya
Karina mendekat memberikan paperbag itu pada Chunghee, setelahnya ia melepaskan cicin yang tersemat di jari manis nya, cincin yang Chunghee berikan beberapa bulan lalu, ia meraih tangan Chunghee untuk kemudian mengembalikan cincin tersebut
"Gomawo untuk semuannya. Gomawo telah menemaniku selama ini. Kau tahu bukan, aku bisa memaafkan segala kesalahanmu kecuali penghianatan. Aku pergi" setelah mengatakan hal tersebut, Karina segera keluar dari apartemen tersebut
Sedangkan Chunghee, laki-laki itu masih terdiam menatap cicin yang Karina kembalikan padanya.
"Andwae.. andwae Karina andwae" laki-laki itu segera menyusul Karina, namun sayang gadis itu sudah tidak terihat lagi
.
.
.
TBC
See you next chapture😊