
Seperti biasa Karina malam ini kembali terduduk didepan meja sebuah mini market dengan kepala yang ia telungkupkan pada meja, tak lupa ditangannya tergenggam sebuah kaleng soda yang isinya hanya tinggal setengah. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati hembusan lembut angin malam pada anak rambut yang terlepas dari ikatannya
Chunghee memasukkan kedua tangannya pada saku depan hoodie yang ia pakai. Laki-laki itu menghela nafasnya ketika sekali lagi dia mendapati Karina sedang terduduk di bengku tersebut. Ia dekati gadis itu, lalu ia ambil kaleng soda dari tangan Karina dan dia teguk habis sisa soda tersebut.
Karina tidak terkejut sama sekali, dia tau hal itu pasti perbuatan dari Chunghee. Gadis itu masih setia memejamkan matanya
"Sudah berapa lama kau duduk disini?" Tanya Chunghee begitu dia mendudukkan diri diatas kursi yang terletak didepan Karina
"Tiga puluh menit yang lalu" balas Karina dengan mata yang masih terpejam
Chunghee menghela nafas lelah, sekali lagi dia harus dihadapkan dengan sifat menyebalkan Karina. Suasana hening setelah jawaban yang Karina layangkan
"Chunghee-ah...." panggil Karina
"Em..." jawab Chunghee, dengan mata yang masih terpejam. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya
"Lapar....." rengek Karina
Hah, Chunghee kembali menghela nafas lelah.
"Ramyeon atau kimbab?" Tanya Chunghee
"Ramyeon, sosis, kimbab, telur asap, susu pisang, keri..." ucapan Karina terpotong
"Cukup, aku sudah hafal" ujar Chunghee, laki-laki itu lalu beranjak dan mulai berjalan menuju mini market
"Gomawo Chunghee-ah... aku menyayangimu" balas Karina dengan senyum manisnya, tidak lupa dengan dengan mata yang melengkung indah
Chunghee menghentikan langkahnya, laki-laki itu lalu menoleh pasa Karina dengan tatapan malasnya
"Aku tidak menyayagimu" balas Chunghee
"Kau berbohong, aku yakin kau pasti sangat menyayagimu kan" ujar Karina
"Ck percaya diri sekali kau" ujar Chunghee
"Tentu saja aku kan sahabatmu, jadi tentu saja sifat narsismu menular padaku" ujar Karina
Chunghee memutar bola matanya malas, lalu kembali mengurai langkah menju mini market
"Terserah kau saja" balas Chunghee
.
.
.
Karina dan Chunghee menyantap makanan mereka dengan tenang, Chunghee sesekali menyeka sisa makanan yang menempel pada sudut bibir Karina.
"Aaaa.... mashita. Gomawo Chunghee-ah" ujar Karina setelah dia menyuapkan satu suap sosis yang tersisa, gadis itu lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi
"Em. Mulai besok jadwal shift kita akan berbeda" ujar Chunghee, setelah dia menjawab pertanyaan Karina
Karina menegakkan punggungnya, gadis itu lalu menatap serius wajah Chunghee, dengan alis yang menukik tajam
"Wae?" Tanya Karina
"Mina Nunna hamil jadi dia tidak bisa untuk terlalu sering sgift malam, atau mungkin dia tidak akan mendapat shift malam selama hamil" jelas Chunghee
"Hamil? Apa kehamilannya bermasalah?" Tanya Karina
"Kandungannya lemah, jadi dia tidak boleh terlalu lelah" jelas Chunghee kembali
Karina menganggukkan kepalanya, lalu kembali dia tatap Chunghee.
"Chunghee-ah, lalu bagaimana denganku kalau kita beda shift?" Tanya Karina
"Tentu saja berangkat sendiri" balas Chunghee acuh
"Yak! Kau menyebalkan" ucap Karina, lalu dia lipat kedua tangannya didepan dada
Chunghee terkekeh, laki-laki itu menegakkan tubuhnya lalu ia raih tangan Karina dan menggenggam tangan lentik tersebut
"Untuk apa kau tanyakan hal seperti itu eoh? Tentu saja aku yang akan mengantar dan menjemputmu" ujar Chunghee
Karina tersenyum lalu dia balas genggam tangan sahabatnya itu
"Kenapa kau selalu menyebalkan eoh, tidak kah kau bosan selalu mengangguku?" Tanya Karina
"Karena hal itu menyebalkan, dan aku suka melihat wajahmu yang memerah seperti tomat rebus itu" jawab Chunghee
Sementara itu di lain tempat, dibenua lain seorang laki-laki duduk disalah satu restoran di, laki-laki itu melonggarkan dasi yang seharian ini seolah mencekik lehernya. Dia ambil ponsel dari dalam saku jas nya, dia tersenyum begitu melihat fotonya bersama kedua sahabatnya yang dia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.
Hampir satu bulan lebih dia berada di negeri sakura, jujur saja dia sangat merindukan kedua sahabatnya. Dua minggu pertama dia memang pulang dan setiap hari melakukan panggipan video call, tapi semakin hari kesibukannya semakin bertambah, dia memang bisa memenuhi janjinya untuk selalu melakukan video call, tapi untuk pulang setiap dua minggu sekali dia tidak bisa menepatinya.
Dia rindu, sangat merindukan kedua sahabatnya itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar dia bisa segera kembali ke Korea dan kembali berkimpul bersama kedua sahabat serta keluarganya. Dia buka kontak nomor Karina, lalu menekan simbol telefon untuk menghubungi gadis yang ia cintai itu
Dan tak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung, dan terpampanglah wajah gadis yang selama ini dia cintai, sudut bibir Daejung terangkat membentuk sebuah senyuman manis ciri khasnya
"Nuguya?" Tanya Karina dari seberang sana
"Nan boghosipho Karina-ya" ujar Daejung
"Chunghee-ah kau mengenal laki-laki ini?" Tanya Karina pada Chunghee yang berada disebelahnya
"Molla, Nuguya?" Balas Chunghee
Daejung terkekeh, mendapat respon dan ekspresi kedua sahabatnya itu. Dia tidak merasa sakit hati karena memang seperti itulah persahabatan mereka
"Aku merindukan Kalian" ujar Daejung
"Cih dasar pembohong" cibir Karina
Sekali lagi Daejung terkekeh
"Kau baru saja selesai?" Tanya Chunghee pada Daejung
"Em, aku baru saja selesai. Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Daejung
"Bernafas" ketus Karina
"Sepertinya dia benar-benar marah padamu Daejung-ah" ujar Chunghee
"Mianhe Karina-ya, aku benar-benar menyesal. Tidak seharusnya aku mengingkari janji yang ku buat sendiri. Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini agar aku bisa segera pulang dan segera bertemu kalian" sesal Daejung
Keadan hening setelahnya, Karina menunduk menyembunyikan air matanya yang telah menganak sungai, bahunya bergetar karena tangis tersebut. Chunghee yang berada disebelah Karina hanya dapat membuang nafasnya lelah, selalu seperti ini setiap kali mereka melakukan panggilan telefon dengan Daejung. Dia rengkuh tubuh munggil itu, ia usap kepala Karina dengan sayang. Karina tentu saja membalas pelukan itu, ia tumpahkan segala tangisnya pada pelukan Chunghee
"Mianhe Karina-ya" lirih Daejung
"Gweanchana Daejung-ah, Kau hafalkan bagaimana sifat Karina. Dia mungkin marah sekarang, tapi begitu dia melihatmu membawakannya banyak oleh-oleh dia pasti akan langsunh memaafkanmu" ujar Chunghee berusaha mencairkan suasana
Karina menghadiahi pinggang Chunghee dengan cubitan yang berhasil membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan
"Ke-kenapa kau begitu me-menyebalkan Chunghee-ah? da-dan kenapa dengan sialnya aku begitu menyayagimu" ujar Karina dengan isak tangisnya
Daejung terkekeh mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu, dia merindukan saat-saat dimana dia berada diantara perdebatan Karina dan Chunghee
"Daejung-ah segeralah kembali aku sudah tidak betah terus berdua dengan laki-laki menyebalkan ini" adu Karina pada Daejung
"Geurae aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan segera pulang untuk membalaskannya" ujar Daejung dengan kekehan
"Dasar tukang adu" cibir Chunghee
"Yey... gomawo Daejung-ah.... oh dan ketika pulang nanti jangan lupakan oleh-olehku eoh" ujar Karina
Daejung terkekeh "Geurae, aku akan membelikannya untukmu ketika pulang nanti"
"Jinjja?" tanya Karina memastikan
"yakso" ujar Daejung
"Yey.... gomawo aku menyayagimu Daejung-ah" ujar Karina dengan memamerkan puppy eyes nya
"Benarkan apa yang aku bilang Daejung-ah"ujar Chunghee menimpali obrolan kedua sahabatnya
"Yak!"pekik Karina
Dan yang selanjutnya terjadi adalah adu mulut antara Karina dan Chunghee, dan Daejung yang hanya dapat menyaksikannya dari seberang sana
.
.
.
TBC
See you next chapture...😊